Sastra

blogger templates

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti ‘mengindahkan’ atau ‘menghargai’. Secara terminologi, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai penghargaan, penilaian, dan pengertian terhadap karya sastra, baik yang berupa prosa fiksi,  drama, maupun puisi (Dola, 2007). Dalam konteks yang lebih luas,  istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna; pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
Sejalan dengan rumusan pengertian di atas, Effendi dalam (Aminuddin, 2002) mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.Juga disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi dapat tumbuh dengan baik apabila pembaca mampu menumbuhkan rasa akrab dengan teks sastra yang diapresiasinya, menumbuhkan sikap sungguh-sungguh serta melaksanakan kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Belajar apresiasi sastra pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra, manusia akan memperoleh gizi batin, sehingga sisi-sisi gelap dalam hidup dan kehidupannya bisa tercerahkan lewat kristalisasi nilai yang terkandung dalam karya sastra. Teks sastra tak ubahnya sebagai layar tempat diproyeksikan pengalaman psikis manusia.
Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi, sastra menjadi makin penting dan urgen untuk disosialisasikan dan “dibumikan” melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang.Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, diharapkan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sejarah dari Sastra itu sendiri ?
2. Apa sajakah unsur-unsur dari Karya Sastra ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Sastra
Karya sastra Melayu dianggap sebagai salah satu cikal bakal sastra Indonesia.Sastra Melayu berkembang pesat di daerah Riau.Dari sanalah muncul para sastrawan terkenal seperti raja Ali Haji.[1]Tidak ada ukuran pasti mengenai tahun kapan pergeseran antara kedua jenis karya sastra lama dan baru.Karya sastra lama adalah jenis sastra yang berkembang pada masyarakat tradisional.Sedangkan karya sastra modern adalah jenis karya sastra yang dihasilkan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat modern.Untuk membedakannya tidak menggunakan urutan waktu (periode perkembanganya), tetapi dengan melihat ciri-ciri yang ada didalamnya.[2]
Ciri-ciri Karya Sastra Lama dan Modern.
No
Aspek
Karya Sastra Lama
Karya Sastra Modern
1.
Bentuk
Puisi terikat : pantun, syair, hikayat, legenda, mite, dongeng
Pui Si bebas dan kontemporer, cerpen, novel drama
2.
Bahasa
Melayu tradisional, arab, daerah
Indonesia, masuk kosakata asing (Eropa)
3.
Tema
Kaku, istana sentris, mistis
Kreatifitas, kemasyarakatan, Kemanusiaan, modernisasi
4.
Latar Belakang Penciptaan
Pengaruh Kesustraan Hindu, Islam, budaya tradisional, anonym milik masyarakat
Pengaruh kesustraan Barat, Budaya industry (modern), hak cipta pengarang (individu)
5.
Perkembangan
Statis, disampaikan secara lisan
Dinamis, media cetak dan audiovisual

B.    Unsur-unsur Karya Sastra
1.     Puisi
A.    Pengertian Puisi
Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.
Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa.Namun perbedaan ini masih diperdebatkan.Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain kedalam keaadaan hatinya.
Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang, Didalam puisi juga biasa disisipkan majas yang membuat puisi itu semakin indah.Majas tersebut juga ada bemacam, salah satunya adalah sarkasme yaitu sindiran langsung dengan kasar.
Dibeberapa daerah di Indonesia puisi juga sering dinyanyikan dalam bentuk pantun.Mereka enggan atau tak mau untuk melihat kaidah awal puisi tersebut.

B.    Unsur-Unsur Puisi
a.      Nada
Nada atau suasana merupakan unsur batin puisi yang tergambar dalam baris-baris puisi, misalnya suasana sedih, menyesal, berani akan dapat diketahui dari kata-kata pembentuk puisi.[3]
Contoh: Puisi bernada sepi


Hampa
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pepohonan.Tak bergerak.
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak satu melepas renggut
Segala menanti.Menanti.Menanti.
Sepi.
…………….
(Chairil Anwar)

b.     Latar
Yang dimaksud di sini adalah latar waktu, tempat, dan sosial budaya yang mempengaruhi penciptaan karya puisi.Contoh : Puisi dengan latar tempat
Perpisahan
Akhirnya peluitpun dibunyikan
Buat penghabisan kali kugenggam jarimu
Lewat celah kaca jendela
Lalu perlahan-lahan jarak antara kita mengembang jua
Dan tinggalah rel-rel, peron dan lampu
Yang menggigil di angina senja
(Elha)
c.      Tema
Karena puisi itu pada dasarnya merupakan pengkristalan konsep yang besar, tema yang terkandung di dalamnya biasanya juga tersampaikan secara tersirat.Contoh  : Puisi dengan tema ketuhanan
Doa
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyambut nama-Mu
…………..
Tuhanku
Dipintumu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling
(Chairil Anwar)
d.     Amanat
Amanat atau pesan penyair dapat diketahui kalau sudah di baca secara utuh. Jika sudah demikian, pembaca akan mengetahui amanat yang termaktub dalam puisi. Akan tetapi perlu diingat bahwa, puisi itu bersifat multi interpretative sehingga memungkinkan munculnya penafsiran amanat yang bermacam-macam.Contoh : Puisi dengan amanat protes sosial
Jalan segara
Di sinilah penembakan
Kepengecutan
Dilakukan
C.    Jenis-Jenis Puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru
·       Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
·       Ciri puisi lama:
1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

·       Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
·       Ciri-ciri Puisi Baru:
Bentuknya rapi, simetris
Mempunyai persajakan akhir (yang teratur)
Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain
Sebagian besar puisi empat seuntai
Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

2.     Prosa
A.    Pengertian Prosa
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya.Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang".Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.[4]

B.    Unsur-unsur Prosa
Secara umum, karya sastra prosa, terdiri atas dua unsur pokok, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik :[5]
a.    Unsur instrinsik adalah unsur karya sastra yang mendukung dari dalam karya sastra itu sendiri. Yang termasuk didalamnya :
1)      Tema                                       : pokok pikiran pengarang, inti cerita karya sastra itu.
2)      Alur/plot                                 : sambung-sambunganya suatu cerita dari suatu peristiwa ke peristiwa lainnya sehingga menimbulkan ceritayang utuh.
3)      Penokohan/karakteristik         : perwatakan tokoh atau pelaku
4)      Latar/setting                           : tempat terjadinya cerita atau latar belakang cerita.
5)      Sudut pandang/point of view : dengan cara bagaimana pengarang menceritakan tokoh-tokohnya.
6)     Bahasa                                      : bahasanya segar, komunikatif, mudah dipahami atau tidak berbelit-belit.
b.   Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang mendukung dari luar karya itu sendiri. Yang termasuk didalamnya :
1)     Riwayat pribadi pengarang.
2)     Kehidupan masyarakat tempat karya sastra itu diciptakan.

C.     Bentuk-bentuk prosa baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut :[6]
a.      Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya.Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan).Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.
Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain sebagai berikut:
Roman transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.
Roman sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat.Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.
Roman sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.
Roman psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.
Roman detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas.Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.
b.     Novel
Novel berasal dari Italia.yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik.Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku.lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.
c.      Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.
d.     Riwayat
Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.
e.    Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.
f.     Resensi
Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.).Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
g.    Esai
Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya.Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll.menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.Artikel ini adalah sebuah rintisan.
D.    Jenis-jenis prosa
·       Prosa naratif
·       Prosa deskriptif
·       Prosa eksposisi
·       Prosa argumentative

3.     Drama
A.    Pengertian Drama
Drama (Yunani Kuno: δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan".Drama bisa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.[7]
Di Indonesia, pertunjukan sejenis drama mempunyai istilah yang bermacam-macam. Seperti: Wayang orang, ketoprak, ludruk (di Jawa Tengah dan Jawa Timur), lenong (Betawi), randai (minang), reog (Jawa Barat), rangda (Bali) dan sebagainya.

B.    Sejarah Drama diDunia
B.1. Drama Klasik
Yang disebut drama klasik adalah drama yang hidup pada zaman Yunani dan Romawi.Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.
a. Zaman Yunani.
Asal mula drama adalah Kulrus Dyonisius.Pada waktu itu drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada Dewa Domba/Lembu.Sebelum pementasan drama, dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang disebut “tragedi”.Dalam perkembangannya, Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang, berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan.Komedi sebagai lawan dari kata tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia.
Ada 3 tokoh Yunani yang terkenal, yaitu: Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut Plato, keindahan bersifat relatif. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia.Imitasi itu menurut Plato bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan.Karya Plato yang terkenal adalah The Republic.
Aristoteles juga tokoh Yunani yang terkenal.Ia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik, tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebijakan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak yang menentu.
Sophocles adalah tokoh drama terbesar zaman Yunani.Tiga karya yang merupakan tragedi, bersifat abadi, dan temanya Relevan sampai saat ini. Dramanya itu adalah: “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus”, dan “Antigone”
Bentuk Komedi, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Komedi tidak mengikuti satire individu maupun satire politis.
2. Peranan aktor dalam komedi tidak begitu menonjol;
3. Kisah lakon dititikberatkan pada kisah cinta, yaitu pengejaran gadis oleh pria yang
cintanya ditolak orang tua/famili sang gadis.
4. Tidak digunakan Stock character, yang biasanya memberikan kejutan.
5. Lakon menunjukan ciri kebijaksanaan, karena pengarangnya melarat dan menderita, tetapi kadang-kadang juga berisi sindiran dan sikap yang pasrah.
b. Zaman Romawi
Terdapat tiga tokoh drama Romawi Kuno, Yaitu: Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Senece. Teater Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius, lama-kelamaan bersifat mencari uang (show biz). Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.

B.2. Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Khatolik atas drama sangat besar pada zaman Pertengahan ini.Dalam pementasan ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan Koor.Kemudian ada pelanggan “Pasio” seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini.’
Ciri-ciri khas theater abad Pertengahan, adalah sebagai berikut :
1. Pentas Kereta.
2. Dekor bersifat sederhana dan simbolik.
3. Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.


B.3. Zaman Italia
Istilah yang populer dalam zaman Italia adalah Comedia Del’arie yang bersumber dari komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain: Date, dengan karya-karyanya: The Divina Comedy Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan pastoral dan Niccolo Machiavelli dengan karya-karyanya Mandrake.
Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut :
a. Improvitoris atau tanpa naskah.
b. Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru
kemudian pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia).
c. Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
d. Gejala akting pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.

B.4. Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu. Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada zaman Elizabeth.
Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth, adalah:
a. Naskah Puitis.
b. Dialognya panjang-panjang.
c. Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
d. Lakon bersifat simultan, berganda dan rangkap.
e. Campuran antara drama dengan humor.

B.5. Perancis : Molere dan Neoklasikisme
Tokoh-tokoh drama di Prancis antara lain Pierre Corneile (1606-1684, dengan karya-karya: Melite, Le Cid), Jean Racine (1639-1699, dengan karya: Phedra).

B.6. Jerman: Zaman Romantik
Tokoh-tokoh antara lain: Gotthold Ephrairn Lessing (1729-1781, dengan karya Emilla Galott, Miss Sara Sampson, dan Nathan der Weise), Wolfg Von Goethe (1749-1832, dengan karya: Faust, yang difilmkan menjadi Faust and the Devil), Christhoper Frederich von Schiller (1759-1805, dengan karya: The Robbers, Love and Intrigue, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dan Shakespeare).

B.7. Drama Modern
a. Norwegia : Ibsen
Tokoh paling terkemuka dalam perkembangan drama di Norwegia adalah Henrik Ibsen (1828-1906).Karya Ibsen yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di Indonesia adalah “Nova”, saduran dari terjemahan Armyn Pane “Ratna”. Karya-karya Ibsen adalah Love’s Comedy, The Pretenders, Brand dan Peer Gynt (drama puitis), A Doll House, An Emeyn of the people, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmersholm.
b. Swedia : August Strinberg
Tokoh drama paling terkenal di swedia adalah Strindberg (1849-1912).Karya-karya drama yang bersifat historis dari Strindberg di antaranya adalah Saga of the Folkum dan The Pretenders, Miss Julia dan The Father adalah drama naturalis.Drama penting yang bersifat ekspresionitis adalah A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
c. Inggris : Bernard Shaw dan Drama Modern.
Tokoh drama modern Inggris yang terpenting (setelah Shakespeare) adalah George Bernard Shaw (1856-1950).Ia dipandang sebagai penulis lakon terbesar dan penulis terbesar pada abad Modern.
d. Irlandia : Yeats sampai O’Casey
Tokoh penting drama Irlandia Modern adalah William Butler Yeats yang merupakan pemimpin kelompok sandiwara terkemuka di Irlandia dan Sean O’Casey (1884) dengan karyanya: The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Start, The Silver Tassie, Withim the Gates, dan The Start Turns Red. Tokoh lainya adalah John Millington Synge (1871-1909) dengan karya-karya: Riders to the Sea, dan The Playboy of the Western World. Synge merupakan pelopor teater Irlandia yang mengangkat dunia teater menjadi penting disana.
Dan masih banyak lagi dinegara-negara lain.

C.    Jenis Drama
a.      Drama tragedi, drama yang penuh kesedihan.
b.     Drama komedi, drama berisi sindiran atau keceman terhadapan orang atau keadaan yang dilebih-lebihkan (didramatisir).
c.      Drama tragedi-komedi, drama penuh kesedihan tetapi ada juga hal-hal yang menggembirakan.
d.     Dagelan atau lelucun, drama yang menyebabkan penonton tertawa dari awal sampai akhir.
e.      Opera, drama yang berisi nyanyian dan musik.
f.      Operet, opera yang lebih pendek
g.     Pantomin, drama yang disampaikan melalui gerak-gerik atau isyarat saja.[8]

D.    Unsur-unsur drama
·         Naskah drama (tema) Drama Script
·         Alur
·         Pemain (aktris atau Aktor)
·         Tempat pertunjukan (teater)
·         Amanat
·         Penonton
















BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Karya sastra Melayu dianggap sebagai salah satu cikal bakal sastra Indonesia.Sastra Melayu berkembang pesat di daerah Riau.Dari sanalah muncul para sastrawan terkenal seperti raja Ali Haji.Tidak ada ukuran pasti mengenai tahun kapan pergeseran antara kedua jenis karya sastra lama dan baru.Karya sastra lama adalah jenis sastra yang berkembang pada masyarakat tradisional.Sedangkan karya sastra modern adalah jenis karya sastra yang dihasilkan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat modern.
Dalam Karya sastra terdapat  3 unsur karya sastra yakni prosa, puisi dan drama dengan memiliki pengertian, unsur dan jenis-jenisnya masing-masing.

B.    SARAN
Harapan penulis semoga para pemuda bangsa dapat mengetahui karya sastra yang dimiliki oleh negara mereka sendiri.Jadi mereka tidak hanya mengetahui budaya dan keunikan Negara tetangga namun mereka dapat mengetahui bahkan jika bisa melestarikan budaya dan karya sastra yang dimiliki Indonesia.







DAFTAR PUSTAKA
·       Sukoyono, Edi dan Rustamaji.2007,Panduan Belajar Kelas 9 SMP. Yogyakarta : Primagama Yogyakarta
·       Susilowati, Yuni.2007, Bahasa Indonesia. Solo : Kharisma


















[1]Yuni Susilowati,S.Pd, Bahasa Indonesia, (Solo : Kharisma,2007), hal : 26
[2]Drs. Edi Sukoyono dan Drs. H. Rustamaji, M.Pd., Panduan Belajar Kelas  9 SMP, (Yogyakarta : Primagama Yogyakarta,2007), hal  : 46
[3]ibid
[4]http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa (diakses pada tanggal 9-12-2011 pukul 01.15)
[5]Drs. Edi Sukoyono dan Drs. H. Rustamaji, M.Pd., Panduan Belajar Kelas  9 SMP, (Yogyakarta : Primagama Yogyakarta,2007), hal  : 47
[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa#Jenis-jenis_prosa (diakses pada tanggal 9-12-2011 pukul 01.30)
[7]http://teater35.blogspot.com/2009/04/sejarah-drama-didunia.html (diakses pada tanggal 9-12-2011 pukul 02.00)
[8]Drs. Edi Sukoyono dan Drs. H. Rustamaji, M.Pd., Panduan Belajar Kelas  9 SMP, (Yogyakarta : Primagama Yogyakarta,2007), hal  : 49
Post a Comment