memaknai hadist "Ballighu ‘anni walau ayah"

blogger templates
Sebuah hadits yang sangat populer, tidak hanya terkenal di kalangan da'iyah tapi juga di masyarakat umum berbunyi: "Ballighu ‘anni walau ayah". Sampaikan dariku walau satu ayat. Hadits riwayat Bukhori ini menjadi salah satu dasar perintah untuk beramar ma'ruf nahi munkar. Dalam sebuah kata perintah yang pendek ini, sesungguhnya mengandung maksud yang sangat dalam dan menjadi tuntutan untuk du’at. Antara lain:

1. Sampaikanlah

Al Ma’afi An Nahrawani berkomentar tentang hadtis ini: “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kata “sampaikan” ini membantah orang yang beranggapan “Gak perlu mengurusi orang lain. Urusi dulu diri kita.”

Agama ini intinya adalah nasehat. Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW Bersabda : Agama adalah nasehat, (para sahabat bertanya): Untuk siapa ? Beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya (HR Bukhori Muslim). Saling menasehati hanya akan berjalan dengan cara menyampaikan kebenaran.

2. Dariku

Jelas sekali yang diinginkan Rasulullah adalah kita menyebarkan ilmu yang shohih, yang punya landasan dan rujukan yang tepat. Seseorang penceramah membawakan sebuah perkataan "Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina", dan ia katakan bahwa kalimat itu adalah hadits Rasulullah saw. Tepatkah penceramah itu disebut mengamalkan “Ballighu ‘anni walau ayah” bila para ulama ahli hadits mengatakan bahwa kalimat yang disebut penceramah itu adalah hadits palsu?

Harap diperhatikan untuk du’at, muballigh, murobbi, dan sebagainya; bahwa ancaman untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah itu tidak main-main. Sebuah hadits dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : ”Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.(HR Bukhari)

Karena itu kehati-hatian adalah keharusan dalam berdakwah. Hendaklah seorang du’at terlebih dahulu memastikan sebuah perkataan itu benar-benar hadits Rasulullah (berdasar rujukan yang shohih) sebelum mengatakan bahwa perkataan itu hadits.

Kata “dariku” ini juga mengandung tuntutan agar du’at dalam menyampaikan risalah Islam kepada umatnya harus mengambil sumber dari para ulama salafush-sholih dan atau ulama masa kini yang lurus. Karena para ulama itu adalah orang yang mengkaji dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Mengambil sumber dari para orientalis barat yang kafir, atau mengambil rujukan dari kalangan liberalis tentu akan menyebabkan apa yang kita sampaikan itu menyimpang jauh dari ajaran Rasulullah saw. Sebab orang kafir hanya ingin memadamkan cahaya agama Allah.

Tuntutan lain, agar para du’at tidak membuat sesuatu yang mengada-ada dalam agama (bid’ah). Berapa banyak kita temui anjuran untuk mengamalkan sesuatu padahal kita ketahui bahwa anjuran itu tidak bersumber dari Rasulullah saw. Zaman ini semakin marak dengan anjuran bid’ah. Anjuran sholat dua bahasa beberapa waktu lalu, jelas seruan yang batil. Penyampaian itu sama sekali bukan bersumber dari Rasulullah saw. Juga yang harus diperhatikan adalah misalnya menganjurkan untuk mengucapkan bacaan tertentu dalam hitungan sekian kali lalu diiming-imingi fadhilah-fadhilah tertentu, yang sesungguhnya aktifitas itu tidak pernah Rasulullah ajarkan.

Penggalan kata ini menuntut para du’at yang telah mendengar hadits “sampaikanlah…” agar terus meningkatkan kapasistas mereka dengan menghafal hadits-hadits yang shohih dan mengenali hadits-hadits palsu. Dan juga mereka dituntut mengenal mana ajaran yang besumber dari sunnah Rasulullah saw, dan mana yang diada-adakan (bid’ah) atau seruan yang terkandung liberalisme.

3. Walau

Penggalan kata ini mengandung makna bahwa seluruh upaya harus dikerahkan dalam mengamalkan perintah “sampaikan dariku..” Kata walau membuat kita tidak bisa mengutarakan alasan untuk menghindar dari perintah ini. Mungkin akan ada yang beralasan ilmunya tidak cukup banyak untuk memberi nasihat, tapi Rasulullah tidak menginginkan alasan ini. Ada kata “walau” yang memaksa kita menyampaikan nasehat dari sedikit apa yang kita tahu.

Ada keringanan bagi orang yang tidak bisa melaksanakan sholat fardhu dengan berdiri. Walau tidak bisa berdiri, kita harus melakukan sholat. Alternatifnya, kita melakukannya dengan duduk. Begitu juga dalam dakwah, tidak semua orang mampu mencapai kapasitas ulama, sedangkan agama itu adalah nasihat, maka ada keringanan untuk menyampaikan walau sedikit yang kita tahu. Yang penting, mekanisme nasehat dalam agama harus berjalan.

Kata walau ini juga bermakna agar kita tidak menunda-nunda untuk menyampaikan apa yang kita tahu dalam agama ini. Tidak perlu menghafal sepuluh hadits lain baru kita menyampaikan sebuah hadits yang baru kita dengar. Tidak perlu menunggu membaca sepuluh kitab lain bila kita telah menyelesaikan sebuah kitab. Pokoknya, begitu ada yang kita tahu, maka segera sampaikan.

Di masa kini dengan adanya jejaring sosial yang memudahkan setiap orang berinteraksi, menyampaikan apa yang kita tahu walau sedikit itu semakin mudah. Bila yang kita tahu cukup banyak, maka tulislah di sebuah blog. Bila yang kita tahu sedikit, maka status twitter atau facebook bisa menjadi sarana dalam saling menasehati karena Allah. Walau pun 140 karakter, sampaikanlah!

4. Satu Ayat

Sebuah pepatah yang sangat familiar kita dengar berbunyi: Orang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan bisa memberi apa pun. Dengan kata lain, kita hanya bisa memberi apa yang kita punya. Hadits “Ballighu ‘anni…” menginginkan kita agar ada yang disampaikan walau pun satu ayat. Di sini seorang da’i dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas mereka. Seorang da’i tidak boleh kosong pemahaman keislamannya. Ia dituntut untuk selalu mendengar, bahkan “berburu” ajaran Rasulullah saw agar ada yang bisa disampaikan.
Post a Comment