Subscribe:

Labels

Friday, February 24, 2012

Kota Sidoarjo

a.       Profil daerah Sidoarjo

Kabupaten Sidoarjo secara geografis terletak 112,5 - 112,9 Bujur Timur dan 7,3 - 7,5 Lintang Selatan. Wilayah Kabupaten Sidoarjo di sebelah utara berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik, sebelah timur berbatasan dengan Selat Madura sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Luas wilayah Kabupaten Sidoarjo 634,38 Km2 yang terbagi menjadi delapan belas kecamatan dengan jumlah penduduk 1.682.000 jiwa.
Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Udang dan bandeng menjadi primadona, kedua produk laut ini lalu menjadi salah satu simbol lambang daerah.

Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis kawasan Indonesia Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan Laut Tanjung Perak maupun Bandar Udara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, diantaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di Wedoro - Waru dan Tebel - Gedangan, sentra industri kerupuk di Telasih - Tulangan.
Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan "Kota Petis". Oleh-oleh makanan khas Sidoarjo adalah Bandeng Asap dan Kerupuk Udang.[5]

b.      Sejarah Budaya

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.

Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.

Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti di masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.[6]
c.  Contoh Budaya

  • Ludruk

Seni pertunjukan rakyat ini tidak memiliki kekhasan di Sidoarjo. Pernah suatu masa berjaya namun belakangan semakin punah. Padahal Sidoarjo memiliki tokoh ludruk terkenal, Munali Fatah (alm), yang juga dikenal sebagai maestro tari Remo. Menurut catatan setidaknya ada 40 grup ludruk di Sidoarjo namun hampir semua tidak ada yang betul-betul eksis. Banyak terdapat di Balungbendo disamping juga menyebar di wilayah Krian, Tulangan, Sukodono, Prambon dan hampir semua kecamatan, kecuali Jabon. Sebelum 1980-an grup ludruk di Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur sangat banyak. Sebab, masyarakat sangat haus hiburan murah, lucu, dan merakyat. Tiap malam hampir pasti ada tanggapan. Mereka serba bisa: nembang, main karawitan, melawak,hingga terlibat di manajemen ludruk. Namun belakangan kondisinya bagaikan mati suri.

  • Wayang Kulit

Jenis wayang kulit yang ada di Sidoarjo sebagian besar adalah wayang kulit gaya Jawa Timuran (gaya Wetanan) dan sebagian kecil gaya Kulonan. Hampir semua kecamatan memiliki dalang wayang kulit Wetanan ini, diantaranya: Tarik, Balungbendo, Krian, Prambon, Porong, Tulangan, Sukodono, Candi, Sidoarjo, Gedangan dan Waru.

  • Wayang Potehi

Kesenian ini memang khas budaya China, keberadaannya melekat dengan klenteng atau rumah ibadah Tionghoa. Di Sidoarjo ada di klenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah, di kawasan Pasar Ikan. Fuk Hou An adalah grup wayang potehi yang sangat kondang di Jawa Timur pada 1950-an hingga 1960-an dengan dalang Tuk Hong Ki (almarhum, asal Jombang). Grup ini kemudian bangkit kembali dengan dalang Subur dengan bapak angkat Tony, anak kandung Tuk Hong Ki. Saat ini Subur diperkuat empat pemain pembantu, sekaligus pemusik, yakni Sugiyono (Surabaya), Mulyanto (Surabaya), Karli (Blitar), dan Alfian (Sidoarjo). Nama terakhir ini, Alfian (18 tahun) tak lain anak kandung Subur.

  • Wayang Dakwah

Seperti Wayang Kulit biasa namun ditampilkan dengan posisi dalang berada di belakang layar menghadap ke arah penonton. Ada jendela kotak yang memperlihatkan wayang kulit dijajar. Penampilan seperti ini mengingatkan wayang Potehi atau Wayang Krucil, dengan bentuk wayang yang berbeda. Sesuai dengan namanya lakon-lakon yang dimainkan berisi dakwah, khususnya agama Islam. Pernah ditemukan di kawasan Krian dipimpin Kyai Fadhil, dari Gresikan.

  • Jaran Kepang

Kelompok seni tradisi jaranan hampir punah di Kabupaten Sidoarjo, tak sampai hitungan jari sebelah tangan. Sebelum 1980-an, cukup banyak grup jaranan yang menggelar atraksi hiburan di kampung-kampung. Kelompok-kelompok seni Jaranan atau Jaran Kepang yang selama ini ada di Sidoarjo bisa dikatakan bukan asli atau berdomisili di Sidoarjo. Mereka berasal dari luar kota, seperti Tulungagung, yang sengaja ngamen di Sidoarjo dalam waktu beberapa lama. Diperkirakan ada sekitar 10 grup. Namun ada satu grup Jaran Kepang versi Sidoarjo, yang agak berbeda dengan Jaran Kepang pada umumnya. Yakni, ketika dalam masa trance, pemainnya memanjat pohon kelapa dengan kepala menghadap ke bawah. Grup ini hanya ada di desa Segorobancang, kec. Tarik.

  • Orkes Melayu

Kesenian ini berkembang pesat di Sidoarjo, puluhan grup Orkes Melayu bertumbuhan, sehingga kemudian membentuk wadah organisasi tersendiri. Tokoh terkait dengan Orkes Melayu di Sidoarjo dapat disebut antara lain Malik BZ, tokoh kawakan yang banyak melahirkan seniman orkes Melayu di kancah nasional.

  • Musik Keroncong

Hanya ada 2 (dua) grup, salah satunya merupakan bagian kegiatan ekstra pegawai Pemkab Sidoarjo. Satunya lagi dimotori oleh Djoko Supriyadi. Selama ini memang tidak ada grup kroncong yang permanen. Hanya ada sesekali kegiatan pergelaran secara insidental. Komunitas penggemar keroncong juga jarang, itupun lebih banyak berkiprah di kota Surabaya. Namun dua grup inipun tidak bisa permanen.

Bisa dikatakan banyak yang suka musik keroncong di Sidoarjo, namun tidak stabil, karena tidak ada semacam habitat yang menjaganya tetap dapat tumbuh kembang. Tidak ada komunitas dan ruang apresiasi yang mendukungnya. Salah satu tokoh keroncong bisa disebut Ngadimin, dari desa Slautan, Sidoarjo.

d. Contoh dialek dan artinya

Untuk tatanan bahasa di kabupaten Sidoarjo tidak begitu berbeda jauh dengan daerah Surabaya, selain letak geografis yang berdekatan dan kebanyakan penduduknya juga sering bergaul satu sama lain, jadinya dialek yang mereka gunakan juga hampir sama dalam percakapan sehari-hari.
Seperti ; Sampean:kamu, Adoh:jauh, Takok:tanya, dsb

e. Kesimpulan


Kabupaten Sidoarjo secara geografis terletak 112,5 - 112,9 Bujur Timur dan 7,3 - 7,5 Lintang Selatan. Wilayah Kabupaten Sidoarjo di sebelah utara berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik, sebelah timur berbatasan dengan Selat Madura sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Luas wilayah Kabupaten Sidoarjo 634,38 Km2 yang terbagi menjadi delapan belas kecamatan dengan jumlah penduduk 1.682.000 jiwa.
Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Udang dan bandeng menjadi primadona, kedua produk laut ini lalu menjadi salah satu simbol lambang daerah.


0 comments: