Sebuah Permulaan, Sebuah Pertanyaan

blogger templates
“Sebenarnya kamu hidup itu untuk apa?” 
      pertanyaan sederhana dari seorang teman ketika kami berbincang ringan tentang kehidupan. Benar-benar sederhana sampai mulutku pun terasa berat untuk menjawabnya. Aku bisa saja menjawab asal,tapi entah kenapa aku malah diam dan memikirkan pertanyaan ini. Luar biasa memang,kenapa pertanyaan sederhana seperti ini tidak pernah terpikirkan oleh ku.
           Melihat aku hanya diam, teman ini tersenyum dan berkata,”kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku itu, nggak ada gunanya buat aku.hehehehe....., tapi kalau kamu punya jawabannya nanti sharing sama aku lagi, siapa tahu kita punya tujuan hidup yang sama”. sambil berkata seperti itu di beranjak berdiri dan pergi. ” kalo kamu tujuan hidupmu apa?”, aku berteriak bertanya kepadanya.dia tidak menjawab, hanya menoleh sebentar sambil tersenyum. Senyum kemenangan karena telah mampu membuatku bingung hari ini.
          Aku pulang sambil memikirkan pertanyaan teman tadi. Terbersit sedikit penyesalan karena selama 20 tahun aku menjalani kehidupan aku tidak tahu untuk apa sebenernya aku ini hidup. Kalau hanya untuk menjalani rutinitas sehari-hari hingga tua dan kemudian meninggal, terus apa manfaatnya? Apa bedanya dengan bidak-bidak catur yang pasrah di jalankan oleh pemainnya. Tapi kalau dipikir-pikir memang tidak jauh beda. Kebanyakan orang selalu mengikuti alur cerita yang telah dibuat tuhan,mungkin juga termasuk aku. Dan kalau tuhan sudah bosan, Dia akan mematikan aku tanpa bisa aku tolak seperti halnya yang telah dilakukan kepada orang-orang sebelum aku. Jika seperti itu kenyatannya sungguh menyesal aku pernah di ciptakan.
         Tapi apa memang seperti itu, Tuhan pastinya bukanlah seorang anak kecil bodoh yang bermain semut di lapangan. Dia pasti punya sesuatu yang lebih menarik dibanding permainan catur. Dia pasti punya sebuah cerita yang lebih bagus dari sekedar lahir, hidup, dan kemudian mati.
Konon, tuhan menanyai kita apakah kita siap dilahirkan dengan membawa misi yang telah di amanatkan kepada kita sebelum akhirnya memutuskan untuk melahirkan kita dari seorang ibu. Itulah mengapa tuhan menciptakan surga untuk memberikan imbalan kepada mereka yang telah berhasil menjalankan misi yang telah dia berikan, dan kemudian menciptakan neraka untuk menghukum mereka yang gagal dalam menjalankan misi itu. 
      Jika cerita itu benar, tuhan pastinya memberikanku sebuah misi yang amat sangat menarik hingga akhirnya aku memutuskan untuk mau di lahirkan di dunia ini. Karena aku mungkin tidak akan mau mengambil resiko untuk masuk ke neraka jika gagal hanya demi sesuatu yang membosankan. Karena sangat menyedihkan bagiku menerima hukuman hanya karena gagal melakukan sesuatu yang sepele dan membosankan.
         Tapi bagaimana jika cerita itu hanyalah bualan belaka, bagaimana kalau cerita tentang surga dan neraka itu dibuat agar kita tetap semangat menjalani hidup. Agar kita mengikuti aturan tuhan sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh pembawa agama sehingga kita bisa mendapatkan imbalan surga. Agar kita tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kita mendapatkan hukuman di neraka. Bagaimana kalau cerita itu bohong, toh belum ada sampai sekarang orang yang membuktikan bahwa surga dan neraka itu ada dengan membawa bukti riil, hanya perandai-andaian dan contoh-contoh yang nggak jelas belaka xang selama ini ada, Percuma kita mengikuti aturan ini dan itu jika di kemudian hari ketika kita mati ternyata tidak ada hari pembalasan.
          Ah, aku benar-benar bingung saat ini. Kadang aku mencoba untuk memaksa berpikir bahwa tujuan hidupku adalah menjadi orang yang bermanfat kepada lingkungannya. tapi kemudian terpikir lagi olehku, orang yang bermanfaat itu seperti apa? Apakah hanya menguntungkan bagi orang lain dan tidak merugikan kita? Sederhana sekali?.
         Apapun latar belakangku di ciptakan di dunia ini dulu , dan sebagus apapun misi hidup yang telah diberikan tuhan kepadaku, hari ini aku telah lupa dengan semua itu.hari ini aku merasa bahwa aku tidak memiliki tujuan hidup. Hari ini aku merasa, bahwa apa yang telah aku lakukan semua ini seolah sia-sia. Atau mungkinkah tujuan hidup ku di dunia ini belum di tetapkan?, karena memang tidak ada yang menetapkan dan tidak ada yang menciptakan. Kalau tidak ada yang menetapkan dan menciptakan, siapa lagi yang akan memberikan tujuan hidupku selain aku sendiri. 
          Mulai hari ini aku akan memikirkan tujuan hidup ku. Mungkin aku tidak harus terpaku untuk menjadi orang baik. Karena sama saja bagiku, menjadi orang baik atau jahat aku tetaplah hidup. Urusan hari pembalasan itu ada atau tidak, biarlah itu menjadi resiko dari pemikiranku. Dan jika suatu saat nanti ada orang yang menanyaiku lagi,”sebenarnya kamu hidup itu untuk apa?”.dan aku masih belum juga memutuskan tujuanku, aku akan menjawabnya dengan sederhana :
”masih belum aku putuskan, karena aku masih menimbang lebih menguntungkan mana antara jadi orang baik dan orang jahat”
Post a Comment