Gaya Komunikasi Organisasi Antar Pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya (Studi Tentang Proses Komunikasi Organisasi Antar Pengurus Dalam Himpunan Mahasiswa Komunikasi Periode 2012-2013 Di IAIN Sunan Ampel Surabaya)

blogger templates
Latar Belakang

Awal dari adanya penelitian ini adalah karena masih belum terbiasanya dan belum saling kenalnya antar anggota Himpunan Mahasiswa Komunikasi. Hal tersebut dikarenakan banyak anggota Himpunan Mahasisiwa Komuunikasi yang baru dan mereka masih belum saling kenal. Padahal seharusnya para anggota dapat berkomunikasi dengan baik antar sesama anggota. Sebab antar anggota harus dapat bekerjasama, apalagi setelah pelantikan anggota, para anggota telah dinanti oleh tugas-tugasnya sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Komunikasi. jadi para anggota harus langsung dapat saling beradaptasi dan saling mengenal antar satu dengan yang lain. oleh sebab itu adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi organisasi antar pengurus dalam Himpunan Mahasiswa Komunikasi.

B. Masalah dan Fokus Penelitian

a. Masalah

ketika sesama anggota masih saling kulang akrab ketika kini segala macam tugas telah menanti untuk dikerjakan, bukan secara individu, karena aggota Himpunan Mahasiswa Komunikasi tidak bekerja sendirian melainkan sebagai sebuah tim. Dari hal tersebutlah maka muncul sebuah masalah, bagaimanakah gaya komunikasi organisasi yang paling efektif bagi pengurus Himpunan Mahasiswa Komunikasi periode 2012-2013 di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

b. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam masalah yang sedang dibahas kali ini adalah pengurus dalam Himpunan Mahasisiwa Komunikasi periode 2012-2013 di IAIN Sunan Ampel Surabaya.

c. Pertanyaan penelitian

1. Bagaimana gaya komunikasi pengurus Himpunan Mahasiswa Komunikasi periode 2012-2013?

C. Kajian Pustaka

Komunikasi adalah. Sedangakan komunikasi organisasi adalah. Akan tetapi, dalam komunikasi organisasi pastinya akan terjadi suatu konflik. Oleh sebab itu sangat diperlukan suatu gaya komunikasi dalam komunikasi organisasi. Tapi, apakah gaya komunikasi itu? Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antar pribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation). [1]

Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula. Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, tergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).

Ada enam gaya komunikasi yang ada, yaitu: Controlling Style, Equalitarian Style, Structuring Style, Dynamic Style, dan Relinquishin Style serta Withdrawal Style.

Ø The Controlling Style

Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan menagtur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang –orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communicators.

Pihak-pihak yang memakai controlling style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentiangan pribadi mereka. Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.

Pesan-pesan yang berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama, namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demikian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang bersifat negatif pula.

Ø The Equalitarian Style

Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yan bersifat dua arah (two-way traffic of communication).

Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Akhirnya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.

Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yan memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkungan hubungan kerja. The equalitarian style ini akan lebih memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindak berbagai informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.

Ø The Structuring Style

Gaya komunikasi yang terstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagai informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.

Stogdill dan Coons dari the Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang –orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Ø The Dynamic Style

Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh pakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawahi para wiraniaga (salesman atau saleswoman).

Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah menstimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.

Ø The Relinquishing Style

Gaya komunhkasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.

Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.

Ø The Withdrawal Style

Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antar pribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.

Dalam deskripsi yang konkret adalah ketika seseorang mengatakan: "Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini". Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. oleh karena itu, gaya komunikasi ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi organisasi.

Gambaran umum yang diperoleh dari uraian diatas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya: structuring, dynamic, dan relinquishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat dan produktif.

Post a Comment