Retorika

blogger templates

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Apabila ada seseorang yang mengatakan retorika. Maka, dipikiran kita akan muncul orang yang berdiri di atas podium sambil berbicara lantang. Ada juga orang yang dipikirannya menggambarkan seseorang yang mencoba mempengaruhi lawan bicaranya dengan jurus-jurus kata yang ia miliki. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan retorika yang baik sehingga ia tidak bisa mengungkapkan keinginannya.
Sering orang mengatakan. “Dia tahu banyak, hanya tidak dapat mengungkapkan dengan baik. Dia tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan,”. Sangatlah menyedihkan apabila orang yang berguna tetapi tidak dapat mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain.
B.     RUMUSAN MASALAH    
1.      Bagaimana pengertian retorika?
2.      Apakah retorika dapat dipelajari?
3.      Ada berapa pembagian retorika?
4.      Apa alasan mempelajari retorika?
5.      Bagaimana sejarah retorika?
6.      Apa fungsi retorika?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui pengertian retorika.
2.      Untuk mengetahui mengapa retorika dapat dipelajari.
3.      Untuk mengetahui pembagian retorika
4.      Untuk mengetahui pembagian retorika
5.      Untuk mengetahui sejarah retorika
6.      Untuk Mengetahui fungsi Retorika.

A.    Pengertian Retorika
Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat, kepada seseorang atau seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Berbicara adalah satu kemampuan khusus pada manusia. Oleh karena itu berbicara itu setua umur bangsa manusia. bahasa dan pembicaraan itu muncul, ketika manusia mengungkapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain.
            Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik, yang dicapai berdasarkan bakat alam dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan untuk berkomunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berpidato dan berbicara secara singkat, jelas padat dan mengesankan.
 Retorika modern mencakup daya ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa popular, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk menghemat waktu, dan sebagai tanda kepintaran; dan efektif karena apa gunanya berbicara jika tidak membawa efek?. Dalam konteks ini pepatah cina mengatakan, “orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak, belum tentu seseorang yang pandai  berbicara”.
            Keterampilan dan kesanggupan menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan menonton para retor terkenal, dengan mempelajari hukum-hukum retorika dan dengan melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan, dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.



B.     Apakah retorika dapat dipelajari?
Sebuah pepatah berbahasa latin berbunyi: “poeta nascitur, orator fit.”Artinya, “Seorang penyair dilahirkan, tetapi seorang ahli pidato dibina”. Sejak dua ribu tahun terbukti banyak orang menjadi ahli pidato, karena mereka mempelajari teknik berbicara. Mereka pernah berani memulai berpidato di depan orang banyak, sesudah itu mempelajari teknik berbicara,lalu melakukan latihan  secara tekun sampai menguasai teknik berbicara dan pidato. Satu contoh dalam sejarah:
1.      Demosthenes (384-322)
Demosthenes menceritakan bahwa, sejak lahir ia mempunyai kekurangan dalam berbicra. Untuk mengatasi ini, dia pergi ke pantai laut, menaruh kerikil dalam mulutnya, dan berusaha berbicara dengan ucapan yang jelas, dan dengan suara sekuat mungkin untuk mengatasi gemuruh hempasan ombak. Dan usaha ini ahirnya berhasil. Demosthenes ahirnya menjadi seorang ahli pidato termashur di kerajaan Yunani kuno.[1]
2.      Winston Churchill (1874-1965)
Untuk dapat berpidato di depan parlemen inggris, Winston Churchill mempersiapkan diri secara intensif. Berhari-hari dia mencoba dan membuat latihan membaca dan berpidato. Beberapa penting dari bagian pidatonya malah dihafalkan usaha yang tekun ini akhirnya menjadikan Winston Churchill seorang ahli pidato terkenal dalam abad dua puluh.
Orang-orang yang bersifat introvert dapat mengalami kesulitan untuk mengungkapkan diri lewat bahasa. Demikian juga dalam mempelajari ilmu retorika. Sebaliknya, memepelajari retorika lebih mudah bagi mereka yang bersifat ekstrovert. Tetapi kepada setiap orang dianugrahkan kemampuan yang cukup untuk bisa berkomunikasi. Justru keberhasilan dalam proses komunikasi dan dalam menguasai teknik dan seni berbicara tergantung dari usaha untuk mengembangkan kemampuan itu dan berusaha secara optimal untuk melatih diri. Oleh karena itu, seni berbicara dapat dikuasai, retorika dapat dipelajari .[2]
C. Pembagian Retorika
            Retorika merupakan bagian dari ilmu bahasa (linguistik), khususnya ilmu bina bicara (sprecherziehung). Retorika sebagai bagian dari ilmu bina bicara ini mencakup:
1.      Monologika
Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, dimana hanya seorang yang berbicara. Bentuk-bentuk yang tergolong dalam monologika adalah, pidato, kata sambutan, kuliah, makalah, ceramah dan deklamasi.
2.      Dialogika
Dialogika adalah tentang ilmu seni berbicara secara dialog, dimana dua orang atau lebih mengambil bagian dalam satu proses pembicaraan. Bentuk dialogika yang penting adalah diskusi, tanya jawab, perundingan, percakapan dan debat.
3.      Pembinaan Teknik Bicara
Evektivitas monologika dan dialogika tergantung juga pada teknik bicara. Teknik bicara merupakan syarat bagi retorika. Oleh karena pembinaan teknik bicara merupakan bagian yang penting dalam retorika. Dalam pebagian ini perhatian lebih diarahkan dalam pembinaan teknik  bernafas, teknik mengucap, bina suara, teknik membaca dan bercerita.
D. Alasan Mempelajari Retorika
            Mengapa orang belajar retorika? Mengapa orang mau menguasai ilmu pandai bicara? Mengenai dua pertanyaan ini pasti banyak jawaban yang bermacam-macam. Tergantung dari pribadi masing-masing. Dan yang pasti inti dari semua jawaban yang berbeda-beda ingin pandai berbicara di depan publik atau di depan satu orang. Karena sampai kapanpun berbicara merupakan salah satu cara jitu dalam menaklukan orang.
            Almarhum Kiai Zainuddin Mz. Tidak akan kondang dan namanya tidak akan dikenal sampai ke pelosok negeri jika tidak pandai dalam beretorika. Begitu pula Aagym, Ustad Yusuf Mansyur dan ustad-ustad lainnya. Dalam dunia kepahlawanan Bung Tomo tidak akan bisa membakar semangat arek suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan jika tidak pandai dalam beretorika. Begitu juga presiden pertama Indonesia Soekarno tidak akan menyatakan kemerdekaan Indonesia jika tidak pandai beretorika.
            Maka dari itu, tak heran di dalam masyarakat umum dicari para pemimpin atau orang-orang yang berpengaruh, yang memiliki kepandaian dalam hal berbicara. Juga di bidang-bidang lain seperti perindustrian, perekonomian dan bidang-bidang sosial, kepandaian berbicara atau keterampilan menggunakan bahasa secara efektif sangat diandalkan. Menguasai kesanggupan berbahasa dan keterampilan berbicara menjadi alasan utama keberhasilan orang-orang terkenal di dalam sejarah dunia seperti: Demosthenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Ambrosius, Martin Lhuter, Martin Luther King, J.F, Kennedy , Soekarno (seperti yang kami sebutkan di atas) dan lain-lain.
            Dalam sejarah dunia justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrument utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan mempergunakan bahasa, sehingga tidak jelas mengungkapkan masalah atau pikiran akan membawa dampak negative dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu, pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa keuntungan bagi pribadi bersangkutan dalam bidang-bidang di bawah ini:
1.      Kemampuan Pribadi
Menguasai ilmu retorika dan keterampilan dalam menggunakan bahasa secara tepat, dapat meningkatkan kemampuan pribadi orang yang bersangkutan.
2.      Keberhasilan pribadi
Orang yang menguasai ilmu retorika dan terampil dalam mempergunakan bahasa, dapat mengalami banyak sukses dalam hidup dan karyanya.
3.      Tugas dan Jabatan
Dalam mengemban suatu tugas atau jabatan, penguasaan ilmu retorika dapat memberi keuntungan seperti dapat mengemukakan pikiran secara singkat, jelas tetapi padat, sehingga mudah meyakinkan orang lain dan lain-lain.
4.       Kehidupan pada umumnya
Secara umum penguasaan ilmu retorika dapat mendatangkan keuntungan-keuntungan seperti memberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengontrol diri. Dalam proses komunikasi orang semakin terbuka terhadap diri sendiri dan orang lain. Dan lain-lain.[3] 
E.Sejarah Retorika
Sebagai cikal bakal ilmu komunikasi , retorika mempunyai sejarah yang panjang. Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan tetapi, retorika sebagai seni bicara yang dipelajari dimulai pada abad kelima sebelum Masehi ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah, menurut kaum Sofis, harus berdasarkan  suara terbanyak atau demokrasi sehingga perlu adanya usaha untuk membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Yang penting,khalayak bisa tertarik perhatiannya.
Kaum Sofis berpendapat bahwa manusia adalah “ makhluk yang berpengetahuan dan berkemauan”.  Manusia mempunyai penilaian sendiri mengenai baik buruknya sesuatu, mempunyai nilai-nilai etikanya sendiri, karena itu kebenaran suatu pendapat hanya dicapai apabila seseorang dapat memenangkan pendapatnya terhadap pendapat-pendapat orang-orang lain yang berbeda dengan norma-normanya. Tidak mengherankan bila pada masa itu orang-orang melatih diri untuk memperoleh kemahiran dalam berbicara sehingga inti pembicaraan beralih dari mencari kebenaran kepada mencari kemenangan.
Tokoh aliran Sofisme ini adalah Georgias(480-370) yang dianggap sebagai guru retorika yang pertama dalam sejarah manusia. Filsafat mazhab Sofisme ini diceminkan oleh Georgias yang menyatakan bahwa kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam pembicaraan.
Pendapat Georgias ini berlawanan dengan pendapat Protagoras (500-432) dan Socrates (469-399). Protagoras mengatakan bahwa kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan bagi Socrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.
Seseorang yang sangat dipengaruhi Socrates dan Georgias adalah Isocrates yang pada tahun 392 SM mendirikan sekolah retorika dengan meitikberatkan pendidikannya pada pidato-pidato politik. Filsafat Isocrates ialah bahwa hakikat pendidikan adalah kemampuan membentuk pendapat-pendapat yang tepat mengenai masyarakat. Dengan sekolahnya itu, Isocrates selama 50 tahun berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pemimpin yang baik.
Yang sama pendapatnya dengan Isocrates, yaitu bahwa retorika memegang peranan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin, adalah Plato. Plato adalah murid Socrates yang sangat terkenal. Menurut Plato, retorika sangat penting sebagai metode pendidikan, sebagai sarana untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan sebagai sarana untuk mempengaruhi rakyat. Plato mengatakan bahwa retorika bertujuan memberikan kemampuan menggunakan bahasa yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan dalam, terutama dalam bidang politik.
Betapa pentingnya retorika dapat dilihat dari peranan retoriak dalam demokrasi. Dalam hubungan ini terkenal seorang orator bernama Demosthenes (384-322) yang pada zaman Yunani sangat termasyhur karena kegigihannya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman Raja Philipus dari Macedonia. Pada waktu itu telah menjadi anggapan umum bahwa dimana terdapat sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat, disitu harus ada pemilihan berkala dari rakyat dan oleh rakyat untuk memilih pemimpin-pemimpinnya. Dimana demokrasi menjadi sistem pemerintahan, disitu dengan sendirinya masyarakat memerlukan orang-orang yang mahir berbicara di depan umum.
Demosthenes pada masa jayanya itu meningkatka kebiasaan retorika yang berlaku pada zamannya, dan lebih menekankan pada:
a.       Semangat yang berkobar-kobar
b.      Kecerdasan pikiran
c.       Kelainan dari yang lain.
Ada 61 naskah pidato Demosthenes yang sampai sekarang masih tersimpan, diantaranya yang terindah ialah naskah pidato yang bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul “ Tentang Karangan Bunga ”, sebuah sambutan terhadap pemujaan rakyat kepadanya ketika ia berhasil menyingkirkan lawannya, Aischines.
Tokoh retorika lainnya pada zaman Yunani adalah Aristoteles yang sampai kini pendapatnya banayk dikutip. Berlainan dengan tokoh-tokoh lainnya yang memandang retorika sebagai suatu seni, Aristoteles memasukkannya sebagai bagian dari filsafat. Dalam bukunya, Retorika, dia mengtakan “ Anda, para penulis retorika, terutama menggelorakan emosi. Ini memang baik, tetapi ucapan-ucapan Anda lalu tidak dapat dipertanggungjwabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu ketika kendatipun lebih efektif daripada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok bagi logika dan juga bagi retorika akan benar bila telah diuji oleh dasar-dasar logika.” Demikian Aristoteles. Selanjutnya dia berkata bahwa keindahan bahsa hanya digunakan untuk empat hal yaitu yang bersifat:
1)      Membenarkan (corrective),
2)      Memerintah (instructive),
3)      Mendorong (sugestive),
4)      Mempertahankan (defensive).
Dalam membedakan bagian-bagian struktur pidato, Aristoteles hanya membaginya menjai tiga bagian, yaitu:
a.       Pendahuluan,
b.      Badan,
c.       Kesimpulan.
Bagi Aristoteles,retorika adalah the art of persuasion. Lalu ia mengajarkan dalam retorika, suatu uraian harus:
1)      Singkat,
2)      Jelas,
3)      Meyakinkan.
Demikian perkembangan retorika di Yunani.
Di Romawi yang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang menjadi masyhur karena suaranya dan bukunya yang berjudul antara lain de Oratore. Sebagai seorang orator ulung, Cicero mempunyai suara yang berat mengalun,paada suatu saat menggema,apa waktu lain halus merayu, bahkan kadang-kadang pidatonya itu disertai cucuran airmata.
Buku de Oratore yang telah ditulisnya terdiri atas tiga jilid. Jilid I menguraikan pelajaran yang diperlukan oleh seorang orator, jilid II menjelaskan hal pengaruh, dan jilid III menerangkan bentuk-bentuk pidatonya.
Sebagai seorang tokoh retorika Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematika dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat:
1)      Suasio (anjuran),
2)      Dissuasio (penolakan).
Paduan dari kedua sifat itu dijumpai terutama dalam pidato-pidato peradilan di muka Senat Roma. Pada saat itu tujuan pidato di muka pengadilan adalah untuk menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat, perundang-undangan negara, dan keputusan yang akan diambil. Hal ini, menurut Cicero, hanya dapat dicapai dengan menggunakan teknik dissuasio apabila terdapat kekeliruan atau pelanggaran dalam hubungannya dengan undang-undang, atau suasio jika akan mengajak masyarakat untuk  mematuhi undang-undang dan keadilan.
Cicero mengajarkan  bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya, seorang retor harus meyakinkan mereka dengan mencerminkan kebenaran dan kesusilaan. Dalam pelaksanaannya, retorika meliputi:
a)      Investio
Ini berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti-bukti harus dibahas secara singkat dengan memperhatikan keharusan pembicara:
1.      Mendidik,
2.      Membangkitkan kepercayaan,
3.      Menggerakkkan hati.
b)      Ordo collocatio
Ini mengandung arti menyusun pidato yang meminta kecakapan si pembicara dalam memilih mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusun pidato juga meminta perhatian terhadap:
1.      Exordium (pendahuluan),
2.      Narratio (pemaparan),
3.      Confirmatio (pembuktian),
4.      Reputatio (pertimbangan),
5.      Peroratio (penutup).
Demikian retorika di Romawi yang banyak persamaannya dengan retorika di Yunani.[4]
F. Retorika Sebagai Proses Komunikasi
Sebuah contoh: sebuah mobil bekas akan dijual. Pemilik mobil tentu ingin menjuaknya dengan harga yang memuaskan  (tujuan). Dalam pembicaraan dengan calon pembeli, penjual tentu tidak hanya menjelaskan tentang merk, tipe, tahun keluaran dan ciri khas mobil, tetapi dia juga pasti akan memuji-muji mobil tersebut. Misalnya: terpelihara baik, bentuknya sangat cocok dengan keadaan jalan dan tidak pernah terjadi kecelaakaan. Sigkatnya: mobil bekas yang paling ideal, yang apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu murah.
Di lain pihak calon pembeli juga ingin supaya dapat membeli mobil itu dengan  harga yang murah (tujuan). Oleh karena itu terjadi tawar menawar dalam perdagangan, dimana penjual dan pembeli saling memberi argumentasi untuk mencapai tujuan masing-masing.
Dari contoh diatas, dapat dilihat aspek-aspek komunikasi retoris sebagai berikut:
·         Seorang pembicara, menyampaikan kepada;
·         Seorang pendengar sebagai kawan bicara atau pelanggan
·         Sesuatu
·         Dengan maksud dan tujuan tertentu (menjual mobil)
·         Memberikan argumen-argumen terhadap isi pembicaraan
·         Sambil mendengar dan mempertimbangkan argumen-argumen balik dari pendengar.[5]


 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat, kepada seseorang atau seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Berbicara adalah satu kemampuan husus pada manusia. Oleh karena itu berbicara itu setua umur bangsa manusia. bahasa dan pembicaraan itu muncul, ketika manuia mengungkapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain.
·         Sebuah pepatah berbahasa latin berbunyi: “poeta nascitur, orator fit.”Artinya, “Seorang penyair dilahirkan, tetapi seorang ahli pidato dibina”. Sejak dua ribu tahun terbukti banyak orang menjadi ahli pidato, karena mereka mempelajari teknik berbicara. Mereka pernah berani memulai berpidato di depan orang banyak, sesudah itu mempelajari teknik berbicara,lalu melakukan latihan  secara tekun sampai menguasai teknik berbicara dan pidato.
·         Retorika sebagai bagian dari ilmu bina bicara ini mencakup1. Monologika 2.Dialogika 3. Pembinaan Teknik Bicara.
·         Dalam sejarah dunia justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrument utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan mempergunakan bahasa, sehingga tidak jelas mengungkapkan masalah atau pikiran akan membawa dampak negative dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu, pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa keuntungan bagi pribadi bersangkutan.
·         Sebagai cikal bakal ilmu komunikasi , retorika mempunyai sejarah yang panjang. Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan tetapi, retorika sebagai sni bicara yang dipelajari dimulai pada abad kelima sebelum Masehi ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah, menurut kaum Sofis, harus berdasarkan  suara terbanyak atau demokrasi sehingga perlu adanya usaha untuk membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Yang penting,khalayak bisa tertarik perhatiannya.
·         Sebuah contoh: sebuah mobil bekas akan dijual. Pemilik mobil tentu ingin menjuaknya dengan harga yang memuaskan  (tujuan). Dalam pembicaraan dengan calon pembeli, penjual tentu tidak hanya menjelaskan tentang merk, tipe, tahun keluaran dan ciri khas mobil, tetapi dia juga pasti akan memuji-muji mobil tersebut. Misalnya: terpelihara baik, bentuknya sangat cocok dengan keadaan jalan dan tidak pernah terjadi kecelaakaan. Sigkatnya: mobil bekas yang paling ideal, yang apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu murah.




Daftar Pustaka

ü  Hendrikus Dori Wuwur, RETORIKA, Terampil berpidato, berdiskusi, berargumentasi, bernegosiai. (Yogyakarta, KANISIUS (anggota Ikapi) 1991).

ü  Uchyana Effendy, , Onong  Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung, PT REMAJA ROSDAKARYA , 2009).




[2] Dori Wuwur Hendrikus, RETORIKA, Terampil berpidato, berdiskusi, berargumentasi, bernegosiai. (Yogyakarta, KANISIUS (anggota Ikapi) 1991) hal 16-17
[3] Ibid hal 17-20
[4] , Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung, PT REMAJA ROSDAKARYA , 2009) hal 53-56
[5] Ibid, Hendrikus hal 42
Post a Comment