Naskah Teater : MENCARI LILIS SUKMA AYU

blogger templates
Oleh : Teater SUA Surabaya

Pemain:
Elis: pemarah, pemmurung, depresi
Ajeng: manja, pendiam
Bonbon: sok pintar, gendut, ceria
Gogon: lugu, penakut, gendut
Ayah: bijaksana
Ibu: lemah lembut
Nenek: baik, tegas
Dokter: sabar, bijak
Suster: berani, pintar
Pembantu: sok tahu, baik
Satpam: baik
Security: tegas


ADEGAN I 

Panggung gelap. Tiba-tiba lampu menyala menyoroti seseorang yg tergeletak. Seorang perempuan. Ia terbangun secara tiba-tiba, melihat sekitar dengan pandangan takut dan bingung. Berkali-kali menggenggam tangannya sambil tolah-toleh. Ia semakin takut dengan melihat sekitarnya yang penuh  ceceran darah. Napasnya semakin cepat, matanya semakin terbelalak, tangannya menutupi mulutnya seakan tak percaya. Tapi ia merasakan lain. Tangannya lengket dan basah. Perlahan ia melihat ke arah tangannya. Ia kembali terbelalak mengetahui tangannya penuh dengan darah. Perlahan ia mundur dengan tangan bergetar sambil kembali mengingat apa yang terjadi. Ia memejamkan mata dan tangannya mencengkram kepalanya dengan kuat sambil memukul-mukul kepala mencoba mengingat. Matanya kembali terbuka. Ia beringsut cepat. Tubuhnya lemas tapi tangannya tetap bergetar. Matanya mulai merah karena tangis.
Elis: ap..apa…apa yang terjadi??(memeluk lututnya) aku…aku tidak mebunuh siapapun…aku yakin…aku gadis yang baik…aku bahkan paling dimanja di keluarga ku. Ibu sangat menyayangiku dan memuji kepandaian ku memasak, ayah…dia selalu kagum pada hasil jahitan ku. Dan nenek…terkadang dia menarik hidungku, tapi itu karena gemas dengan kecantikanku…lalu kakak…kakak…yah…dia…dia berbeda. Dia membenciku, yah…dia iri padaku karena lebih disayang keluarga. Pandangan matanya selalu tajam padaku. Yah…pasti dia. Hoh…apa yang dia lakukan pada ayah, ibu, dan nenek???
Lampu menerangi isi panggung. Berantakan dan darah tercecer di mana-mana. Perempuan itu kembali kaget.
Elis: apa-apaan semua ini?? Kakak…kau keterlaluan. Apa yang kau lakukan?? (menjerit)
Perempuan itu bergegas keluar panggung. Panggung tetap berantakan dan masih berlumuran darah. Dari tumpukan barang tampak sesuatu yang bergerak. Kemudian terlihat tangan yang keluar dari tumpkan barang. Tangan yang berlumuran darah juga. Sama seperti perempuan tadi, tapi yanng ini...memegang golok. Itukah sang kakak yang disebut-sebut oleh perempuan tadi? Panggung kembali gelap.


ADEGAN II

Panggung kembali nyala, tapi kali hni nuansanya putih dan rapih. Terlihat ada seorang perempuan yang terduduk diam. Lututnya tertekuk dan jemarinya mengetuk-ngetuk lantai. Pandangannya kosong. Mulutnya tertutup tapi tampak dia sedang menyenandungkan sesuatu. Sesekali dia tersenyum lembut sambil menggoyang-goyangkan badannya kekiri kekanan dengan memiringkan kepala. Tapi kemudian sambil bersenandung ia menangis dan menjerit. Ia mencengkram kedua lututnya. Dan tertunduk diam. Sesekali tertaawa dalam tundukannya.
Dua orang berpakaian putih-putih masuk dengan membawa catur dan congklak. Laki-laki dengan badan yang besar-besar.
Bonbon: hey....kenapa kamu ikuti aku? Pergi sana, cari tempat lain. Aku mau main catur dengan Ajeng. Kemarin dia berhasil mengalahkan aku.
Gogon: idih ge-er. Bukan aku yang mengikutimu tapi kamu tau. Lagi pula aku mau tanding lagi sama Ajeng. Dua hari yang lalu dia juga berhaasil mengalahkanku.
Bonbon: tapi kan kamu bermain congklak?
Gogon: terus kenapa? Kamu juga bermain catur.
Bonbon: congklak permainan anak cewek.
Gogon: ajeng kan cewek.
Bonbon: tapi kamunya kan laki-laki. Bagaimana sih.
Gogon: yang penting lawannya cewek. Lagian kan catur permainan laki-laki.
Bonbon: karena aku kan emang laki-laki.
Gogon: tapi masalahnya Ajeng itu cewek.
Bonbon: kok sepertinya ada yang salah sih?
Gogon: memang ada yang salah. Lihat yang kau bawa itu bukan bidak catur, tapi stempel-stempel rumah sakit!!!
Bonbon: bukan itu...pasti kita salah memilih permainan. Harusnya bukan catur atau congklak, tapi lompat tali. Kita harusnya bermain lompat tali. Itu permainan laki-laki dan perempuan. Pagi2 ayah pernah lompat tali.
Gogon: bukannya ayah mu meninggal saat kamu dalam kandungan??
Bonbon: oh y? Oh kalau begitu itu pasti ayahmu...
Gogon: kita kan bukan tetanngga...kita saling kenal di sini....
Bonbon: lalu itu ayah siapa??
Gogon: bisa saja itu ayah adikmu...
Bonbon: aku anak tunggal...aduh pusing...
Gogon: itu karena badan mu gendut jadi susah berpikir...
Bonbon: badanmu juga kan gendut...kau bahkan mirip ade namnung
Gogon: kau mirip ucok baba...
Bonbon: ucok baba itu kecil...aku itu mirip dumbledore....
Dokter: (datang mem bawa map) ssstt....bonbon...gogon...kalian berisik. Kalian pasti mau mengganggu ajeng lagi. Sana keluar.
Gogon: tunggu dulu...sebelum keluar...diantara kami siapa yang paling gendut??
Dokter: (menghela napas) kamu
Gogon: yes... saya paling gendut, hore saya menang....(keluar)
Bonbon: dokter jahat!! Saya kan juga tidak kalah gendut?(menangis kemudian keluar)
Dokter: (menggeleng melihat kelakuan bonbon dan gogon) Ajeng…
Ajeng: (masih menunduk dengan lutut tertekuk)
Suster: mungkin ajeng tertidur dok?
Dokter: tangannya masih mengatuk-ngatuk ke lantai, kau lihat?
Suster: benar... jangan-jangan dia ’mulai’ lagi? Ini gawat...apa harus memanggil yang lainnya dok?
Dokter: tidak usah sus... jangan cemas...kita perlahan saja mendekatinya (menghampiri ajeng dan ikut berjongkok) ajeng...
Suster: ajeng...hey...sri ajeng yudhayani, kau dengar?
Ajeng: (mengangkat kepala perlahan dengan tatapan tajam ke depan kemudian menoleh ke arah suster dan tersenyum sinis) panggil aku Ajeng saja...berani sekali kau memanggilku dengan nama itu...apa kau bosan hidup??mungkin kau mau mati ya?(berdiri dan hendak mencekik suster)
Dokter: ajeng hentikan....berhenti...(memegang kedua tangan ajeng)
Ajeng: (emosinya reda, kali ini memandang wajah dokter) apa dokter menyukaiku?
Dokter: (melepas tangan ajeng) sudah hentikan.
Ajeng: doter tampan juga ya? (tersenyum)
Suster: ajeng…duduk…
Ajeng: rupanya kau cemburu ya sus?
Doter: ajeng…saya mendapat informasi mengenai keberadaan Elis…
Ajeng: elis?(emosinnya melemah, matanya berair)
Suster: iya...elis...sri elhs yudhayani, saudara tirimu.
Ajeng: jangan sebut dia seperti itu....dia tidak pantas menyandang nama keluargaku..di mana dia??
Dokter: manurut informasi... dia pernah kemari dan mencari seseorang...
Ajeng: tentu saja...tentu saja...dia pasti ingin menemuiku...dia pasti ingin membunuhku...tidak tidak...akulah yang akan membunuhnya terlebih dahulu...aku...
Suster: bukan...dia kemari bukan mencarimu....tapi mencari lilis sukma ayu...
Ajeng: lilis sukma ayu?
Dokter: yah...dia kemari mencari lilis sukma ayu...apa kau mengenal nama itu??
Ajeng: lilis sukma ayu...(tertawa) lilis sukma ayu...bohong!!!dokter dan suster bohong!!! Elis tidak mungkin mencari lilis sukma ayu.....kalian bohong!!
Suster: tapi menurut informasi memang benar...kemarin orang bernama sri elis yudhayani kemari dan mencari perempuan bernama lilis sukma ayu...
Ajeng: tidak mungkin!!!bohong!!!!
Dokter: tenang ajeng....
Suster: tapi setelah kami memeriksa ke seluruh pasien di sini... tidak ada yang bernama lilis sukma ayu...tapi dia meyakinkan diri bahwa gadis bernama lilis sukma ayu pernah dirawat disini....
Ajeng: kalian benar-benar pembohong besar....katakan di mana elis sekarang!!!
Dokter: ajeng tenang!! Suster... panggil security...
Suster memanggil security kemudian mengamankan ajeng.


ADEGAN III 

Masih tempat yang sama. Namun panggung kosong. Dokter, suster, security, dan ajeng tidak lagi disitu. Seorang perempuan masuk dengan mengendap-endap. Dia memakai topeng untuk menyamar agar tidak ketahuan. Melangkah perlahan dan menoleh melihat sekitar. Sepi. Dia sampai ketengah panggung dan hendak melepaskan topengnya, tapi ada derap langkah tergesa-gesa menuju ruang tersebut.
Gogon: ajeng!!! Ayo main congklak....bonbon sedang tidak ada....dia pasti sedang terapi. Hihihihi. Ajeng??kok pakai topeng. Ha...kau ingin bermain permainan lain ya...ninja-ninjaan....aku diajak ya...kau tidak sedang bermain dengan bonbon kan??
Elis: hey gendut!! (masih dengan topeng)Bicara apa kau ini ha?? Mau ku kempiskan perutmu apa?
Gogon: huwa....(nangis) ajeng seram....ajeng jahat....aku adukan ke pak dokter loh....(hendak keluar)
Elis: hey tunggu...
Gogon: hayo...takut kan.....makanya ayo maen congklak dan lepas topeng mu...
Elis: baiklah...ayo main...tapi topeng ini adalah terapi dari dokter, jadi harus selalu ku pakai...
Saat hendak main si bonbon masuk dengan tergopoh-gopoh
Bonbon: ajeng ayo main catur mumpung gogon sedang tidak ada di kamarnya...(melihat gogon mengangkat kedua jarinya dan tersenyum padanya) lho??yah keduluan gogon...ajeng jahat!!harusnya main catur dulu denganku...
Gogon: tapi kan aku duluan yang sampai di sini...
Bonbon: (menarik tangan elis) ajeng harus main dengan ku dulu gogon....
Gogon: (menarik tangan elis yang satunya) tidak bisa...ajeng main dengan ku dulu
Elis: (melepaskan tangannya) yak....stop!!cukup!! hey kalian buto ijo....
Bonbon: dia yang buto ijo...(menunjuk ke arah gogon)
Gogon: bukan aku tapi dia...(mennunjuk bobbon)
Elis: (melepas topeng) kalian berdua buto ijo!!! Tahu di mana pasien yang tinggal di sini? Lilis sukma ayu...di mana dia??
Bonbon en gogon: kau bukan ajeng!!!
Elis: memang bukan....dasar gendut!! Dengar tidak orang bicara apa? Di mana pasien di sini yang bernama lilis sukma ayu...
Gogon: di sini memang ada pasien tapi bukan yang kau sebutkan tadi...
Elis: apa?
Bonbon: benar....yanng di sini itu ajeng...bukan sulis sukmayu...
Elis: lilis sukma ayu....bukan sulis...hah sudahlah...(hendak pergi) tunggu...ajeng...ajeng siapa?
Bonbon: ajeng...em...siapa ya....kasih tau gag ya????
Elis: (mencubit perut bonbon) katakan!!!
Gogon: ajeng yudhoyono....
Bonbon: bukan.... ada s s apa gitu...
Gogon: susilo ajeng yudhoyono....
Bonbon: itu kan nama presiden....namanya...suri....suri ajeng....siapa ya...
Elis: tidak mungkkin....sri ajeng yudhayani....
Bonbon en gogon: seratus!!! Benar sekali... itu namanya....
Elis: sri ajeng yudhayani....kakak....kak ajeng....(menangis)....di mana dia sekarang? (emosi)
Bonbon en gogon: tidak tahu (gemetar)
Dokter, suster, dan ajeng masuk.
Ajenng: elis?
Elis: kakak?
Bonbon: bonbon
Gogon: gogon
Dokter:bonbon, gogon....masuk ke kamar kalian....
Bonbon en gogon: tapi dok....
Suter: ada permen untuk kalian....sana ambil di kamarnya....
Bonbon en gogon: yea....
Elis: kakak....kau masih hidup....kau terluka?? Jadi bukan kau....benar...tentu saja...mana mungkin kakak tega melakukannya...pasti lilis sukma ayu yang melakukannya...
Ajeng: elis....apa kau masih belum sadar juga?? Lilis sukma ayu itu...
Elis: pelakunya..iyah....lilis sukma ayu adlah pelakunya...kak, dia pernah dirawat di sini, ayo kita temukan dia, kak.
Ajeng: jangan mulai lagi elis....lilis sukma ayu adalah dirimu sendiri....nama yang kau pakai saat masih bersama orang tua kandung mu.....
Elis: apa yang kakak katakan?? Apa yang terjadi pada kak ajeng dok? Apa dia hilang ingatan?
Dokter: dia hanya mengalami depresi dan setres berat...keluarganya dibunuh oleh adik tirinya sendiri....
Elis: dibunuh? Oleh adik tirinya?? Tapi aku adalah adik tirinya....dan aku bukan pembunuh.....aku tidak membunuh siapapun!!
Ajeng: kau tidak ingat? Kau sungguh tidak ingat? Ingatlah!!! Ingat kembali....
Waktu berjalan mundur. Semua pemain berjalan mundur dengan cepat. Panggung berubah menjadi sebuah rumah. Sepasang suami istri dan nenek yang sedang duduk2 minum teh.
Ajeng: ibu...(duduk di samping ibunya) ibu harus membawa elis ke psikiater secepatnya...
Ibu: tidak perlu jeng....itu hanya kebiasaannya....dia tidak mengganggu kok...
Ayah: ada apa dengan elis bu?
Ibu: (tersenyum) elis suka mengigau saat tidur yah….ajeng terganggu mungkin…
Ajeng: bukan mengigau bu….ayah, elis itu tidur sambil berjalan…
Nenek: apa dia pernah terluka? Berbahaya kalau sampai saat tidur sambil berjalannya kumat dan dia sedang melewati tangga…kalau tidur kau harus mengunci pintu ajeng….
Ajeng: nenek…bukan elis yang harus di khawatirkan…tapi lingkungan sekitarnya…dia pernah terbangun kemudian mencabuti bulu ayam….
Ayah: hahaha kasihan sekali ayamnya….
Ajeng: itu bukan hal yang lucu yah....dia juga mematahkan sayap ayamnya dan mencabik-cabiknya sampai tangan elis berlumuran darah....dia sudah parah....
Ibu: dia sedang mimpi buruk mungkin jeng....
Ajeng: dialah mimpi buruknya!!!
Nenek: pelankan suaramu...nanti elis dengar...
Ajeng: ajeng pernah cari di internet...itu adalah gangguan tidur...akibat depresi dan sebagainya...kita harus membawa elis ke psikiater....harus....
Pembantu: non...tehnya...
Elis masuk dengan tatapan kosong. Dia membawa golok.
Pembantu: non elis mau ke mana? Itu berbahaya...
Elis: diam! (mengayunkan goloknya dan membunuh pembantu)
IANA: elis….
Ajeng: dia….sleepwalking…dia sedang tidak sadar…
Ayah dan ibunya mendekat. Tapi langsung di bantai elis.
Elis: matilah kalian...tidak boleh....menyiksaku lagi...
Ajeng: elis sadarlah....dia bukan orang tua kandung mu....dia ibu dan ayah....sadar lis....
Elis: matilah...mati kalian...tidak dibutuhkan lagi...kalian mati saja...
Ajeng: elis....hentikan....
Elis hendak membunuh ajeng tapi malah neneknya yang kena. Ajeng histeris. Elis meracau tidak karuan. Satpam yang masuk berusaha menghentikan elis juga ikut terbunuh. Ajeng semakin tak berdaya. Dia mengambil telefon dan memecet tombol asal.
Ajeng: siapapun tolong aku!!!! Elis sadar...
Elis: matilah....mati saja kau...
Ajeng: orang tua kandung mu memang bajingan sialan...mereka yang menyebabkanmu depresi dan tersiksa...kenapa tidak kau bunuh saja mereka hah???? Idiot!!!! Lihat siapa yang kau bunuh itu!!!
Ajeng melempar apa saja ke arah elis. Elis tidak bangun juga. Ajeng berjalan mundur dan terjatuh. Elis mendekat, dan mengayunkan goloknya. Tangan ajeng tergores sedikit. Elis kembali mengayunkan. Kali ini goloknya tertancap di perut ajeng. Ajeng meraung mendorong elis. Ajeng dan elis berlumuran darah. Ajeng mencabut golok dari perutnya hendak membunuh elis tapi kesadarannya hilang dan terjatuh bertmpukan barang. Elis menggeret satu persatu mayat ke dalam panggung. Katika hendak menggeret ajeng yang terakhir, dia roboh. Saat terbangun ’kembali ke dialog awal di adegan pertama tadi. Tangaan ajenng bergerak menggenggam golok. Saat itu dokter dan suster datang. Melihat ajeng yang pingsan dan membawanya. Panggung sepi. Elis masuk dengan tangan yang basah oleh air. Tiba-tiba lampu menyoroti area luar panggunhg, samping belakang penonton. Terlihat mayat-mayat tersalib penuh darah. Itu adalah mayat ibu, ayah, nenek, pembantu, dan satpam. Elis berteriak histeris. Terdengar suara ajeng ”kau yang memnuh ayah, ibu, dan nenek ku. Kembalikan nyawa mereka. Kembalikan!”
Elis: bukan. Bukan aku kak....bukan aku.... bukan aku pembunuhnya....(tertunduk, kemudian mendongak sambil tersenyum sinis dan melotot)iyah....bukan aku...tentu saja bukan...lilis....iya lilis sukma ayu....dia pelakunya...aku ini sri elis yudhayani...aku anak yudhayani...dari keluarga yang bahagia...jadi bukan aku pembunuhnya...lilis sukma ayu...dia itu pemnuhnya...dia pasti iri padaku. Dia gadis menyedihkan yang berasal dari keluarga tak mampu. Orang tuanya selalu bertengkar dan saling pukul. Lilis sering dipukuli dan di maki-maki. Dia kabur ke panti asuhan dan berpura-pura hilang ingatan. Pihak panti asuhan mengirimnya ke psikiater karena kebiasaannya yang tidur sambil berjalan mulai serius. Hoh...kasihah sekali gadis seperti itu. Dia pasti yang membunuh keluargaku...lilis sukma ayu, aku pasti akan membunuhmu...(berdiri hendak keluar) tunggu...bagaimana aku bisa tahu kehidupan lilis sukma ayu sejauh ini??
Pannggung gelap. The end.
Post a Comment