Tafsir Komunikasi

blogger templates
Secara leksikal, Komunikasi adalah kontak, hubungan, penyampaian dan penerimaan pesan yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih yang memungkinkan pesan itu bisa diterima atau dipahami[1].Dalam perspektif islam, komunikasi disamping untuk mewujudkan hubungan secara vertikal kepada Allah juga, juga menegakkan komunikasi secara horizontal terhadap sesama manusia. Komunikasi dengan Allah tercermin melalui ibadah-ibadah fardhu (sholat, zakat, puasa, haji yang bertujuan membentuk taqwa. Sedangkan komunikasi dengan sesama manusia terwujud melalui penekanan hubungan sosial yang disebut muamalah, yang tercermin dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti sosial, budaya, politik, ekonomi, seni, dan sebagainya.[2]

Berkaitan dengan Komunikasi yang didasari dengan nilai-nilai islam, perlu kita ketahui terlebih dahulu definisi komunikasi islam yaitu proses penyampaian atau tukar menukar pesan dari komunikator kepada komunikan yang menggunakan prinsip prinsip komunikasi yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadis.[3]

Komunikasi Islam Menemukan enam jenis gaya pembicaraan (qoulan) yang dikategorikan sebagai prinsip komunikasi islam, yaitu[4]:



Prinsip Qoulan Sadidan

Qoulan sadidan berarti pembicaraan atau komunikasi yang benar, jujur lurus, tidak berbohong dan tidak berbelit-belit.

Di dalam al-Quran term qaulan sadidan disebutkan dua kali.pertama dalam surat An-Nisa’ayat 9 :



dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.



Kedua, dalam surah Al-Ahzab ayat 70




Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar.



Alfred Korzbski, peletak dasar teori general semantik menyatakan bahwa penyakit jiwa, baik individual maupun sosial timbul karena penggunaan bahasa yang tidak benar dalam berkomunikasi yaitu:

1. Menggunakan kata-kata yang abstrak, ambigu, atau menimbulkan penafsiran yang sangat berlainan jika kita tidak setuju dengan pandangan kawan kita.

2. Menciptakan istilah yang diberi makna lain berupa eufimisme (pemutarbalikan makna) ini terjadi bila kata-kata yang digunakan sudah diberi makna yang sama sekali bertentangan dengan makna yang lazim.[5]

Kebersimpangan dalam hal kearifan berkomunikasi ini tidak dibenarkan dalam islam walaupun itu terkesan remeh[6]:

وانّالعبد ليتكلم بِالكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ الله لا يلقى لهابالايَهوى بهَافي جَهَنّمَ

(رواه احمد)

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan suatu ucapan yang dimurkai Allah, dianggapnya tidak apa-apa, tetapi karenanya Allah menjatuhkannya kedalam neraka jahannam (diriwayatkan oleh Ahmad)

Hadis riwayat ahmad pun mengulas bahwa dusta berlawanan dengan iman[7]:



“jauhi olehmu berdusta, karena berdusta itu berlawanan dengan iman.” (Di riwayatkan oleh Ahmad).

Di lain hadis diterangkan pula akibat berkata benar dan dusta[8]:





“Sesungguhnya berkata benar itu memimpin kepada perbuatan baik dan bahwa perbuatan baik itu memimpin ke surga. Sesungguhnya seseorang berkata benar, sampai dia dituliskan disisi Allah seorang yang amat benar. Sesungguhnya dusta itu memimpin kepada perbuatan jahat dan bahwa perbuatan jahat itu memimpin ke neraka. Sesungguhnya ada seseorang berdusta, sampai dia dituliskan disisi Allah menjadi seorang yang amat dusta.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

Allah juga mencintai orang yang jujur kepada sesama manusia[9]:



“Sesungguhnya hamba Allah yang paling dicintai-Nya ialah yang lebih jujur kepada sesama hamba-hamba Allah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dalam islam juga dikenal istilah “qudwah” (keteladanan) dimana dalam implementasinya komunikator akan menerima respon positif apabila dia dianggap memiliki kualifikasi dan integritas kepribadian untuk menyampaikan informasi tersebut.





2. Prinsip Qoulan Balighan

Kata Baligh berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki.

Di dalam term al-Quran, term Qaulan Balighan disebut hanya sekali dalam surah An-Nisa: 63.



mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.



Term baligh yang berasal dari ba la gha, oleh para ahli bahasa dipahami sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau sampainya mengenai sasaran atau tujuan, juga bisa dimaknai dengan “cukup” (al-kifayah), sehingga perkataan yang baligh adalah perkataan yang membekas dan merasuk dalam jiwa manusia.[10]

Nabi pun memuji orang yang sanggup menguasai lidahnya (lisan)[11]:



“Berbahagialah orang yang sanggup menguasai lidahnya, mereka cukup dengan rumah tempat tinggalnya dan menangis karena kesalahannya.” (Diriwayatkan oleh Thabrani dan Tsauban).

pemahaman tentang balighan adalah termasuk dalam kategori prinsip komunikasi yang efektif. Pesan harus disampaikan mengenai sasaran dengan metode yang tepat. Ini diperkuat dengan pernyataan Anwar Arifin bahwa “... untuk mencapai hasil yang positif maka komunikator harus menciptakan persamaan, kepentingan dengan khalayak terutama dalam memilih pesan, metode dan media.”[12]



3. Prinsip Qulan Ma’rufan



Di dalam al-Quran term ini disebut empat kali, pertama dalam surah Al-Baqarah ayat 235.




“Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan kata-kata yang baik…”



Kedua, dalam surah An-Nisa ayat 5:




“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”



Ketiga, dalam surah An-Nisa ayat 8:



dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik.



Keempat, dalam surah al-Ahzab ayat 32




Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik



Kata Ma’rufan dari ke 4 ayat tersebut berbentuk isim maf’ul dari kata ‘arofa, bersinonim dengan kata al-khair atau al-ikhsan yang bermaksud baik.Menurut al-Ishfahani, term ma’ruf menyangkut segala bentuk perbuatan yang dinilai baik oleh akal dan syara[13].Dalam beberapa konteks al-Razi juga menjelaskan bahwa qaulan ma’rufan adalah perkataan yang baik, menancap ke dalam jiwa, sehingga yang diajak bicara tidak merasa dianggap bodoh[14]. Perkataan yang mengandung penyesalan ketika tidak bisa memberi atau membantu[15]. Perkataan yang tidak menyakitkan dan yang sudah dikenal sebagai perkataan yang baik[16].

Hadist Nabi tentang jangan berbantah, berolok-olok dan memungkiri janji pun menjadi penguat agar kita bisa mengaplikasikan konsep untuk berkata yang ma’ruf[17]:



“Jangan berbantah dengan saudara engkau, jangan memperolok-oloknya dan jangan menjanjikan kepadanya suatu janji, kemudian engkau memungkiri” (Diriwayatkan oleh tirmidzi)

Dari paparan diatas maka kita ketahui pentingnya berbicara yang baik dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Dengan pembicaraan itu akan mendatangkan manfaat, baik bagi diri komunikator maupun komunikan.



4. Prinsip Qoulan Kariman

Term ini ditemukan dalam al-Quran hanya sekali saja dalam surah Al-Isra ayat 23:




dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.



Pemahaman ayat di atas memberikan petunjuk untuk berbuat baik kepada orang tua khususnya lagi kepada orang tua yang sudah berusia lanjut untuk tidak mengatakan “ah”, tidak membentak keduanya, dan diperintahkan mengucapkan perkataan yang mulia/baik atau qaulan kariman kepada mereka.

Dalam hal ini, al-Quran menggunakan term karim yang secara kebahasaan berarti mulia. Term ini bisa disandarkan kepada Allah, misalnya Allah Maha Karim, artinya Allah Maha Pemurah; juga bisa disandarkan kepada manusia, yaitu menyangkut keluhuran akhlak dan kebaikan prilakunya. Artinya, seseorang akan dikatakan karim, jika kedua hal itu benar-benar terbukti dan terlihat dalam kesehariannya[18]. Namun, jika term karim dirangkai dengan kata qaul atau perkataan, maka berarti suatu perkataan yang menjadikan pihak lain tetap dalam kemuliaan, atau perkataan yang membawa manfaat bagi pihak lain tanpa bermaksud merendahkan.[19]

Dalam salah satu hadis nabi yang diriwayatkan oleh thbrani dari Sahal bin Sa’ad, nabi mengatakan agar kita jangan menyebut keburukan orang[20]:





“Hindarilah lidahmu dari menyebut keburukan kaum muslimin. Apabila salah seorang diantara mereka meninggal dunia, sebutlah yang baik-baik saja”



5. Prinsip Qoulan Layyinan

Di dalam al-Quran term Qaulan Layyinan hanya ditemukan sekali saja dalam surah Thaha ayat 44.




Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".



Ayat tersebut merupakan perintah Allah swt kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendakwahkan ayat-ayat Allah kepada Firaun dan kaumnya. Firaun sebagai seorang Raja Mesir memiliki watak keras, sombong, dan menolak ayat-ayat Allah, bahkan menantang Allah denagn mengaku sebagai Tuhan.

Asal makna layyin adalah lembut atau gemulai, yang pada mulanya digunakan untuk menunjuk gerakan tubuh. Kemudian kata ini dipinjam untuk menunjukkan perkataan yang lembut[21]. Sementara yang dimaksud dengan qaulan layyinan adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan, pemberian contoh di mana si pembicara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikan adalah benar dan rasional, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut.

Nabi pun mengarahkan kepada kita untuk lemah lembut dalam segala urusan[22]:



“Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya dan kalu dia dicabut dari sesuatu, niscaya akan memburukkannya.” (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas)

Hadis nabi tentang berbicara dengan senyum[23]:



“Rosulullah Saw setiap mengucapkan suatu ucapan beliau tersenyum” (Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu darda’)

Dengan demikian, qaulan layyinan adalah salah satu metode dakwah, karena tujuan utama dakwah adalah mengajak orang lain kepada kebenaran, bukan untuk memaksa dan unjuk kekuatan.



6. Prinsip Qoulan Maysuran

Term ini hanya ditemukan sekali saja dalam surah Al-Isra ayat 28.




dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas.



Berdasarkan sebab-sebab turunnya ayat tersebut, Allah memberikan pendidikan kepada nabi Muhammad saw untuk menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin dan musafir.

Secara etimologis, kata maysuran berasal dari kata yasara yang artinya mudah atau gampang (Al-Munawir,1997: 158). Ketika kata maysuran digabungkan dengan kata qaulan menjadi “qaulan maysuran” maksudnya adalah berkata dengan mudah. Berkata dengan mudah adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti,dan difahami oleh komunikan.

Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hamba-hambanya yang lain. Hadis tentang Ucapan yang lebih disukai Allah:



“Ucapan yang lebih disukai Allah ialah ucapan seseorang: Maha Suci Allah dan memuji-Nya.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Dzar)

Ada pula hadis nabi yang menekankan untuk kita mengedepankan pengetahuan dan tidak berusaha untuk menjadi yang paling benar[24]:

“Pengetahuan sedikit lebih baik dari ibadat banyak. Cukuplah pengetahuan seseorang, apabila ia telah menyembah Allah dan cukuplah kebodohan seseorang, apabila dia mengagumi pendapatnya sendiri. Sesungguhnya manusia itu hanyalah dua orang, orang beriman dan orang bodoh. Sebab itu, janganlah kamu menyakiti orang beriman dan bersoal jawab dengan orang bodoh.” (Diriwayatkan oleh Ibn Umar)

Hal-hal yang patut digaris bawahi juga oleh komunikator dalam berkomunikasi adalah[25]:

a. Hubungan dengan komunikan

- Memperhatikan komunikan

- Mengetahui kebutuhan Komunikan

- Menyelidiki informasi yang hendak disampaikan. Informasi jangan sampai menyinggung perasaan atau merugikan komunikan serta perlunya ketepatan memilih media.

b. Hubungannya dengan kondisi Komunikator

- Kecakapan komunikasi.

- Mempunyai sikap baik terhadap audience

- Mempunyai pengetahuan yang luas.

- Berada dalam sistem sosial yang baik, menyangkut peran, pendidikan, status, kekuasaan dan kepribadian.

- Kebudayaan, kepercayaan dan kerangka berfikir.

Oleh karena itu,selain sikap simpati dan empati yang perlu diberikan namun harus pula diiringi dengan pesan-pesan komunikasi yang disampaikan secara bijaksana dan teratur.





BAB III

KESIMPULAN



Islam mengatur prinsip-prinsip komunikasi yang berdasarkan pada sumber Al-Qur’an dan Hadis. Dalam bingkai komunikasi islam inilah prinsip-prinsip komunikasi bisa diklasifikasikan menjadi 6 prinsip.

Qoulan sadidan berarti pembicaraan atau komunikasi yang benar, jujur lurus, tidak berbohong dan tidak berbelit-belit ini disebutkan dalam al-quran surat An-Nisa: 9 dan Surat Al-ahzab:70, hadis nabi yang mengiringi adalah perihal agar selalu berkata benar dan menghindari sifat dusta.

Qoulan Balighan yaitu berkata fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki yang disebutkan juga dalan An-nisa:63 juga hadis nabi yang menghimbau untuk menguasai lidah.

Qoulan Ma’rufan berkata-kata yang baik, dipaparkan pada surat Al-Baqarah ayat 235, surah An-Nisa ayat 5, surah An-Nisa ayat 8 dan surah al-Ahzab ayat 32 serta pada Hadist Nabi tentang jangan berbantah, berolok-olok dan memungkiri janji.

Qoulan Kariman berkata-katalah yang mulia dalam surah Al-Isra ayat 23 serta di padukan dengan salah satu hadis nabi agar kita jangan menyebut keburukan orang

Qaulan layyinan adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan, pemberian contoh di mana si pembicara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikan adalah benar dan rasional, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut sumber pada surah Thaha ayat 44 dan hadis nabi yang menganjurkan untuk lemah lembut dalam segala urusan.

Qaulan maysuran adalah berkata dengan mudah. Berkata dengan mudah adalah kata-kata yang digunakan mudah dicerna, dimengerti,dan difahami oleh komunikan. Sumber Al-Quran pada surah Al-Isra ayat 28 diperkuat juga dengan Hadis tentang Ucapan yang lebih disukai Allah dan pentingnya mengedepankan pengetahuan dan tidak berusaha untuk menjadi yang paling benar dalam berkomunikasi.













[1] Eko Hadi Wiyono, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Surabaya: Palanta.,2007), h.331


[2] Mohd. Rafiq, Analytica Islamica (Tantangan & peluang Komunikasi Islam), Vol 5 No.2, 2003: 149-168 dikutip dari Zulkipli Abdul Ghani, Islam, Komunikasi dan Teknologi Maklumat (Kuala Lumpur: Utusan Publisitas dan Distributor Sdr. Bhd.,2001), h.4


[3] Mohd. Rafiq, Analytica Islamica (Tantangan & peluang Komunikasi Islam), Vol 5 No.2, 2003: 149-168 dikutip dari M.Yusuf Hussain, 25 soal jawab mengenai komunikasi islam (Komunikasi pembangunan;Unv.Pertanian Malaysia,1990),h.1


[4] Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam (Jakarta: Logos,1999), h. 25


[5] Furqanazuera.blogspot.com/2011//02/prinsip-prinsip-komunikasi-islam


[6] Fachruddin HS dan IrfanFachruddin, Pilihan Sabda Rasul (Jakarta:Bumi Aksara,1996), h.119


[7] Ibid,h.154


[8] Ibid, h. 137


[9] Ibid.,h.121


[10] Ibn ‘Asyur al-Tahrir, jilid 4, h.978 dalam sekelumitinfo.wordpress.com/2011/05/22/prinsip-prinsip-komunikasi-dalam-islam/


[11] Opcit.,h,291


[12] Yoyon mudjiono, Ilmu komunikasi (Surabaya: Dakwah Digital Press, 2007) h. 84 dikutip dalam Anwar Arifin, Strategi Komunikasi,h.87


[13] ummhani.blogspot.com dikutip dari Al-Ishfahani, al-Mufradat, pada term ‘Arafa, h.331


[14] Loc.cit dikutip dari Al-Razi, Mafatih, jilid 9, hal. 152


[15] Loc.cit dikutip dari Al-Razi, Mafatih, jilid 9 hal. 161


[16] Loc.cit Al-Razi, Mafatih, jilid 25 hal.180


[17] Fachruddin HS dan IrfanFachruddin, Pilihan Sabda Rasul (Jakarta:Bumi Aksara,1996), h.484-485


[18] Al-Ishfahani, al-Mufradat, pada term karama, h.428


[19] Al-Ishfahani, al-Mufradat h. 429


[20] Fachruddin HS dan IrfanFachruddin, Pilihan Sabda Rasul (Jakarta:Bumi Aksara,1996), h.54


[21]ummhani.blogspot.com Dikutip dari Ibn ‘Asyur, al-Tahrir, jilid 16, hal. 225


[22] Fachruddin HS dan IrfanFachruddin, Pilihan Sabda Rasul (Jakarta:Bumi Aksara,1996), h.54


[23] Ibid.,h.356


[24] Ibid.,h.331


[25] Yoyon mudjiono, Ilmu komunikasi (Surabaya: Dakwah Digital Press, 2007) h.82-83
Post a Comment