lecture Material Review “Kajian Budaya dan Media”

blogger templates
Pada tanggal 7 Sepetember 2012 adalah hari pertama saya memasuki perkuliahan disemester 5. Menurut jadwal perkuliahan dari akademik tanggal 6 September lah tanggal awal masuk perkuliahan, namun di jadwal studi minat advertising 5F2 pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari kamis yang mana pada hari tersebut tidak jadwal kuliah bagi kelas 5F2 alias libur. Jadi kelas 5F2 mulai masuk kembali tanggal 7 September. Awalnya terbesit perasaan kecewa juga, karna nanggung, kuliah cuma satu hari mendekati akhir pecan. Kenapa tak sekalian minggu depannya, hehehe.

Tapi setelah diperkenalkan sedikit tentang materi perkuliahan seperti apa saja materi kuliah yang akan dikaji tiap pertemuan kedepan, sungguh sangat menarik. Yang lebih menarik lagi ternyata mata kuliah “Kajian Budaya dan Media” yang diberikan kepada kami ini adalah program studi untuk S3 di UGM, begitu tutur pak arief selaku dosen mata kuliah ini. dan di Indonesia tidak lebih dari 4 universitas atau institusi yang menjadikan mata kuliah ini sebagai mata kuliah untuk S1, dan IAIN termasuk dalam keempat itu. Yang ditakutkan mata kuliah ini akan memberatkan mahasiswa, tapi bagi saya mata kuliah Kbm ini begitu menarik dan membuat penghuni kelas enjoy saat mengikuti perkuliahan ini. Tentu saja tak lepas dari kepiawaian dosen dalam membawakan, mengenalkan, dan menyampaikan isi perkuliahan ini dengan semenarik mungkin. Mata kuliah ini dapat dipelajari dengan banyak cabang ilmu seperti antropologi budaya, sosiologi, sejarah, etnografi, kritik sastra, dan juga sosiobiologi. Fokus studi kajian budaya ini adalah pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang dapat dilihat dalam budaya pop.

& Seperti biasa minggu pertama memasuki semester baru tak begitu runtut untuk penyampaian materi, hanya pengenalan dan pemberian silabus perkuliahan saja. Agar dapat mempelajari perkuliahan ini dengan baik kita diajarkan untuk jangan mengunci pikiran, jangan gunakan mental block, jangan puas dengan disiplin yang anda memiliki, jangan percaya bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan selalu bebas nilai. Berfikir idealis terus meneerus membuat kita akan terkurung sendiri, mencobalah untuk berfikir bebas berfikir terjungkir balik dalam mencari jawaban atas pertanyaan. Terkadang kita berfikir satu jawaban itulah yang benar, tanpa disadari ada banyak jawaban lain yang juga benar. buatlah diri menjadi individu bebas yang tidak terikat ke partisi esensialisme dan selalu kritis kenyataan termasuk produk budaya.

Karna perlu diketahui cultural studies bertujuan mengkaji pokok persoalannya dari sudut praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi social makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan ekonomi (produksi) dan politik (relasi social). Cultural studies tidak hanya studi tentang budaya, seakan-akan ia merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks social dan politiknya. Tujuannya adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks social dan politik tempat budaya mengejawantahkan dirinya.

Budaya dalam cultural studies selalu menampilkan dua fungsi: ia sekaligus merupakan objek studi maupun lokasi tindakan dan kritisisme politik. Cultural studies bertujuan menjadi, baik usaha pragmatis maupun intelektual. Cultural studies berupaya membongkar dan mendamaikan pengotakan pengetahuan, mengatasi perpecahan antara bentuk pengetahuan yang tak tersirat (yaitu pengetahuan intuitif berdasarkan budaya local) dan yang objektif (yang dinamakan universal). Cultural studies mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan bersama antara yang mengetahui dan yang diketahui dan yang diketahui, antara pengamat dan yang diamati. Cultural studies melibatkan dirinya dengan evaluasi moral masyarakat modern dan dengan garis radikal tindakan politik. Tradisi cultural studies mempunyai komitmen bagi rekonstruksi social dengan melibatkan diri dalam kritik politik yang bias juga dilakukan dengan memanfaatkan media. Jadi cultural studies bertujuan memahami dan megubah struktur dominasi dimana-mana, namun secara khusus lagi dalam masyarakat kapitalis industrial.

& Memasuki pertemuan minggu kedua perkuliahan kajian budaya dan media pada tanggal 14 September 2012 dengan topic bahasan “Landasan media dan kajian budaya ;definisi dan konsep kunci”. Pokok-pokok pikiran yang menjadi landasan konseptual kajian media dalam perspektif kultural secara umum, budaya/kultur diartikan sebagai praktik dan teks kultural dengan makna simbolik, sebagai proses produksi dan reproduksi secara kolektif penghayatan, makna dan kesadaran, atau pemaknaan dari ruang ekonomi (dunia produksi) dan ruang politik (dunia relasi sosial). Lebih jauh praktik dan teks kultural ditempatkan pada konteks realitas masyarakat dalam perspektif tertentu, seperti perspektif gender, klas, subaltern, kemiskinan, dan sebagainya.

Dalam konteks Indonesia, terkandung dua permasalahan konseptual, pertama realitas aktual berupa kemajemukan kebudayaan berdasarkan etnisitas/lokalitas di Indonesia, dan kedua proses idealisasi pencitraan (imaging) berupa upaya membangun/membentuk kultur nasional atau bangsa. Dengan begitu selalu terjadi proses sentrifugal dari kebudayaan etnis/lokal ke pada kebudayaan nasional/bangsa, atau sebaliknya proses sentripetal pada etnisitas/lokalitas yang menguat sehingga menjauh dari dinamika yang menuju kebudayaan nasional/bangsa. Dalam tarik menarik lingkup entitas domestik yang bersifat sentrifugal atau pun sentripetal ini, berlangsung pula dinamika dari proses global yang menawarkan kebudayaan dengan cara hidup berbasis pada industri kapitalisme dunia dalam kebudayaan massa/populer (popular culture).

Kedua, konsep kemajemukan masyarakat (pluralisme) dapat dilihat secara statis sebagai adanya realitas perbedaan dari komunitas etnis/lokal. Ini mengasumsikan bahwa interaksi antar komunitas etnis/lokal berlangsung dalam harmoni. Pada sisi lain disadari bahwa dinamika masyarakat pada hakekatnya tidak dalam harmoni. Dari sini berkembang perspektif konseptual multi-kulturalisme yang bertolak dari asumsi tentang adanya kecenderungan dominasi/hegemoni dari kebudayaan mayoritas/lebih kuat terhadap minoritas/lebih lemah. Lebih jauh kajian kultural atas media dapat dikembangkan sebagai upaya memahami cara-cara produksi budaya yang diwujudkan dalam praktik dan teks budaya di dalam pertarungan ideologi. Dari sini media di satu sisi dilihat sebagai produk budaya, dan di sisi lain sebagai instrumen dalam memproduksi budaya dalam masyarakat.

& Pertemuan minggu ketiga perkuliahan Kbm tanggal 21 September 2012 dengan topic bahasan “Landasan media dan kajian budaya ; aliran pemikiran”. Apa yang dinamakan cultural studies saat ini dalam bidang ilmu sosial, merupakan sebuah pendekatan terhadap kebudayaan yang lahir di Inggris, yang mendapat bentuk pada akhir 1950-an tetapi kemudian diresmikan sebagai pusat studi kebudayaan yang dikenal dengan Center For Contemporary Cultural Studies di Birmingham pada tahun 1964, dengan direktur pertamanya, Richard Hoggart.

Kajian budaya ini membawa aliran yang sering diidentifikasikan sebagai kulturalisme, khususnya British kulturalism. Kulturalisme, pada awalnya merupakan body work dari sejumlah pengarang seperti Richard Hoggart, Raymond Williams, E.P. Thompson, Stuart Hall serta Paddy Whanel. Kesemuanya berasal dari kelas pekerja sehingga tidak mengherankan kalau mereka sangat dekat dengan karya-karya budaya popular.

Para intelektual kelas pekerja inimelihat tugas mereka memberikan kuasa bagi budaya orang-orang pada umumnya (the culture of common people) untuk melawan elitism kanonikal (budaya tinggi, high culture) dari kelas-kelas menengah dan tinggi. Fokus mereka adalah bagaimana budaya dipraktikan dan bagaimana budaya dibuat atau bagaimana praktik budaya membimbing berbagai kelompok dan kelas untuk melawan dominasi budaya. Sebaliknya para elit dominan mengekspresikan kekuasaannya dengan memberikan legitimasi bagi bentuk-bentuk dan praktek-praktek budayanya sendiri melalui proyeksi “penilaian lapangan” mereka.

Dari Inggris, kemudian kajian budaya berkembang dan bermigrasi ke Amerika Serikat, Kanada, Australia, Perancis dan India. seperti Thorstein Veblen, W.E. Du Bois, Charlotte Perkins Gilman, dan T.O. Matthiesen sebagai peletak fondasi teori untuk kajian budaya Amerika. Sementara untuk Australia, Graeme Turner mencatat sumbangan Russel Ward, Paul Willis, dan John Docker. Dari ketiga wilayah ini (Inggris, Amerika Serikat dan Australia), kemudian memunculkan mazhab yang berbeda dalam berkembangan selanjutnya.

Terakhir, tidak boleh terlupakan perkembangan yang khas pula kajian budaya yang dikenal sebagai mazhab India (Asia Selatan) yang diteoritisasi oleh Leela Ghandi, Gayatri Chakravorty Spivak, Homi K. Bhaba. Kajian mazhab India (Asia Selatan) ini berkembang lewat Subaltern Studies Group yang dikelola oleh Gayatri Chakravorty Spivak. Disamping itu disebaran Asia dan Afrika masih dapat kita sebut nama Frantz Fanon, dan Edward W. Said, meskipun nama-nama ini, sebagian besar hidup tidak pada negara dunia ketiga yang menjadi basis teoritisasi yang mereka lakukan.

Kemudian kalau secara serius di perhatikan, akan secara umum terlihat bahwa kajian budaya ini merupakan reaksi kalangan intelektual atas perkembangan budaya pop yang pada awalnya timbul akibat akibat terjadinya industrialisasi dan urbanisasi sebagai rentetan dari Revolusi Industri di Inggris. Namun alasannya sudah tidak sesederhana ini, karena pada akhirnya ada pergeseran kajian budaya dalam memandang budaya pop.

Pergeseran ini terjadi karena adanya perubahan mendasar pada lanskap yang melatari kajian budaya era kontemporer ini. Setidaknya ada tiga kondisi yang dicatat oleh Melani Budianta, yaitu; Pertama, kondisi sosial psikologis. Para ilmuan sosial-humaniora merasa diri tidak berarti oleh keberhasilan intelektual/saintis dalam masyarakat kapitalis tingkat tinggi. Sehingga mereka (intelektual humanis) merasa butuh akan sebuah paradigma baru yang tidak terjebak pada bidang kajian sastra, politik, ekonomi atau sosiologi secara terpisah-pisah.

Kedua, kondisi kedua disiapkan oleh posmodernisme yang mewarnai produk budaya maupun wacana intelektual pada paruh terakhir abad ke-20. Wacana Posmodern ini meruntuhkan tembok pemisah antara produk budaya tinggi dan rendah yang merupakan fondasi seni modernis, dan yang terakhir Ketiga, perkembangan teori-teori pos struktural yang membantu menghancurkan dinding pemisah antar disiplin. Kajian ini dalam bahasa Clifford Geertz dianggap sebagai percampuran antar wacana yang berakibat goyahnya label disiplin dan klasifikasi genre.

Secara sederhana, wilayah garap kajian budaya dapat dipetakan menjadi tiga, mengikut pemetaan yang dilakukan oleh Melani Budianta, wilayah tersebut adalah :


a) Poskolonial-Nasional-Transnasional

Klasifikasi ini menjadi wakil dari tiga masa atau fase sejarah yang menantang dan sepertinya menjadi keharusan untuk dilalui oleh negara-negara dunia ketiga. Disaat mereka baru melepaskan diri dari kolonialisme, pada saat yang sama mereka di paksa untuk merumuskan budaya nasional ditengah fenomena transnasional akibat globalisasi. Kondisi ini merupakan wilayah kajian yang menantang. Untuk studi ini, ambil contoh misalnya, Edward W. Said dengan Orientalisme-nya, dan Bennedict Anderson dalam Komunitas Imajiner-nya.


b) Gender, Ras dan Etnisitas

Pengaturan norma dan perilaku yang diperlakukan atas dasar perbedaan jenis kelamin (gender), Ras dan Etnisitas merupakan proses sejarah. Ini semua bersifat kultural melalui, majalah-majalah wanita, karya sastra, iklan, televisi, dan institusi negara maupun agama, ini merupakan kajian yang menarik bagi kajian budaya. Misalnya kajian Paul Gilroy menganalisis tradisi absolutisme etnis/agama dan nasionalisme dari berbagai teks fiksi, sejarah, dan tokoh kulit hitam Inggris dan Amerika.
c) Sastra/Budaya Pop, Pembaca dan Institusi

Kajian budaya jenis ini memperkaya sosiologi sastra dan sejarah sastra dalam meneliti kaitan teks dengan sistem-sistem yang ikut menentukan keberadaannya (reproduksi, pengayom, pengarang, pembaca, kritikus). Taruhlah misalnya kajian David Glover dan Cora Caplan yang mengkaji sejumlah asumsi dibalik genre fiksi kriminal.

Dalam melakukan analisis terhadap wilayah garapnya, kajian budaya menggunakan beberapa bangunan teori dasar, yang utamanya mempergunakan teori-teori dari teori kritis mazhab Frankfurt. Kuatnya pengaruh teori mazhab Frankfurt, yang kemudian dikenal dengan teori kritis mazhab Frankfurt pada cultural studies dikarenakan banyaknya kesamaan-kesamaan yang ingin dicapai antara cultural studies. Kebanyakan pakar cultural studies merupakan teoritisasi kiri marxis atau setidaknya sosialis kiri. Kiri yang dimaksud disini mengacu pada kritis tterhadap struktur actual masyarakat dan menentang status quo. Bahkan bisa dikatakan cultural studies, merupakan penerapan Teori Kritis Frankfurt oleh kelompok Centre For Contemporary Studies-CCCS.Teori kritis mazhab Frankfurt sendiri adalah salah satu aliran pemikiran kiri baru yang berawal di Institut penelitian sosial di Frankfurt (Institut für Sozialforschung) didirikan pada tahun 1923 oleh seorang kapitalis yang bernama Herman Weil. Istilah teori kritis pertama kali ditemukan Max Horkheimer pada tahun 30-an. Pada mulanya teori kritis berarti pemaknaan kembali ideal ideal modernitas tentang nalar dan kebebasan, dengan mengungkap deviasi dari ideal-ideal itu dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis.
Teori kritis adalah anak cabang pemikiran marxis dan sekaligus cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Marx (Frankfurter Schule). Cara dan ciri pemikiran aliran Frankfurt disebut ciri teori kritik masyarakat “eine Kritische Theorie der Gesselschaft”. Teori ini mau mencoba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori kritik masyarakat adalah bahwa teori tersebut bertitik tolak dari inspirasi pemikiran sosial Karl Marx, tapi juga sekaligus melampaui bangunan ideologis marxisme bahkan meninggalkan beberapa tema pokok Marx dan menghadapi masalah masyarakat industri maju secara baru dan kreatif.



& Pertemuan keempat perkuliahan Kbm tanggal 28 September 2012 dengan topic bahasan “Budaya dan ideology”

Pemikiran Althuser bahwa ideologi ada di mana-mana dan bukan semata-mata hanya persoalan yang muncul dalam hubungan super-struktur dan basic-struktur mempengaruhipemikiran Michel Foucault. Filsuf Perancis yang dikenal sebagai salah satu tokoh pelopor postmodernisme ini memandang bahwa ideologi merupakan hasil hubungan kekuasaan dimana saja. Hubungan kuasa muncul tidak hanya pada tataran negara, namun juga dalamkehidupan sehari-hari. Setiap hubungan selalu merupakan usaha saling menguasai, usahasaling menekan. Setiap pihak selalu berusaha untuk menguasai yang lain, suami inginmenguasai istri, istri ingin menguasai suami, guru ingin menguasai murid, murid inginmenguasai guru, dan sebagainya. Hubungan kuasa ini menghasilkan cerita yang oleh Foucaultdisebut discourse (sering dipadankan dengan kata ‘wacana’) (Eagleton, 1991). Discourse ini merupakan upaya untuk melepaskan diri dari ketertindasan. Isi dari wacanaadalah sesuatu yang tidak menggambarkan realitas apa adanya. Wacana ini seperti mitos yangmerupakan upaya manusia untuk menetralisasi ketakutan dan ketertekannya oleh pihak-pihakyang dianggapnya memiliki kekuasaan lebih tinggi darinya. Discourse inilah yang digunakanoleh Foucault sebagai pengganti ideologi. Penggantian ini dilakukan untuk menghindaripengertian ideolgi dalam arti sebelumnya. Pada pemikiran Foucault, penekanan yang utamaadalah pada masalah bahasa. Hubungan kekuasaan menggunakan bahasa. Hasilnya jugamerupakan bahasa. Penekanan pada bahasa ini membuat istilah discourse dianggap lebih tepat(Eagleton,1991).

Kebudayaan dapat dipahami melalui representasi dan praktikkehidupan sehari-hari. Untuk itu eksplorasi kebudayaan dapat dilakukanmelalui sudut ; Institusi-institusi produksi artistik dan kultural, misalnya bentuk-bentuk kerajinan atau pasar Bentuk atau madzhab, gerakan dan faksi produksi kultural Cara produksi, termasuk hubungan antara sarana materialproduksi kultural dengan bentuk-bentuk yang dihasilkan Identifikasi dan bentuk kebudayaan, termasuk spesifitas produkkultural, tujuan estetisnya dan bentuk-bentuk tertentu yangmembentuk dan mengekspresikan makna Reproduksi, dalam konteks ruang dan waktu, dari suatu tradisiselektif makna dan praktik yang melibatkan tatanan sosial danperubahan sosial Organisasi “tradisi selektif” berdasarkan “sistem signifikasi yag disadari dan diakui”

& Pertemuan kelima perkuliahan Kbm tanggal 5 Oktober 2012 dengan topic bahasan “Bahasa dalam kajian budaya”

Fungsi bahasafungsi instrumental (untuk melayani lingkungan)Fungsi regulatori (untuk mengontrol peristiwa)Fungsirepresentasi(untuk membuat pernyataan,menyampaikan fakta dan pengetahuan, menjelaskan ataumelaporkan)Fungsi interaksional (untuk memelihara kelangsungankomunikasi sosial)Fungsi personal (untuk mengekspresikan perasaan,emosi, pribadi, reaksi-reaksi mendalam)Fungsi heuristik (untuk memperoleh ilmu pengetahuandan mempelajari lingkungan)Fungsi imajinatif (untuk melayani sistem imajinasi atauide)

Bahasa dalam kajian budaya media yakni bahasa bukanlah netral bagi pembentukan dantransfer nilai, makna dan pengetahuan yang ada di luarbatas-batasnya. Bahasa memberikan makna kepada objek material danpraktik sosial yg ditampilkan dan digambarkan kehadapan kita dalam konteks yang dibatasi bahasa. Bahasa mengonstruksi makna, menstrukturkan maknamana yang dapat dan tidak dapatdigunakan padasituasi tertentu olh subjek yang bertutur.

Mengkaji budaya berarti mengeksploitasi bagaimanamakna dihasilkan scr simbolis dalam bahasa sbg sistemsignifikasi. Karena itu makna terbentuk melalui perbedaan,relasi satu penanda dengan penanda lain daripadamengacu pada entitas tetap dalam suatu dunia objekindependent.



& Pertemuan keenam perkuliahan Kbm tanggal 12 Oktober 2012 dengan topic bahasan “Gobalisasi, gerakan sosial baru dan pascamodernisme”

Globalisasi menurut Scholte adalah :

1. nasionalisasi, yaitu meningkatnya hubungan internasional.Masing-masing negara mempertahankan identitasnya namunsemakin bergantung satu sama lain.

2. eralisasi yaitu menurunnya batas antar negara, misalnyahambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.

3. versalisasi yaitu semakin tersebarnya hal material maupunimaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapatmenjadi pengalaman seluruh dunia.

4. ternisasi yaitu semakin menyebarnya pikiran dan budaya daribarat ke seluruh penjuru dunia

Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas yaitu dunia globalmemiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

Cirri globalisasi:

-Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu.

-Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yangberbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat daripertumbuhan perdagangan internasional

-Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan mediamassa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi beritadan olah raga internasional).

-Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidanglingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional danlain-lain.

Gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia(sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihatsemenjak lama

Ciri globalisasi budaya adalah (1) berkembangnya pertukarankebudayaan internasional.(2) penyebaran prinsip multi kebudayaan(multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadapkebudayaan lain di luar kebudayaannya. (3) Berkembangnya turismedan pariwisata. (4) semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara kenegara lain. (5) Berkembangnya mode yang berskala global, sepertipakaian, film dan lain lain. (6) Bertambah banyaknya event-eventberskala global, (7) persaingan bebas dalam bidang ekonomi (8)meningkakan interaksi budaya antar negara melalui perkembanganmedia massa

& Pertemuan ketujuh perkuliahan Kbm tanggal 19 Oktober 2012 dengan topic bahasan “Isu-isu subjektivitas dan identitas”

Mengacu kepada kondisi menjadi seorang pribadi, dan prosses menjadi seorang pribadi. Terikat kepada proses-proses sosial yang menciptakan kita sebagai subjek untuk diri kita dan orang lain. Subjektivitas menyangkut persoalan bagaimana menjadi pribadi (identitas diri), dan bagaimana merespon harapan dan pendapat orang lain tentang pribadi diri (identitassosial) Kajian terhadap subjektivitas dilakukan terkait dengan bangkitnya politik identitas.

Terdapat tiga jenis identitas yakni :

Identitas budaya adalah ciri yang muncul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu. Di dalamnya ada pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifatbawaan, bahasa, agama dan keturunan dari suatu kebudayaan.

Identitas social Terbentuk sebagai akibat dari keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok kebudayaan yang diperoleh melalui proses pencarian dan pendidikan dalam waktu yang lama

Idenitas diri (pribadi) Identitas yang didasarkan pada keunikan karakteristik peribadi seseorang.

Pada dasarnya identitas dibentuk dari proses social dan konstruk social. Pemberian identitas selalu ada konstruksi social dan negosiasi. Keseringan dibentuknya suatu identitas dalam ketidaksadaran

Identitas proses membuat dirinya sama dengan apa yang disampaikan orang. Identitas tidak dapat ditentukan lewat bahasa melainkan bahasa itu sendiri yang membentuk suatu identitas. Dan bahasa merupakan wacana kuasa dalam membentuk identitas serta teknologi untuk mendisiplinkan orang. Orang lain yang menentukan identitas dan kitalah yang menarasikannya. Identitas tidak dapat ditentukan oleh ilmu eksakta atau biologi yakni dengan melihat gendernya,dll. Adapun cara mengenali identitas ada 3 yakni :

- subyek pencerahan = secara rasionalitas

- subyek sosiologis = ditentukan dengan bergaul

- subyek pasca modern = “diri inti” merupakan refleksi dirinya menjadi satu kesatuan.

Dalam mengenali diri butuh dekonstruksi diri yakni refleksi diri mengkoreksi apa yang kita kenali mengenai diri kita dengan pandangan orang terhadapnya.
Post a Comment