Khulafaur Rasyiddin

blogger templates


BAB I
PENDAHULUAN
1)      Latar Belakang
Khulafaur Rasyidin adalah para kholifah yang arif bijaksana. Mereka adalah keempat sahabat yang terpilih menjadi pemimpin kaum muslim setelah Nab Muhammad Rasulullah saw. wafat. Keempat kholifah tersebut ialah:
a)         Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.;
b)         Umar bin Kaththab ra.;
c)         Utsman bin Affan ra.; dan
d)         Ali bin Abi Thalib ra.
Keempat kholifah itu selain berhasil melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. menegakkan ajaran tauhid, juga sukses memperluas penyebaran dan mengharumkan nama Islam.
2)      Rumusan Masalah
a)      Khulafaur Rasyidin.
b)      Ali Bin Abi Thalib
c)      Umar Bin Khattab
d)     Usman Bin Affan
e)      Ali Bin Abi Thalib
3)      Tujuan
·         Mengetahui sejarah tentang;
a)         Khulafaur Rasyidin.
b)         Ali Bin Abi Thalib
c)         Umar Bin Khattab
d)         Usman Bin Affan
e)         Ali Bin Abi Thalib



BAB II
PEMBAHASAN
Masa Khulafaur Rasyiddin
            Sebagai pemimpin umat Islam setelah Nabi, Abu Bakar bergelar “Khalifah Rasulillah” atau Khalifah saja (secara harfiyah artinya; orang yang mengikuti, pengganti kedudukan Rasul). Mesikun dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa kedudukan Nabi sesungguhnya tidak akan pernah tergantikan, karena tidak ada seorangpun yang menerima ajaran Allah sesudah Nabi Muhammad. Sebagai saluran dari wahyu-wahyuyang diturunkan dan sebagai utusan Allah tidak dapat diambil alih seseorang. Menggantikan Rasul (khalifah) hanyalah berarti memiliki kekuasaan yang diperlukan untuk meneruskan perjuangan Nabi.
            Dalam sejarah Islam, empat orang pengganti Nabi yang pertama adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari Sang Guru Agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar “Yang mendapat bimbingan di jalan lurus” (al- khulafa ar-rasyidin) diberikan kepada mereka. Pedoman yang dijadikan pegangan untuk memimpin Islam adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah.

1. Abu Bakar As-Shidiq 11-13 H (632-634 M)
Nama aslinya adalah Abdul Ka’bah. Lalu Nabi Muhammad saw. mengganti namanya dengan Abdullah. Lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah at-Tamimi. Ia terlahir dari pasangan Usman (Abu Quhafah) bin Amir dan Ummu Khoir Salma binti Sakhr, yang berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan tokoh-tokoh terhomat.[1]
            Beliau termasuk salah seorang sahabat yang utama. Beliau di beri kuniyah.  Abu bakar  (pemagi ) karena dari pagi-pagi  betul ( orang yang paling awal ) memeluk agama islam. Gelarnya As. Siddiq diperolehnya karena amat segera membnarkan rasul dalam berbagai peristiwa, terutama isra’ dan mi’raj.[2]
Nabi seringkali menunjuknya untuk mendampinginya di saat-saat penting atau jika berhalangan, Rasul mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan dan atau mengurusi persoalan-persoalan actual di Madinah.[3]
a)      Pembai’ahan Abu Bakar
Setelah Rasulullah wafat kaum anshar menghendaki agar orang-orang yang akan menjadi khalifah di pilih diantara mereka. Kaum muhajirin menuntut bahwa Abu bakar adalah orang yang terbaik untuk menggantikan nabi. Denga mendasarkan atas keabsahan, Bani hasyim mengemukakan alasan bahwa Allah dan nabi Muhammad tidak akan menyerahkan masyarakat mukminin kepada kesempatan dan keinginan yang sifatnya sesa’at dari badan pemilih, dan karena itu pasti telah membuat ketetapan yang jelas bagi kepemimpinannya dengan menunjuk orang tertentu untuk menggantikan nabi Muhammad yaitu ali bin abi tholib berdasarkan kedudukan beliau dalam islam, apalagi beliau adalah menantu dan karib nabi. Tetapi bagian terbanyak dari kaum muslimin menghendaki abu bakar, maka dipilihlah beliau menjadikhalifah.
Orang-orang yang tadinya ragu untuk memberikan bai’ah kepada Abu bakar, di kala golongan terbanyak dari kaum muslimin telah membaiahnya. Sesudah abu bakar diangkat menjadi khalifah, beliau berpidato. Dalam pidatotanya itu di jelaskan siasat pemerintahan yang akan beliau jalankan. Pidato inagurasi yang diucapkan sehari setelah pengangkatannya, menegaskan totalitas kepribadian dan komitmen Abu Bakar terhadap nilai-nilai Islam dan strategi meraih keberhasilan tertinggi bagi umat sepeninggal Nabi. Inilah sebagian kutipan khutbah Abu Bakar yang terkenal itu;
“Wahai manusia! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutlah aku, tetapi jika aku berbuat salah, maka betulkanlah! Orang yang kamu pandang kuat, saya pandang lemah, sedang orang yang kamu pandang lemah, saya pandang kuat, hingga saya dapat mengembalikan haknya kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi bilamana aku tiada mentaati Allah dan Rasul-Nya kamu tak perlu mentaatiku.” [4]
b)     Kesulitan-kesulitan Yang Dihadapi Abu Bakar
·         Memerangi Orang Murtad
Bersamaan dengan pengangkatan Abu Bakar, suku-suku Arab tidak mau lagi tunduk dibawan kepemimpinan pusat di Madinah. Sesudah Nabi wafat, mereka berpendapat bahwa kekuasaan Quraisy memimpin Arab telah usai. Adapaun sebabnya mereka berlaku demikian ialah karena sebagian tidak percaya akan mematian Nabi, setelah nyata kebenaran meninggalnya Nabi, sebagian ragu akan kebenaran Islam. Mereka menyangka bahwa kaum Quraisy takkan bangun lagi sesudah pemimpinnya meninggal dunia. Mereka tidak akan tunduk dibawah kekuasaan Quraisy atas nama agama. Apalagi sebagian besar bangsa Arab ketika itu, barus aja memeluk agama Islam yang melarang mereka mengerjakan perbuatan-perbuatan yang telah menjadi darah daging mereka selama ini, seperti minum arak, berjudi dan sebagainya.
·         Enggan Membayar Zakat
Oleh karena itu beberapa suku Arab tidak mau takluk lagi dibawah kepemimpinan Abu Bakar. Mereka enggan mengeluarkan zakat yang mereka pandang hanya sebagai upeti yang harus diberikan kepada Nabi saja.
Peristiwa yang hebat ini diatasi Abu Bakar dengan kemauan dan perhatian keras membaja. Dengan cepat disiapkannya sebelas pasukan untuk menaklukkan kaum yang murtad itu. Masing-masing panglimanya diperintahkan menuju daerah yang telah ditentukan.
Sesungguhnya beberapa orang sahabat menasehati kepada Abu Bakar agar dia tidak memerangi orang yang tidak membayar zakat itu. Namun disinilai keteguhan hati khalifah. Dia mengatakan: “Dengan sesungguhnya, walaupun mereka enggan membayar seutas tali kecil yang telah pernah dibayarkan kepada Rasulullah dahulu, niscaya akan kuperangi juga mereka selaipun aku akan binasa oleh karenanya.”
Setahun lamanya Abu Bakar dapat menundukkan kaum yang murtad itu serta orang-orang yang mengaku menjadi nabi serta orang-orang yang enggan membayar zakat, sehingga kalimat Tuhan kembali menjulang tinggi. Dalam kemenangan kaum muslimin ini, kehormatan besar harus diberikan kepada panglima Khalid bin Walid, Saifullah yang perkasa itu. Dialah yang menghancurkan kekuatan Thulaihah dan Sajah serta memaksa keduanya memeluk Islam. Dan dia pula yang membunuh Musailamah al-Kazzab dan memporak-porandakan laskarnya.
·         Munculnya Nabi Palsu
Api perlawanan dan pendurhakaan itu menjalar dengan cepat dari satu suku kepada yang lain, sehingga hampir menggoyahkan sendi khilafah Islam yang masih muda itu. Kekuasah khalifah ketika itu hanya meliputi Makkah, Madinah dan Taif saja. Sementara itu banyak pula diantara orang Arab yang mendakwakan dirinya menjadi Nabi. Yang berbahaya sekali adlah Musailamah al-Kazzab, yang mendakwakan kenabiannya bersama Nabi Muhammad ketika beliau masih hidup. Dia mengatakan, bahwa Allah telah memberikan pangkat Nabi kepadanya bersama dengan Rasulullah. Oleh karena dia berbuat dusta itu, dia mendapat gelar ‘al-Kazzab’ yang artinya ‘si pendusta’. Bengikutnya banyak yang tersebar di Yamamah. Lain dari pada itu ada lagi beberapa nabi palsu, seperti Thulaihah bin Khuwailid, Sjah Thamiyah seorang perempuan, yang kemudian kawin dengan Musailamah.
Pengumpulan al-Qur’an
Setelah kemenangan yang diperoleh Khalifah Abu Bakar Sidik atas suku-suku yang murtad dan durhaka itu, timbul kecemasan dari Umar bin Khattab akan kehilangan beberapa ayat dari Qur’an, karena banyaknya Huffadz (penghafal al-Qur’an) yang gugur sebagai Syuhada’ dalam pertempuran. Maka Umar memberi saran kepada Abu Bakar agar ayat-ayat al-Qur’an dikumpulkan. Nasehat ini dituruti oleh Khalifah Abu Bakar. Maka dikumpulkanlah lembaran-lembaran al-Qur’an itu yang semula ditulis di atas batu, kulit hewan, tulang-belulang dan pelepah korma dalam suatu mushaf. Empat penulis al-Qur’an yang terkenal ialah Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-‘Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Mushaf al-Qur’an ini semula disimpan di kekediaman Abu Bakar, kemudian kepada Umar, dan kemudian Hafsah isteri Rasulullah s.a.w.[5]
·         Penakhlukan Persia Dan Syam
Semasa pemerintahannya, Abu Bakar juga berhasil memperluas daerah dakwah Islamiyah, antara lain ke Irak yang ketika itu termasuk wilayah jajahan Kerajaan Persia, dan ke Syam yang di bawah jajahan Romawi.
c)      Wafatnya Abu Bakar
Setelah memerintah selama dua tahun, Abu Bakar berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 23 Jumadil Akhir 13H. Setelah 15 hari lamanya menderita penyakit itu, wafatlah beliau dalam usia 63 tahun dan dimakamkan dekat makam Rasulullah saw. Beliau dikenal oleh para sahabat sebagai kholifah yang sangat taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta berbudi luhur.
2. Umar bin khattab 13-25 H (634-644 M )
            Umar ibnul Khattab putera dari Nufail al Quraisy, dari suku Bani Adi. Sebelum Islam, suku Bani Adi ini terkenal sebagai suku yang mulia, megah dan berkedudukan tinggi. Beliau di lahirkan di mekkah empat tahun sebelum kelahiran Nabi saw. Beliau adalah seorang yang berbudi luhur, fasih dan adil serta pemberani. Beliau ikut memelihara ternak ayahnya, dan berdagang hingga ke Syiria. Beliau juga dipercaya oleh suku bangsanya, Quraisy untuk berunding dan mewakilinya bila ada persoalan dengan suku suku yang lain. Umar masuk Islam pada tahun ke lima setelah kenabian, dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi SAW. beliau berkorban untuk melindungi Nabi SAW. dan Agama Islam, dan ikut berperang dalam peperangan yang besar di masa Rasul SAW. Beliau juga dapat memecahkkan masalah yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti Rasulullah SAW. dalam memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah SAW. Di masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab mendapat penghormatan yang tinggi dan di mintai nasihat serta menjadi tangan kanan Abu Bakar karena beliau memilih dan membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulullah. Sebelum meninggal dunia, Abu Bakar telah menunjuk Umar ibn Khattab sebagai penerusnya. Penunjukkan itu dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam.
a)        Umar diangkat Menjadi Khalifah
Peristiwa di angkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan fenomena yang baru, tetapi haruslah di catat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah. Untuk menjajagi pendapat umum khalifah Abu Bakar melakukan serangkaian konsultasi terlebih dahulu dengan beberapa orang sahabat, antara lain ialah Abdurrahman ibn `Auf dan Usman bin Affan. Akan tetapi pada awalnya terdapat berbagai keberatan mengenai rencana pengangkatan Umar, sahabat Thalha misalnya segera menemui Abu Bakar untuk menyampaikan rasa kecewanya. Tetapi karena Umar adalah orang yang paling tepat untuk menduduki kursi kekhalifahan, maka pengangkatan Umar mendapat persetujuan dan baiat dari semua anggota masyarakat. Ketika Umar diangkat menjadi khalifah, beliau telah berkata kepada umatnya: “Orang-orang arab seprti halnya seekor unta yang keras kepala dan ini akan bertalian dengan pengendara dimana jalan yang akan dilalui. Dengan nama Allah, begitulah aku akan menunjukkan kepada kamu ke jalan yang harus engkau lalui“.
Umar bin Khattab menyebut dirinya “Khalifah Khalifati Rasulillah“ (pengganti dari pengganti Rasul). Beliau juga mendapat gelar “Amirul Mukminin“ (Komandan Orang-orang beriman) sehubungan dengan penaklukan-penaklukan yang berlangsung pada masa pemerintahannya. [6]
b)       Kesulitan-kesulitan Yang Dihadapi Abu Bakar
Penaklukan siria
Pengepungan Damaskus, salah satu pusat siria yang paling penting, sudah mulai sejak zaman Abu Bakar, tetapi kota itu dapat direbut dalam masa pemerintahan Umar. Khalid bin Walid mencurahkan perhatian yang lebih dari biasa terhadap pengepungan kota itu. Hebatnya pengepungan itu memperkecil harapan orang-orang kristen. Namun, mereka merasa agak lega karena Herclius siap membantu mereka, dan bala bantuan itu diberangkatkan dari Hims dan sedang berada dalam perjalanan. Akan tetapi, bala bantuan itu terhalang ditengah jalan dan tidak pernah sampai tujuan. Keputusasaan itu menimpa penduduk Damaskus. Sementara itu, seorang anak gubernur Damaskus di lahirkan. Peristiwa yang memberikan harapan itu disambut meriah oleh seuran  warga, dan sebelum malam tiba mereka semuanya sudah mabuk. Dengan memnfaatkan kesempatan itu, Khalid bin Walid yang disertai oleh beberapa orang perwira gagah berani, menaiki benteng dan turun membuka pintu-pintu gerbang. Pasuakan islam pada waktu itu telah siap. Begitu pintu-pintu gerbang terbuka, mereka menyerbu laksana air bah dan membantai para penjaga. Akhirnya kota itu dengan mudah di taklukan, namun perampasan tidak di perbolehkan. Khalid bin walid sangat adil di dalam syarat-syarat yang diberikankepada yang dikalahkan. Dengan demikian beliau menetapkan pola yang kemudian diikuti kaum muslimin yang menjadi penakluk di mana-mana. Syarat-syarat itu disetujui oleh umar bin khattab.
Setelah penaklukan Damaskus, umat Islam mengalihkan perhatiannya ke arah Yordania, dimana bangsa Romawi memulai mnghimpun kekuatan yang dikirim oleh Heraclius untuk membebaskan Damaskus. Demikian lah suatu kesatuan tentara berkekuatan kira-kira 40.000 dibentuk, dipimpin oleh siklar, seorang jendral Romawi. Suatu pertempuran sengit berkobar di fihil, sebuah kota di sebelah timur Yordania. Bangsa Romawi kalah dan melarikan diri dengan kacau balau. Setelah pertempuran ini, kota-kota dan benteng  lainnya di provinsi Yordania dengan mudah ditundukkan, dan didalam syarat-syarat perdamaiannya ditetapkan bahwa mereka yang hidup, barang-barang dan harta kekayaan, tanah dan rumah-rumah, gereja-gereja, kuil-kuil orang-orang yang ditaklukan akan dilindungi.
Setelah jatuhnya Damaskus dan Yordania, tinggal tiga kota penting lainnya akan ditaklukan yang berarti penaklukan seluruh siria. Ketiga kota ini adalah Yerussalem, Hims (Amasia), dan Antiokia.
·      Penyerangan Yerussalem
Setelah perang yarmurk, Abu ubaidah panglima tertinggi yang baru, bersama wakilnya, Khalid bin Walid yang gemilang berangkat menyerang Yerussalem, kota suci orang kristen. Abu Ubaidah memimpin serangan pada suatu sisi, dan Khalid menyerang dari sisi yang lain. Khalid memperoleh kemenangan. Sementara itu, pendeta tinggi kristen menyerah kepada Abu Ubaidah. Pendeta tinggi itu meminta damai dengan syarat bahwa khalifah Umar harus datang sendiri ke kota suci untuk menyelesaikan syarat-syarat penyerahan. Khalifah Umar memutuskan untuk datang dan memberi putusan secara langsung. Tujuan Umar ke Yerussalem tidak hanya untuk menerima penyerahan kota suci itu, tetapi juga untuk mendirikan seluruh pemerintahan negrinitu atas dasar yang kuat, untuk memperbaiki perjanjian-perjanjian dan untuk mengatur pajak-pajak. Umar menetapkan bahwa setengah bagian yang ditaklukan oleh tentara islam harus menjadi wilyah muslim, dan setengah bagian yang diserahkan oleh pendeta tinggi akan tetap di dalam kekuasaan kristen meskipu  gubernur muslim untuk kota ini memegang kekuasaan di atasnya. Semua orang merasa puas dengan persetujuan ini.
Seluruh Siria  dari selatan hingga utara ditaklukan antara tahun633 dan 640 M, seadngkan menjelang akhir tahun 17 H, suatu wabah penyakit yang berbahaya berjangkit di Siria, Mesir dan Irak, dan mengamuk dengan hebat  selama beberapa bulan. Banyak tokoh tinggi islam meninggal, termasuk orang-orang yang sangat menonjol dan mulia seperti Abu ubaidah, mu`ad bin jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Haris bin Hisyam, Suhail bin Umar, Utbah bin Suhail. Kira-kira 25.000 orang islam meninggal dunia. Wabah yang mengerikan ini tiba-tiba menghentikan kemajuan tentara Islam. Alih-alih menyerang musuh, tentara islam terlibat dalam penderitaan sendiri.
·      Pertempuran Qadisia
Perang Qadisia berlangsung pada tahun 637 M, di mana perang tersebut menentukan masa depan persia. Khalifah Ummar mengirim pasukan di bawah Sa`ad ibn Abi Waqash untuk menundukkan kota itu. Kemenangan yang diraih di daerah itu membuka jalan bagi gerak maju tentara Muslim ke datran Euphrat dan Tigris. Ibu kota Persia, Ctesiphon (Madain) yang letaknya ditepi sungai Trigis. Setelah di kepung dua bulan, Yazdagrid III, raja persia itu melarikan diri. Kemudian pasukan islam mengepung Nahawan dan menundukkan Ahwaz tahun 22 H. Tahun 641 M/22 H seluruh wilayah persia sempurna bertekuk lutut di bawah kaki Islam. Sesudah pertempuran sengit di Nahawan. Isphahan juga di taklukan, demikian juga jurjan/Georgia dan Tabristan. Azarbaizan tidak luput dari kepungan pasukan Muslim. Orang-orang persia yang jumlah nya jauh lebih besar dari pada tentara Islam, yaitu 6:1 di kalahkan dengan menderita kerugian besar. Kaum Muslimin menyebut sukses ini dengan ”kemenangan dari segala kemenangan” (fathul-futuh).
c)        Wafatnya Umar bin Khattab
Khalifah Umar memerintah selam 10 tahun lebih 6 bulan 4 hari. Wafatnya sangat tragis, seorang budak bangsa Persia bernama Feroz atau Abu Lu`lu’ah seorang budak milik Al-Mughiroh bin Syu’bah secara tiba-tiba menyerang dengan tikaman pisau tajam ke arah khalifah yang akan mendirikan shalat subuh yang telah di tunggu oleh jama`ahnya di masjid Nabawi di pagi itu. Khalifah yang terluka parah dan pembaringannya mengangkat ”syura” (komisi pemilih) yang akan memilih penerus tongkat kekhalifahannya. Khalifah Umar wafat tiga hari setelah peristiwa penikaman atas dirinya, yakni 1 Muharram 23 H/644 M. Ia dimakamkan di rumah Aisyah, dekat makam Abu Bakar. Ia dikenang oleh umat Islam sebagai pahlawan yang sangat sederhana, sportif, dan menyayangi rakyat kecil. Kata katanya yang sangat terkenal, “Siapa yang melihat pada diriku membelok, maka hendaklah ia meluruskannya.
Jasa-jasa Umar sewaktu menjadi Kholifah, antara lain :
1.      Penetapan tahun Hijriyah sebagai tahun resmi;
2.      Bea cukai sebagai pendapatan negara;
3.      Tunjangan sosial bagi orang-orang miskin di kalangan Yahudi dan Kristen;
4.      Pembangunan kota-kota dan saluran air untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya;
5.      Pemberian gaji bagi imam dan muazin;
6.      Penghapusan perbudakan;
7.      Pembangunan sekolah-sekolah;
8.      Kodifikasi Al-Quran;
9.      Tradisi sholat tarawih berjamaah;[7]
3. Usman Ibnu ‘Affan 23-35 H (644-656 M)
Usman Ibnu ‘Affan ibnu Abil ibnu Umaiyah. Dilahirkan di waktu Rasulullah berusia lima tahun dan masuk Islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Sebelum agama Islam datang dan sesudahnya juga, beliau terhitung saudagar besar dan kaya, dan sangat murah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan agama Islam.
Beliau termasuk sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga. Ada diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Tiap-tiap Nabi mempunyai teman , temanku di surga adalah usman.”
Oleh karena pertalian beliau amat akrab dengan Rasulullah, maka Rasulullah mengawinkannya dengan puterinya yang bernama Ruqaiyah. Setelah Ruqaiyah meninggal waktu peperangan Badr, maka Nabi mengawinkannya dengan puterinya yang kedua yakni Ummu Kultsum. Oleh karena ini Usman terkenal dengan nama julukan “Dzun Nurain” (yang mempunyai dua cahaya). Ummu Kultsum meninggal dunia pula pada tahun sembilan H. Setelah itu Rasulullah berkata kepada Usman: “Andaikata ada puteri kami yang ketiga, tentu akan kami kawinkan pula dengan engkau”.
a) Usman di Angkat Menjadi Khalifah
            Di waktu Umar kena tikam, beliau tiada bermaksud mengangkat penggantinya. Beliau mencalonkan enam orang sahabt Rasulullah yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga, dan mereka adalah orang-orang yang paling baik, pun kalau ditinjau sifat kedudukan mereka masing-masing pastilah orang yang akan menjadi khalifah itu harus dipilih dari antara mereka. Oleh Umardicalonkan orang-orang yang berenam itu, dan dimintanya kepada orang yang berenam itu agar memilih seseorang diantara mereka jadi khalifah.
            Orang berenam itu ialah;
            Uman, ‘Ali Ibnu Abi Tholib, Thalhah, Zubair Ibu ‘Awwam, Sa’ad Ibnu Abi Waqqash dan Abdur Rahman Ibnu ‘Auf.
            Salah seorang dari putera beliau yaitu Abdullah ditambahkan beliau kepada sahabat-sahabat yang berenam itu, tetapi dia hanyalah mempunyai hak untuk memilih dan tiada berhak untuk dipilih.
            Dalam pada itu oleh Umar ditentukan jangka waktu memilih. Pemilihan itu haruslah selesai dalam jangka waktu yang ditentukannya.
            Umar berpulang kerahmatullah, maka sahabat-sahabat yang berenam itu berkumpul untuk bermusyawarah. Abdur Rahman ibnu ‘Auf mengusulkan agar dia diperkenankan mengdurkan diri. Tetapi kepadanya ditugaskan bermusyawarah dengan kaum Muslimin, dan memilih seorang untuk menjadi khalifah di antara sahabat-sahabat yang telah ditunjuk oleh Umar.
            Maka bemusyawarahlah Abdur Rahman dengan segenap lapisan kaum Muslimin, begitu juga dengan para calon (sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar). Dari permusyawarahan itu dapatlah dia mengambil kesimpulan bahwa pendapat tertuju kepada Usman, karena usman lebih tua dari Ali, dan perilakunya pun lunak.
            Masa pemerintahannya adalah terpanjang dari semua khalifah di zaman Khulafaur Rasyidin, yaitu 12 tahun, tetapi sejarah mencatat tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang terbaik dan sukses baginya. Para pencatat sejarah membagi zaman pemerintahan Usman menjadi 2 periode, ialah 6 tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik, dan 6 tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk.
b) Perluasan Islam di Masa Usman
·         Menumpas Pendurhakaan dan Pemberontakan
Setelah Umar berpulang kerahmatullah ada daerah-daerah yang mendurhaka kepada pemerintah Islam. Pendurhakaan itu ditimbulkan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama (pemerintahan sebelum daerah itu masuk ke bawah kekuasaan Islam) ingin hendak mengembalikan kekuasaannya. Antara lain daerah Khurasan dan Iskandaria. Pemberontakan-pemberontakan ini dapat ditumpas oleh Usman dengan mengirimkan bala tentara yang yang besarjumlahnya ke Khurusan dan Iskandaria dengan perlengkapan yang cukup. Bala tentara ini dapat menghancurkan kaum pemberontak, serta dapat mengembalikan keamanan dan ketentraman dalam daerah tersebut.
·         Perluasan Islam
Di masa Usman, negeri-negeri: Barqah, Tripoli Barat dan bagian selatan negeri Nubah, telah masuk dalam wilayah Negara Islam. Kemudian negeri-negeri Armenia dan beberapa bagian Thabaristan, bahkan kemajuan tentara Islam telah melampaui sungai Jihun (Amu Daria). Jadi daerah “Ma waraan Nahri” (negeri-negeri seberang sungai Jihun) telah masuk wilayah Negara Islam. Negeri-negeri Balkh (Baktria) Harah, Kabul dan Ghaznah di Turkistan telah diduduki kaum Muslimin. Dengan mempergunakan angkatan laut yang dipimpin oleh Muawiyah ibnu Abi Sufyan tahun 28 H, pulau Cyhptus dapat pula dimasukkan ke dalam wilayah Islam.[8]

·         Susunan Kitab Suci Al-Qur’an
Karya besar Usman lainnya yang dipersembahkan pada umat Islam ialah susunan kitab suci Al-Qur’an. Penyusunan Al-Qur’an dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan Al-Qur’an. [9]
c. Akhir Riwayat Usman
Di waktu Umar berpulang kerahmatullah ada dua buah keluarga besar yang mempunyai ambisi hendak menduduki kursi khalifah, yaitu keluarga Bani Hasyim dan keluarga Bani Umaiyah.
            Tetapi Bani Hasyim telah lebih dahulu menduduki kursi khalifah daripada Bani Umaiyah.
             Ali Ibnu Abi Thalib berpendapat bahwa beliaulah yang berhak memegang jabatan khalifah. Pendapat ini dikemukakannya waktu Rasulullah berpulang kerahmatullah. Tetapi kaum Muslimin tak mau memberikan jabatan khalifah kepada beliau, karena kebanyakan kaum Muslim berpendapat bahwa jika jabatan khalifahdiberikan kepada Bani Hasyim, akan sukarlah menariknya dari mereka nanti.
            Kemudian waktu Umar berpulang kerahmatullah, dan sebagai hasil permusyawaratan yang disebutkan di atas, bahwa jabatan khalifah itu akan diserahkan kepada salah seorang diantara Usman dan Ali, dengan perkataan lain kapada Bani Umaiyah atau kepada Bani Hasyim, ada kecenderungan hendak menyerahkan kepada Ali, yang berarti kemenangan bagi Bani Hasyim. Tetapi timbullah dua fakta yang menyebabkan jabatan khalifah diserahkan kepada Usman, yang berarti kemenangan bagi Bani Umaiyah.
            Fakta-fakta itu ialah:
1)      Kemungkinan menarik kembali jabatan khalifah nanti dari Bani Umaiyah adalah lebih besar, daripada menariknya dari Bani Hasyim.
2)      Orang tak mau meneruskan cara-cara Umar memerintah yang sangat radikal, keras dan disiplin. Mereka tak ingin menyerahkan jabatan khalifah kepada Ali, dirasakan bahwa Ali akan melanjutkan cara Umar memerintah, yaitu radikal, keras dan disiplin. Maka, diserahkan kepada Usman, karena Usman seorang yang lunak, pemurah dan mempunyai sifat toleransi.
Sebagai diketahui, Usman berasal dari Bani Umaiyah suati keluarga yang besar. Banyak diantara anggota-anggota keluarganya ini mempunyai kedudukan tinggi dalam kehidupan bangsa Arab sebelum dan sesudah Islam.
Pergantian Umar dengan Usman dapat diartikan, pergantian keradikalan dan kekerasan dengan kelonggaran, kelunakan dan sikap ragu-ragu. Akibatnya, banyak kesempatan terbuka bagi para tahanan kabur, dan orang yang terpenjara untuk melarikan diri, atau yang takut-takut datang meminta maaf.
Usman adalah orang yang kaya raya lagi pemurah dan berkehidupan makmur. Kekayaannya cukup untuk memenuhi keperluan sendiri dan ada pula yang dapat diberikannya kepada fakir dan miskin. Kekayaan pribadinya habis, dierlukannya untuk keperluan derma dan kepentingan fi sabilillah. Perasaan yang suka memberi yang tiada terbatas ini masih bersemi dalam jiwanya. Ketika inilah beliau banyak mendapat kecaman dalam mempergunakan uang Baitulmal. Harta Batulmal itu dipakainya untuk drinya, dan ada pula yang diberikannya kepada kaumm kerabatnya. Seakan-akan beliau tak sadar bahwa harta Baitulmal itu adalah kepunyaan kaum Muslimin.
Pada waktu Usman mendapatan pemberontakan dari kaum Muslim, kaum kerabat Usman telah membiarkan Usman seorang diri menebus dan menerima akibat kesalahan-kesalahan yang ditimpakan kepadanya. Mereka menjahkan diri dari Usman yang semenak gejala-gejala pemberontakan sudah tampak, dan semenjak pemberontakan-pemberontakan sudah mulai menecam Usman.
Ada orang berpendapat bahwa mereka sengaja menghindarkan diri, tidak ikut mencampuri hal itu ialah untuk mengalihkan pandangan, supaya perselisihan ini dipandang sebagai perselisihan khalifah dengan kaum Musimin, jadi bukan dipandang sebagai perselisihan kaum Muslimin dengan Bani Umaiyah.
Bagaimanapun juga, nyata dan tak dapat dibantah bahwa orang-orang Umaiyah tak sedikit juga memberikan sahamnya untuk membela Usman dalam keadaan yang sangat gentig itu.
Hanya beberapa orang pemuda-pemuda Islam yang tampil mempertaruhkan dirinya, berdiri di muka pintu Usman untuk melindungi dan membela beliau, tetapi pemuda-pemuda itu akhirnya tiada berdaya menghalangi pemberontak. Pemberontak dapat menerobos masuk dengan memanjat rumah khalifah, dan menyerang beliau yang sedang membaca Al-Quran, lalu mereka bunuh. Isteri beliau yang berusaha hendak menghambat serangan-serangan kaum pemberontak, tak luput pula menerima akibat; jari-jari tangannya terputus-putus karena pukulan-pukulan kaum pemberontak itu.
Maka gugurlah khalifah yang telah tua itu pada tahun 35H/17 Juni 656. Utsman wafat pada usia 82 tahun, setelah memerintah selama 12 tahun. Kematian beliau dengan cara yang disebutkan, telah menyebabkan huru-hara dikalangan kaum Muslimin. Dalam huru-hara itu beribu-ribu pemuda yang tiada berdosa telah menjadi korban.
4. Ali Ibnu Abi Thalib 35-40 H (656-661 M)
            Ali ibnu Abi Thalib ibnu Abdil Mutthalib, putera dari paman Rasulullah dan suami dari puteri beiau Fatimah. Fatimah adalah satu-satunya puteri Rasulullah yang mempunyai keturunan. Dari pihak Fatimah  inilah Rasulullah mempunyai keturunan sampai sekarang.
            Di waktu Muhammad di utus menjadi Rasul, Ali termasuk orang pertama yang menyatakan Imannya dan waktu itu ia masih kecil. Oleh karena itu Ali terkenal sebagai kanak-kanak yang mulai beriman. Ketika Nabi menerima wahyu pertama, menurut Hasan, Ali berumur 13 tahun atau 9 tahun. Di malam Rasulullah Hijrah ke Madinah, Ali tidur di tempat tidur Rasulullah, hal ini di lakukannya dengan tenang. Ia tahu bahwa perbuatannya berbahaya, dan bahaya mati bagi siapa yang tidur di tempat itu.
            Pengetahuannya dalam agama Islam amat luas. Dan mungkin, karena rapatnya dengan Rasulullah, beliau termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan Hadst Habi. Keberaniannya juga masyhur  dan hampir di seluruh peperngan-peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah, Ali senantiasa berada di barisan paling muka. Hampir pada setiap peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah, Ali tetap ada di dalamnya, bergulat atau perang tanding, dengan tak takut mati. Sering Ali dapat merebut kemenangan bagi kaum Muslimin dengan mata pedangnya yang tajam.
            Adapun budi pekerti Ali, kesalehan, keadilan, toleransi dan kebersihan jiwanya, sangat terkenal. Ali terhitung seorang dari tiga tokoh-tokoh utama yangg telah mengambil pengetahuan, budi pekerti dan kebersihan jiwa Rasulullah. Tokoh-tokoh utama yang tiga itu ialah Abu Bakar, Umar dan Ali. Merea bertiga terpandang laksana mercu suar yang memancarkan cahayanya ke segenap penjuru alam.
a) Pembai’ahan Ali
            Dalam pemilihan calon yang diajukan Umar dahulu hampir saja Ali terpilih menjadi khalifah; kenapa sesudah Usman wafat dia akan terhalang menjabat jabatan itu?
Dulu dalam pemilihan, Ali ditinggalkan karena fakta-fakta umur. Ali lebih mmuda. Tetapi, sekarang masalah umur tak ada lagi. Ali telah meningkat enam puluhan dan telah melampaui penggal pertamanya. Maka keangkatan Ali menjadi khalifah sudah sewajarnya.
Pembaiatan Ali adalah pembaitan dari rakyat terbanyak, yakni orang-orang yang telah menjatuhkan Usman. Bersama dengan orang-orang yang meggabungkan diri kepada mereka, mereka segeralah datang kepada Ali untuk membai’ah beliau.
Ali melihat bahwa yang datang membanjirinya itu ialah orang-orang kebanyakan saja, tak kelihatan orang-orang besar yang berpengaruh. Ketika mereka mengerumuni Ali memaksanya menjadi khalifah, Ali berseru: “Ini bukanlah uruan kamu. Ini adalah urusan orang-orang yang ikut bertenpur di Badr. Mana Thalhah, mana Zubair, mana Sa’ad?”
Tak ada di antara sahabat-sahabat terkemuka yang dapat menolak untuk membai’ah Ali, karena tidak seorang juga di antara mereka yang sanggup menghadapi pancaroba. Oleh karena itu mau tak mau mereka membai’ah Ali, kemudian para Muhajirin dan Anshar yang mengikuti tindakan mereka. Ali dibai’ah oleh rakyat terbanyak.
Dengan memperhatikan pembai’ahan Ali, dapat diambil kesimpulan bahwa pembai’ahan itu bukanlah dengan sepenuh hati kaum Muslim. Terutama Bani Umaiyah, merekalah yang melopori orang-orang yang tidak menyetujui Ali.
b) Politik Dalam Pemerintahan
            Politik yang dijalankan seseorang adalah gambaran pribadi orang itu, yang akan mencerminkan akhlak dan budi pekertinya. Ali mempunyai watak dan pribadi sendiri, suka berterus terang, tegas bertindak dan tak suka berminyak air. Ia tak takut akan celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Disebabkan oleh kpribadian yang dimilikinya itu, maka sesudah Ia dibid’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya du buah ketetapan;
1)      Memecat kepala-kepala daerah angkatan Usman.
2)      Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Usman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya.
Banyak pendukung-pendukung dan kaum kerabat Ali yang menasihatinya supaya mengukuhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan stabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan. Pertama-tama Ali mendapakan tantangan dari keluarga Bani Umaiyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangunlah Mu’awiyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.
Pengankatan Ali sebagai khalifah merupakan suatu hal yang wajar, dan pertentangan kepadanyapun merupakan suatu hal yang wajar pula, sebagai akibat dari perkembangan-perkembangan dan peristiwa-peristiwa sebelumnya; atau dengan perkataan lain, penantangan itu adalah karena “memperebutkan kekuasaan”, lalu dibungkusi dengan sebab-sebab yang lahir, yaitu untuk menuntutkan bela Usman mati terbunuh, atau karena pemecatan pejabat-pejabat, ataupun pengembalian harta milik Baitul Mal yang telah dirampas.
Banyak peperangan yang mencetus di masa pemerintahan Ali, dan yang terpenting ada dua buah, yaitu perang Jamal (unta) dan perang Shiffin.
·         Perang Jamal
            Perang unta menjadi sangat penting dalam catatan sejarah Islam, yaitu untuk pertama kalinya seorang khalifah turun ke medan laga memimpin langsung angkatan perangnya, dan justru bertikai melawan saudara sesame Muslim.
Dinamakan perang Jamal (unta) yang terjadi pada tahun 36 H. karena Siti Aisyah isteri Rasulullah dan puteri Abu Bakar ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa, sehingga yang menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun peranan yang dipegang Aisyah tidak begitu besar.
Peperangan Jamal tersebab oleh karena keinginan dan nafsu perseorangan yang timbul pada diri Abdullah ibnu Zubair dan Thalhah, dan oleh perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Dosa Thajhah agak ringan disbanding dengan dosa Abdullah ibnu Zubair, karena Thalhah tidak sampai mempengaruhi kaum Muslimin, dan tak ada pengaruhnya terhadap Aisyah yang dapat mendorong Aisyah agar mempengaruhi kaum Muslimin dengan mempergunakan kedudukannya sebagai Ummul Muminin.
Tetapi, Abdullah ibnu Zubair bernafsu betul untuk menduduki kursi khalifah, dan berdaya upaya dengan sungguh-sungguh menghasut bibinya Aisyah menghidupkan api peperangan agar keinginannya menduduki kursi khalifah dapat tercapai.
Kebencian Aisyah terhadap Ali memuncak pada saat itu. Sebagai diketahui kedua orang ini sudah lama tidak berbaik. Kesempatan ini dipergunakan Aisyah untuk menggulingkan Ali.
Kepada Zubair-pun dapat disimpulkan sebahagian dari pertanggungan jawab, karena dia juga ikut pula mendorong umat mamasuki pertempuran. Setelah kanca menggelagak, dia lari. Akibatnya dia dibunuh seorang Arab.
Ali dipersalahkan karena dia dipandang tidak dapat menguasai lasykarnya seluruhnya. Ketika ada usa            hanya hendak mencari perdamaian, di antara pengikut-pengikutnya ada komplotan untuk menyalakan api peperangan. Andai kata beliau berwibawa penuh terhadap lasykarnya, mungkin peperangan dapat dihindarkan.
Pertempuran dalam perang jamal ini terjadi amat sangat sengitnya, sehingga Zubaair melarikan diri. Ia dikejar oleh beberapa orang yang sangat benci kepadanya, lalu dibunuh. Begitu juga Thalhah telah terbunuh pada permulaan peperangan ini. Peperangan ini terus berjalan di bawah pimpinan Aisyah. Ribuan manusia gugur dalam membela Aisyah Ummul Mukminin, dan melindungi unta yang dikendarai beliau, sebaliknya ribuan manusia pula yang gugur waktu menyerang Ummul Mukminin dan untanya.
Akhirnya unta yang ditunggangi Ummul Mukminin dapat dibunuh, maka berhentilah pertempuran dengan kemenangan di pihak Ali.
Tetapi Aisyah tiada diusik-usik oleh Ali, bahkan dihormatinya dan dikembalikannya ke Makkah dengan penuh kehormatan dan kemuliyaan. Dalam pertempuran tersebut 20.000 kaum Muslim gugur.[10]
·         Perang Shiffin
Pertempuran sesame Muslim terjadi lagi, yaitu antara angkatan perang Ali dengan pasukan Muawiyah di kota tua Shiffin dekat sungai Eurphat, pada tahun 37 H. khalifah Ali mengerahkan 50.000 pasukan untuk menghadapi Muawiyah. Sebenarnya pihak Muawiyyah telah terdesak kalah, dengan 7.000 pasukannya terbunuh, yang menyebabkan mereka mengangkat Al-Quran sebagai cara minta damai dengan cara Tahkim.[11]
c) Akhir Riwayat Ali
Sebetulnya tidak pernah ada barang satu haripun, keadaan yang stabil selama pemerintahan Ali. Tak ubahnya beliau sebagai seorang menambal kain using, jangankan menjadi baik malah bertambah sobek. Sudah demikian rupanya nasib beliau.
Di waktu beliau bersiap-siap hendak mengirim bala tentara sekali lag untuk memerangi Muawiyah, terjadilah suatu komplotan untuk mengakhiri hidup masing-masing dari Ali, Muawiyah dan ‘Amr ibnu ‘Ash.
Komplotan ini terdiri dari tiga orang Khwarij, yang telah bersepakat hendak membunuh tiga orang pemimpin itu pada malam yang sama. Seorang diantaranya bernama Abdurrahman ibnu Mujmal. Orang ini berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali. Yang seorang lagi bernama Barak ibn Abdillah at Tamimi. Orang ini pergi ke Syam untuk membunuh Mu’awiyah. Sedang yang ketiga yaitu ‘Amr ibnu Bakr at Tamimi berangkat ke Mesir untuk membunuh ‘Amr ibnul ‘Ash.
Tetapi di antara ketiga orang itu hanyalah Ibnu Muljam yang dapat membunuh Ali. Ibnu Muljam menusuk Ali dengan pedang, waktu beliau sedang memanggil orang untuk sembahyang. Orang-orang yang bersembahyang di masjid itu dapat menangkap Ibnu Muljam, yang kemudian sesudah Ali berpulang kerahmatullah ia dibunuh.
Adapun Barak, dapat juga menikam Muawiyah, tetapi ditikaman itu tidak sampai membawanya mati. Sedang ‘Amr ibnu Bakr telah menanti-nantikan ‘Amr ibnul ‘Ash keluar unuk sembahyang subuh, tetapi beliau tidak keluar, karena kesehatannya terganggu. Seorang bernama Kharijah ibnu Habib as Suhami yang keluar menggantikan ‘Amr mengimami sembahyang, ditikam oleh ‘Amr ibnu Bakr, dikiranya ‘Amr ibnul ‘Ash.
Dengan demikian berakhirlah riwayat Ali pada 17 Ramadhan 40 H (661M), orang yang paling fasih, paling berani, dan yang paling dalam ilmu pengetahuannya di antara pengikut-pengikut Rasulullah SAW. Dengan berpulanya Ali kerahmatullah habislah masa pemerintahan al Khulafaur Rasyiddin.[12]














BAB III
KESIMPULAN
Khulafaurrasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat petunjuk menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat tetapi bukan sebagai nabi atau pun rasul. Khulafaurrasyidin berasal dari kata khalifah yang artinya pengganti dan Ar rasidin yang artinya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Pedoman yang dijadikan pegangan untuk memimpin islam adalah Al-Quran dan Sunah Al-Hadist.
Setelah kekhalifahan khulafaur rasyidin berakhir maka sistem khalifah diganti sistem kerajaan islam oleh bani ummayah. Khulafaur Rasyidin memiliki empat / 4 khalifah, yaitu :
1. Abu Bakar Siddik
- Masa Pemerintahan : 11 – 13 Hijriah / 632 – 634 Masehi
- Abu bakar sidik adalah orang yang pertama kali memeluk islam di luar keluarga / rumah tangga Rasulullah.
- Prestasi Abu bakar sidik :
—> Memperluas daerah islam
—> Menghadapi orang murtad dan orang yang tidak membayar zakat
—> Memberantas orang-orang yang menganggapnya beliau sebagai nabi
—> Mengumpulkan ayat-ayat suci alquran yang disalin menjadi mushaf
2. Umar Bin Khattab
- Masa Pemerintahan : 13 – 23 H / 634 – 644 M
- Termasuk orang yang pertama masuk islam / Assabiquunal Awwaluun
- Meninggal dibunuh Abu Luk-luk dan Persia dan Yahudi
- Prestasi Umar bin Khatab
—> Perluasan daerah kekuasaan islam
—> Membangun pemerintahan islam
—> Mengumpulkan tulisan-tulisan ayat suci Al-Qur’an yang tersebar
3. Utsman bin Affan
- Masa Pemerintahan : 23 – 35 H / 644 – 656 M
- Julukan : Dzunnurain Walhijratain = Memiliki dua cahaya dan dua kali hijrah ke Habsy dan Madinah.
- Prestasi Usman bin Afan :
—> Memperluas daerah kekuasaan islam
—> Membangun angkatan laut
—> Penulisan ayat-ayat suci Al-Quran
4. Ali bin Abi Thalib
- Masa Pemerintahan : 36 – 41 H / 656 – 661 M
- Sebutan lainnya adalah Sayyidina Ali
- Saudara Sepupu Nabi Muhammad SAW
- Prestasi Ali bin Abi Tholib :
—> Membasmi pembangkang kekhalifahan
—> Memecat gubernur yang diangkat khalifah sebelumnya[13]













Daftar Pustaka
 Mufrodi, Ali, Islam Di Kawasan Budaya Arab, (Jalarta: Logos, 1997).
Syalabi, A, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1990).
Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008).
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1993).


[2] A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1990), 226.
[3] Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Budaya Arab, (Jalarta: Logos, 1997), 45.
[4] A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1990), 266-267.
[5] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 221-232.
[6] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 251-253.
[8] A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1990), 266-271.
[9] Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Budaya Arab, (Jalarta: Logos, 1997), 60.
[10] A. Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1990), 281-297.
[11] Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Budaya Arab, (Jalarta: Logos, 1997), 66.
[12] Ali Mufrodi, Islam Di Kawasan Budaya Arab, (Jalarta: Logos, 1997), 293-295.
Post a Comment