Subscribe:

Labels

Friday, September 14, 2012

Komunikasi dan perubahan sosial


BAB I
PENDAHULUAN

            Selama orang-orang masih bertanya-tanya tentang kehidupan dunia, mereka telah ditipu oleh misteri-misteri sifat kemanusiaan. Kegiatan yang paling biasa dalam kehidupan kita, hal-hal yang kita dapatkan secara cuma-cuma bisa sangat membingungkan ketika kita mencoba memahaminya secara sistematis. Komunikasi adalah salah satu dari kegiatan sehari-hari yang benar-benar terhubung dengan semua kehidupan manusia, dari segi informasi, mekanistis, persuasive hingga pragmatis. Komunikasi pun mampu menciptakan perubahan sosial yakni merubah kehidupan manusia dari fase primitif menjadi fase modern hingga fase postimodern.
            Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan.
            

BAB II
PEMBAHASAN
Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat setra semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial.  Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur budaya dan sistem sosial lama dan mulai beralih mengunakan sistem budaya dan unsur-unsur sosial yang baru[1]. Hal-hal penting dalam perubahan sosial menyangkut aspek-aspek sebagai berikut: perubahan pola fikir masyarakat, perubahan perilaku masyarakat dan perubahan budaya materi.
A.     Komunikasi perspektif informasi
Informasi dapat juga disebut pesan. Pesan terjadi karena ada penyampaian pesan dan penerima pesan. Terjadi informasi membuat terjalinnya hubungan antara penyampai pessn dan penerima pesan[2].
Dalam informasi terdapat sifat-sifat informasi yang harus diketahui agar dapat menyajikan informasi yang terpilih. Yakni :
1.      Informasi yang relevan dan tidak relevan
2.      Informasi bermanfaat dan tidak bermanfaat
3.      Informasi tepat waktu dan tidak tepat waktu
4.      Informasi valid dan tidak valid
Selain sifat-sifat informasi, ada pula tingkat hubungan yang terjadi saat terjalinnya hubungan penyampaian pesan atau informasi antar kedua pihak:
1.      Tingkat Ritual
Banyak terjadi dalam bentuk basa basi, namun hubungan ini berguna dalam melancarkan komunikasi yang disambung dengan informasi. Contoh : Hai bagaimana kabarmu hari ini?, Selamat pagi, Selamat Sore, Assalamu’alaikum, dsb.
2.      Membicarakan Orang Lain
Dalam terjadinya informasi tidak membuat persetujuan. Semua pembicaraan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Dalam hal ini tidak mengharapkan sesuatu dari masing-masing pihak. Informasi yang dikemukakan tentang oranglain, tentang apa yang diperbuat dan dikatakan orang diluar diri masing-masing pihak.
3.      Menyatakan Gagasan dan Pendapat
Pada taraf ini sudah diusahakan ikatan dari penyampaian pesan kepada penerima pesan. Penyampaian pesan mengharapkan supaya gagasan dan pendapatnya dapat diterima atau harapan-harapan lain dari gagasan dan pendapat yang dikemukakan. Informasi yang dikemukakan perlu penyesuaian – penyesuaian tertentu bagi penyampaian pesan isi pesan dan memperhatikan pada reaksi-reaksi penerima pesan.
4.      Taraf dan Tingkat Perasaan
Pada taraf ini informasi sudah diikuti dengan suasana rasa hati keterbukaan, keikhlasan hati tanpa pura-pura. Dirasakan betul-betul pihak penerima informasi sama dengan dirinya. Kesepakatan yang terjadi merupakan kesempatan yang tulus, semuanya dalam kelegaan, terjadi tenggang rasa yang asli dalam komunikasi.

B.     Komunikasi perspektif persuasif
Salah satu dari sarana yang paling kuat untuk mencapai keberhasilan komunikasi adalah kemampuan untuk meyakinkan orang lain untuk dapat mempercayai apa yang di katakan. Kemapuan untuk meyakinkan orang lain merupakan dasar dari kemampuan anda untuk memperoleh apa yang diinginkan.  Menurut penelitian para ahli kemampuan untuk meyakinkan orang lain sangat ditunjang oleh tehnik-tehnik yang spesifik dan dapat diidentifikasi yang dapat kita gunakan.[3] Persuasi bukanlah manipulasi, melainkan menciptakan lingkungan yang tepat untuk sebuah gagasan dan kemudian menyampaikan menyampaikan gagasan itu dengan efektif.

a.      Pengertian Komunikasi Persuasif
Bachtiar Aly, memberikan pengertian komunikasi ke dalam dua hal. Pertama adalah informasi. Terjadi proses pengiriman informasi, baik itu melalui lambang-lambang maupun gambaran yang berupa stimulus, dalam bentuk tulisan, lisan ataupun isyarat. Kedua adalah persuasif. Setiap aktivitas komunikasi mengharapkan adanya perubahan pada komunikannya. Bila merujuk kepada taksnomi Bloom, tentunya perubahan yang diharapkan terjadi baik pada ranah afektif, kognitif dan psychomotorik.. Kegiatan komunikasi memiliki dua aspek yaitu aspek informatif dan aspek persuasif.
Aristoteles memberikan rumusan sederhana tentang metode persuasif yang sering juga disebut sebagai common sense, yang mana rumusan itu adalah:
The etical or emotional mode of persuasion. Metode persuasi dengan etika. Komunikator ulung adalah komunikator yang perilakunya menjadi rujukan banyak orang. Seorang komunikator mesti menjadi teladan bagi banyak orang
The pathetic or emotional mode of persuasion. Persuasi dengan memakai emosi. Komunikan akan berubah dan mengikuti pandangan seorang komunikator yang berhasil melakukan pendekatan emosional.
The logical mode of persuasion. Komunikan akan mengikuti pembicaraan komunikator yang sistematis dan logis.
Dalam melakukan kegiatan komunikasi, seorang komunikator yang melakukan kegiatan persuasi (bujukan) dan sering dikatakan bahwa sebetulnya kegiatan komunikator ketika menyampaikan pesan itu sama dengan kegiatan pembujuk atau persuader. Artinya, bagi pemberi pesan  melakukan persuasi tersebut merupakan tujuan dari proses komunikasi yang dilakukan dan persuasi (komunisuasi) itu merupakan proses belajar yang bersifat emosional atau perpindahan anutan dari hal yang lama ke hal yang baru melalui penanaman suatu pengertian dan pemahaman.
b.    Elemen Utama dalam Persuasi
DeVito menjelaskan bahwa terdapat tiga alat utama dalam melakukan komunikasi persuasif, yaitu:
1. Penalaran dan Bukti Penalaran merupakan proses yang dijalani dalam membentuk kesimpulan berdasarkan bukti yang ada. Dalam melakukan penalaran memerlukan bukti-bukti pendukung yang kuat, baru, dan netral atau tidak memihak.
2. Daya Tarik Psikologis.
Daya tarik psikologis dipusatkan pada motif kekuatan-kekuatan yang menyemangati seseorang untuk mengembangkan, mengubah, atau memperkuat sikap atau cara perilaku tertentu. Motif yang dapat menjadi sasaran daya tarik psikologis dapat berupa rasa takut, kekuasaan, kendali, pengaruh, pengakuan, hingga ekonomi (keuangan).
3. Daya Tarik Kredibilitas.
Kredibilitas mengacu pada kualitas daya persuasi yang bergantung pada persepsi khalayak akan karakter pembicara. Baron dan Byrne menjelaskan dalam Psikologi Sosial bahwa komunikator yang kredibel – yang tahu akan apa yang mereka bicarakan atau ahli mengenai topik atau isu yang mereka sampaikan – lebih persuasif daripada komunikator yang bukan ahlinya.
c.       Hambatan- hambatan terhadap persusasi
            Suatu kekeliruan yang besar sekali, jika kita menduga bahwa persuasi yang kita usahakan dengan komunikasi itu akan diterima oleh komunikan tepat atau sesuai seperti yang kita maksud. Seringkali kita menyaksikan bahwa pesan- pesan yang kita komunikasikan itu di terima secara keliru, melesat, bahkan bertentangan sama sekali dengan yang kita harapkan. Tidak jarang kta menggunakan bahasa yang yang tidak mampu yang kita ceritakan apa yang kita maksud sehingga komunikan meleset pula dalam menafsirkan komunikasi. Apa yang kita katakana tidaklah sama seperti apa yang didengar oleh mereka. Sesungguhnya kkita menggunakan segala lambing dalam pikiran kita yang bersifat abstrak bagi komunikan yang dalam penanggapannya memerlukan penafsiran. Kata- kata, idea, isyarat, dan lambing- lambang lainnya yang kita nyatakan secara lisan, tulis, lukisan atau dengan cara- cara lain tidaklah sama bagi orang lain sseperti halnya bagi kita. Hal yang paling susah dalam usaha persuasi ddengan komunikasi itu adalah usaha agar orang lain dapat menerima atau menanggapi pesan yang sesuai benar dengan cara berfikir kita.
Hambatan- hambatan ini banyak macamnya. Diantara hambatan- hambatan itu adalah apa yang disebut noise-factor, semantic factor, kepentingan, motivasi dan prasangka.
            Niise factor  adalah hambatan berupa suara- suara yang mengganggu komunikasi sehingga tidak dapat berjalan sebagai mana mestinya. Selain hambatan ini terjadi secara langsung Hambatan noise factor dapat juga terjadi  terhadap saluran televise, radio dalam bentuk gangguan cuaca. Seringkali hambatan itu senagja dipakai oleh orang- orang untuk mengganggu komunikasi. Seperti seseorang yang tengah berpidato kadang- kadang tak dapat meneruskan pidatonya karena diganggu oleh yel- yel atau teriakan- teriakan lainnya yang disengaja di lancarkan untuk menghambat atau mengganggu proses komunikasi.
            Semantic factor adalah hambatan berupa pemakaian kata atau istilah- istilah yang menimbulkan salah paham atau salah pengertian. Hambatan berupasemantic factor tidak jarang mengakibatkan kesalahan- kesalahan yang fatal. Sebuah siaran radio dalam warta berita bahas sunda tanggal 28 agustus 1967 menyiarkan berita yang dimulai dengan kalimat “Waduk Ir. Haji Djuanda geus rengse….” Tanggapan terhadap kalimat itubagi warga sunda membawa asosiasi yang kurang enak, karena waduk dalam bahasa sunda artinya “kotoran manusia”.
            Kepentingan ( interest) akan membuat seseorang atau banyak orang akan memilih dan memberikan tanggapannya. Orang- orang akan memberikan tanggapan terhadap sesuatu yang ada kepentingannya dengan dirinya. Kepentingan bukan hanya mempengaruhi perhatian kita saja, tetapi memerlukan daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku kita yang pada pokoknya merupakan sifat reaksi terhadap ranngsangan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan suatu kepentingan.
            Motivasi akan mendorong seseorang seseorang berbuat sesuatu yang sesuai dengan keinginannya, kebutuhan dan kekurangannya. Keinginan seseorang berbeda- beda dengan orang lain dari waktu kewaktu sehingga motivasi orang juga  berbeda- beda dalam intensitasnya. Demikian pula intensitas orang terhadap seseorang terhadap suatu komunikasi.

C.     Komunikasi perspektif pragmatis
Perspektif pragmatis merupakan aplikasi yang sesuai dari sitem pada komunikasi dan jelas merupakan perkembangan baru yang berbeda untuk penelitian komunikasi. Perpektif ini mengajukan asumsi yang berlandaskan pada teori sistem. Nama untuk perpektif ini sebenarnya berasal dari studi bahasa yang menempatkan tiga bagian studi: sintaksis, semantik, dan pragmatis. Perspektif pragmatis menyajikan alternatif paradigma yang sangat berbeda dengan perspektif lainnya. Komponen-komponen khas dari perpektif pragmatis dimulai dengan perilaku orang-orang  terlibat dalam komunikasi[4]. 
Yang fundamental bagi setiap studi komunikasi manusia adalah yang serius dalam perspektif pragmatis adalah daftar kategori yang memungkinkan tindakan komunikatif untuk diulang kembali pada saat yang berlainan. Langkah berikutnya dalam komunikasi manusia adalah mengorganisasikan urutan yang sedanga berlangsung dalam kelompok-kelompok karakteristik sehingga peristiwa itu “cocok” satu sama lainnya dalam suatu pola yang dapat ditafsirkan. Urutan itu diberi cara penggunaannya berkat keterbatasan yang diberikan pada pilihan interaktif; yakni makin berurutan, makin banyak struktur yang diperlihatkan oleh pola interaksi. 
Diantara asumsi dari perpektif ini, ialah:
a.       Pertukaran pesan yang komunikatif bukan pada individu melainkan pada unsur-unsur yang menyeluruh pada sistem komunikasi. Pendekatan sistem komunikasi terletak pada keseluruhan sistem perilaku individu dan bukan individu, seperti dalam perspektif psikologi.
b.      Perilaku bukan hasil dari manusia yang berkomunikasi(komunikator) melainkan dari hasil perilaku orang lain (perilaku komunikan). Yang akhirnya menimbulkan sebab reaksi balik.
c.       Memahami komunikasi secara sistem,Yakni kita harus meneliti sekuen perilaku yang bermuara pada pola perilaku tertentuyang istimewa, berkaitan satu sama lain dan merupakan karakteristik sistem itu sendiri.
Adapun unsur-unsur perpektif pragmatis yang perlu diperhatikan ialah tindakan, interaksi,hambatan, kelebihan yang hasilnya terlihat pada pola-pola, serta interaksi yang tampak dalam tahap dan siklus suatu sistem. Ruang lingkup perpektif ini mengacu pada usaha untuk memahami proses komunikasi yang merupakan sekuen dari perilaku yang tersusun dalam suatu sitem,siklus dan episode dalam berinteraksi.
D.     Komunikasi perspektif mekanistis
Perpektif mekanistik dalam ilmu komunikasi, sebenarnya dianggap sebagai perpektif tertua dan paling terkenal. Karena perpektif ini sering di pergunakan dalam penelitian ilmu komunikasi, antara lain muncul dalam model “peluru” dari Wilbur Schramm. 

Uraian perpektif mekanistik diawali dengan asumsi yang menjadi dasar pemikiran perspektif mekanistik, yaitu:
a.       Perpektif yang beranggapan setiap bagian dari sistem mekanik ,mentransformasikan fungsi-fungsinya pada sebuah garis linier dan satu arah secara sekuensial.  Asumsi ini menjelaskan bahwa dalam proses komunikasi yang bersifat linier dan satu arah, perpindahan pesan terjadi secara sekuensial dan bertahap mengikuti rangkaian proses komunikasi. Dari prinsip ini, perpektif mekanistiks pesan di ibaratkan sebagai “energi” yang dipindahkan, sebagai halnya dalam kaidah perpindahan arus listrik.
b.      Pespektif ini menyebutkan bahwa dunia dapat dipandang sebagai rangkaian objek-objek material, seperti halnya sekuensi dari aksi-reaksi (hubungan sebab akibat reaksi) yang timbul karena perpindahan energi dari asumsi pertama akibat adanya aksi. Hubungan ini bersifat sebab-akibat.
c.       Perpektif ini menyebutkan bahwa sesuatu yang menyeluruh dari sebuah rangkaian. (misal:proses komunikasi).terjadi bukan karena sebuah unsur yang ada, melainkan karena gabungan dari peran unsur-unsur itu. Menurut asumsi ini, jika hendak mengurangi akibat akhir dari suatu rangkaian komunikasi , seseorang dapat mengurangi pesan dari masing-masing di tingkat yang di inginkan.
Unsur-unsur yang harus ada dalam perpektif ini adalah sumber, pesan, saluran, gangguan, penerimaan, encoding dan decoding. Serta kejituan dalam komunikasi. Model mekanistis bekerja dimulai dari perpindahan pesan dari sumber yang di encoding, lalu dikirim melalui saluran. Sebelum diterima penerima pesan terlebih dahulu dicode, perjalanan pesan mengalami gangguan di saluran sehingga perhatian disaluran ini menjadi sangat  penting.
Ruang lingkup perpektif ulasan  mekanistik meliputi studi komunikasi yang dipusatkan pada saluran. David K Berlo mengumpamakan saluran sebagai sungai sebagai sungai sedangkan media sebagai perahunya. Jadi, apabila sungai ini tidak berair, perahu pun tidak akan bisa jalan. Saluran merupakan saluran indra manusia, sedangkan media merupakan alat untuk menyampaikan pesan.




[1] Burhan bungin, Sosiologi Komunikasi,( Jakarta, Kencana Prenada Media Group: 2008): hlm 91
[2] A.w. widjaja, Komunikasi, (Jakarta, Bumi Aksara: 1993): hlm 31
[3]Robert anthony, Tehnik Persuasi Yang Efektif,( Jakarta Barat, Bina Rupa Aksara: 1992): hlm 1
[4] Elvinaro ardianto, dan bambang q-anees, Filsafat Ilmu Komunikasi,(Bandung, Simbiosa Rekatama Media: 2009): hlm  41

0 comments: