Pandangan ulama tentang KB

blogger templates


Pandangan ulama tentang hukum KB hingga kini masih ada 2 kubu antara yang membolehkan dan yang menolak KB. Pandangan Majelis Ulama Indonesia menjelaskan bahwa ajaran islam membenarkan keluarga berencana. Diantara dalil yang digunakan para ulama yang membolehkan KB yaitu pada QS; an-nisa ayat 9 yang artinya:” dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
Yusuf Al-Qaradhawi melalui bukunya Halal dan Haram mengungkapkan, tujuan perkawinan salah satunya adalah lahirnya keturunan. Dengan adanya keturunan, menopang kelangsung je nis manusia. Islam menyukai banyaknya keturunan di kalangan umatnya.
Namun, Islam pun mengizinkan kepada setiap Muslim untuk mengatur keturunan apabila didorong oleh alasan kuat. Hal yang masyhur digunakan pada zaman Rasulullah untuk mengatur kelahiran adalah dengan azl, yaitu mengeluarkan sperma di luar rahim ketika akan keluar. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan, para sahabat menyatakan bahwa mereka biasa melakukan azl pada masa Nabi Muhammad SAW. Ketika informasi itu sampai kepada Rasulullah, beliau tidak melarangnya. Di sisi lain ada bantahan terhadap cerita-cerita tentang orang Yahudi bahwa azl merupakan pembunuhan kecil.
Menurut Al-Qaradhawi, ada alasan-alasan yang menjadi pijakan untuk berkeluarga berencana. Di antaranya, adanya kekhawatiran kehidupan atau kesehatan ibu bila hamil atau melahirkan. Ini setelah penelitian dan pemeriksaan dokter yang dapat dipercaya. Ia mengutip AlBaqarah ayat 195, agar seseorang tak menjatuhkan diri dalam kebinasaan.
Alasan lainnya adalah kekhawatiran munculnya bahaya terhadap urusan dunia yang tak jarang mempersulit ibadah. Pada akhirnya, hal itu membuat seseorang mau saja menerima barang haram atau menjalankan pekerjaan terlarang demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Persoalan kesehatan dan pendidikan juga menjadi faktor yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan berkeluarga berencana. Keharusan melakukan azl karena khawatir terhadap keadaan perempuan yang sedang menyusui kalau hamil atau melahirkan anak lagi. Rasulullah, kata Al-Qaradhawi, selalu berusaha demi kesejahteraan umatnya.
Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan umatnya berbuat hal yang melahirkan maslahat dan tak mengizinkan sesuatu yang menimbulkan bahaya. Menurut Al-Qaradhawi, di masa kini sudah ada beragam alat kontrasepsi yang dapat dipastikan kebaikannya. Hal inilah yang diharapkan oleh Rasulullah.

Pandangan Muhammadiyah
Sementara itu, Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui fatwafatwa tarjih menjelaskan, surah An-Nisa ayat 9 secara umum dapat menjadi motivasi keluarga berencana, tapi bukan jadi dasar langsung kebolehannya.
Ayat tersebut berbunyi, “Hendaklah takut kepada Allah orangorang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, Islam menganjurkan agar kehidupan anak-anak jangan sampai telantar sehingga menjadi tanggungan orang lain. Ayat tersebut mengingatkan agar orang tua selalu memikirkan kesejahteraan jasmani dan rohani anakanaknya.
Pendapat Sayyid Sabiq dan Al Ghazali
Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah menjelaskan, dalam keadaan tertentu Islam tidak menghalangi pembatasan kelahiran melalui penggunaan obat pencegah kehamilan atau caracara lainnya. “Pembatasan kelahiran diperbolehkan bagi lakilaki yang beranak banyak dan tak sanggup lagi menanggung biaya pendidikan anaknya dengan baik,” tambahnya.
Demikian pula jika keadaan istri sudah lemah, mudah hamil, serta suaminya dalam kondisi miskin. Dalam keadaan semacam ini, ujar Sabiq, diperbolehkan membatasi kelahiran. Sejumlah ulama menegaskan pembatasan kelahiran tak sekadar diperbolehkan bahkan dianjurkan.
Imam Al-Ghazali membolehkan hal itu jika istri merasa khawatir akan rusak kecantikannya. Dalam kondisi tersebut, suami dan istri berhak memutuskan untuk melakukan pembatasan. Ada pula ulama yang mengatakan pembatasan bisa dilakukan tanpa syarat apa pun yang mendasarinya.
Dari bebrapa pendapat tersebut dapat kami simpulkan bahwa : Dalam Islam, melaksanakan program keluarga berencana tidak dihukumi apapun, tidak dianjurkan, dan tidak pula dilarang. Dan jika tidak ada dalil yang melarang ataupun dalil yang menganjurkan, maka hukum pelaksanakan pekerjaan tersebut menjadi mubah (boleh-boleh saja). Selain itu, musyawarah MUI tahun 1983 tentang kependudukan, kesehatan dan pembangunan, telah mengeluarkan fatwa bahwa ber-KB tidak dilarang dalam agama Islam, termasuk penggunaan berbagai jenis alat kontrasepsi selain vasektomi dan tubektomi.
karena dalam surat an-Nisa’ tersebut  kita dapat melihat, bahwasanya kesehatan ekonomi dan kesehatan fisik juga menjadi hal yang patut dipertimbangkan oleh sebuah keluarga. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin neraca kemiskinan akan bertambah lagi.
.
Problematika KB
1.     Bagaimana hukumnya penggunaan alat kontrasepsi bagi para PSK yang memang sudah menjadi pekerjaan mereka?
Dalam hal ini kami menemukan beberapa kontroversi, jika mereka tidak menggunakan alt kontrasepsi semisal kondom/ apapun maka akan bertambah banyak anak yang akan mereka hasilkan Tetapi jika mereka menggunakan kondom atau alat kontrasepsi lain mak ranah perzinaan akan semakin menjamuar. Oleh karenanya kami berpendapat bahwa Hukumnya alat kontrasepsi yang digunakan para PSK agar mereka tidak hamil dan melahirkan banyak anak adalah haram. Karena dengan adanya hal tersebut justru menambha lahan perzinaan yang semakin meluas. Dan untuk mengurangi hal tersebut harus ada tindak tegas dari pemerintah ada Perda yang intinya menghilangkan Lokalisasi semisalgang Dolly dsb. Karena rakyat Indonesia akan emakin rusak moralnya jika tempat-tempat seperi itu justru dibangun mewah dan diperintahkan oleh pemerintah.
2.     Bagaimana hukumnya alat kontrasepsi yang pada akirnya membawa kematian?
Menurut pendapat kami tujuan utama dari penggunaan alat kontrasepsi adalah mengatur banyaknya keturunan sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi keluarga. Alat tersebut digunakan ababila bisa menjamin keselamatan sesorang,apabila dari prediksi awal alat tersebut sudah tidak layak  digunakan karena dapat mematikan atau menyebabkan kejadian buruk maka alat tersebut diharamkan. Tetapi jika pada awalnya dan sudah dilakukan adanya riset ataupun penelitian dan sudah dinyatakan halal maka alat tersebut halal digunakan, apabila ditemukan kasusu mematikan setelah adanya riset dan penelitian maka hal tersebut terlepas dari hukum dan sudah menjadi kodrat pemakai sedangtindakan yang seharusnya dilakukanadalah adanya jaminan lebih bagi para pengguna alat kontrasepsi (suami istri yang sah) dari pemerintah karena KB sendiri adalah program pemerintah.
3.     akan program keluarga berencana tidak dihukumi apapun, tidak dianjurkan, dan tidak pula dilarang. Dan jika tidak ada dalil yang melarang ataupun dalil yang menganjurkan, maka hukum pelaksanakan pekerjaan tersebut menjadi mubah (boleh-boleh saja).
4.     Bagaimana pendapat ulama’ tentang KB?
Pandangan ulama tentang hukum KB hingga kini masih ada 2 kubu antara yang membolehkan dan yang menolak KB. Pandangan Majelis Ulama Indonesia menjelaskan bahwa ajaran islam membenarkan keluarga berencana. Diantara dalil yang digunakan para ulama yang membolehkan KB yaitu pada QS; an-nisa ayat 9 yang artinya:” dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Menurut kami jika program Kb tersebut banyak membawa kebaikan boleh-boleh saja semisal mengentas kemiskinan, mengurangi tindak kriminalitas dsb.

5.     Apa sajakah alat kontrasepsi bagi laki-laki dan perempuan serta bagaimana hukumnya?
Alat-alat kontrasepsi?
Untuk laki-laki:
a. Kondom
b. Azal (mengeluarkan sperma diluar vagina).
Untuk perempuan:
a. Pil
b. Susuk
c. Obat Suntik
d. Menggunakan cara tradisional. Misalnya minum jamu, menggunakan penghitungan kalender, dan sebagainya.
Azal?
Melaksanakan KB tidak harus menggunakan alat-alat kontrasepsi yang modern. Azal telah lama dikenal di kalangan umat Islam. Konsep ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan coitus-interuptus. Inti dari azal ini adalah melakukan hubungan badan namun sperma laki-laki tidak dipertemukan dengan sel telur perempuan dengan cara mengeluarkan sperma (ejakulasi) diluar vagina perempuan.
Dalam sebuah hadits disebutkan: dari Jabir R.A:
“kami melakukan axal pada masa Nabi SAW, sedangkan ketika itu al-Qur’an masih turun. ” (HR. Bukhari-Muslim).
Mahmud Syaltut memberi argumentasi sebagai dasar diperbolehkannya KB karena untuk menghindari kemudlaratan jika salah satu pihak dari suami-isteri menderita penyakit berbahaya.

Post a Comment