Autis

blogger templates
Tidak semua individu dilahirkan dalam keadaan normal, ada beberapa diantara mereka terlahir dengan memiliki keterbatasan, misalnya saja keterbatasan mental yang dialami anak autis yang berupa gangguan komunikasi dan prilaku social. dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak autisme hidup dalam dunianya sendiri (Yatim, 2007:10). Hal ini juga diketahui bahwa banyak orang dengan autism memiliki kesulitan sosial dan emosional (Hauck,Fein, Waterhouse, & Feinstein, 1995; Hobson,1986, Hobson & Lee, 1998; Kanner, 1943).

Factor-faktor penyebab autis bermacam-macam seperti, gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan bervariasi ,gangguan parvasif (gangguan pada kognitif social, tingkah laku dan emosi) bisa dari virus seperti rubella, toxo, dan vaksin morbili dan rubella (MMR), gizi atau nutrisi yang buruk, keracunan, pendarahan waktu ibu hamil, gangguan pencernaan atau metabolism yang merusak atau menganggu sel-sel otak,

Gambaran klinis anak dengan gangguan autism. Gejala autismme masa kanak-kanak muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Gejala ini pada sebagian anak muncul sejak lahir, sebagian lagi berkembang normal, tetapi sebelum mencapai usia tiga tahun perkembangannya terhenti dan mulai tampak gejala autismme. Tiga gejala utama pada gangguan autismme, yaitu :

1.Gangguan pada kemampuan interaksi sosial.

2.Gangguan pada kemampuan komunikasi dan berbahasa.

3.Perilaku yang tidak lazim dan terbatasnya minat serta aktivitas.

Berikut ini kriteria gangguan autismm masa kanak-kanak secara lebih rinci adalah sebagai berikut :

1. Harus ada minimum dua gejala dari (a), dan masing-masing satu gejala dari (b) dan (c).

a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.

b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.



2. Adanya keterlambatan atau gangguan dalam interaksi sosial, bicara dan bahasa, dan cara bermain yang kurang variatif sebelum umur tiga tahun

3. Tidak disebabkan oleh sindrom rett atau gngguan disintegrasi masa kanak-kanak.

Profesor Nilli Lavie, dari Institute of Cognitive Neuroscience di UCL yang melakukan penelitian ini mengatakan, kombinasi antara kelebihan dan kekurangan yang dimiliki orang autistik disebabkan oleh tingginya kapasitas pengolahan informasi dibandingkan orang normal.



· Kapasitas otak orang dewasa normal memiliki perbedaan dengan orang autistic

· Orang autistik memiliki kelebihan dalam menangkap obyek, tetapi kelebihan ini juga membuat mereka kesulitan mengabaikan obyek yang sebenarnya tidak relevan.

· Melihat autisme tidak dalam defisit atensi melainkan kelebihan dalam pengolah informasi

Menurut Power (1989) anak autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:

· interaksi sosial,

· komunikasi (bahasa dan bicara)

· perilaku-emosi

· pola bermain

· gangguan sensorik dan motorik

· perkembangan terlambat atau tidak normal.

World Heatly Organazation,h ,253, 1992 mendefinisikan autism sebagai adanya keabnormalan dan gangguan paerkembangannya yang normal sebelum usia tiga tahun dengan type karakteristik tidak normaldalam tiga bidang yaitu; interaksi social, komunikasi dan perilaku yang dulang-ulang.

(Chaplin.h, 46, 2005) keasyikan ekstrim dengan fikiran dan fantasi sendiri

Menurut Handoyo (2003) dalam bukunya autuisme berasal dari kata auto yang berarti sendir penyandang autis seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri

Baron, Cohen , 1988 dalam Kathleen ,(1995) Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis.

Anak autis mengalami gangguan pemrosesan sensorik, tidak dapat mengintegrasikan data emosional yang masuk dan menafsirkannya dari berbagai sudut pandang. Reaktifitas sensorik atau gangguan pemrosesan dapat menyebabkan kesalahan dalam menafsirkan informasi emosional yang diperoleh dari sekelilingnya sehingga mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat (Greenspan dan Weider, 2006).



(Adrian polo, skripsi 2006:25). Autism didefinisikan sebagai penyakit neuropsikiatrik yang ditandai oleh gangguan social dan komunikasi, disertai keterbatasan pola tingkah laku dan perhatian, artinya autis merupakan gangguan yang berhubungan dengan system syraf dan psikis yang dapat dilihat dari hubungan social komunikasi dan tingkah laku.

(Peters,2009:10) autism memiliki masalah perilaku, masalah komunikasi dan masalah pendengaran serta keterbelakangan mental, ini akan menjadi bencana kalu mereka dirawat dengan cara yang sama seperti non-autuistik yang tidak memiliki masalah perilaku atau pendengaran serta keterbelakangan mental, hal ini disebabkan karena perbedaan kesulitan yang mereka alami dan suatu pemahaman secara menyeluru tentang autism harus menjadi titik awal bagi sebuah pendekatan psikodekuasional (pendidikan kejiwaan)

Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu : anak autis memiliki hambatan kualitatif dalam interkasi social dan komunikasi artinya bahwa anak auitistik memiliki hambatan dalam kualitas interaksi dengan individu di sekitar lingkungannya, seperti sering terlihat menarik diri, acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain, dan bagi mereka yang keterlekatannya dengan orang tua tinggi, anak akan cemas apabila ditinggalkan olh orang tuanya.Sekitar 50 persen anak autis yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Mereka mengalami kesulitan dalam memahami pembicaraan orang lain yang dilakukan pada mereka, kesulitan dalam memahami arti kata-kata dan apabila berbicara tidak pada konteks yang tepat. Sering mengulag kata-kata tanpa bermaksud untuk berkomunikasi, dan sering salah dalam menggunakan kata ganti orang, contohnya menggunakan kata saya untuk orang lain dan kata kamu untuk diri sendiri. Mereka tidak mengkompensasikan ketidak mampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa lisan atau menunjuk dengan tubuh, tetapi menarik tangan orang tuanya untuk mengambil objek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahsa tubuh untuk berkomunikasi seperti : menggeleg, mengangguk, melambaikan tangan, dan lain sebagainya.Anak autis memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung menyenangi lingkungan yang rutin dan menolak peruahan lingkungan, minat mereka terbatas artinya apabila mereka menyukai suatu perbuatan maka akan terus-menerus mengulangi perbuatan itu. Anak autistic juga menyenangi keteraturan yang berlebihan Lorna

Wing ( 1974) menuliskan 2 kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis yaitu:

1. Masalah dalam memahami lingkungan ( problem in understanding the world)

a. Respon terhadap suara yang tidak biasa (unussualy sound). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan benda disampingnya. Anak autis dapat juga tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang terganggu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.

b. Sulit dalam memahami pembicaraan (difficulties in understanding speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaran memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia 5 tahun banyak auitis yang mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan.

c. Kesulitan ketika bercakap-cakap (difficulties when talking). Beberapa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain, mereka mengalami kesulitan dalam mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata – kata secara fleksibel atau mengungkapkan ide.

d. Lemah dalam pengucapan dan control suara (poor pronunciation and voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kat-kata yag hamper sam, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya mengalami kesulitan dalam mengontrol kekerasan ( loudness) suara.

e. Masalah dalam memahami benda yang dilihat ( problem in understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitive terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera ( blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan gambara mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak. Masalah dalam pemahaman gerak isyarat ( problem in understanding gesture). Anak autis memiliki masalah dengan menggunakan bahasa komunikasi, seperti gerak isarat, gerakan tubuh , ekspresi wajah.

f. Indra peraba, perasa dan pembau ( the senses of touch, taste and smell). Anak-anak auti mnjelajahi lingkungannya dengan indra peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitive terhadap dingin dan sakit.

g. Gerakan tubuh yang tidak biasa (unusually body movement). Ada gerakan-gerakan anak autis yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak normal seperti ,mengepak-ngepakkkan tangannya, meloncat-loncat, dan menyeringai.

h. Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis ketika berjalan Nampak anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih kaku dan berkjalan seperti memiliki beberapa kesulitan dalam keseimbangan dbiasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.

2. Masalah gangguan perilaku dan emosi ( difficult behaviour and emotional problems).

a. Sikap menyendiri dan menarik diri (aloofness and withdrawal). Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong.

b. Menentang perubahan (resistance to change). Banyak anak autis yang menuntu pengulangan rtinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.

c. Ketakutan khusus (special fears). Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami kemungkinan konsekuensinya.

d. Perilaku yang memalukan secara social (socially embarrassing behavior). Pemahaman anak-anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima secara social. Anak-anak autis tidak malu untuk berteriak ditempat umum atau berteriak dengan keras di sepanjang jalan.

e. Ketidakmampuan untuk bermain ( inability to play). Banyak anak bermain dengan air , pasir atau lumpur selama berjam-jam. Mereka tidak dapatbermain pura-pura. Anak-anak autis krang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan dengan anak-anak yang lain. Mencermati perkembangan teknologi dan komunikasi yang makin cepat membutuhkan gerak yang serba instant, sebab memiliki efek yang mempengaruhi gaya hidup manusia yang gampang, praktis, ekonomis dan sebagainya. Kadang kita lupa bahwa tidak semua yang praktis dan ekonomis itu baik untuk kesehatan tubuh manusia dan tanpa disadari perkembangan penyakit juga semakin banyak dan salah satunya adalah penyakit autism dimana penyakit yang menyebabkan anak memiliki perilaku tidak peduli dengan lingkungan sosialnya sehingga dapat mempengaruhi perkembangan dalam komunikasinya.



Anak autis termasuk termasuk salah satu anak yang mengalami gangguan perkembangan kompleks yang berdampak pada perkembangan social, komunikasi perilaku dan emosi yang tidak berkembang secara optimal. Akibat gangguan perkembangan ini anak menjadi kurang memperhatikan lingkungannya dan asyik dengan dunianya sendiri gangguan tersebut bersumber pada gangguan otak bagian interaksi dan komunikasi sehingga para penyandang autism mengalami kesulitan pada komunikasi verbal dan non verbal, interaksi social, aktivitas bermain. Kesulitan ini menyebabkan anak kesulitan melakikan interaksi dengan orang lain dan dunia luar.

Kondisi anak autis tidak hanya mempengaruhi kehidupan anak itu sendiri namun juga berdampak pada orang tua dan anggota keluarganya serta lingkungan social dimana anak itu berada. Permasalahan yang utama yaitu ketidak mampuan anak untuk memahami informasi dan komunikasi.



Komunikasi adalah kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan individu, menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain, untuk menggambarkan tindakan dan untuk mengakui keberadaan atau kehadiran orang lain. Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non verbal. Komunikasi dapat dijalin melalui gerakan tubuh, melalui isyarat atau dengan menunjukkan gambar atau kata-kata. Secara tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi social anatara dua individu atau lebih.Dalam komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk emenuhi kemampuan (competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus mengetahui, memahami dan mengerti kedua eran tersebut, sebagai pemrakarsa dan sebagai penerima pesan

Seorang ahli bedah otak bernama Penfield (Harris, 1987:21) berkesimpulan :

“Orang merasakan lagi emosi yang pada mulanya dihasilkan oleh keadaan dalam dirinya. Dan dia sadar akan interpretasi yang sama, benar atau salah, yang dia berikan terhadap pengalaman itu pada saat-saat pertama. Jadi, ingatan yang timbul bukanlah reproduksi fotografis atau fonografis adegan atau peristiwa masa lampau. Tepatnya, ingatan itu adalah reproduksi dari apa yang dilihat, didengar, dirasa dan dimengerti”

Menurut Stewart L. Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator (Rakhmat, 2008:13). Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer, dalam hal ini terutama anak autis mengalamikegagalan menerima isi pesan. Komunikasi juga dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan dan kehangatan hubungan, namun pada kasus anak autis, kesenangan terhadap benda maupun manusia ditunjukkan dengan emosi yang mendalam

Faisal Yatim dalam buku mengenai terapi autis (2007:24). Kualitas komunikasi pada anak autis menjadi sangat buruk, mereka tidak mampu menganalisis dan memahami sistem komunikasi manusia. Kemampuan bicara mengalami keterlambatan, bahasa yang tidak lazim selalu diulang-ulang, dan tidak nampak usaha dari si anak untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Mereka juga tidak mampu berbagi rasa terhadap perasaan orang sekitar dalam hal hubungan antar teman sepergaulan serta perilaku berkomunikasi.

(Wilson, 1987 Kathleen Ann Quill,1995).Komunikasi lebih dari pada kemampuan untuk bicara atau kemampuan untuk merangkai kata-kata dalam urutan yang tepat

Untuk peran pemrakarsa dalam berkomunikasi, anak autistic mengalami kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan ( Feidstein, Konstantereas, Oxman , & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995).

Siller dan Sigman (2002) menemukan bahwa perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi anak dengan gangguan autism dapat diprediksikan dari seberapa intens keterlibatan orang tua atau pengasuh terhadap interaksi dan hubungan dengan aktivitas anak.



Menurut Hovland dalam Blake Haroldsen komunikasi antar pribadi sebagai Interpersonal communication as interacting situation in which an individual (the comunicator) transmit stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of other individuals (communicates) in face to face setting (Haroldsen, 1979 : 26).

Hovland berpendapat bahwa komunikasi antar pribadi sebagai suatu situasi interaksi, dimana individu (komunikator) mengirim stimulus (perangsang) berupa simbol verbal untuk mengubah perilaku individu-individu lain dalam situasi tatap muka.



Menurut Barlund (Sendjaja, 2002) komunikasi antar pribadi memiliki lima

kriteria :

1. Dalam komunikasi antar pribadi ada dua orang atau lebih yang menganggap kehadiran satu sama lainnya dalam kedekatan fisik.

2. Komunikasi antar pribadi mengandung saling ketergantungan berkomunikasi.

3. Komunikasi antar pribadi mengandung suatu pertukaran pesan.

4. Dasar interaksinya tatap muka, sehingga semua indera dimungkinkan untuk digunakan.

5. Komunikasi antar pribadi memiliki cakupan yang luas, dengan beberapa aturan yang mengatur jumlah, bentuk, atau isi pesan.



Wood (1983 : 6), bahwa “Skill interpersonal communication is directly linked to the quality of our lives, Interpersonal communication help us seek our personal goals, the prosess of intrapersonal communication is the basis of our relationships”.

Kemampuan komunikasi antar pribadi itu memberi pengaruh langsung terhadap kualitas hidup seseorang, dan membantu dalam bentuk suatu kesamaan dan menyesuaikan dengan yang lain. Kemampuan komunikasi antar pribadi memungkinkan seorang mengatur perilaku social dalam usaha pencapaian dasar dari hubunganhubungan yang dilakukan seseorang



Devito menguraikan ciri karakteristik dari komunikasi antar pribadi sebagai berikut :

1. Adanya pesan yang disampaikan oleh sipenerima pesan termasuk di dalamnya pesan verbal dan non verbal.

2. Dalam prosesnya melibatkan sekelompok orang.

3. Terjadi penerimaan pesan oleh pihak lain.

4. Adanya efek, apabila terjadi keterlibatan komunikasi antar pribadi, tentu akan terjadi beberapa efek. Apakah efek itu berupa persetujuan total atau ketidaksetujuan total.

Umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali oleh si penerima, baik secara sengaja maupun tidak.



Melancholy (part III)

· kemampuan berkomunikasi anak autis mengalami keterlambatan atau malah tidak bisa bicara,

· lebih suka menyendiri,

· bersosialisasi seperti tersenyum dan mentap mata lawan bicara,

· sensitive terhadap cahaya, penciuman,rasa, pendengaran dan sentuhan

· tidak mampu berimajinasi dalam bermain,tidak bisa menirukan tingkah laku temannya

· bisa menjadi pendian atau malah bisa menjadi sangat hiperaktif

· mencurahkan pada suatu benda, aktivitas, atau orang

· tidak dapat menunjukkan akal sehatnya



Berbagai terapi mungkin telah diterapkan diberbagai pusat terapi yang berbeda, namun yang banyak digunakan dan dianggap sebagai dasar dari pembentukan perilaku dan kontak sosial adalah terapi perilaku. Terapi ini memang nampak cukup memberikan hasil yang dapat dilihat dalam waktu relatif singkat, sesuai dengan tingkatan gangguan autism yang dimilikinya. Sayangnya metode yang pertama kali dipopulerkan oleh Loovas sebagai metode Applied Behavior Analysis yang menekankan konsep dan teori belajar ini belum diterapkan secara tepat. Ketidaktepatan dari penerapan metode ABA ini adalah munculnya beberapa tindakan dan emosi terapis yang tidak diharapkan, sehingga hal ini akan menimbulkan efek samping yang kurang menguntungkan, baik bagi orang tua maupun bagi anak. Tindakan ini akan memberikan efek yang lebih menyulitkan, apabila orang tua di rumah juga mengikuti pola dan model terapi yang yang diterima anak di pusat terapinya. Perilaku dan afek yang dianggap kurang diharapkan antara lain, adalah perilaku agresi seperti memukul, mencubit, menginjak kaki; sedangkan afek yang menyertainya adalah suara dengan nada tinggi, mata melotot, wajah cemberut yang menunjukkan emosi negatif. Sedangkan afek yang menyertainya adalah suara dengan nada tinggi, mata melotot, wajah cemberut yang menunjukkan emosi negatif. Individu dengan autisme dapat menampilkan ditandai penurunan pemahaman emosi termasuk ekspresi wajah (Braverman,Fein, Lucci, & Waterhouse, 1989; Celani, Battacchi,& Arcidiacono, 1999; Hobson, 1986; Klin, Sparrow, de Bildt, Cicchetti, Cohen, &Volkmar, 1999).



Orang tua yang mungkin belum banyak tahu efek negatif dari tindakan tersebut juga ikut-ikutan menerapkan di rumah, apalagi bila dianggap cara tersebut memiliki hasil yang dianggap efektif, karena anak akan mematuhi perintah tanpa memperhatikan emosi anak serta efek habituasinya. Orang tua baru akan merasa kesulitan, apabila anak tidak mau mematuhi perintah dan ajarannya bila tidak diperlakukan secara keras, bahkan membutuhkan tindakan yang lebih keras dari yang pernah diterimanya.



Pengalaman ini menuntut banyak orang untuk memikirkan terapi alternatif yang mungkin dapat diberikan untuk membantu meningkatkan perilaku positif dan mengurangi simtom-simtom negatif dari anak-anak dengan gangguan autism. Sebenarnya banyak alternatif terapi yang dikenal oleh para ahli maupun pemerhati, namun sayangnya belum banyak yang dapat diterapkan secara lengkap, hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas yang ada di pusat-pusat terapi, sehingga belum ada data dan fakta yang menunjukkan bukti-bukti efektivitas dari penerapan terapi tersebut bagi perbaikan kemampuan anak autism.



Berdasarkan kebutuhan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menerapkan terapi dengan model “bermain sosial” untuk membantu meningkatkan perilaku positif anak autism, serta ingin mengetahui seberapa jauh sumbangan terapi tersebut pada tujuan yang ingin dicapai. Terapi tersebut dipilih sebagai terapi alternatif, mengingat terapi tersebut biayanya murah, dapat dilakukan dimana saja, tidak harus dikelas, dan oleh siapa saja. Hal ini memungkinkan setiap orang tua atau keluarga yang memiliki anak dengan gangguan autism dapat memberikan terapi tersebut sepanjang waktu.



Prawitosari (2002) mengatakan bahwa individu yang dikatakan sehat secara biopsikososiokultural adalah individu yang :

· Bermain,

· sekolah,

· Bekerja,

· Bercinta,

· Beribadah.

Kegiatan bermain berperan untuk mengembangkan kemapuan fisik, intelektual, sosial dan emosio



Smith (1971) menjelaskan bahwa bermain bagi anak merupakan kegiatan yang terdiri dari : meniru, eksplorasi, menguji dan membangun



Hughes ( 1995). Berdasarkan pengertian ini manfaat bermain bagi anak adalah sebagai sarana untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku mereka; penyaluran keinginan dan kebutuhan yang tidak dapat mereka miliki.



Sementara Landreth (2001) mendefinisikan terapi bermain sebagai hubungan interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam prosedur terapi bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain.

Menurut Hughes (1995) beberapa karakteristik kegiatan bermain berdasarkan sikap individu adalah :

1. Bermain dilakukan karena kesukarelaan, bukan paksaan

2. Bermain merupakan kegiatan untuk dinikmati.

3. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan.

4. Aktivitas dalam bermain lebih penting dari pada tujuan

5. Bermain harus aktif secara fisik dan mental

6. Bermain itu bebas, tidak harus selaras dengan kenyataan.

7. Dalam bermain, individu bertingkah laku secara spontan, sesuai dengan yang diinginkan saat itu.

8. Makna dan kesenangan bermain sepenuhnya ditentukan oleh pelaku. Berdasarkan sifat kegiatannya, maka bermain dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

· bermain aktif

· bermain pasif



Bermain aktif adalah bermain yang kegembirannya timbul dari anak itu sendiri, meliputi kegiatan bermain bebas, spontan, bermain drama, melamun, bermain konstruktif, bermain musik, dan berolahraga. Bermain aktif berfungsi untuk memuaskan kebutuhan anak, diantaranya adalah kebutuhan untuk mengadakan sosialisasi, mandiri dalam bekerja sama dengan orang lain, membutuhkan rasa percaya diri, serta mengambangkan daya imajinasi. Bermain pasif adalah bermain yang kegembiraannya diperoleh melalui kegiatan orang lain, misalnya: membaca buku, menonton, mendengarkan radio, dan dongeng. Bermain pasif berfungsi untuk sumber pengembangan kemampuan berkomunikasi, sumber pengetahuan dan juga sumber identifikasi diri terhadap tokoh teladan dari segi kualitas, kepemimpinan, budi pekerti dan keberhasilan dalam bidang lain

Beberapa stimulus yang mengundang respon bagi anak-anak autistik dapat berupa benda maupun peristiwa. Namun, adanya gangguan pemrosesan pada anak autistik dapat mengakibatkan reaksi emosional yang tidak tepat atau ekstrim sehingga menyebabkan kebingungan dan ketakutan. Dalam beberapa penelitian mengenai emosi pada anak autis didapatkan beberapa stimulus yang menimbulkan respon emosi adalah benda-benda yang ada di dalam kehidupan mereka sehari-hari (Greenspan dan Wieder, 2006).

Sebagian besar teknik terapi bermain yang dilaporkan dalam literatur menggunakan basis pendekatan psikodinamika atau sudut pandang analitis. Hal ini sangat menarik karena pendekatan ini secara tradisional dianggap membutuhkan komunikasi verbal yang tinggi, sementara populasi autistik tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Namun terdapat juga beberapa hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan terapi bermain pada penyandang autisme dengan berdasar pada pendekatan perilakuan (Landreth, 2001). Salah satu contoh penerapan terapi bermain yang menggunakan pendekatan perilakuan adalah The ETHOS Play Session dari Bryna Siegel (Schaefer, Gitlin, & Sandgrund, 1991).

Bromfield mencoba menirukan perilaku obsessif anak untuk mencium/membaui semua objek yang ditemui menggunakan suatu boneka yang juga mencium-cium benda. Apa yang dilakukan Bromfield dan yang dikatakannya ternyata dapat menarik perhatian anak tersebut. Bromfield berhasil menjalin komunikasi lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti boneka, catatan-catatan kecil, dan telepon mainan. Setelah proses terapi yang berjalan 3 tahun, si anak dapat berkomunikasi secara lebih sering dan langsung

Lower & Lanyado juga menerapkan terapi bermain yang menggunakan pemaknaan sebagai teknik utama. Mereka berusaha masuk ke dunia anak dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak, seperti gerakan menunjuk. Tidak ada penjelasan detil tentang teknik mereka namun dikatakan bahwa mereka kurang berhasil dengan teknik ini.

Wolfberg & Schuler menyarankan penggunaan terapi bermain kelompok bagi anak-anak autistik dan menekankan pentingnya integrasi kelompok yang lebih banyak memasukkan anak-anak dengan kemampuan sosial yan tinggi. Jadi mereka memasangkan anak-anak autistik dengan anak-anak normal dan secara hati-hati memilih alat bermain dan jenis permainan yang dapat memfasilitasi proses bermain dan interaksi di antara mereka. Fasilitator dewasa hanya berperan sebagai pendukung dan mendorong terjadinya proses interaksi yang tepat.

Mundschenk & Sasso juga menggunakan terapi bermain kelompok ini. Mereka melatih anak-anak non-autistik untuk berinteraksi dengan anak-anak autistik dalam kelompok.

Voyat mendeskripsikan pendekatan multi disiplin dalam penggunaan terapi bermain bagi anak autisme, yaitu dengan menggabungkan terapi bermain dengan pendidikan khusus dan melatih ketrampilan mengurus diri sendiri

Kegiatan bermain berperan untuk mengembangkan kemapuan fisik, intelektual, sosial dan emosional



Gheart & Leovitt, (1985). Bermain juga memegang peranan untuk menmgembangkan kemampuan intelektual, khususnya merangsang perkembangan kognitif, membangun struktur kognitif, belajar memecahkan masalah, rasa kompetisi dan percaya diri, menetralisir emosi negatif, menyelesaikan konflik, menyalurkan agresivitas secara aman dan mengembangkan konsep diri secara realistic. Secara fisik, bermain juga mematangkan kecakapan motorik kasar dan halus, keterampilan jari jemari, serta koordinasi mata dan tangan. Kepekaan pengindraan juga berkembang, menguasai keterampilan motorik dan menyalurkan energi fisik. Pengembangan imajinasi dan kreativitas anak juga berkembang melalui aktivitas bermain



Kasari (2002) menemukan bahwa intervensi atau terapi yang dibutuhkan untuk anak dengan gangguan autism dimasa mendatang adalah intervensi yang comprehensif yang dapat memberikan situasi “ joint attention “ dan “symbolic play”. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelajaran kepada anak bahwa anak harus memahami apa yang ada dibalik suatu tindakan. Sehingga dapat diharapkan ia dapat memahami dirinya dan memanajemeni dirinya. Bermain simbolik ini selain dapat menumbuhkembangkan kemampuan anak dalam memahami suatu situasi, anak juga dapat mengembangkan pemahaman terhadap perannya dalam lingkungan. Perkembangan empati juga akan mengikutinya pelan-pelan. Terapi bermain sosial ini juga dapat mempengaruhi perkembangan nilai-nilai dan relasi sosial didalam keluarga, sehingga diharapkan juga akan dapat menumbuhkan emosi positif bagi anggota keluarga lain. Dengan demikian maka terapi ini akan semakin dapat berjalan secara intensif dan alamiah. Oleh karena itu tingkat keberhasilannya juga akan semakin tinggi.



Bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosi, ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada anak-anak (Landreth, 2001).



Erikson (dalam Landreth, 2001) mendefinisikan bermain sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan menciptakan situasi model dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan. Moustakas (dalam Landreth, 2001) mendefinisikan permainan sebagai ‘pembiaran pergi’, kebebasan untuk mengalami, membenamkan seseorang secara total dalam momen tersebut sehingga tidak ada lagi beda antara diri dan objek dan diri sendiri dan orang lain. Energi, hidup, spirit, kejutan, peleburan, kesadaran, pembaharuan, semuanya adalah kualitas dalam permainan.

Erikson juga mulai mempublikasikan karyanya tentang anak dan remaja. Mendasarkan pada teori perkembangan psikososialnya, Erikson memandang bermain sebagai sebuah ekspresi kombinasi beberapa kekuatan, yaitu: perkembangan individual, dinamika keluarga, dan harapan masyarakat

Melanie Klein dan Anna Freud (Schaefer, et al., 1991), mencoba untuk menggunakan permainan sebagai media utnuk terapi.

Margaret Lowenfeld, yang memperkenalkan apa yang dia sebut “Teknik Miniatur Dunia”. Teknik ini merupakan sistem pertama dalam penggunaan mainan dan objek dalam bentuk mini (miniatur) secara terorganisasi, yang digunakan dalam terapi bermain

Piaget dengan teorinya tentang perkembangan kognitif juga memberi perhatian pada perilaku bermain. Menurutnya, perubahan perilaku bermain menunjukkan perkembangan intelektual, sama seperti peningkatan kompetensi individu. Bermain juga menjadi media bagi individu untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya.

Menurut Axline, dalam situasi bermain anak-anak menampilkan diri mereka dengan cara yang paling terus terang, jujur, dan jelas. Perasaan mereka, sikap, dan pikiran-pikiran yang muncul, terbuka dengan jelas dan tanpa usaha untuk ditutup-tutupi. Anak-anak juga belajar memahami diri mereka dan orang lain dengan lebih baik lewat bermain. Mereka belajar bahwa ketika bermain mereka dapat melakukan apapun, menciptakan dunia sendiri, menciptakan atau menghancurkan sesuatu.




Daftar pustaka

Faisal . yatim, 2007, Autisme, suatu gangguan kejuwaan. Jakarta: pustaka popular

Hobson, R. P. (1986). The autistic child’s appraisal of expressions of emotion. Journal Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 27, 321–342.



Axline, V.M. 1977. Play Therapy. Ballantine Book : New York.



Danu Atmaja, B. 2003. Terapi anak autism di rumah. Puspa Swara : Jakarta.



Kasari, Connie., 2002., Assesing Change in Early Intervention programs for Children with Autism., Journal Of Autism and developmental Disorder., Vol.32., No. 5., University Of California., California.

Landreth, G.L. 2001. Innovations in play therapy, issues, process, and special populations. Taylor & Francis Group : USA.

Hovlan, Blake Haroldsen, 1979. Interpersonal Communication Publishing Co.



Siller., M., and Sigman., M., 2002., The Behaviors of Parents of Children with Autism Predicted the Subsequent development of Their Children`s Communication., Journal of Autism and Developmental Disorders., Vol. 32. No. 2., Departement of Psychiatry Ucla School of Medicine., Los Angeles. California.



Handoyo, Y. (2003). Autisme, Jakarta : PT Buana Ilmu Populer



Quill, Kathlyn L., PhD. LOTR, MLIS. Quick Reference to Occupation Therapy. Texas Medical Center, Houston, Texas.



Devito, Joseph A, 1997. Komunikasi Antar Manusia diterjemahkan oleh AgusMaulana Edisi V. Profesional Books Jakarta.



Harris, S.L., Handleman, J.S., & Fong, P.L. (1987). Imitation of self-stimulation: Impact on the autistic child’s behavior and affect. Child & Family Behavior Therapy, 9(1-2), 1-21.



Rakhmat, Jalaludin (ed), Bauberey Fisher, Teori-Teori Komunikasi, Rosdakarya,Bandung, 1990.



Baron-Cohen, S. (1987). Autism and Symbolic Play. British Journal of Developmental and Psychology, 5, 139-148.



Baron-Cohen, S., Tager-Flusberg, H. dan Cohen, D. J. (Eds). (1993). Understanding Other Minds. Oxford: Oxford University Press. Lihat juga Baron Cohen, S. (1995). Mindblindness. Cambridge, Mass.: MIT Press.



Baron-Cohen, S. (1988). An assessment of violence in a young man with asperger’s syndrome. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines, 29, 351–360.



Sandjaya, S. Djuarsa, 2002. Teori Komunikasi. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.







Post a Comment