Berteologi dan berislam menurut Nur Khalik Ridwan

blogger templates
Nur Khalik ridwan lahir di Banyuwangi 15 Maret 1974, dasar keprihatinan berteologinya karena adanya “klaim kebenaran tunggal” khususnya agama semit dan adanya persoalan- persoalan ketidakadilan social, dimana agama oleh sebagaian pemeluknya dimaknai yang tidak mendukung pluralisme, pembebasan, dan seterusnya. Alas an ini dijelaskan secara real sebagai berikut :

a. Munculnya keangkuhan dari sebagaian pemeluk agama formal besar sebagai hal yang akan paling selamat dan paling orsinal, sementara agama – agama kecil atau yang local di anggap sebagai sesat, dan perlu diagamakan kembali dalam pengakuan agama – agam besar atau formal.

b. Agama dimanapun dan untuk siapapun adalah soala keyakinan seseorang tentang sesuatu hal yang dianggap sacral.

c. Munculnya klaim agama semitis ( islam, Kristen, yahudi) bahwa mereka adalah penerus dari agama Ibrahim.

d. Diantara sebagaian kalangan agama, agama malah dimaknai secara simbiolik. Kesalehan – kesaalehan agama justru dirumuskan dengan hal – hal yang bersifat ritual, dan yang bersifat bribadional dengan Tuhan.

Dengan empat pemikiran diatas beliau ingin menggagas “ Agama Kebajikan “ yaitu, jalan spiritual yang bisa dimaknai pula sebagai perspektif beragama, dan menegaskan mutlaknya menerima pluralisme dan pembebasan, atau dengan bahasa lain “ teologi menggagas pluralisme dan pembebasan”. sedang kan konteks berteologi yang diguanakan adalah fakta akan adanya kebijakan dan kedustaan dimanapun dan di komunitas agama apaun, konteks asal usul kelahiran agama dan konteks agam Ibrahim yang sering dijadikan rujukan kalangan agama semit.

Perspektif yang digunakan , agama sebagai organisasi agama, yang didalamnya mencakup ajaran –ajaran, praktek – praktek ritual dan pemaknaan doktrin – doktrin yang lain, yang selalu dapat di tafsirkan oleh pemeluknya. Karenanya, ajaran suci tidaka akan memeiliki satu kebenaran tafsir, sebab para pemeluknya akan memberikan tafsir secara terus menerus. Sebagai sebuah tafsir, agama bisa menjadi sebuah kekuatan kekuasaan, yaitu kekuasaan dalam artian represi, dominasi dan hegemoni yang akhirnya bisa menjadi alat untuk mendominasi, mengagregasi kepentingan dan menindas. Dan teori – teori yang digunakan adalah :

a. Pendekatan fungsinalisme konflik, yaitu menggabungkan dua konsep yang menghasilkan rekontruksi fungsional konflik.

b. Karana dalam menggagas teologi agama kebijakan ini banyak didasarkan pada teks- teks suci, terutama teks – teks al-qur’an, tentu saja cara yang digunakan untuk membaca teks suci diperlukan. Dalam hal membaca teks suci ini, tidak harus konsisten menggunakan satu teori , kadang menggunakan semiologi, dlam pengertian mencari fakta – fakta baru untuk memaknai konsep baru dengan menafsirkan secara berurutan.

c. Khususnya untuk dekonstruksikan atas konsep – konsep kunci yang ambigu dan selama ini dimakanai secara komunal, maka pemakanaan konsep kunci tersebut mestilah mengacu pada visi besar agar makana – makana kunci tidak menjadi komunal, atau tidak semata – mata berdasarkan pada identitas komunitas agama yang dilepaskan pada visi besar.

Agama kebijakan : Kontruksi berbasis Teologi Islam.

a. Kebijakan titik sentral Wahyu Tuhan

b. Tuhan satu – satunya sunber kebajikan

c. Tidak ada paksaan dalam memilih agama

d. Ritual agama, sesuai kemampuan pribadi

e. Berbuat kebajikan, syarat mutlak keselamatan beragama

f. Berbuat kebajikan sebagai tindakan pembebasan

g. Dekonstruksi atas konsep – konsep kunci

Disini pula, beragama kebajikan tampak sebagai upaya keteguhan seseorang dalam mengabdi kepada Tuhan. Mereka – mereka yang teguhlah yang bisa memaknai persaudaraan kemanusiaan. Keteguhan Ibrahim, keteguhan Muhammad, Isa, dan Sidharta adalah keteguhan keyakinan dan praktek melawan penindasan yang berwujud apa saja, mesjid, gereja, kuil, sinagog, kekuasaan, uang, dan apapun yang dapat digunakan untuk melakukan penindasan, atas nama agama dan Tuhan sekalipun. Kalau begitu beragama kebajikan sanagat simple, anda bisa menjadikan siapapun sebagai saudara, bagi mereka yang berbuat kebajikan, karena” berbuat kebajikan” disitu adalah satu – satunya syarat dalam keselamatan beragama.

a. Ibadah dan musyrik

b. Kuffar

c. Murtad

d. Jihad

e. Khatam al – Anbiya’

f. Aspirasi menegakkan identitas agama

Post a Comment