"masalah" penelitian

blogger templates
Salah satu langkah yang penting di dalam penulisan skripsi, tesis atau disertasi adalah pemilihan masalah. Furchan (2005: 65) juga menyatakan bahwa pemilihan dan perumusan masalah merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian di bidang apa saja. Permasalahan penelitian merupakan permasalahan yang emmungkinkan dilakukannya investigasi secara empiric. Signifikansinya masalah menjelaskan kepada pemabaca mengapa kajian itu penting, dan menunjukkan kepada pembaca alas an peneliti memilih masalah tersebut. Karena riset membutuhkan penegtahuan, keahlian, perencanaan waktu, dan biaya, maka yang dikaji harus benar-benar penting.

A. Rumusan Masalah

1. Apa urgensi masalah dalam penelitian?

2. Apa penegrtian masalah penelitian?

3. Bagaimana cara penemuan masalah penelitian?

4. Apa saja criteria masalah penelitian?

5. Bagaimana metode penemuan masalah penelitian?

6. Bagaimana perumusan masalah penelitian?

B. Manfaat

1. Agar mahasiswa menegtahui urgensi masalah dalam penelitian.

2. Agar mahasiswa mengetahui masalah penelitian.

3. Agar mahasiswa mengetahui cara penemuan masalah penelitian.

4. Agar mahasiswa mengetahui kriteri masalah penelitian.

5. Agar mahasiswa mengetahui metode penemuan masalah penelitian.

6. Agar mahasiswa mengetahui perumusan masalah penelitian.


BAB II

PEMBAHASAN



A. Urgensi Masalah dalam Penelitian

Masalah penelitian tidak sama dengan masalah biasa. Permasalahan penelitian dinyatakan dalam bentuk formal agar berkaitan dengan investigasi secara empirik. Salah satu langkah paling penting dalam penelitian adalah penentuan permasalahan. Pemecahan (problematic) adalah suatu penelitian lebih dititik beratkan pada sesuatu yang dipermasalahkan sehingga harus dibedakan dengan permasalahan (subjec). Pada waktu berbicara tentang “Kinerja Polisi” berarti berbicara tentang suatu permasalahan, tetapi berbicara tentang “mengapa terjadi kemerosotan Kinerja Polisi” adalah sesuatu permasalahan yang memerlukan pemecahan. Satu hal yang harus disadari ialah bahwa pada hakikatnya suatu permasalahan tidak pernah berdiri sendiri dan terpisah dari faktor-faktor lain. Permasalahan dapat merupakan variabel yang menjadi tema pokok penelitian, dapat pula berupa kasus yang menjadi fokus suatu penelitian. Suatu variabel atau suatu kasus akan diangkat menjadi permasalahan penelitian jika terjadi kesenjangan antara kenyataan dan seharusnya dari variabel atau kasus tersebut. Banyak peneliti menemukan kesulitan dalam menentukan permasalahan penelitian sehingga menghambat perkembangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Pada umumnya keadaan berikut ini bisa menjadi penuntun mewujudkan permasalahan:

1. Bila ada informasi yang mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita.

2. Bila ada hasil-hasil penelitian atau kajian yang bertentangan.

3. Bila ada suatu kenyataan dan kita bermaksud menjelaskan melalui penelitian.[1]



B. Pengertian Masalah Penelitian

Dalam penelitian, masalah yang menjadi fokus harus dinyatakan secara formal untuk menunjukkan perlunya dilakukan peneylidikan seacar empiris. Dalam penelitian kuantitatif, masalah penelitian dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, pernyataan, atau hipotesis. Masalah penelitian adalah seperangkat kondisi yang membutuhkan diskusi, informasi solusi atau pengambilan keputusan, serta kemungkinan investigasi empiris, dalam bentuk pengumpulan dan analisis data.[2] Menurut catatan Henny Kartika ia menulis bahwa dalam pengertian umum, masalah penelitian adalah suatu pertanyaan atau pernyataan yang menyatakan tentang situasi yang memerlukan pemecahan melalui penelitian, atau keputusan atau perlu didiskusikan. Secara lebih spesifik, masalah penelitian merupakan pertanyaan yang menanyakan hubungan antar variabel penelitian. Pengertian lain menunjukkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang ada. Dapat juga dikatakan sebagai kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan keterbatasan alat dan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut.

C. Penemuan Masalah Penelitian

Kegiatan untuk menemukan permasalahan biasanya didukung oleh survai ke perpustakaan untuk menjajagi perkembangan pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti, terutama yang diduga mengandung permasalahan. Perlu dimengerti, dalam hal ini, bahwa publikasi berbentuk buku bukanlah informasi yang terbaru karena penerbitan buku merupakan proses yang memakan waktu cukup lama, sehingga buku yang terbit misalnya hari ini ditulis sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Perkembangan pengetahuan terakhir biasanya dipublikasikan sebagai artikel dalam majalah ilmiah; sehingga suatu (usulan) penelitian sebaiknya banyak mengandung bahasan tentang artikel-artikel (terbaru) dari majalah-majalah (jurnal) ilmiah bidang yang diteliti. Kegiatan penemuan permasalahan, seperti telah disinggung di atas, didukung oleh survai ke perpustakaan untuk mengenali perkembangan bidang yang diteliti.

Pengenalan ini akan menjadi bahan utama deskripsi “latar belakang permasalahan” dalam usulan penelitian. Permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai kesenjangan antara fakta dengan harapan, antara tren perkembangan dengan keinginan pengembangan, antara kenyataan dengan ide. Sutrisno Hadi (1986, 3) mengidentifikasikan permasalahan sebagai perwujudan “ketiadaan, kelangkaan, ketimpangan, ketertinggalan, kejanggalan, ketidakserasian, kemerosotan dan semacamnya”. Seorang peneliti yang berpengalaman akan mudah menemukan permasalahan dari bidang yang ditekuninya. Cara-cara menemukan permasalahan ini, telah diamati oleh Buckley dkk. (1976) yang menjelaskan bahwa penemuan permasalahan dapat dilakukan secara “formal’ maupun ‘informal’. Dengan demikian, cara formal lebih baik kualitasnya dibanding cara informal. Rincian cara-cara yang diusulkan Buckley dkk. dalam kelompok formal dan informal terlihat pada gambar di bawah ini

Ø Formal, Cara formal melibatkan prosedur yang menuruti metodologi tertentu.

1) Rekomendasi suatu riset. Memuat kesimpulan dan saran. Saran (rekomendasi) umumnya menunjukan kemungkinan penelitian lanjutan atau penelitian lain yang berkaitan dengan kesimpulan yang dihasilkan. Saran ini dapat dikaji sebagai arah untuk menemukan permasalahan.

2) Analogi adalah suatu cara penemuan permasalahan dengan cara “mengambil” pengetahuan dari bidang ilmu lain dan menerapkannya ke bidang yang diteliti. Dalam hal ini, dipersyaratkan bahwa kedua bidang tersebut haruslah sesuai dalam tiap hal-hal yang penting. Contoh permasalahan yang ditemukan dengan cara analogi ini, misalnya: “apakah proses perancangan perangkat lunak komputer dapat diterapkan pada proses perancangan arsitektural” (seperti diketahui perencanaan perusahaan dan Perumusan permasalahan perencanaan arsitektural mempunyai kesamaan dalam hal sifat pembuatan keputusannya yang Judgmental).

3) Renovasi. Cara renovasi dapat dipakai untuk mengganti komponen yang tidak cocok lagi dari suatu teori. Tujuan cara ini adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kemantapan suatu teori. Misal suatu teori menyatakan “ada korelasi yang signifikan antara arah pengembangan bangunan rumah tipe tertentu dalam perumahan sub – inti dengan tipe bangunan rumah asal penghuninya” dapat direnovasi menjadi permasalahan “seberapa korelasi antara arah pengembangan bangunan rumah tipe tertentu dalam perumahan sub – inti dengan tipe bangunan rumah asal penghuninya dengan tingkat pendidikan penghuni yang berbeda”. Dalam contoh di atas, kondisi yang “umum” diganti dengan kondisi tingkat pendidikan yang berbeda.

4) Dialektik, berarti tandingan atau sanggahan. Dengan cara dialektik, peneliti dapat mengusulkan untuk menghasilkan suatu teori yang merupakan tandingan atau sanggahan terhadap teori yang sudah ada.

5) Ekstrapolasi, cara untuk menemukan permasalahan dengan membuat tren cara untuk menemukan permasalahan dengan membuat tren suatu teori atau tren permasalahan yang dihadapi.

6) Morfologi, suatu cara untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang terkandung dalam suatu permasalahan yang rumit, kompleks.

7) Dekomposisi, merupakan cara penjabaran (pemerincian) suatu pemasalahan ke dalam komponen-komponennya.

8) Agregasi, merupakan kebalikan dari dekomposisi. Dengan cara agregasi, peneliti dapat mengambil hasil-hasil peneliti atau teori dari beberapa bidang (beberapa penelitian) dan “mengumpulkannya” untuk membentuk suatu permasalah yang lebih rumit, kompleks.

Ø Informal, Cara informal bersifat subjektif dan tidak “rutin”.

1) Konjektur (naluriah). Seringkali permasalahan dapat ditemukan secara konjektur (naluriah), tanpa dasar-dasar yang jelas. Bila kemudian, dasar-dasar atau latar belakang permasalahan dapat dijelaskan, maka penelitian dapat diteruskan secara alamiah. Perlu dimengerti bahwa naluri merupakan fakta apresiasi individu terhadap lingkungannya. Naluri, menurut Buckley, dkk., (1976, 19), merupakan alat yang berguna dalam proses penemuan permasalahan.

2) Fenomenologi. Banyak permasalahan baru dapat ditemukan berkaitan dengan fenomena (kejadian, perkembangan) yang dapat diamati. Misal: fenomena pemakaian komputer sebagai alat bantu analisis dapat dikaitkan untuk mencetuskan Perumusan permasalahan permasalahan – misal: seperti apakah pola dasar pendaya – gunaan komputer dalam proses perancangan arsitektural.

3) Konsensus. Merupakan sumber untuk mencetuskan permasalahan misalnya terdapat konsensus bahwa kemiskinan bukan lagi masalah bagi Indonesia, tapi kualitas lingkungan yang merupakan masalah yang perlu ditanggulangi (misal hal ini merupakan konsensus nasional).

4) Pengalaman. Tak perlu diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber bagi permasalahan. Pengalaman kegagalan akan mendorong dicetuskannya permasalahan untuk menemukan penyebab kegagalan tersebut. Pengalaman keberhasilan juga akan mendorong studi perumusan sebab-sebab keberhasilan. Umpan balik dari klien, misal, akan mendorong penelitian untuk merumuskan komunikasi arsitek dengan klien yang lebih baik.

D. Kriteria masalah penelitian

Dalam memilih masalah yang akan diperoleh dari sumbernya, peneliti hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor sebagai criteria pemilihan, baik yang sifatnya eksternal maupun personal (Good, 1996). Kriteria eksternal berkenaan dengan, misalnya, masalah yang sedang hangat dan penting bagi bidang penelitian, tersedianya data, metode, maupun kerja sama institusional dan administratif. Sedang kriteria personal berkenaan dengan beberapa pertimbangan, seperti interes, latihan, biaya dan waktu. Secara lebih detail, criteria pemilihan masalah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Merupakan bidang masalah dan topik yang menarik. Dalam kriteria masalah penelitian harus mempunyai masalah dan topik yang menarik, misalnya dalam bidang masalah: pemasaran dan penjualan, keuangan, perilaku organisasional, sistem informasi. Dalam topik yang menarik juga dapat dimisalkan: konsep produk baru, promosi penjualan, perilaku konsumen, penilaian dan obligasi, analisis rasio keuangan, motivasi kerja, gaya kepemimpinan, budaya organisasional, penerapan sistem informasi, sikap manajemen pemakai.

2. Signifikansi secara teoritis dan praktis. Peneliti harus mempertimbangkan apakah bidang masalah dan topik penelitian yang menarik untuk diteliti mempunyai signifikasi secara teoretis (untuk penelitian dasar) atau secara praktis (untuk penelitian terapan). Pertimbangan yang digunakan untuk menentukan signifikasi masalah penelitian, terkait pada 3 hal:

Ø Adanya dukungan konsep-konsep teoretis dari penelitia-penelitian sebelumnya yang mempunyai topik sejenis

Ø Tersedianya dan dapat diperolehnya data yang relevan dengan topik penelitian

Ø Kontribusi hasil penelitian terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis



3. Dapat diuji melalui pengumpulan data dan analisis data. Masalah penelitian yang baik tidak cukup sekedar memenuhi kriteria sebagai topik yang menarik dan mempunyai signifikansi secara teoretis atau praktis. Masalah yang terlalu umum cenderung akan melibatkan banyak variabel dan jumlah data yang harus dikumpulkan, sehingga peneliti akan sulit menginterpretasikan hasilnya. Agar dapat diuji, peneliti perlu mengisolasi masalah umum menjadi masalah spesifik yang mengidentifikasi secara jelas variabel-variabel yang diteliti dan unit analisisnya.

4. Sesuai dengan waktu dan biaya. Pembatasan scope masalah dapat dilakukan pada berbagai aspek, antara lain:

Ø Periode waktu pengamatan.

Ø Unsur-unsur (variabel) yang diteliti.

Ø Lingkungan subyek penelitian.[3]

E. Metode Penemuan Masalah Penelitian

Ide untuk menemukan masalah penelitian dapat diperoleh melalui dua pendekatan yaitu formal dan informal. Ada enam metode untuk menemukan masalah dengan metode formal yaitu:

1. Metode analog, menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian pada bidang tertentu untuk menentukan masalah penelitian pada bidang lain yang terkait, contoh: studi semantik dalam penyajian laporan keuangan, penerapan teori komunikasi pada pembaca laporan keuangan.

2. Metode renovasi, penelitian ditentukan dengan cara memperbaiki atau mengganti komponen teori atau metode yang kurang relevan dengan komponen teori atau metode lain yang lebih efektif, misalnya dalam pelaksanaan perhitungan risiko dan keuntungan dalam EVA dapat digunakan CAPM (Capital Assets Pricing Model) atau APT (Arbitrage Pricing Theory).

3. Metode dialektis, Cara menentukan masalah penelitian dengan metode ini melalui pengajuan usulan pengembangan teori atau metode yang telah ada. Misalnya metode pengukuran general price level accounting dapat diusulkan sebagai alternatif dari metode historical cost accounting pada masa inflasi

4. Metode morfologi, Metode ini merupakan metode untuk menemukan masalah penelitian dengan menganalisis berbagai kemungkinan kombinasi bidang masalah penelitian yang saling berhubungan dalam bentuk matrik.

5. Metode dekomposisi, Masalah penelitian ditemukan dengan cara membagi masalah ke dalam elemen – elemen yang lebih spesifik. Misal masalah metode pembenanan BOP dalam akuntansi yang dibagi menjadi beberapa elemen yang lebih spesifik, antara lain:

a. Metode pembebanan.

b. Efisiensi BOP.

6. Metode agregasi. Metode ini merupakan kebalikan dari metode dekomposisi yaitu menggunakan hasil penelitian atau teori dari berbagai bidang penelitian yang berbeda untuk menentukan suatu masalah penelitian yang lebih kompleks. Misal: penerapan teori nilai sekarang dalam akuntansi leasing dan akuntansi sumber daya manusia

Ø Dalam pendekatan informal, ada empat metode yang dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian, yaitu:

1. Metode perkiraan, Masalah penelitian dalam metode ini ditentukan berdasarkan perkiraan mengenai situasi tertentu yang diperkirakan memiliki potensi masalah.

2. Metode fenomenologi, Masalah penelitian melalui metode ini ditemukan berdasarkan hasil observasi terhadap fakta atau kejadian. Fakta yang dapat diamati dalam lingkungan bisnis dapat berupa sikap dan perilaku anggota organisasi, kinerja operasional perusahaan.

3. Metode consensus, Ide masalah penelitian dapat ditemukan berdasarkan adanya konsensus dalam praktik bisnis yang merupakan kebiasaan yang dipraktikkan dalam bisnis yang tidak dilandasi oleh konsep atau teori yang baku

4. Metode pengalaman, Masalah penelitian ditemukan berdasarkan pengalaman perusahaan atau orang – orang dalam perusahaan. Misal pengalaman perusahaan dalam menghadapi kesulitas likuiditas.

F. Perumusan Masalah Penelitian

Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Ada kegiatan yang erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah (Sugiyono, 2006: 35).

Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tertulis pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang ingin dicarikan jawabannya. Perumusan masalah diidentifisir dari identifikasi masalah. Dengan demikian membatasi masalah atau merumuskan masalah dalam suatu penelitian merupakan suatu langkah yang tidak dapat ditawar-tawar. Rumusan masalah pada hakikatnya adalah generalisasi deskripsi ruang lingkup masalah. Pembatasan dimensi dan anilisis variabel yang tercakup didalamnya. Dalam hal ini perumusan dapat di buat baik dalam bentuk pertanyaan deskriptif maupun dalam bentuk pertanyaan sekitar masalah yang ditelitinya.

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu

a) sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.

b) sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.

c) sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.

d) dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

Ø kriteria-kriteria Perumusan Masalah

Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu:

kriteria pertama, dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.

Kriteria Kedua, dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.

Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.


BAB III

PENUTUP



Kesimpulan

Masalah penelitian tidak sama dengan masalah biasa. Permasalahan penelitian dinyatakan dalam bentuk formal agar berkaitan dengan investigasi secara empirik. Salah satu langkah paling penting dalam penelitian adalah penentuan permasalahan. Pemecahan (problematic) adalah suatu penelitian lebih dititik beratkan pada sesuatu yang dipermasalahkan sehingga harus dibedakan dengan permasalahan (subjec). Dalam penelitian, masalah yang menjadi focus harus dinyatakan secara formal untuk menunjukkan perlunya dilakukan peneylidikan seacar empiris. Masalah penelitian adalah seperangkat kondisi yang membutuhkan diskusi, informasi solusi atau pengambilan keputusan, serta kemungkinan investigasi empiris, dalam bentuk pengumpulan dan analisis data. Kegiatan untuk menemukan permasalahan biasanya didukung oleh survai ke perpustakaan untuk menjajagi perkembangan pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti, terutama yang diduga mengandung permasalahan. Dalam penemuan masalah dapat dilakukan dengan cara formal dan informal. Kriteria masalah penelitian, ada empat kriteria: Merupakan bidang masalah dan topik yang menarik, Signifikansi secara teoritis dan praktis, Dapat diuji melalui pengumpulan data dan analisis data, Sesuai dengan waktu dan biaya. Metode Penemuan Masalah Penelitian, dapat dilakukan secara formal ataupun informal. Perumusan Masalah Penelitian, Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Ibnu Hadjar, M.Ed. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 1996

Prof. Dr. Tukiran Tarmidja. Hidayati Mustafidah, S. Si. M. Kom. Pengantar Metodologi Penelitian Kuantitatif. Alfabeta. Bandung, 2011

www.wordpress.com




[1] Prof. Dr. Tukiran Tamirdja, metode penelitian kuantitatif. Alfabeta, 2011, bandung. Hal: 1-2


[2] Drs. Ibnu Hadjar, M.Ed, Dasar-dasar metodologi penelitian kwantitatif. PT Raja Grafindo Persada, 1996, Jakarta. Hal: 38


[3] www.wordpress.com
Post a Comment