Interaksi Simbolik Dalam Perspektif Sosiologi Komunikasi

blogger templates
Teori interaksionisme simbolik adalah salah satu teori yang termasuk dalam paradigma definisi sosial. Tokoh paradigma ini adalah Max Weber dimana karya-karyanya, terutama The structure of social action menjadi model paradigma ini. Karya-karya Max Weber sangat berperan dalam pengembangan ketiga teori yang termasuk dalam paradigma definisi sosial, yakni interaksionisme simbolik, teori tindakan dan teori fenomenologi.

Dengan demikian Weber dengan definisi sosialnya lebih menekankan perhatiannya pada proses pendefinisian realitas sosial, dan bagaimana orang mendefinisikan situasi, baik secara intrasubjektif sehingga melahirkan tindakan-tindakan tertentu sebagai akibatnya. Weber juga menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membentuk realitas sosial.[1]

Dengan demikian manusia sejak usia kanak-kanak sudah bisa membentuk dunianya sendiri, yakni dunia sosial. Manusia yang telah dewasa dan bahkan tua juga membentuk dunia sosialnya. Peran-peran manusia dalam keluarga, dalam dunia kerja, dalam berbagai aktifitas sosial dan lain-lain bisa menciptakan dunia sosial.

Teori interaksionisme simbolik yang merupakan tindakan manusia dalam menjalin interaksinya dengan sesama anggota masyarakat. Penjelasan-penjelasan teoretik itu selalu mendasarkan diri pada asumsi-asumsi yang telah ditetapkan oleh teori yang berkaitan. Asumsi-asumsi itu dapat dikemukakan sebagai berikut :

Ø Makhluk manusia bertindak ke arah berbagai hal atas dasar makna yang dimiliki hal-hal itu bagi mereka.

Ø Makna hal-hal tersebut muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan kawannya.[2]

Ø Makna hal-hal it diambil dan dimodifikasi melalui sebuah proses interpretatif yang digunakan perorangan dalam hubungan dengan hal-hal yang dihadapinya.

Premis-premis yang dikemukakan Herbert Blumer ini dapat dijelaskan bahwa antara premis satu dengan premis-premis berikutnya memang berbeda-beda, namun ketiganya saling berhubungan dan berfungsi menjelaskan secara utuh. Penjelasan terhadap suatu premis akan berkaitan dengan premis-premis berikutnya. Premis pertama menyatakan bahwa manusia itu bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki oleh benda, kejadian aatu fenomena itu bagi mereka.

Contoh :

Ada seorang pengemis muda dijalan yang menengadahkan tangannya kepada salah seorang pengendara mobil dengan maksud untuk meminta sedekah. Pengendara mobil itu tidak memberi bahkan menutup pintu mobilnya. (Orang itu bertindak seperti itu karena dia memberi penafsiran atau memberi makna bahwa pengemis itu adalah seorang anak muda yang tidak layak untuk meminta belas kasihan kepada orang lain. Rizki harus diperoleh dari kerja keras dan bukan dengan jalan meminta-minta). Pengemis muda itu kemudian beralih menyodorkan tangannya kepada orang lain yang juga sedang mengendarai mobil yang tidak seberapa bagus, namun orang itu memberikan uang seribu rupiah keadannya. (Mengapa orang itu memberikan uang kepadannya ? di benak orang itu terbesit rasa belas kasihan. Mungkin karena orang itu memberi makna terhadappengemis itu sebagai orang yang belum memperoleh kesempatan untukberpartisipasi dan menikmati hasil-hasil pembangunan. Mungkin juga orang itu ingat kepada ajaran agama yang menyatakan bahwa rizki yang diperoleh orang itu tidak sepenuhnnya milik orang itu. Sehingga orang itu pun berkewajiban untuk memberikan sebagian dari rizki itu kepada orang lain).[3]

Agaknya contoh-contoh tersebut dapat memperjelas pengertian, bahwa makna suatu benda atau suatu kejadian atau suatu fenomena, bukan terletak paa benda, kejadian atau fenomena itu sendiri, melainkan tergantung pada bagaimana seseorang atau masyarakat memberi makna terhadap benda, kejadian atau fenomena itu. Sebab makna-makna itu merupakan hasil dari interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain dalam masyarakat.

Tindakan manusia dalam konsep interaksionisme simbolik, diuraikan oleh K.J. Veerger, bahwa sebelum orang menentukan sikap dan perbuatannya terhadap seseorang atau suatu hal, seseorang lebih dulu harus mempertimbangkan, menilai dan akhirnnya memilih diantara berbagai kemungkinan bertindak. Teori pengenalan ini menghasilkan suatu citra manusia yang dinamis, antri deterministis dan penuh optimisme.

Menurut Ritzer, kesimpulan utama yang perlu diambil dari substansi teori inteaksionisme simbolik adalah sebagai berikut : Kehidupan masyarakat itu terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknannya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya atau dari luar dirinya, melainkan merupakan hasil dari proses interpretasi terhadap stimulus. Dengan begitu jelas bahwa hal ini merupakan hasil proses belajar dalam memahami simbol-simbol dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut.[4]

Para pengikut teori interaksionisme simbolik menyatakan bahwa tindakan manusia itu sama sekali bukan merupakan respon langsung terhadap stimulus yang mereka hadapi, karena stimulus bukan merupakan faktor determinan terjadinya tindakan manusia. Jelasnya, manusia itu bertindak melalui proses berfikir lebih dulu, yang tentu berbeda dengan binatang yang bertindak tanpa melalui proses berfikir.

Dapat dikatakan bahwa teori interaksionisme simbolik sangat menekankan arti penting proses mental atau proses berfikir bagi manusia sebelum bertindak. Tindakan manusia itu sama sekali bukan stimulus-respons, melainkan stimulus-proses berfikir-respons. Jadi terdapat variabel antara atau variabel yang menjembatani antara stimulus dengan respon, yaitu proses mental atau proses berfikir yang tidak lain adalah interpretasi.

Herbert Blumer mengatakan ada tiga prinsip utama asumsi atau premis interaksionisme simbolik, yaitu :

Ø Manusia bertindak terhadap suatu benda, kejadian atau fenomena tertentu atas dasar makna yang dimiliki benda, kejadian atau fenomena itu bagi mereka.

Ø Makna suatu benda, kejadian atau fenomena muncul sebagai hasil interaksi sosial manusia satu dengan yang lainnya.

Ø Makna suatu benda, kejadian atau fenomena tidak melekat pada benda, kejadian atau fenomena itu sendiri, melainkan tergantung orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu dan makna itu dimodifikasi dalam proses interpretasi yang digunakan oleh seseorang untuk menghadapi benda, kejadian atau fenomena baru lainnya.[5]
Interaksionisme dalam pandangan Mead.

Menurut Mead orang tak hanya menyadari orang lain tetapi juga mampu menyadari dirinnya sendiri. Dengan demikian orang tidak hanya berinteraksi dengan orang lain, tetapi secara simbolis dia juga berinteraksi dengan dirinya sendiri. Interaksi-simbolis dilakukan dengan menggunakan bahasa, sebagi satu-satunya simbol yang terpenting, dan melalui isyarat. Simbol bukan merupakan fakta-fakta yang sudah jadi, simbol berada dalam proses yang kontinyu. Proses penyampaian makna inilah yang merupakan subject matter dari sejumlah analisa kaum interaksionis-simbolis.

Dalam interaksi orang belajar memahami simbol-simbol konvensional, dan lam suatu pertandingan mereka belajar menggunakannya sehingga mampu memahami peranan aktor-aktor lainnya. Seorang penyanyi, misalnya, tahu benar bahwa tepuk-tangan para penonton merupakan cermin rasa senang terhadap penampilannya.

Demikianlah sebenarnya interaksi; orang bebas mengubahnya melalui saluran bertindak alternatif. Bagi Mead, subject matter sosiologi ialah interaksi para aktor yang terorganisir dan terpola didalam berbagai situasi-situasi sosial. Di zaman kejayaan aliran fungsional yang memberi tekanan pada kelompok sosial (bukan individual) dan pada realitas obyektif (bukan subjektif), hannya Herbert Blummer seorang murid Mead, yang tetap berusaha menghidupkan tradisi Meadean ini.[6]
Perspektif, Sikap & Prilaku

Untuk menelaah sesuatu, kita harus memulai dengan membuat asumsi tentang sifat-sifat yang kita pelajari. Misalnya menurut orang-orang Yunani kuno alam semesta beroprasi/berjalan sesuai dengan prilaku para dewa. Sebaliknya para ilmuan berasumsi bahwa alam semesta ini bersifat tertib dan berjalan menurut cara-cara yang teratur, yang mungkin bisa kita ungkapkan. Seperangkat asumsi kerja disebut suatu “perspektif” suatu “pendekatan” atau kadang-kadang disebut juga “paradigma”.[7]

Sikap atau attitude adalah suatu cara beraksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecendrungan untuk beraksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi. Bagaimana reaksi seseorang jika ia terkena sesuatu rangsangan baik mengenai orang, benda-benda, ataupun situasi yang mengenai dirinya.

Bagaimanapun juga sikap terhadap berbagai hal dalam hidup kita adalah termasuk dalam kepribadian kita. Dalam kehidupan manusia sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan.[8]

Untuk mengubah sikap kita harus ingat bagaimana sikap itu dengan pola-polanya dibentuk. Sikap bukanlah diperoleh karena keturunan, tetapi dari pengalaman, dari lingkungan, dari orang lain, terutama dari suatu pengalaman yang dramatis yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Oleh karena sikap sebagian besar berkaitan dengan emosi, kita lebih mudah mempengaruhinya melalui emosi pula, ialah dengan pendekatan yang ramah tamah, penuh pengertian (empathy) dan kesabaran. Sikap terhadap lingkungan menilai suasana pada umumnya dan situasi pada waktu tertentu.[9]

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : bicara, menangis, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Menurut Skinner, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena itu perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organusme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus-Organisme-Respon.
Pentingnya Nilai Diri (Self evaluation)

Gambaran diri pribadi adalah faktor yang aktif sekali dalam menentukan perilaku. Terdapat sejumlah riset yang memperlihatkan pentingnya gambaran diri. Dalam buku karangan Compbell The Sense Of Well Being in Amnerica, ia menemukan bahwa diri semua faktor yang da kaitannya dengan “kepuasan hidup”, perasaan seseorang tentang “kepuasan dengan diri” menduduki rangking tertinggi, dengan “standar hidup” rangking kedua, dan kepuasan dengan kehidupan keluarga rangking ketiga.

Ciri-ciri kepribadian yang paling penting berkaitan dengan pelajaran sekolah adalah konsep diri anak dan rasa penugasan terhadap lingkungan yaitu perasaan bahwa usahanya akan membuahkan perbedaan. Suatu gambaran diri yang tidak memuaskan sering menyebabkan prilaku nakal, antisosial dan tidak menyenangkan. Sebenarnya sejumlah prilaku, mulai dari kebiasaan-kebiasaan yang agak menggangu seperti membual dan angkuh dan “sok tahu” sampai kepada neurosis yang serius dapat dipandang sebagai usaha yang mati-matian untuk memperbaiki gambaran diri yang tidak dapat ditolerir sebagai tidak kompeten, tidak berharga atau tidak penting. Sesungguhnya, gambaran diri terletak pada inti prilaku.[10]
Kepribadian dan Identitas

Kepribadian adalah satu organisasi biologis, psikologis dan faktor-faktor sosiologis yang menjadi dasar bagi tingkah laku seseorang individu. Ia mencakup kebiasaan, sikap dan ciri-ciri lain walau apapun sumbernya, berdasarkan mana tingkah laku setiap orang berbeda dengan yang lain. Ia adalah organisasi tingkah laku individu seperti yang terbina dalam saling interaksi dengan orang lain.

Para sosiolog berminat dalam tingkah laku individu karena ia terjadi dalam saling-interaksi sosial. Tingkahlaku sosial ini dapat dianalisa dalam bentuk peranan sosial individu itu. Peranan adalah pola saling interaksi yang daripadanya tingkah laku timbal-balik antara orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu. Bagi ahli sosiologi, kepribadian dapat dikaji dalam bentuk organisasi peranan sosial individu apabila berhubung antara satu dengan lain.

Yang menjadi dasar peranan sosial yang melaluinya kepribadian tingkah laku sosial dipolahkan ialah faktor-faktor biologis dan psikologis yang mempengaruhi tingkah laku sosial. Walaupun ahli sosiologi mementingkan kepribadian pada tingkat saling tindakan sosial, faktor-faktor biologi dan psikologi adalah penting karena keduannya menjadi kerangka darimana tingkah laku sosial terbentuk.[11]

Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harfiah : ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain. Identitas juga merupakan keseluruhan atau totalitas yang menunjukkan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari tingkah laku individu. Tingkah laku tersebut terdiri atas kebiasaan, sikap, sifat-sifat serta karakter yang berbeda pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan orang yang lainnya.


AFTAR PUSTAKA
Sholeh shonhaji, Sosiologi dakwah prespektif teoretik, IAIN sunan ampel press, Surabaya 2011
Gondokudumo A.A., komunikasi penugasan, PT Gunung Agung, Jakarta 1983
Sutrisno Ahmad, psikologi pendidikan, Darussalam press, Ponorogo
Poloma M Margaret, sosiologi kontemporer, Raja Graindo Persada, Jakarta
Pengantar sosiologi
Horton paul B, sosiologi edisi keenam, Erlangga 1984


[1] Sholeh shonhaji, Sosiologi dakwah prespektif teoretik, IAIN sunan ampel press, Surabaya 2011, hal 19


[2] Ibid, hal 20


[3] Ibid, hal 21


[4] Ibid, hal 23


[5] Ibid, hal 25


[6] Poloma M Margaret, sosiologi kontemporer, Raja Graindo Persada, Jakarta, hal 260


[7] Horton paul B, sosiologi edisi enam, Erlangga 1984, hal 16


[8] Sutrisno Ahmad, psikologi pendidikan, Darussalam press, Ponrogo, hal 34


[9] Gondokudumo A.A., komunikasi penugasan, PT Gunung Agung, Jakarta 1983, hal 17


[10] Horton paul B, op.cit, hal 113


[11] Pengantar sosiologi, hal 31
Post a Comment