Bayi

blogger templates
Menurut Elizabert B. Hurlock tentang Psikologi perkembangan sebagai bagian dari psikologi yang mempelajari perkembangan manusia sejak dilahirkan atau konsepsi sampai meninggal dunia

Perkembangan adalah suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. (Werner, 1997:12)

Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. (Singgih Gunarso, 1990:20)

Menurut Kartini Kartono perkembangan adalah Perubahan-perubahan psiko fisik sebagai hasil dari pemantangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam masa waktu tertentu, menuju kedewasaan, atau dapat pula dikatakan sebagai proses transmisi dari konstitusi psiko fisik yang heridetet dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan perwujudan proses aktif menjadi secara terus menerus.

Perkembangan merupakan suatu masa yang paling penting disetiap kehidupan manusia dimana perkembangan itu dimulai sejak terjadinya pembuahan yang terjadi bertemunya ovum dan sperma. Perkembangan bayi dimulai saat bayi menjadi zigot hingga berkembang sampai dia memasuki masa produktif dan akan menurun pada saat manusia memasuki masa lanjut usia sampai meninggal dunia.

Masa bayi adalah masa dimana bayi lahir sampai berumur 2 tahun. Masa ini merupakan masa yang penting untuk mengetahui bagaimana proses bayi itu lahir dan pada jam berapa bayi itu lahir, karena dengan mengetahui proses kelahiran tersebut dapat diketahui bagaimana keadaan bayi itu ketika lahir sehingga dapat menetukan tindak lanjut yang dilakukan oleh orang tuanya pada perkembangan selanjutnya.

Mengasuh dan mendidik anak merupakan suatu tugas mulia yang dilakukan orang tua. Telah banyak usaha yang dilakukan orangtua untuk mencari dan membekali anaknya dengan pengetahuan-pengetahuan yang berkiatan dengan perkembangan anak.

A. Pengertian bayi

Masa Bayi terbagi menjadi 2:

1. Masa Neo-natal

Masa neonatal adalah periode manusia sesudah lahir dan berjalan dalam waktu yang singkat di banding dengan periode-periode perkembangan yang lain. Periode ini dimulai pada waktu lahir dan berjalan samapi akhir minggu kedua setelah bayi lahir. Masa neonatal ini terdiri dari dua bagian, yaitu partunatus dan neonatus. Dua masa ini umumnya dianggap sama karena, pada masa partunatus berlangsung sejak bayi dilahirkan sampai dipotong tali pusarnya. Dengan dipotongnya tali pusar bayi, maka mulailah masa neonatus. dengan demikian maka, maka masa partunatus itu pendek sekali sehingga masa ini biayasanya disebut masa neonatus saja (Soesilawindradini, 52).

2. Masa Pasca-natal

Bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa pengasuhan, pemeliharaan dan bimbingan dari orangtuanya. Anak akan belajar untuk mengembangkan keterampilan motorik, dengan merangkak, berdiri, berjalan, melompat, dan berlari. Selain itu, ciri spesifik yang terjadi pada masa di bawah tiga tahun, si anak memiliki kelekatan emosi dengan orangtua, takut berpisah dengan orangtua dan biasanya suka membuat cerita-cerita yang masuk akal.

Masa bayi merupakan masa dasar yaitu masa pembentukan dasar kehidupan yang sesungguhnya, karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap dan pola ekspresi emosi yang terbentuk (M.Alisus Sabri, 1993, 151).



B. Karakteristik Masa Bayi

1. Karakteristik Masa Neonatal

· Penyesuaian terhadap perubahan suhu

Didalam rahim ibu, orok mendapatkan suhu yang sama, akan tetapi di luar badan ibu orok harus mampu menyesuaikan diri dengan bermacam-macam suhu.

· Penyesuaian Terhadap Pernafasan

Pada masa prenatal orok mendapatkan oksigen yabg dibutuhkan dari plasenta kedalam tubuhnya. Namun, setelah tali pusat di potong pada waktu kelahirannya, orok harus mendapat oksigen dengan cara bernafas. Sehingga pada saat itulah paru-paru mulai bekerja dengan dimulainya tangisan pertama setelah orok lahir.



· Penyesuaian Terhadap Menghisap dan Menelan

Selama masa prenatal makanan orok di dapat dari sari-sari makanan yang dimakan oleh ibunya dan disalurkan melalui tali pusat menuju ke plasenta orok. Dan sari – sari makanan tersebut langsung masuk kedalam tubuh orok. Itulah sebabnya kenapa fetus dapat tumbuh dengan cepat.

Tetapi ketika orok sudah lahir, orok herus mampu menghisap dan menelan untuk mendapatkan bahan makanan yang dibutuhkan untuk perkambangannya. Karena pada permulaannya, reflex menghisap dan menelan itu belum sempurna , maka orok sering kali tidak mendapatkan cukup makanan yang mengakibatkan berat badannya menurun.

· Penyesuaian Terhadap Pembuangan Kotoran

Kotoran orok pada masa prenatal di buang dari tubuh fetus melalui tali pusat dan plasenta melalui darah ibu. Namun setelah beberapa menit atau kadang – kadang dapat juga terjadi pada jam setelah orok lahir barulah alat-alat ekskresi mulai bekerja dan selanjutnya melalui alat-alat inilah kotoran di keluarkan dari tubuh (Soesilowindradini,53-54).



2. Karakteristik Bayi Postnatal

Menurut pendapat pra ahli psikologi perkembangan (papalia, old dan feldman,1998; Turner dan Helms, 1995; Santrock,1999), ada beberapa karaklteristik bayi yang normal. Tanda-tanda tersebut merupakan bentuk kesadaran yang dimiliki oleh bayi untuk merespons terhadap stimulasa yang berasal dari lingkungannya. Beberapa karakteristik tersebut yaitu banyak tidur, tidur aktif, malas-malasan, waspada, rewel, dan menagis.

· Banyak Tidur

Pada fase postnatal sebagian besar waktu bayi yaitu sebesar 80% digunakan untuk beristirahat atau tidur, selebihnya waktu dipergunakan untuk mandi, melakukan proses ekskresi, makan, minum dan sebagainya.

· Tidur Aktif

Tidur merupakan aktifitas utama bagi setiap bayi yang normal. Dalam pandangan psikofisiologis, aktifitas tidur berfungsi untuk memberi kesempatan organ perut untuk mencerna makanan agar dapat dipergunakan dalam proses tumbuh kembang fisiknya.

· Malas-malasan

Malas-malasan bukan berarti bahwa bayi tidak mau beraktifitas apa-apa akan tetapi bayi mencoba memanfatkan waktunya untuk melihan memandangi atau mengobservasi benda-benda di linkungan sekitarnta. Proses observasi ini menjadi dasar pembelajaran bayi untuk menggali dan mengingat objek benda. Oleh karena itu stimulasi eksternal yang aktif dari orang tuanya, akan meningkatkan tingkat kognitif bayi dan akan menumbuhkan minat, bakat maupun kemampuan untuk memecahkan masalah.

· Waspada

Bayi selalu waspada dan sadar terhadap situasi linkgkungan eksternalnya meskipun sang bayi dalan keadaan tidur. Namun demikian, bila terjadi proses pembiasaan, maka bayi belajar untuk mengenali situasi dan kondisi lingkungannya sehingga, ia tidak akan mudah menagis meskipun mendengar situasi yang asing.

· Rewel

Rewel merupakan suatu isyarat yang disampaikan bayi untuk orangtuanya ketika si bayi tersebut mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal tersebut terjadi ketika ia merasakan ketidaknyamanan terhadap kondisi fisiknya seperti ketika ia merasakan sakit, lapar, haus, dan kondisi cuaca yang terus berubah-ubah. Kecenderungan ketidak nyamanan yang dialami bayi ini ditandai dengan menangisnya bayi. Namun, jika masalah tersebut sudah teratasi, maka bayi akan kembali merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.

· Menangis

Menangis ini merupakan salah satu komunikasi yang diekspresikan oleh seorang bayi kepada lingkungan sosialnya. Menangis diartikan sebagai suatu tanda yang memiliki arti tertentu salah satunya yaitu bayi memerlukan perhatian secepat mungkin. Menangis ini bersifat temporer, artinya bila bayi segera diperhatikan maka bayi tersebut akan kembali tenang (Agoes Dariyo, 2007, 106-108).



C. Tugas Perkembangan Masa Bayi

Tugas –tugas perkembangan masa bayi, diantaranya adalah:

· Kematangan fisik.

· Rangsangan atau tuntutan dari masyarakat.

· Norma pribadi mengenai aspirasinya.

· Belajar berjalan, makan dan berbicara.

· Harus mengikuti perkembangan sesuai dengan usia.

· Menjaga kesehatan, makanan dan kegiatan.

· Memberikan permainan yang sesuai.

· Membentuk perilaku dan perilaku agama.

· Mendidik dan menanamkan agama. (Siti Azizah Rahayu)

Tugas-tugas perkembangan pada anak-anak pada kelompok umur 0 sampai 6 tahun yakni (Singgih D. Gunarsa, 2003, hal. 63) :

· Berjalan

· Belajar memakan makanan keras

· Belajar berbicara

· Belajar untuk mengatur gerak-gerik tubuh yang tidak perlu

· Belajar mengenal perbedaan-perbedaan jenis kelamin dengan ciri-cirinya

· Mencapai stabilitas fisiologis

· Membentuk konsep-konsep sederhana mengenai realitas-realitas sosial dan fisik

· Belajar untuk melibatkan diri secar emosional dengan orang tua, saudara-saudara dan orang lain

· Belajar untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan membentuk nurani.

D. Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu metode penyelidikan, yang dilakukan dengan jalan mengadakan penginderaan kepada obyeknya dengan sengaja, dan dengan mengadakan pencatatan-pencatatan. (Agus Sujanto:1988. Hal 25)

Pada dasarnya metode yang paling dasar dilakukan dari semua metode yang ada. Yakni mengadakan pengamatan secara cermat, dan sistematis serta membutuhkan adanya keluwesan tertentu (tidak kaku). Agar semua aktivitas anak yang diselidiki selalu wajar. Kegiatan ini harus diiringi dengan pencatatan hasil secara teliti dari gejala yang ada. (Abu Ahmadi:2005. Hal.13)

Hal-hal yang perlu diperhatikadalam pelaksanaan observasi ini, diantaranya yakni :

§ Pada tepi halaman dicatat tanggal berapa kejadian itu, inti kata, keterangan umur dan sebagainya.

§ Anak tidak mengetahui bahwa ia sedang diamati-amati. Hal ini dimaksudkan agar penyelidikan bebas bertindak dan gerak-gerik atau tingkah laku anak tidak berubah.

§ Hasil pengamatan segera dicatat, bila singkat waktunya sehingga tidak memungkinkan untuk mencatat seluruhnya, kita harus mampu membedakan aspek mana yang perlu dicatat dengan singkat saja, atau menggunakan stenografi.

§ Pelaksanan observasi boleh dilakukan oleh dua orang. Tugas orang pertama ialah mengajak anak bercakap-cakap, bermain-main. Tugas orang kedua ialah mencatat apa saja yang didengarnya, tetapi jangan sampai diketahui anak itu.

§ Mampu membedakan antara kenyataan objektif dengan nilai-nilai hasil pengamatan, mengenal suasana yang sedang meliputi jiwa anak pada waktu dilakukan pengamatan. Dengan demikian penyelidik mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala jiwa.



b. Metode Transversal (Kros-seksional)

Kros- seksional adalah metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat. Karena bidang psikologi perkembangan ingin mengetahui perbedaan maupun persamaan dalam tingkah pada bermacam-macam masa perkembangan, maka metode ini banyak digunakan. Keuntungan metode ini ialah mudah diperolehnya kelompok yang besar, waktu penelitian singkat dan biaya yang tidak terlalu rumit. Dipihak lain terdapat kelemahan yang acap kali sulit diadaptasi, yakni adanya perbedaan-perbedaan perorangan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan kebudayaan, sehingga sulit sekali dianggap sam di dalam suatu kelompok (singgih D. Gunarsa, 2003, hal. 68).


E. Teori

Teori psikologi perkembangan adalah suatu sistem pengertian yang diorganisasi secara logis tentang aaspek perubahan yang dihadapi oleh setiap individu dan besifat kualitatif berubah menurut peredaran masa dan diperoleh melalui pendekatan yang sistematis.

Marx (1963) membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data yang empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:

· Teori yang dekduktif: memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikirang spekulatif tertentu kearah data yang akan diterangkan. Dimulai dari teori ke arah data.

· Teori yang induktif: cara menerangkannya dari data kearah teori.

· Teori yang fungsional: disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.(Siti Rahayu Hadianto, 2006, hal. 6).

Dalam pandangan piaget bayi mengorganisasikan skema tindakan fisik mereka seperti menghisap, mengenggam dan memukul untuk menghadapi dunia yang muncul dihadapannya.

Dalam periode ini perkembanan menurut Piaget terdiri atas enam tahapan, diantaranya yaitu:

1. Modifikasi dari refleks-refleks (nol sampai satubulan)

Ketika dilahirkan seorang bayi sudah langsung bisa memperlihatkan refleks menghisap bilamana pada daerah mulutnya tersentuh atau menyentuh sesuatu. Pada mulanya refleks ini diperlihatkan terhadap benda apa saja yang diletakkan pada daerah mulutnya.

2. Reaksi pengulangan pertama (1-4 bulan)

Pada masa ini, kalu bayi menggerak-gerakkan tubuhnya dan secara sengaja memperoleh kenikmatan atau sesuatu yang menarik, dia akan berusaha mengulangi gerakannya.



3. Reaksi penulangan kedua (4-10 bulan)

Sebagai kelanjutan reaksi pengulangan pertama, reaksi pengulangan kedua terjadi pada waktu bayi menemukan hal-hal atau obyek-obyek diluar dirinya yang menarik perhatiannya dan dia ingin mengulangnya.

4. Koordinasi reaksi-reaksi sekunder (10-12bulan)

Gerak-gerik yang dilakukan anak sudah lebih berdiferensiasi. Anak mulai bisa mengkoordinasikan dua skema yang terpisah untuk memperoleh sesuatu.

5. Reaksi pengulangan yang ketiga (12-18 bulan)

Kalau pada sub-masa 3 bayi memperlihatkan satuperbuatan untuk mencapai tujuan, dan pada masa sub-4, dua perbuatan yang terpisah bisa dilakukan untuk mencapai satu hasil, maka pada masa 5 ini beberapa perbuatan dapat dilakukan dengan hasil yang berbeda-beda. Hal yang baru terlihat pada sub –masa ini adalah kemajuan pada si anak untuk mencari dan mencapai sesuatu yang baru, oleh dia sendiri. Ia bukan lagi mencoba-mencoba tanpa sengaja, melainkan ia mulai bisa mengubah gerak-geriknya untuk mencapai sesuatu hasil. Gerak coba-coba dilakukannya sudah dengan suatu tujuan yang lebih jelas, meskipun hasilnya berbeda dengan apa yang menjadi tujuannya.

6. Permulaan berpikir (18-24)

Pada sub-masa ini anak mulai bisa ‘berpikir’ dari dalam (internal), tidak hanya terhadap sesuatu yang secara fisik nyata. (Singgih D. Gunarsa, 2003, hal.147-150)
Post a Comment