Teori Psikoanalisis oleh Alfred Adler

blogger templates
Latar belakang penyusunan makalah ini adalah memberikan deskripsi tentang model-model teori psikodinamika yang mendasari praktek pertolongan pekerjaan sosial. Di harapkan setelah mengkaji makalah ini peksos dapat mengetahui secara detail mengenai dasar-dasar dari teori psikodinamika itu sendiri.

Perkembangan praktek pekerjaan sosial tidak bisa terlepas dari kerangka perkembangan teori psikodinamika yang sangat menunjang perkembangan praktek pekerjaan sosial. Dalam perkembangan praktek pekerjaan sosial pada awalnya sangat menekankan pada aspek pekerja sosial klinis yang menganggap permasalahan yang terjadi tidak bisa terlepas dari individu itu sendiri.

Rumusan Masalah
Bagamana Teori Psikoanalisis oleh Alfred Adler (Psikologi Individual) ?

Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah:
Untuk mengetahui teori psikoanalisis oleh Alfred Adler

BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi

Alfred Adler lahir di pinggiran kota Wina pada tanggal 7 Februari 1870 dalam keluarga Yahudi, dia anak kedua dari enam bersaudara. Dia tumbuh dalam lingkungan dimana orang-orang memiliki berbagai jenis latar belakang kehidupan, Pada awal masa kanak-kanak Adler tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit, dan kesadaran terhadap kematian, ketidakbahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Dia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, dia menyaksikan kematian adik bungsunya, pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia.

Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kana-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Adler rupanya sejak awal memiliki keinginan untuk menjadi seorang dokter. Dia memulai karirnya sebagai seorang optamologis (Opthamologist), tapi kemudian beralih pada praktik dokter umum dan membuka praktik di daerah Wina. Pada tahun 1902 Adler bertemu Sigmund Freud, dan selama 9 tahun kemudian Adler resmi menjadi anggota Psikoanalisis Sosial di Wina. Adler kemudian beralih pada psikiatri dan pada tahun 1907 dia bergabung dengan kelompok diskusi Freud. Setelah menulis makalah tentang inferioritas organik, yang sedikit sejalan dengan pendapat Freud, maka untuk pertama kalinya dia menulis tentang makalah insting perusak yang tidak disepakati Freud dan kemudian makalah tentang perasaan inferioritas anak-anak yang memakai konsep-konsep seksual Freud secara metaforis, bukan secara harfiah sebagaimana yang dimaksud Freud. Walaupun Freud mengangkat Adler sebagai Presiden Viennese Analitic Society dan Co-editor dari terbitan berkala organisasi, Adler tetap mengkritik pandangan Freud. Perdebatan antara pendukung Adler dan pendukung Freud diadakan, tapi acara berakhir dengan keluarnya Adler dan 9 anggota lain dari organisasi tersebut dan mendirikan The Society for Free Psikoanalysis pada tahun 1911. Yang kemudian berubah menjadi The Society for Individual Psychology.

B. Teori Adler Mengenai Dinamika Kepribadian

Berbeda secara tajam dengan pandangan Freud bahwa tingkah laku manusia di dorong oleh insting- insting yang di bawa sejak lahir dengan aksioma pokok. Adler berpendapat bahwa manusia pertama-tama dimotivasikan oleh dorongan-dorongan sosial. Dorongan sosial adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, meskipun tipe-tipe khusus berhubungan dengan orang dan pranata-pranata sosial yang berkembang di tentukan oleh corak masyarakat tempat orang itu dilahirkan.

PANDANGAN ALFRED ADLER TENTANG PERILAKU MANUSIA

Ada tujuh prinsip yang terkandung dari teori Psikologi Individual Adler, yaitu (S. Hall., Calvin dan Gardner Lindzey, Supratiknya A. (Ed.) : 1995) :

1. Prinsip Rasa Rendah Diri (Inferiority Principle)

Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain. Misalnya, anak merasa diri kurang jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu ia terdorong untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Jika telah mencapai taraf perkembangan tertentu, maka timbul lagi rasa kurang untuk mencapai taraf berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga individu dengan rasa rendah dirinya ini tampak dinamis mencapai kesempurnaan dirinya. Teori Adler mengenai perasaan rendah diri ini berawal dari pengamatannya atas penderitaan pasien-pasiennya yang seringkali mengeluh sakit pada daerah tertentu pada tubuhnya, mengenai psikosomatis, Adler mengatakan bahwa rasa sakit yang diderita individu sebenarnya adalah usaha untuk memecahkan masalah-masalah nonfisik. Keadaan tersebut, menurut Adler disebabkan adanya kekurang sempurnaan pada daerah-daerah tubuh tersebut, yang dikatakannya sebagai organ penyebab rendah diri (organ inferiority). Jadi manusia lahir memang tidak sempurna, atau secara potensial memiliki kelemahan dalam organ tubuhnya. Adanya stress menyebabkan organ lemah ini terganggu. Karenanya, setiap orang selalu berusaha mengkompensasikan kelemahannya dengan segala daya. Dalam hal ini usaha kompensasi ini ditentukan oleh gaya hidup dan usaha mencapai kesempurnaan (superior). Berkenaan dengan perasaan rendah diri dalam kondisi organik, Adler menciptakan istilah masculine protest, yakni istilah yang dimaksud untuk menerangkan perasaan rendah diri atau inferior ini dihubungkan dengan kelemahan (weakness) dan kewanita-wanitaan (femininity). Istilah ini merupakan suatu dinamika kepribadian manusia yang utama, karena hal ini merupakan usaha individu dalam mencapai kondisi yang kuat dalam mengkompensasikan perasaan rendah dirinya.

2. Prinsip Superior (Superiority Principle)

Memandang prinsip superior terpisah dari prinsip inferior sesungguhnya keliru. Justru kedua prinsip ini terjalin erat dan bersifat komplementer. Namun karena sebagai prinsip, kedua istilah ini berbeda, maka pembahasannya pun dibedakan, kendati dalam operasionalnya tak dapat dipisahkan. Sebagai reaksi atas penekanan aspek seksualitas sebagai motivator utama perilaku menurut Freud, Adler beranggapan bahwa manusia adalah mahluk agresif dan harus selalu agresif bila ingin survive. Namun kemudian dorongan agresif ini berkembang menjadi dorongan untuk mencari kekuatan baik secara fisik maupun simbolik agar dapat survive. Demikian banyak pasien Adler yang dipandang kurang memiliki kualitas agresif dan dinyatakan sebagai manusia tak berdaya. Karenanya, yang diinginkan manusia adalah kekuatan (power). Dari sini konsepnya berkembang lagi, bahwa manusia mengharapkan untuk bisa mencapai kesempurnaan (superior). Dorongan superior ini sangat bersifat universal dan tak mengenal batas waktu. Bagi Adler tak ada pemisahan antara drive dan need seperti yang diungkapkan oleh Murray. Bagi Adler hanya ada satu dorongan, yakni dorongan untuk superior sebagai usaha untuk meninggalkan perasaan rendah diri. Namun perlu dicatat bahwa superior disini bukanlah kekuatan melebihi orang lain, melainkan usaha untuk mencapai keadaan superior dalam diri dan tidak selalu harus berkompetisi dengan orang lain Superioritas yang dimaksud adalah superior atas diri sendiri. Jadi daya penggerak yang utama dalam hidup manusia adalah dinamika yang mengungkapkan sebab individu berperilaku, yakni dorongan untuk mencapai superior atau kesempurnaan.

3. Prinsip Gaya Hidup (Style of Life Principle)

Usaha individu untuk mencapai superioritas atau kesempurnaan yang diharapkan, memerlukan cara tertentu. Adler menyebutkan hal ini sebagai gaya hidup (Style of Life). Gaya hidup yang diikuti individu adalah kombinasi dari dua hal, yakni dorongan dari dalam diri (the inner self driven) yang mengatur aarah perilaku, dan dorongan dari lingkungan yang mungkin dapat menambah, atau menghambat arah dorongan dari dalam tadi. Dari dua dorongan itu, yang terpenting adalah dorongan dalam diri (inner self) itu. Bahwa karena peranan dalam diri ini, suatu peristiwa yang sama dapat ditafsirkan berbeda oleh dua orang manusia yang mengalaminya. Dengan adanya dorongan dalam diri ini, manusia dapat menafsirkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, bahkan memiliki kapasitas untuk menghindari atau menyerangnya. Bagi Adler, manusia mempunyai kekuatan yang cukup, sekalipun tidak sepenuhnya bebas, untuk mengatur kehidupannya sendiri secara wajar. Jadi dalam hal ini Adler tidak menerima pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah produk dari lingkungan sepenuhnya. Menurut Adler, justru jauh lebih banyak hal-hal yang muncul dan berkembang dalam diri manusia yang mempengaruhi gaya hidupnya. Gaya hidup manusia tidak ada yang identik sama, sekalipun pada orang kembar. Sekurang-kurangnya ada dua kekuatan yang dituntut untuk menunjukkan gaya hidup seseorang yang unik, yakni kekuatan dari dalam diri yang dibawa sejak lahir dan kekuatan yang datang dari lingkungan yang dimasuki individu tersebut. dengan

adanya perbedaan lingkungan dan pembawaan, maka tidak ada manusia yang berperilaku dalam cara yang sama. Gaya hidup seseorang sering menentukan kualitas tafsiran yang bersifat tunggal atas semua pengalaman yang dijumpai manusia. Misalnya, individu yang gaya hidupnya

berkisar pada perasaan diabaikan (feeling of neglect) dan perasaan tak disenangi (being unloved) menafsirkan semua pengalamannya dari cara pandang tersebut. misalnya ia merasa bahwa semua orang yang ingin mengadakan kontak komunikasi dipandangnya sebagai usaha untuk menggantikan perasaan tak disayangi tersebut. Gaya hidup seseorang telah terbentuk pada usia tiga sampai lima tahun. Gaya hidup yang sudah terbentuk tak dapat diubah lagi, meskipun cara pengekspresiannya dapat berubah. Jadi gaya hidup itu tetap atau konstan dalam diri manusia. Apa yang berubah hanya cara untuk mencapai tujuan dan kriteria tafsiran yang digunakan untuk memuaskan gaya hidup. Misalnya, bagi anak yang merasa memiliki gaya hidup tidak disayangi, adalah lebih baik praktis untuk membentuk tujuan semu bahwa kasih sayang baginya tidak begitu penting dibandingkan dengan usaha meyakinkan bahwa tidak dicintai pada masa lalu tidak penting baginya, dan bahwa meyakinkan kemungkinan untuk dicintai pada masa yang akan datang diharapkan dapat memperbaiki peristiwa masa lampau. Perubahan gaya hidup meskipun mungkin dapat dilakukan, akan tetapi kemungkinannya sangat sukar, karena beberapa pertimbangan emosi, energi, dan pertumbuhan gaya hidup itu sendiri yang mungkin keliru. Karenannya jauh lebih mudah melanjutkan gaya hidup yang telah ada dari pada mengubahnya. Mengenai bagaimana gaya hidup itu berkembang, dan kekuatan yang mempengaruhinya, menurut Adler dapat dipelajari dengan meyakini bahwa perasaan rendah diri itu bersifat universal pada semua manusia, dan berikutnya karena adanya usaha untuk mencapai superioritas. Akan tetapi ada karakteristik umum yang berasal dari sumber lain di luar dirinya yang turut menentukan keunikan kepribadian individu, yakni kehadiran kondisi sosial, psikologis, dan fisik yang unik pada setiap manusia. Dikatakan, bahwa setiap manusia mencoba menangani pengaruh-pengaruh itu. Faktor yang khusus yang dapat menyebabkan gaya hidup yang salah adalah pengalaman masa kecil, banyaknya saudara, dan urutan dalam keluarga. Adler juga menemukan tiga faktor lainnya yang dapat menyebabkan gaya hidup keliru dalam masyarakat dan menyebabkan kehidupan manusia tidak bahagia. Ketiga Pkanak-kanak yang dimanja atau dikerasi, dan masa kanak-kanak yang diacuhkan oleh orang tuanya. Pada anak cacat tubuh, perasaan rendah diri akan lebih besar dari pada anak yang sehat fisiknya. Biasanya reaksi yang muncul ada yang menyerah pada keadaan dikalahkan oleh lingkungan, akan tetapi ada juga yang berusaha mengkonpensasikannya pada bidang yang jauh dari bakat normal pada orang biasa, misalnya berhasil dalam kegiatan olahraga, kesenian, atau industri.

4. Prinsip Diri Kreatif (Creative Self Principle)

Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus. Ia adalah yang menafsirkan kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri. namun diri kreatif ini adalah tahapan di luar gaya hidup. Gaya hidup adalah bersifat mekanis dan kreatif, sedangkan diri kreatif lebih dari itu. Ia asli, membuat sesuatu yang baru yang berbeda dari sebelumnya, yakni kepribadian yang baru. Individu mencipta dirinya.

5. Prinsip Diri yang Sadar (Conscious Self Principle)

Kesadaran menurut Adler, adalah inti kepribadian individu. Meskipun tidak secara eksplisit Adler mengatakan bahwa ia yakin akan kesadaran, namun secara eksplisit terkandung dalam setiap karyanya. Adler merasa bahwa manusia menyadari segala hal yang dilakukannya setiap hari, dan ia dapat menilainya sendiri. Meskipun kadang-kadang individu tak dapat hadir pada peristiwa tertentu yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu, tidak berarti Adler mengabaikan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi yang ditekannya. Manusia dengan tipe otak yang dimilikinya dapat menampilkan banyak proses mental dalam satu waktu. Hal-hal yang tidak tertangkap oleh kesadarannya pada suatu saat tertentu tak akan diperhatikan dan diingat oleh individu. Ingatan adalah fungsi jiwa, yang seperti proses lainnya, tidak bekerja secara efisien. Keadaan tidak efisien ini adalah akibat kondisi yang tidak sempurna pada organ tubuh, khususnya otak. Adler tidak menerima konsep ambang sadar dan alam tak sadar (preconsious dan uncounsious) Freud. Hal ini dianggap sebagai mistik. Ia merasa bahwa manusia sangat sadar benar dengan apa yang dilakukannya, apa yang dicapainya, dan ia dapat merencanakan dan mengarahkan perilaku ke arah tujuan yang dipilihnya secara sadar.

6. Prinsip Tujuan Semu (Fictional Goals Principle)

Meskipun Adler mangakui bahwa masa lalu adalah penting, namun ia mengganggap bahwa yang terpenting adalah masa depan. Yang terpenting bukan apa yang telah individu lakukan, melainkan apa yang akan individu lakukan dengan diri kreatifnya itu pada saat tertentu. Dikatakannya, tujuan akhir manusia akan dapat menerangkan perilaku manusia itu sendiri. Misalkan, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah, melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. usaha mengikuti setiap tingkat pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang

menyajikan tujuan yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang. Dengan kata lain, tujuan yang dirumuskan individu adalah semua karena dibuat amat ideal untuk diperjuangkan sehingga mungkin saja tidak dapat direalisasikan. Tujuan fiksional atau semu ini tak dapat dipisahkan dari gaya hidup dan diri kreatif. Manusia bergerak ke arah superioritas melalui gaya hidup dan diri kreatifnya yang berawal dari perasaan rendah diri dan selalu ditarik oleh tujuan semu tadi. Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri keratifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.

7. Prinsip Minat Sosial (Social Interest Principle)

Setelah melampaui proses evolusi tentang dorongan utama perilaku individu, Adler menyatakan pula bahwa manusia memiliki minat sosial. Bahwa manusia dilahirkan dikaruniai minat sosial yang bersifat universal. Kebutuhan ini terwujud dalam komunikasi dengan orang lain, yang pada masa bayi mulai berkembang melalui komunikasi anak dengan orang tua. Proses sosialisasi membutuhkan waktu banyak dan usaha yang berkelanjutan. Dimulai pada lingkungan keluarga, kemudian pada usia 4-5 tahun dilanjutkan pada lingkungan pendidikan dasar dimana anak mulai mengidentifikasi kelompok sosialnya. Individu diarahkan untuk memelihara dan memperkuat perasaan minat sosialnya ini dan meningkatkan kepedulian pada orang lain. Melalui empati, individu dapat belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai kelemahannya dan mencoba memberi bantuan kepadanya. Individu juga belajar untuk melatih munculnya perasaan superior sehingga jika saatnya tiba, ia dapat mengendalikannya. Proses-proses ini akan dapat memperkaya perasaan superior dan memperkuat minat social yang mulai dikembangkannya.

C. Penelitian Khas Adler mengenai Urutan Kelahiran

Sejalan dengan perhatian Adler terhadap penentu sosial kepribadian, ia mengamati bahwa kepribadian anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu dalam satu keluarga akan berlainan. Adler menempatkan urutan kelahiran sebagai salah satu pengaruh sosial mayor dalam masa kanak-kanak dimana individu membentuk gaya hidup. Sekalipun saudara sekandung memiliki orang tua dan rumah yang sama, mereka tidak memiliki lingkungan sosial yang sama. Fakta-fakta dari yang lebih tua atau yang lebih muda pada saudara sekandung dan dari terbukanya sikap orang tua yang telah berubah sebagai hasil dari adanya banyak anak menciptakan kondisi yang berbeda pada masa kanak-kanak yang sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, sebagaimana Adler telah mengetahui dari masa kecilnya sendiri. Adler focus pada tiga posisi ; anak pertama, anak kedua, dan yang paling muda. (Sumadi, suryabrata.1986)

Anak Pertama

Anak pertama menemukan dirinya dalam keunikan dan dalam banyak situasi yang patut ditiru. Biasanya, para orang tua sangat bahagia pada kelahiran anak pertama mereka dan mencurahkan seluruh waktu dan perhatian pada bayi yang baru lahir. Kelahiran anak pertama menerima perhatian yang sepenuhnya dari orangtua.

Sebagai hasilnya, anak pertama sering merasa senang, terjamin keberadaannya hingga hadirnya anak kedua. Hal itu pasti membuat shock. Tidak ada focus perhatian yang instan dan konstan, tidak ada penerimaan cinta dan kasih sayang yang penuh dari orangtuanya terhadap anak ini, dalam bahasa Adler “dethroned”. Cinta yang tetap yang diterima anak pertama pada periode ini sekarang harus dibagi. Anak harus sering menyerah pada kemarahan untuk menunggu hingga bayi yang baru lahir telah selesai diurus dan harus diam pada suatu waktu agar tidak membangunkan bayi yang baru lahir. Saat anak pertama dihukum pada awalnya, karena tingkah laku yang menyusahkan atau suka mengganggu, dia menginterpretasi hukumannya sebagai bukti dari perubahan posisi yang mungkin lebih mudah untuk tumbuh kebencian terhadap anak yang baru lahir. Bayi yang baru lahir, merupakan penyebab masalah.

Anak kedua

Anak kedua, pada awalnya, menentukan model pada saudara kandung yang tertua. Anak kedua tidak sebagai anak yang kesepian tapi selalu memiliki contoh dari perilaku saudara kandung yang tertua sebagai model atau ancaman untuk bersaing dengannya. Adler merupakan anak kedua yang memiliki hubungan kompetitif dengan saudara laki-laki yang lebih tua dalam seluruh hidupnya. Sebagai seorang analis yang sukses dan terkenal, dia tetap merasa dikalahkan oleh saudara laki-lakinya, yang menjadi pembisnis yang kaya. Secara nyata, Konsep urutan kelahiran telah berkembang, pada awalnya merupakan dasar dari pengetahuan personal.

Kompetisi dengan anak pertama dipacu oleh anak kedua, stimulasi sering lebih cepat berkembang dari pada yang ditunjukkan anak pertama. Anak kedua didorong untuk mengejar dan mengungguli saudara yang lebih tua, tujuannya biasanya kecepatan bahasa dan perkembangan motorik. Sebagai contoh anak kedua biasanya mulai berbicara pada usia yang lebih muda dari pada anak pertama. Tanpa memiliki pengalaman kekuatan, anak kedua tidak memiliki kekhawatiran sebagaimana anak pertama dan lebih optimis dalam memandang masa depan. Anak kedua kemungkinan menjadi sangat kompetitif dan ambisius.

Anak Paling Muda

Anak yang paling muda atau yang paling akhir lahir tidak pernah merasa shock dengan pelengseran kedudukan oleh anak yang lain dan sering menjadi kesayangan atau bayi dalam keluarga, khususnya jika saudara kandung lebih tua beberapa tahun. Didorong oleh kebutuhan untuk mengungguli saudara yang lebih tua, anak yang lebih muda sering berkembang pada tingkat kesungguhan. Sebagai hasilnya, anak terakhir sering berprestasi tinggi dalam pekerjaan apapun yang mereka kerjakan seperti orang dewasa.

Tapi lawan yang sesungguhnya ada jika anak yang termuda manja dan dimanjakan oleh anggota keluarga secara langsung dimana dia tidak perlu belajar untuk melakukan apapun untuk dirinya. Sebagaimana individu tumbuh dewasa, dia mungkin memelihara ketidakberdayaan dan ketergantungan yang merupakan cirri dari masa kanak-kanaknya. Tidak terbiasa untuk berusaha dan berjuang, digunakan untuk tetap dipedulikan oleh orang lain, seseorang akan menemukan kesulitan untuk mengatasi masalah dan penyesuaian diri pada masa dewasa.

Bagaimana dengan anak tunggal ?. Pada hakekatnya, dia adalah anak pertama yang tidak pernah kehilangan posisi unggul dan kuat—paling tidak dalam masa kanak-kanak. Anak tetap menjadi focus dan pusat perhatian keluarga. Menghabiskan banyak waktu bersama orang dewasa daripada anak yang memiliki saudara kandung. Anak tunggal sering tumbuh dewasa dengan cepat dan meraih kedewasaan perilaku dan sikap lebih cepat.

Anak tunggal mungkin mengalami kekagetan yang luar biasa sebagaiman dia tumbuh dewasa dan menemukan bahwa di dalam wilayah hidup di luar rumah (seperti sekolah) dia bukan pusat perhatian. Anak tunggal telah belajar, baik berbagi maupun bersaing untuk menjadi yang pertama. Jika kemampuan anak tidak membawa cukup pengakuan dan perhatian, dia mungkin merasa sangat kecewa.

Adler tidak menaruh aturan tetap untuk perkembangan. Sebagaimana telah tercatat, anak tidak akan secara otomatis memperoleh satu dan hanya satu macam sifat sebagai hasil dari urutan kelahiran. Apa yang dia sarankan adalah kemungkinan dari perkembangan gaya hidup yang pasti sebagai fungsi dari salah satu posisi di dalam keluarga. Individu harus selalu belajar di dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan social secara dini digunakan oleh diri yang kreatif dalam menata gaya hidup (Alwisol: 2009).



D. Gambaran Adler Tentang Sifat Manusia

Gambaran Adler tentang sifat manusia adalah sederhana. Masing-masing orang adalah unik dan memiliki kemauan dan pilihan yang bebas untuk menciptakan dirinya. Meskipun aspek-aspek tertentu dari sifat manusia adalah pembawaan dari lahir seperti minat social dan mengejar kesempurnaan, itu adalah pengalaman yang menentukan seberapa baik kecenderungan pewarisan ini akan di realisasikan. Dalam pandangan Adler pengaruh masa kanak-kanak penting, khususnya urutan kelahiran dan hubungan dengan orang tua.

Adler tidak hanya yang melihat masing-masing orang unik dan penuh kesadaran, tetapi dia juga memandang manusia seluruhnya sebagai suatu keutuhan dalam terminology yang sama. Dia optimistis terhadap kemajuan social. Dari masa kanak-kanak, dia prihatin dengan perbaikan bermasyarakat. Kepercayaan kuat yang dapat mengubah diri kita dan masyarakat kita merupakan suatu tanda dari teori Adlerian.

Konsep minat social ini menggambarkan suatu kepercayaan bahwa orang mampu bekerja sama untuk menyempurnakan suatu masyarakat yang sehat dan diinginkan. Dengan menggambarkannya kita mampu untuk merasakan dan menyatakan symphaty, afeksi, dan identifikasi dengan orang lain. ( Agus Sujanto,dkk:2001.)

CONTOH KASUS DAN ANALISIS KASUS

Menurut Suran dan Rizzo, 1979 (dikutip Mangunsong, 1998, h. 42) low vision merupakan kemampuan mata untuk melihat sebagian atau ”kurang awas”. Low vision merupakan salah satu bentuk gangguan penglihatan yang tidak dapat dibantu dengan menggunakan kacamata. Jarak pandang maksimal untuk penyandang low vision adalah 6 meter dengan luas pandangan maksimal 20 derajat. Penyandang low vision hanya kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk beraktivitas.

Pada penelitian ini, peneliti berfokus pada penyandang gangguan penglihatan kurang awas (low vision) yang termasuk dalam kategori tunanetra ringan atau setengah berat. Sampai saat ini belum diketahui berapa jumlah pasti penderita low vision, baik di dunia maupun di Indonesia (Kadahartono, 2005). Menurut WHO (dikutip Persatuan Tunanetra Indonesia, 2008), prevalensi low vision pada anak-anak di Indonesia adalah 9/10.000 anak, artinya terdapat 9 penyandang low vision diantara 10.000 anak. Pada tahun 2008, diperkirakan jumlah anak dengan low vision adalah 210.000 orang.

Menurut Pusat Pelayanan low vision Persatuan Tunanetra Indonesia (2008), terdapat beberapa ciri umum penyandang low vision, yakni : menulis dan membaca dalam jarak dekat, hanya dapat membaca huruf berukuran besar, terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu, kondisi mata terlihat berkabut atau berwarna putih pada bagian luar. Direktorat Pendidikan Luar Biasa (2006) menyatakan ciri low vision yaitu: lebih sulit melihat pada malam hari daripada siang hari dan pernah menjalani operasi mata dan atau memakai kacamata yang sangat tebal tetapi masih tidak dapat melihat dengan jelas.

Dampak gangguan penglihatan pada aspek perkembangan tunanetra menurut Mangunsong (1998, h. 46-49) antara lain perkembangan kognitif dan kemampuan konseptual, perkembangan motorik, dan perkembangan sosial. Pada aspek perkembangan sosial, kondisi low vision menimbulkan dampak yakni

penyandangnya memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, merasa tidak berdaya, dan cenderung bersikap tergantung dengan orang lain. Peran orang-orang yang berada di sekitar individu diperlukan untuk memberikan dukungan dan dorongan agar penyandang low vision mampu berusaha sendiri dan memiliki kepercayaan diri untuk melakukan berbagai macam kegiatan sendiri, tanpa bantuan orang lain (Mangunsong, 1998, h. 49-50).

Seringkali penyandang low vision mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemandiriannya. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti, ditemukan bahwa individu yang menyandang low vision sejak kecil 4

mengalami kesulitan saat mengikuti pelajaran di sekolah umum. Bagi individu yang menyandang low vision sejak usia remaja dan dewasa, mereka akan merasa malu atau minder apabila harus bepergian seorang diri. Mereka malu dan takut ditertawakan orang lain apabila dalam perjalanannya ia terjatuh atau membentur benda di sekitarnya. Penyandang low vision menjadi lebih sering berdiam diri di rumah tanpa mau melakukan kegiatan apapun dan kondisi ini dapat menghambat penyandang low vision untuk mengembangkan kemandiriannya.

Kemandirian menurut Havighurst, 1972 (dikutip Mu’tadin, 2002) kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri.

Drost (1993, h. 17) berpendapat manusia yang berusaha untuk mencapai kemandirian haruslah mengetahui keunggulan maupun kelemahannya dan menerima keunggulan maupun kelemahan yang dimilikinya tersebut. Ia mempergunakan kemampuannya secara penuh, pantang mundur meskipun ada kekurangan dalam dirinya, menerima diri apa adanya, dan mau menghadapi

kenyataan yang ada. Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul secara tiba-tiba, tetapi harus dibina dan dipelajari dalam kehidupan seseorang (Dhamayanti, 2006, h. 18). Proses belajar tersebut memerlukan peran keluarga agar seorang anak dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orangtua menjadi mandiri.

Pada penelitian ini, kemandirian juga ditinjau berdasarkan teori kepribadian Adler. Adler (dikutip Suryabrata, 2003, h.187-188) berpendapat bahwa semua orang mempunyai rasa rendah diri (inferior). Rasa rendah diri diartikan sebagai segala rasa ketidakmampuan psikologis, sosial, dan keadaan jasmani yang kurang sempurna yang dirasa secara subjektif. Melalui rasa rendah diri, individu berjuang untuk menjadi pribadi yang unggul dan mandiri (superior).

Menurut Adler (dikutip Suryabrata, 2003, h.191), individu yang mandiri adalah individu yang kreatif, yakni individu yang mengetahui potensinya, mampu menetapkan tujuan hidupnya, serta mampu mengembangkan potensinya untuk mencapai tujuan hidupnya.

Dorongan yang melatarbelakangi manusia untuk beraktivitas adalah perjuangan untuk sukses atau menjadi superior (Cloninger, 2004, 108). Individu yang memiliki kekurangan fisik dan psikologis, seperti individu yang cacat fisik ataupun individu yang ditolak oleh lingkungan sosialnya, juga berjuang untuk menjadi pribadi yang superior.

Minat sosial merupakan potensi dalam diri individu untuk bekerjasama dengan orang lain dan mengembangkan hubungan dengan orang lain. Minat social bersifat bawaan dan setiap individu memiliki minat sosial. Meskipun bersifat bawaan, namun minat sosial ini harus dikembangkan (Cloninger, 2004, 118).

Gaya hidup merupakan kompensasi dari inferioritas tertentu. Gaya hidup ini memunculkan tingkah laku tertentu pada individu. Tingkah laku ini merupakan cerminan dari tujuan ke depan (fictional finalism) individu tersebut. Subjek kasus pertama berinisial AG, seorang perempuan, berusia 39 tahun.

Subjek AG merupakan anak kelima dari lima bersaudara dimana orang tua membagi-bagi tugas rumah yang menjadi tanggung jawab subjek dan saudara-saudaranya. Subjek menyandang low vision sejak umur 25 tahun, saat baru selesai kuliah dan hendak diwisuda. Low vision yang disandang subjek merupakan akibat sisa dari Steven Johnson Syndrome. Penyakit ini dipicu oleh alergi pada jenis obat tertentu dan menyerang kekebalan tubuh individu. Efek dari Steven Johnson Syndrome terlihat pada seluruh permukaan kulit yang berlendir, diantaranya mata,

kulit, hidung, dan mulut. Pada mata, lapisan lendir atau mukosa di dalam mata mengeras yang membuat saluran air mata menjadi kaku. Saraf di saluran air mata tidak berfungsi sehinnga bola mata tidak mendapat supply air mata. Air mata berisi air dan lemak (minyak) yang berfungsi untuk melumasi mata sehingga bola mata dapat bergerak bebas tanpa menimbulkan gesekan. Air mata juga dapat membantu mengeluarkan apabila ada benda asing yang masuk ke mata.

Saat ini subjek banyak mempunyai kegiatan diantaranya menjadi ketua pengurus daerah PERTUNI, menjadi konsultan psikologi di beberapa lembaga pendidikan, menjadi pengajar, dan menjadi pembicara atau pemateri di berbagai acara.

Pada subjek AG perasaan inferior diperkuat karena perlakuan orangtua pada subjek sejak kecil. Perasaan inferior ini selalu ada di setiap tahap perkembangan manusia dan manusia selalu melakukan perjuangan untukmengatasi perasaan inferior ini dan kemudian bergerak untuk maju. Subjek AG mengalami low vision pada saat usia dewasa awal.

Pada masa dewasa awal, subjek dituntut oleh lingkungan, terutama orangtua untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya antara lain; melakukan suatu pekerjaan, meniti karir dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi, berusaha mencari calon pasangan hidup yang cocok dengan cara menyeleksinya untuk dijadikan sebagai pasangan dalam perkawinan, dan memulai kehidupan keluarga. Subjek mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas

perkembangan pada masa dewasa awal yang disebabkan oleh kondisi low vision yang disandangnya. Kondisi low vision ini diartikan sebagai keadaan yang menimbulkan perasaan inferior pada diri subjek yang kahirnya menimbulkan reaksi-reaksi baik dari subjek, keluarga, maupun orang-orang terdekat subjek (teman sebaya).

Reaksi subjek pada saat mengetahui bahwa dirinya low vision antara lain menarik diri dari lingkungan, merasa tidak ada semangat, tujuan, dan gairah hidup, serta berpikir untuk bunuh diri. Reaksi yang ditampakkan orangtua antara lain, mengupayakan pengobatan untuk subjek, mengeluh ketika subjek terlihat tidak mau berinteraksi dengan orang lain kecuali keluarga.

Melihat reaksi-reaksi dari subjek dan orangtua yang belum dapat menerima kondisi subjek yang low vision, orang terdekat subjek saat itu (teman) bereaksi sebaliknya. Teman memberi dukungan dan motivasi untuk subjek, teman membuka jalan untuk subjek agar dapat bersosialisasi lagi dengan cara memperkenalkan subjek pada dunia tunanetra, teman mengajak subjek untuk bergabung dalam organisasi yang merupakan wadah bagi penyandang tunanetra dan low vision termasuk didalamnya, dan teman juga mencoba memberikan pengertian kepada orangtua subjek agar perlahan-lahan dapat menerima kondisi subjek yang low vision.

subjek dalam mengambil keputusan dan mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan kepentingan pribadinya. Subjek lebih berfokus pada penghargaan orang lain padanya. Subjek lebih senang menyibukkan diri pada pekerjaannya yang ditujukan untuk kepentingan orang lain. Subjek selalu ingin membuat orang lain merasa puas dengan hasil kerjanya dan hal ini tercermin dari cara kerja subjek yang menginginkan segala sesuatunya sempurna dengan cara apapun karena subjek tidak ingin mengecewakan orang yang menjalin kerjasama dengannya.

Perlakuan orangtua yang membanding-bandingkan anak-anaknya berdampak pada kemandirian subjek saat ini. Sampai saat ini subjek selalu menginginkan pekerjaannya sempurna agar tidak mengecewakan orang lain. Subjek juga cenderung kurang berani mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepentingan pribadinya karena merasa takut untuk merencanakan sesuatu dan takut gagal dalam melakukan sesuatu.

Minat sosial yang besar pada diri subjek membuat subjek lebih mudah untuk merasa terhubung dengan lingkungannya, sehingga perilaku yang ditunjukkan subjek pun lebih banyak ditujukan untuk lingkungannya. Subjek lebih berani menentukan pilihan dan mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan banyak orang. Subjek lebih mudah untuk melakukan interaksi sosial. Lingkungan yang terdiri dari orangtua, saudara, teman, tetangga, dan isteri subjek, menilai kemandirian kedua subjek secara berbeda tergantung dari pengertian kemandirian menurut lingkungan tersebut. Pada subjek AG, ibu dan teman subjek memandang subjek termasuk individu yang mandiri karena telah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri secara ekonomi. Namun saudara subjek AG menilai bahwa subjek AG belum mandiri karena belum dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri.

Saat ini subjek masih terfokus pada keinginannya untuk membuat orang lain, terutama keluarganya bahagia. Saat ini subjek juga tengah menjadi perhatian dari lingkungannya, dimana ia merasa sangat dihargai dan diperhitungkan oleh lingkungannya. Hal ini yang membuat subjek terpacu untuk terus menerus menghasilkan yang terbaik bagi lingkungan tanpa memperhatikan kehidupan peribadinya. Apabila hal ini terus berkembang pada diri subjek, dikhawatirkan akan membawa efek negatif bagi subjek ketika lingkungan tidak lagi terfokus pada dirinya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran pada diri subjek mengenai pentingnya menata kehidupan pribadi dan merencanakan masa depannya kelak.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Alfred Adler merupakan seorang yang dibesarkan pada kota yang sama, situasi dan kondisi yang sama, dan lapangan kerja yang sama dengan Sigmund Freud, bahkan ia awalnya merupakan pengikut setia aliran Freud. Akan tetapi berkat belajar dari pengalamannya dalam menangani pasien, menjadikan ia seorang yang sama terkenalnya dengan gurunya Freud. Walaupun dari substansi teorinya memiliki kontradiksi yang cukup tajam, bahkan perbedaan ini memisahkan hubungan keduannya.

Berefleksi dari pengalaman menangani dan mengamati perilaku pasiennya, ia dengan sistematis dan berangsur-angsur mematahkan pendapat Freud tentang perilaku manusia. Berbeda dengan Freud, Adler mempunyai nilai lebih dalam teorinya, yang kami kira mampu menarik banyak simpati kalangan praktisi psikologi waktu itu. Dimana ia menilai manusia sebagai mahluk yang memiliki “power” untuk dapat hidup, walaupun hal itu digambarkan sebagai suatu kompensasi dalam menyembunyikan dan menghilangkan segala kekurangan dalam dirinya. Pendapat ini sepertinya memberikan “pencerahan baru” bagi dunia psikologi yang pada saat itu terdominasi dengan “nalurisexual-nya Freud.

Teori psikologi individual Adler ini, memang lebih banyak berupaya menyadarkan manusia, bahwa ia merupakan mahluk yang berdaya dan memiliki rasa sosial yang dalam, sehingga itu pulalah ia dapat “survive” dalam menjalani hidup. Teori ini pula, memiliki kekuatan dalam hal memprediksi perilaku manusia melalui tujuan semu atau akhir dari perilaku yang diperbuatnya, sebagai tujuan akhir yang merupakan gambaran dari diri manusia tersebut. hal ini sangat menarik karena merupakan pandangan yang kami kira sangat positif dan futureristik, dan hal ini tentunya dapat membangkitkan semangat dan gaya hidup manusia dalam melakukan aktivitas.



Daftar Pustaka

Alwisol. Psikologi Kepribadian. 2009. Malang: UMM Press.

S. Hall., Calvin dan Gardner Lindzey, Supratiknya A. (Ed.). 1995. Psikologi Kepribadian 1: Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius

Sujanto Agus, dkk.Psikologi Kepribadian.2001. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian.1986. Jakarta : CV. Rajawali.

(http://illusiontmine.blogspot.com/2012/09/alfred-adler.html).
Post a Comment