Aksiologi Dakwah

blogger templates
Menurut Masduqi Affandi, bahwa yang dimaksud dengan analisis dakwah adalah suatu gejala dimana terdapat dua orang atau lebih yang salah satu atau sebagian di antaranya mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan munkar, dan perspektif ini berarti objek material kedakwahan adalah manusia, sedangkan objek formalnya adalah manusia ditinjau dari tingkah lakunya dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan munkar. Mengajak diri sendiri untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan jahat tergolong kategori dakwah, hanya saja bentuk yang demikian itu lebih ke perspektif aksiologis dibanding perspektif ontologism dan epistimologis.[1]

Istilah dakwah mengandung penolakan esensial terhadap ide determinisme mutlak dari sejarah dan teologis. Maka ilmuwan dakwah tentu sepakat bahwa arah perubahan social dapat diramalkan , diarahkan dan direncanakan. Perubahan social yang bergerak melalui rekayasa social terutama dapat dimulai dari perubahan individual, baik dalam cara berfikir maupun bersikap. Dalam konteks dakwah, arah perubahan yang dituju adalah pembentukan khaira ummah. Hal itu diawali dengan pembentukan khairu bariyyah, yaitu dengan mentransformasikan iman ke dalam amal saleh, kemudian mengembangkan amal saleh individual ke dalam amal saleh social. Secara berkelanjutan, khaira bariyyah yang menjadi basis khaira usrah akan memunculkan pembentukan khaira usrah , lalu dari khaira usrah yang merupakan basis khaira jamaah akan melahirkan khaira jamaah, demikian seterusnya sehingga lahir khaira ummah.

Dalam al Qur’an, khaira ummah disebut dengan istilah ummah muslimah atau ummat wasat dalam QS 2 : 128 dan 143[2]

Aksiologi dakwah perspektif al Qur’an

Pada dasarnya, dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan sebagai pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas sekuruh kegiatan dakwah akan sia-sia (muspra­—dalam bahasa jawa). Apalagi bila ditinjau dari pendekatan sistem, tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah.

Menurut al qur’an, salah satu tujuan dakwah dapat ditemukan dalam surat yusuf ayat 108, sebagaimana dapat dibaca demikian :

Katakanlah : inilah jalan (agama-)Ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata, maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.

Menurut ayat di atas, salah satu tujuan dakwah adalah membentangkan jalan Allah di atas bumi aga dilalui umat manusia.

Dengan mendasarkan diri pada ayat tadi, Abdul rosyad saleh membagi tujuan dakwah menjadi dua, yakni tujuan utama dakwah dan tujuan departemental (tujuan perantara).

Tujuan-tujuan tersebut sebenarnya merupakan tahapan-tahapan ideologis hdari satu tujuan asasi dakwah yaitu membentuk manusia takwa.

Menurut syukriadi sambas, tujuan dakwah islam dengan mengacu kepada kitab al Qur’an sebagai kitab dakwah, antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut :

(1) Merupakan upaya mengeluarkan manusia dari kegelapan hidup (zhulumat) kepada cahaya kehidupan yang terang (nur).

(2) Upaya menegakkan sibghah Allah (celupan hidup dari Allah) dalam kehidupan makhluk Allah.

(3) Upaya menegakkan fitrah insaniyah.

(4) Memproporsikan tugas ibadah manusia sebagai hamba Allah.

(5) Mengestafetkan tugas kenabian dan kerasulan.

(6) Upaya menegakkan aktualisasi pemeliharaan agama, jiwa, akal, generasi dan srana hidup.

(7) Perjuangan memenangkan ilham taqwa atas ilham fujur dalam kehidupan individu, keluarga, kelompok dan komunitas manusia.



Jelaslah bahwa dakwah dengan tujuan-tujuan tersebut di atas akan membentuk masyarakat manusia yang konstruktif menurut ajaran islam, di samping mengadakan koreksi terhadap situasi dan segala kondisi atau seluruh bentuk penyimpangan dan penyelewengan dari ajaran agama dan menjauhkan manusia dari segala macam kejahiliyahan dan kebekuan pikiran.[3]

Aksiologi ilmu agama islam

Aksiologi meliputi nilai-nilai yang bersifat normative dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan seperti kawasan social, kawasan simbolik ataupun fisik-materiil. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu condition sine quanon yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

Sementara itu, menurut Muhadjir (2001) dalam kaitan aksiologi ilmu, Ia menyatakan bahwa kebenaran rasional-empirik yang di masa-masa lalu dituntut objektif, dituntut netral (yang gemanya juga masih tersisa di masa kini) kini secara aksiologis telah mulai bergeser pada perlunya kebenaran rasional-empirik yang berorientasi pada waltanschauung pada moralitas, seperti kemanusiaan dan keadilan.

Dari sisi aksiologis, dinamika ilmu agama islam harus sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang dapat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, ia dikembangkan tidak untuk membentuk umatnya menjadi eksklusif, akan tetapi untuk membentuk umatnya menjadi inklusif sehingga citra islam dapat ditampilkan sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yaitu suatu agama yang komitmen dengan perdamaian, keadilan, kasih sayang, ketenangan dan keselamatan pada seluruh umat manusia.

Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa pengembangan ilmu agama islam melalui proses kerja ilmiah, yakni penelitian. Sedangkan penelitian merupakan sarana atau alat untuk pengembangan ilmu agama islam dalam berbagai disiplinnya (tafsir, hadits, fiqih, tasawuf, filsafat, kalam dan lain sebagainya). Selanjutnya, kegunaan penelitian dalam dunia keilmuan menurut Suriasumantri adalah jelas, yakni : pertama, memperkaya tubuh pengetahuan teoritis keilmuan ; kedua, mengembangkan metode pemecahan masalah yang dihadapi manusia ; ketiga, mengembangkan teknologi yang berupa peralatan yang mempermudah kehidupan manusia ; keempat, memperoleh informasi yang berguna, baik bagi dunia keilmuan maupun pengambilan keputusan. Akan tetapi menurutnya, bagi penelitian agama, keempat kegunaan itu jelas tidak relevan, sebab menurutnya, materi kitab suci bukanlah untuk ditambah atau dikurangi.[4]












[1] Masduqi Affandi,jurnal ilmu dakwah.fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel.Vol 4,nmr 1 april 2001.


[2] Muhammad sulton,M.Ag.desain ilmu dakwah.walisongo press.hlm136


[3] Agus ahmad safe’i,M.Ag.ilmu dakwah(kajian berbagai aspek).pustaka bani quraisy.hlm114-117


[4] Muhammad turhan yani.akademika jurnal studi keislaman.vol 17.nmr 1 september 2005.hlm 53-55
Post a Comment