Logika Deduktif

blogger templates
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Penelitian berasal dari hasrat keingintahuan manusia akan suatu masalah. Biasanya berupa pernyataan- pernyataan yang timbul dari permasalahan yang ingin diselesaikan, sehingga memperoleh pengetahuan baru yang dianggapnya benar. Pengetahuan baru berasal dari penalaran yang dapat diterima oleh akal sehat. Penalaran adalah satu proses berfikir manusia untuk menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan.

Data yang dapat digunakan untuk penalaran untuk mencapai satu simpulan yang berbentuk kalimat pernyataan. Data atau fakta yang dinalar itu boleh benar dan tidak benar. Disinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak data yang belum jelas kebenaranya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai simpulan. Satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan. Disini saya akan membahas dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif.

BAB II
PEMBAHASAN
  1. A.    Pengertian Pendekatan Deduktif
            Dalam kenyataan sehari – hari sering kita jumpai sejumlah guru yang menggunakan metode tertentu yang kurang atau tidak cocok dengan isi dan tujuan pengajaran. Akibatnya, hasilnya tidak memadai, bahkan mungkin merugikan semua pihak terutama pihak siswa dan keluarganya, walaupun kebanyakan mereka tidak menyadari hal itu.

Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, guru sebaiknya menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan sebelum melakukan proses belajar mengajar. Pemilihan suatu pendekatan dan metode tentu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna.

Ketika mengajar di kelas 3 A Pak Mamat merasa ragu apakah persiapan mengajar untuk konsep persilangan di SLTP yang sudah disiapkannya dapat digunakan di kelas ini. Berdasarkan pengalamannya kelas 3 B agak berbeda dengan kelas 3 lainnya. Karena sebagian besar siswa di kelas tersebut mempunyai kemampuan belajar lebih rendah daripada rata – rata kemampuan kelas 3 di sekolahnya. Pak Mamat merencanakan materi pelajarannya dibagi menjadi beberapa kali pertemuan sehingga memerlukan waktu lebih banyak dibandingkan dengan kelas 3 yang lainnya. Metode yang digunakannya masih serupa dengan di kelas lain, hanya ditambah metode bermain peran. Pak Mamat merasa gembira karena siswa yang diperkirakan akan mengalami kesulitan belajar ternyata terbantu dengan cara yang ditempuhnya.

Pendekatan deduktif merupakan cara menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi kasus yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunkan pola berfikir yang disebut silogisme. Ini terdiri dari dua macam pernyataan yang benar dan sebuah kesimpulan (konklusi). Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis) yang dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam premis itu.

Dalam pelaksanaannya, mengajar dengan pendekatan induktif akan lebih banyak memerlukan waktu daripada mengajar denan menggunakan pendekatan deduktif. Tetapi baik kelas yng rendah atau kelas yang lemah akan lebih baik mengajar dengan menggunakan pendekatan induktif. Sebaliknya kelas yang kuat akan merasakan pengajaran dengan pendekatan induktif bertele-tele. Kelas ini lebih cocok diberi pengajaran dengan pendekatan deduktif.

Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Pythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.

Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah, dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.
Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus; sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.

Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umu. Dengan memikirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newtonmenyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan LeVerrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).

  1. B.     Logika Deduktif
Penalaran deduktif didukung oleh logika deduktif.
Misalnya:
Apel adalah buah.
Semua buah tumbuh di pohon.
Karena itu semua apel tumbuh di pohon.
Atau
Apel adalah buah.
Sebagian apel berwarna merah.
Karena itu sebagian buah berwarna merah.
Premis yang pertama mungkin keliru, namun siapapun yang menerima premis ini dipaksa untuk menerima kesimpulannya.

  1. C.    Jenis Pendekatan Deduktif
            Dalam Pendekatan Deduktif terdapat beberapa jenis diantaranya :
1. Untuk Penyelesaian Masalah
Pendekatan deduktif banak digunakan untuk menyelesaikan masala. Contoh : setelah murid mempelajari imbuhan “ber” peserta didik disuruh membuat beberapa ayat dengan imbuhan “ber”.

2. Untuk Membuat Generalisasi Baru
Boleh digunakan untuk membuat generalisasu baru. Contohnya, setelah murid mempelajari rumus luas segiempat tepat,mereka dibimbing menggunakan rumus itu untuk mendapat rumus luas segitiga bersudut tegak.

3. Untuk Membukti Hipotesis
Boleh digunakan untuk membuat hipotesis melalui prinsip atau hokum yang telah dipelajari. Contohnya, setelah murid mempelajari teorema sudut-sudut bersebelahan atau garis lurus mereka dibimbing menggunakan teorema ini untuk membuktikan hasil tambah tiga sudut dalam sebuah segitiga.


  1. D.    Prinsip-prinsip penggunaan strategi pengajaran secara deduktif
1. Pada peringkat permulaan, masalah atau hipotesis harus didedahkan terlebih dahulu.

2.  Murid-murid harus dibimbing mengingat kembali rumus, generalisasi, prinsip, teorem atau teori agar membolehkan mereka menyelesaikan masalah atau hipotesis yang telah didedahkan.

3.  Generalisasi, prinsip atau teori yang digunakan untuk menyelesaikan masalah atau membukti hipotesis haruslah diketahui serta telah difahamkan secara mendalam.

4.  Pendekatan Deduktif haruslah dilaksankan mengikuti prosedur dengan tepat.

5.  Proses menyelasaikan masalah atau untuk membuktikan hipotesis tidak terhadap kepada menggunakan satu generalisasi, prinsip, rumus, hokum atau teori yang dipelajari.

6.  Guru sendiri tidak perlu menunjukkan cara menyelesaikan masalah atau menguraikan cara membukti hipotesis, tetapi membimbing murid melalui aktifitas soal-jawab sehingga mereka menjalankan aktifitas penyelesaian masalah sendiri

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan          
     Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan :
  1. Pendekatan deduktif merupakan cara menarik kesimpulan dari hal yang umum menjadi kasus yang khusus.
  2. Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Pythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.)
  3. Pemilihan Metode Pembelajaran sangat menentukan hasil dari Proses Belajar Mengajar itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
  • Salam, Burhanuddin. 1997,”Logika Material(Filsafat Ilmu Pengetahuan)’, Bandung : PT Rineka Cipta
  • Poespoprodjo, W. 1999,”logika scientifika (Pengantar dialektika dan ilmu )”,Bandung : Pustaka Grafika
  • Semiawan, R.conny, Putrawan,l.made. dan setiawan,l. 1988,”Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu”.Bandung : : CV Rrmadja karya.
  • Rurajiyo, Astanto,Sugeng.2006,”Dasar-dasar Logika”.jakarta : Bumi Aksara
  • Sumbus,Sukriadi.2000.”Mantik Kaidah Berfikir Islam”,Bandung : PT Remaja Rosda Karya
Post a Comment