Studi Al-qur`an : TAFSIR SUFI, TAFSIR ISYARI, TAFSIR MAUDLUI, ISRAILIYAT, TAFSIR JANGGAL

blogger templates

A.     Pengertian Tafsir
Tafsir adalah ilmu yang membahas cara komunikasi Al Qur’an dengan memahami petunjuk dari kata atau kalimat atau susunannya yang mengandung makna dan hukum (Manna’ Al Qaththan, 1994:324). Atau lebih ringkasnya, tafsir adalah usaha menerangkan Al Qur’an, tujuannya serta menerapkan hukum darinya.
B.      Tafsir Sufi
Apabila yang dimaksud dengan tasawwuf adalah perilaku ritual yang dilakukan untuk menjernihkan jiwa dan menjauhkan diri dari kemegahan duniawi melalui zuhud, kesederhanaan dan ibadah, maka yang demikian merupakan hal yang tidak dirugukan lagi, jika tidak dikatakan sangat disukai. Akan tetapi dewasa ini “tasawwuf” telah menjadi filsafat teoritis khusus  yang tidak ada hubungannya dengan wara’, takwa dan kesederhanaan, serta filsafatnya pun telah mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan  dengan Islam dan akidahnya.
Ibn’ Arabi dipandang sebagai tokoh tafsir sufi. Ia menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan penafsiran yang disesuaikan dengan teori-teori tasawwufnya, baik di dalam kitab tafsirnya yang populer maupun di dalam kitab-kitab lain yang dinisbahkan kepadanya, seperti kitab al-Fusus. Dan ia adalah salah seorang penganut paham wihdatul wujud.
Sebagai contoh, dalam menafsirkan firman Allah berkanaan dengan Idris a.s. :
“Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat paling tinggi.” (Maryam [19]:57), ia berkata, “tempat paling tinggi adalah tempat yang di putari oleh rotasi alam raya, yaitu orbit matahari. Di situlah maqam (tempat tinggal)rohani Idris.”Kemudian ia berkata lebih lanjut : “Adapun kedudukan (bukan temapt) paling tinggi adalah untuk kita , umat Muhammad, sebagaimana telah dijelaskan-Nya : kalian adalah orang-orang yang paling tinggi dan Allah (pun) senantiasa bersama kalian (Muhammad [[47]:37). Jadi ketinggian yang dimaksudkan (berkanaan dengan Idris) ini adalah ketinggian tempat , bukan ketinggia kedudukan.”
Dalam menafsirkan firman Allah :
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu ndari seorang diri.” (An-Nisa’ [4]:1), ia mengatakan, maksud “bertakwalah kepada Tuhanmu”. Ialah : Jadiakanlah bagian yang tampak dari dirimu sebagai penjagaan bagi Tuhanmu, dan jadikanlah pula apa yang tidak nampak dari kamu, yaitu Tuhanmu sebagai penjagaan dari dirimu. Oleh karena itu, jadilah kamu sebagai penjagaan dalam celaan dan jadikalah Ia sebagai penjagamu dalam pujian, niscaya kamu menjadi orang paling beradab di seluruh alam.

C.      Tafsir Isyari
Di antara kelompok sufi ada yang mendakwakan bahwa riyadah (latihan) rohani yang dilakukan seorang sufi bagi dirinya akan menyampaikannya ke suatu tingkatan dimana ia dapat menyingkapkan isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Qur’an, dan akan tercurah pula ke dalam hatinya, dari limapahan gaib pengetahuan subhani yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang disebut Tafsir Isyari. Setiap ayat mempunyai makna zahir dan makna batin. Makna  zahir ialah apa yang segera mudah dipahami akal pikiran sebelum yang lain, sedang yang batin ialah isyarat-isyarat tersembunyi di balik itu yang hanya nampak bagi ahli suluk. Tafsir Isyari ini jika memasuki isyarat-isyarat yang samar akan menjadi suatu kesesatan, tetapi selama ia merupakan istinbat yang baik dan sesuai dengan apa yang di tunjukkan oleh zahir bahasa Arab serta didukung oleh bukti kesahihannya, tanpa pertentangan, maka ia dapat diterima.
Contoh tafsir isyari ialah apa yang diriwayatkan dari Ibn Abbas, ia berkata :
Umar memasukkan aku bergabung dengan tokoh-tokoh tua veteran perang Badar. Nampaknya sebagian mereka tidak suka dengan kehadiranku dan berkata, “Mengapa anda memasukkan anak kecil ini bergabung bersama kami padahal kami pun mempunyai anak-anak sepadan dengannya?” Umar menjawab, “Ia memang seperti yang kamu ketahui.” Pada suatu g=hari ia memanggilku dan memasukkan ke dalam kelompok mereka. Aku yakin bahwa Umar memanggilku semata-mata hanya untuk “memamerkan” aku kepada mereka. Lalu ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang firma Allah, apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.. (An Nasr[110]:1)?” Di antara mereka ada yang menjawab , “Kami diperintah agar memuji Allah dan memohon ampuanan kepada-Nya ketika kita memperoleh pertolongan dan kemenangan.” Sedang sebagian yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Umar kemudian bertanya kepadaku, “Begitukah pendapatmu, wahai Ibn Abbas?” “Bukan”, jawabku. “Lalu bagaimanakah pendapatmu?” tanyanya lebih lanjut. Aqku menjawab: “Ayat itu menunjukkan tentang ajal Rasulullah yang diberitahukan Allah kepadanya. Ia berfiman: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan itu adalah tanda-tanda datangnya ajalmu (Muhammad), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat.” Maka kata Umar, “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan itu,” (Hadis Bukhari).
Berkata Ibnu Qayyim :
Penafsiran (yang dilakukan) orang berkisah pada tiga hal pokok: tafsir mengenai lafaz, yaitu yang ditempuh oleh golongan muta’akh khirin. Tafsir tentang makna, yaitu yang dikemukakan oleh kaum Salaf, dan tafsir tentang isyarat yaitu yang ditempuh oleh mayoritas ahli sufi dan lain-lain. Tafsir terakhir ini tidak dilarang asalkan menempuh empat syarat:
1.       Tidak bertentangan dengan makna (zahir) ayat,
2.       Maknanya sahih
3.       Pada lafaz yang ditafsirkan terdapat indikasi bagi (makna isyari) tersebut,
4.       Antara makna isyari dengan makna ayat terdapat hubungan yang erat.
Apabila keempat syarat ini terpenuhi maka tafsir mengenai isyarat itu (tafsir isyari) merupakan istinbat yang baik.
D.     Tafsir Maudlui
Metode maudlui digunakan untuk mendekati pesan-pesan (moral, akidah, hukum, dan sebagainya). Al Qur’an secara tematik, baik mengenai kata kunci tertentu dalam Al Qur’an maupun tema utama sebuah surat. Dalam tafsir maudlui hanya membicarakan satu masalah yang sudah ditetapkan.  Satu metode seperti itu telah dicetuskan jauh sebelumnya dalam rangka menggali isi Al Qur’an, sebagai contoh dapat di kemukakan antara lain: Ibn Qayyim menulis dalam bukunya At Tibyan yang membicarakan secara khusus tentang aqsam (sumpah) dalam Al Qur’an; Abu Ubaidah secara khusus membicarakan majaz Al Qur’an ; Abu Ja’far An-Nuhas tentang nasikh dan mansukh; dan al Jashshash membicarakan ahkam Al Qur’an.
Menurut Al Syirbashi, kita dapat menemukan pola tafsir maudlui dalam Al Manar . di antara sistem yang di pergunakan nya, bahwa ia memandang nash-nash Al Qur’an sebagai satu kesatuan yang sempurna. Ia tidak memisahkan penafsiran ayat-ayat secara tajam, bahkan kelompok ayat-ayat tertentu dirangkul secara serentak dalam penafsirannya sesuai dengan tujuan pokok yang hendak dikemukakan.\
Perkembangan motode penafsiran Al Qur’an senantiasa berubah dan berkembang. Prof. Dr. Ahmad Sayid Al-Kumi, Ketua Jurusan Tafsir pada Fakultas Ushuludin Al-Azhar sampai tahun 1982, untuk pertama kalinya mencetuskan metode baru tafsir yan dinamakan At-Tafsir Al-Maudlui li Al-Qur’an. Metode yangdikemukakan oleh Al-Kumi ini, pada dasarnya bersamaan dengan apa yang disampaikan oleh Syaltut sebelumnya, namun Al-Kumi lebih menampilkannya lebih tegas dan lebih terperinci.
Walaupun Al-Kumi di pandang sebagai orang yang mencetuskan metode ini dalam bentuk yang lebih konkrit, namun Al-Farmawi tetap menganggap Abduh sebagai pelopornya dan Syaltut sebagai orang yang mengemukakan ide pokonya secara gamblang.
 M. Quraisy Syihab dalam tulisannya Tafsir Al-Qur’an masa kini mengemukakan 8 langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan metode maudlui :
1. menetapkan masalah/ judul pembahasan
2. menghimpun/ menetapkan ayat-ayat yang menyangkut masalah tersebut
3. menyusun urutan ayat-ayat tadi sesuai dengan masa turunnya dengan memisahkan periode Mekah dan Madinah
4.  memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing
5. melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang menyangkut masalah itu
6. menyusun pembahasan salah satu kerangka yang sempurna
7. studi tentang ayat-ayat tersebut secara keseluruhan
8. menyusun kesimpulan yang menggambarkan jawaban Al-Qur’an terhadap
masalah yang dibahas.
Tafsir Maudlui mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain sebagai berikut:
1.       Hidayah Al-Qur’an dapat digali secara lebih mudah dan hasilnya ialah permasalahan hidup praktis dapat dipecahkan dengan baik. Dapat juga memberikan jawaban terhadap sementara dugaan bahwa Al-Qur’an hanya berisi teori-teori spekulatif tanpa menyentuh kehidupan nyata, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakat.
2.       Menumbuhkan kembali rasa bangga umat Islam, danb dapat menjawab tantangan hidup yang senantias berubah.
3.       Merupakan jalan terpendek dan termudah untuk memperoleh hidayah Al-Qur’an.
4.       Menafsirkan Al-Qur’an  dengan Al-Qur’an sebagaimana di utamakan oleh tafsir maudlui adalah cara terbaik yang telah di sepakati.
5.       Merupakan jalan yang baik untuk mengenal jalinan ayat dengan ayat, sekaligus mengetahui dan merasakan fashahat dan balaghah-nya.
6.       Pertentangan dengan ayat  atau keraguan yang di lontarkan oleh orang-orang yang tidak beritikad baik terhadap Islam dapat di tolak.
7.       Mengetahui satu permasalahan secara lebih sempurna dan mendalam.
8.       Menggantikan aturan atau undang-undang produk manusia yang jauh dari jiwa agama.
9.       Memperjelas kembali fungsi Al-Qur’an sebagai kitab suci dan sekaaligus akan menambah kayakinan tentang kemukjizaatannya.


Selain abduh yang di anggap sebagai pelopor tafsir pada zaman modern, ada pula tokoh tokoh lain seperti yang disebutkan Al-Farmawi:
1.       Abbbas Mahmud Al-Aqqad : Al-Mar’ah fi Al-Qur’an
2.       Abu Al-A’la Al-Maududi        : Ar-Riba fi Al-Qur’an
3.       Muhammad Abu Zahrah      : Al-‘Aqidat min Al Qur’an
4.       Muhammad Al-Samahi        : Al-Ulubiyat wa Ar-Risalah fi Al-Qur’an
5.       Dr. Ibrahim Muhnan             : Al-Insan fi Al-Qur’an Al-Karim Muqawwamat Al-Insaniyyat Al-Qur’an
6.       Dr. Ahmad Kamal Mahdi     : Ayat Al-Qasam fi Al-Qur’an Al-Karim
7.       Syaikh Mahmud Syaltut      : Al-Washaya Al-‘Asyr
8.       Abd. Al-Hay Al-Farmawi      : Wasyaya Surat Al-Isra’

E.      Israiliyat
Israiliyat merupakan cerita yang dikisahkan dari sumber Israili. Israiliyah dinisbatkan kepada Israil, yaitu Ya’qub dan Ishaq bin Ibrahim yang mempunyai 12 keturunan. Bani Israil adalah juga disebut dengan Yahudi.
Meski pada mulanya cerita ini menunjukkan kisah-kisah yang bersumber dari orang-orang Yahudi, tetapi kemudian masuk ke dalam istilah ini semua cerita lama, baik yang bersumber dari Yahudi maupun Nasrani atau semua agama di luar Islam yang merembes pada penafsiran Al-Qur’andan hadith. Berita-berita yang diceritakan ahli kitab yang masuk Islam itulah yang dinamakan Israiliyat.
Cerita israiliyat ini sebagian besar diriwayatkan dari empat orang: Abdullah bin Salam, Ka’bul Ahbar, Wahb bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Para ulama berbedsa pendadat dalam mengakui dan mempercayai ahli kitab tersebut, ada yang mencela (menolak) dan ada pula yang mempercayai (menerima). Perbedaan pendapat yang paling besar ialah mengenai Ka’bul Ahbar. Sedang Abdullah bin Salam adalah orang yang paling pandai dan paling tinggi kedudukannya. Oleh karena itu, Bukhari dan ahli hadis lainnya memegangi dan mempercayainya.
Macam-macam cerita (riwayat) Israiliyat
a.       Dari segi sah atau tidaknya:
1.       Cerita yang sahih, maka boleh meriwayatkan
2.       Cerita yang tidak sahih, maka tidak boleh meriwayatkan.
b.      Dari segi sesuai atau tidaknya :
1.       Cerita yang sesuai dengan shara’, maka boleh meriwayatkan dan mengambilnya
2.       Cerita yang tidak sesuai dengan shara’, maka tidak boleh meriwaqyatkan dan mengambilnya.
c.       Dari segi materi :
1.       Berhubungan dengan aqidah
2.       Behubungan dengan shari’ah (hukum)
3.       Berhubungan dengan nasehat atau peristiwa atau kejadian yang tidak berkaitan dengan akidah maupun hukum.
Para sahabat yang banyak meriwayatkannya antara lain: Abu Hurairah, Ibn Abbas, Abdullah bin Amr bin As. Para sahabat yang berasal dari Ahl Al-Kitab yang paling menonjol dalam menghilangkan cerita israiliyat yang merusak dan mengganggu aqidah dan identitas kaum Muslimin adalah Abdullah bin salam dan Tamim ad.
F.       Tafsir Janggal (Gara’ibut Tafsir)
Di antara musafir ada yang sangat suka mengemukakan kata-kata yang asing atau janggal dalam menafsirkan Qur’an sekalipun ia menyimpang dari jalan lurus dan menempuh jalan berbahaya. Mereka membebani diri sendiri dengan hal-hal yang tidak mampu di kerjakan dan memeras pikiran untuk sesuatu yang tidak dapat diketahui kecuali melalui tauqifi (penjelasan dari Nabi). Maka, tampil dengan membawa kedunguan dan kesesatan yang di pandang hina oleh akal mereka sendiri. Seperti contoh berikut yang mengemukakan sejumlah keanehan-keanehan :
1.       Pendapat orang yang mengatakan tentang “Alif lam mim”. Makna “Alif” ialah: Allahsangat menyayangi Muhammad karena itu ia mengutusnya sebagai Nabi. Makna “Lam” adalah: Muhammad dicela dan diingkari oleh orang-orang yang menentang. Dari makna “Mim” adalah: orang-orang yang menentang dan ingkar itu mengigau karena  sakit. Mim berasal dari kata “mum”yang berarti birsam (radang selaput dada), suatu penyakit yang menyebabkan penderitanya mengigau.
2.       Pendapat orang tentang Ha mim ‘ain sin qaf. “Ha” adalah harb (pertempuran) antara Ali dengan mu’awiyah. “Mim” adalah Marwaniyah, yakni kekuasaan Marwan dari Bani Umayah. “Ain” adalah kekuasaan ‘Abbasiyah. “Sin” adalah kekuasaan golongan sufyaniyah. Dan “Qaf” adalah Qudwah (kepemimpinan) Mahdi.
3.       Pendapat yang dikemukakan Ibn Fauruk tentang penafsiran firman Allah, wa lakin li-yatma’inna qalbi (Al-Baqarah[2]: 260). Ibrahim mempunyai seorang teman yang di gambarkan olehnya bahwa teman itu adalah hatinya. Jadi pengertian ayat ini ialah: “Agar temannya itu merasa tentram dengan pemandangan seperti ini jika ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
4.       Pendapat abu Mu’az An-Nahwi tentang firman Allah: Allazi ja’ala lakum minasy syajaril akhdari naran (Yasin[36]:80). Ia menafsirlkan kata-kata asy-syajar al-akhdar dengan “Ibrahim” dan naran dengan “nur”, maksudnya adalah Muhammad. Sedangkan fa iza antum minhu tuqidun ditafsirkannya dengan: maka kamu mengambil  agama daripadanya”.















Daftar Pustaka
 Mudzakir. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogo: Pustaka Litera AntarNusa, 2011. 491-497
Ali Aziz. Moh. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya: IMITIYAZ, 2012. 195
Nizhan Abu. Buku Pintar Al-Qur’an. Jakarta Selatan: QultumMedia, 2008. 52
Izzan Ahmad. Ulumul Quran. Bandung:Humaniora, 2005. 242
Syafe’i Rachmat. Pengantar Ilmu Tafsir. Jawa Barat: Pustaka Setia, 2006. 249-303
Musafa’ah suqiyah, Maliki amir, Rohman Abid, Khoiroh Muflikhatul. Studi Al-Qur’an. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011. 269-273
Post a Comment