REVIEW TEORI ANTROPOLOGI STRUKTURAL LEVI-STRAUSS

blogger templates
A. Antara “science” dan “humanistik”

Kehadiran srukturalisme, di samping membuka cakrawala dari kegelapan sistem, memang banyak menhandung kontrovensional. Tidak kritik dilancarkan atas kekecemerlangan ide Levi-starauss, kendati dia sendiri meminjam disiplin lain. Muara keritik itu, cukup menggoda dan menggoyang strukturalisme-ketika telah menyudutkan dengan term: penelitian budaya structural sepenuhnya “science” atau sepenuhnya “humanistis” ; “science” sekaligus “hunistis” .cukup problematis memang masalah ini, sebab semua klaim dari pernyataan ini memiliki alasan yang sulit di pandang remeh. Penelitian budaya struktural memang “science” sekaligus “humanistik” . “science” menurut Webster’s Collegiate Dictionari berasal dari bahasa latin scientia yang berarti “to know”. Selanjutnya,Lasstrucci (Pelto,1970:22) memberikan kriteria “science” khususnya yang menyangkut fenomena dalam sastra (termasuk budaya tentunya): an objective,logical, and systematic method of analysis of phenomena, divised to permit the accumulation of reliable knowledge”

Dalam kaitan itu, bahasa memang memiliki hubungan khusus dalam stukturalisme. Bahkan Sapir (1973:147-150) mengakui bahasa merupakan perangkat study ilmiah dalam budaya. Hubungan pola-pola budaya dipresepsikan melaliu bahasa. Bahasa merupakan ‘social reality’ dan bahsa juga sekaligus sebagai ‘symbolic guide to culture’ atas dasar ini, untuk meliha deyuju dan menolak terhadap pendekatan strukturalisme, ataukah “science” sekaligus “humanistis” tidak akn bisa lepas dari pada pencentusnya, Levi-Strauss.

Levi-Starauss mendapatkan inspirasi dari tiga sumber, yang disebut mistreses, yaitu geologi, freud dan marx. Dalam istilah lain, Bertens (1996:192) menyebut mistresses adalah “guru” . perkenalanya dengan geologi yang dimungkinkan menjadi ide-ide menarik adalah ihwal the majestic meaning dan the master meaning. Dari sini, sangat mungkin kalau Levi-strauss yang nanati asyik dengan structural, tetap akan melihat meaning juga, hasil perkenalanya dengan freud, memungkinkan dia memiliki kepekaan dalam sruktural yang disebut unconsciousness. Sedangkan dengan karya-karya Mark, dia mampu menangkap bahw tujuan ilmu sosial seperti halnya fisika yang ada di laboratorium-adlah memebangun suatu model, mempelajari hakekat dan sifat, serta berbagai reaksinya atas macam-macam kondisi yang terbentuk, untuk kemudian menerapkan hasil observasinya ini dalam penafsiran berbagai gejla empiris.

Dari ketiga sumber inspirasi itu saja, sebenarnya sulit beralasan bila bangunan sturturalisme itu hanya mengandalka “science” saja. Begitu pula, tidak selalu benar kalau dikatakan strukturalisme itu mengbaikan empiris dan sifatnya ‘kering’. Levi-Strauss mengacu atau mungkin mengadopsi teori linguistik Struktural dan Ferdinanad de Saussure, adopsi keilmuwan ini tetap sah-sah saja, tanpa harus mmengurangi orisinalitas. Levi-Strauss memang berniat membangun “the most humanistic science” atau “the most scientific humanistic” merupakan upaya menjenbatani penelitian budaya sebelumnya, terutama hermeneuitik atau tafsir kebudayaan yang dianggap kurang “science”. Usahanya dimaksudkan untuk memahani fenomena sosial budaya, melalui model-model yang bersifat ekonomis tanpa kehilangan generalnya. Sederhana, tetapi tetap dapat memahami seluruh fenomena sosial budaya.

Paham sturturalisme Levi-Strauss, selain terilhami de Saussure, juga terpengaruh Jakobson dan Troubletzkoy. Dalam membahas mitos misalnya, Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos pada dasarnya juga mirip dengan bahasa. Jika dalam bahasa konsep la language, yaitu keseluruhan system tanda yang dimiliki kelompok orang yang menggunakan bahasa dan la parole adalah perwujudan individual dari system tanda itu, yaitu tindak bicara konkrit seorang individu yang pada saat tertentu menggunakan system tanda itu untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, ada aspek diaronik dan sinkronik, paradigmatik dan sintagmetik yang didalamnya ada relasi-relasi dalam mitospun demikian juga. Aspek sinkronik adalah mitos yang diyakini sebagai peristiwa masa lampau namun masih relevan untuk masa kini dan aspek diakronik adalah mitos yang berasal dari masa lampau tetapi tetap ada sampai sekaranga.

Itulah sebabnya, menurut badcock ditantang untuk menerangkan konsep linguistik Chomsky tentang deep structure dan surface structure untuk memahami fenomena manusia dan budayanya. Jika penelitian model Levi Strauss mampu menjalaskan akan kedua hal itu, berarti akan cemerlang meniti keberhasilan. Jika peneliti mampu mengungkap sampai hal-hal yang unconscious maupun conscious tentu hebat. Berarti pula bahwa strukturalisme mampu menjawab segala persoalan budaya yang selama ini menjadi misteri.

Hal itu penting dikemukakan, karena Levi Strauss sendiri telah menyimpulkan bahwa suatu kegiatan intelektual tidak mau mencerminkan organisasi konkret masyarakat yang bersangkutan. Karenanya muncul penolakan terhadap keunggulan antara intelektual tersebut. Maka, kaum strukturalis akan mencari lebih dari itu, yakni menemukan dibalik hubungan-hubungan konkret tersebut, akan menemuka struktur bawah sadar dan “tidak sadar” melalui konstruksi deduktif abstrak. Absrakisasi ini akan membentuk sebuah system yang mamapu mewadahi gejala fenomena budaya konkret . upaya ini telah menjadi opsesi dan tantangan kaum strukturalisme terus-menerus sepanjang peradaban manusia.

Misalkan saja, kalau sturturalisme Levi Strauss mamapu membongkar mitos masyarakat jawa, seperti dijelaskan dalam Badan Tanah Jawa, ada mitos Nyi Loro Kidul yang ternyata masih relevan dan juga masih berlaku sampai sekarang-tentu istimewah. Relavasi mitos ini, misalnya dengan adanya labuhan Kraton Yogyakarta, akan mendidik sikap berkorban dan mengingat jasa leluhur. Bukti bawa mitos itu masih ada, bisa dilihat dari Prangkusuma, tempat bertemunya Panembahan Senapati dengan Nyi Loro Kidulyang masih dipercaya sampai sekarang. Bahkan pada deretan pantai selatan mitos itu sangat berfariasi, namun hakekatnya sama. Artinya, disatu pihak tetap menggunakan system yang jelas, dipihak lain tetap memerhatikan tindak bahasa. Tindak bahasa inilah wujud nyata dari komunikasi sosial budaya.

Fenomena budaya memiliki realitas yang lebih dari kenyataan empiris. Fenomena yang sebenarnya adalah dibalik relitas, yaitu fenomena simbolik dan semiotik. Artinya, fenomena sosial budaya itu selai bahasa juga terkandung fenomena yang dimaknai dan juga fenomena komunikasi. Eksistensi ini, meneguhkan lagi bahwa strukturalisme tetap berada pada jalur penelitian budaya “science sosial budaya”, maksudnya ilmu pengetahuan ilmiyah dan sekaligus manusiawi. Hal ini juga telah diakui oleh Baal (1988:139) bahwa apa yang dihasikan Levi-Strauss merupakan pemikiran ilmiyah dan tetap manusiawi. Dalam hal ini Baal memberikan contoh seorang insinyur yang membuat rancangan sruktur bangunan, namun pada saa uang sama ia juga membayangkan suku cadang yang akan digunakan. Suku cadang yang memiliki nilai kesejahterahan dan arti khusus bagiannya itu, berarti bahwa struktur yang dihasilkan mendapat perlakuan manusiawi, yang dapat diakatakan memiliki nilai emosional dan menambah arti. Levi-Strauss tidak klah pentingnya dalam menjelaskan fenomena budaya jika dibandingkan dengan ilmuwan sosial yang berpaham positifistik.

Levi-Strauss sendiri telah menjelaskan panjang lebar lentang penelitian budaya structural yang “science” dan sekaligus “humanistis”. Kendati hal ini boleh dibantah, dalam buku pintarnya Structural Anthropology, ia telah mambbuktikannya, pada baba II buku ini, tanpak dia ingin menajamkan perhatian kita bahwa paradigma linguistic, yang dikemukakan Troubetzkoy (ada empat dasar metodis) itu dapat diterapkan dalam penelitian budaya. Levi-Strauss mamapu mengandalkan analisis structural kekerabatan dan mitologi. Satu hal yang menarik direnungkan (oleh yang ragu kehumanistisan), sistim oposisi kekerabatan seperti “ bapa-biyung, kaki-ninik” (contoh ditransfomasi ke kebudayaan jawa), akan menyuguhkan komunikasi yang berbeda. Komunikas ini persoalaan kemanusiaan, persoalan parople, dan buka language semata. Belum lagi ihwal larangan seperti larangan perkawinan “indogami” dalam masyarakat jawa cukup menghadirkan kultur sendiri seperti “aja nikah karo sedulur misan” dan sejumlah gugon tuho (larangan)yang gtermuat dalam primbon.

Larangan diatas menurut Levi-Strauss memang berlaku universal, kendati pada setiap komunitas brbeda-beda namanya. Dari larangan incest itu, Levi-Strauss telah membuktikan bahwa penelitian budaya etuktural memang “science” dan “humanistis”. Maksudnya, di balik model-model yang tidak disadari dari karya Levi-Strauss itu, terdapat pemikiran manusia, dan tujuan akhirnya adalah penggunaan prinsip-perinsip universal mentalitas manusia. Karena itu Bertents (1996:230) setelah membandingka dengan strukturalisme, menyimpulkan: boleh saja stukturalisme dihargai sebagai metode, asalkan tidka sebagai ideology, tidak absolute, tetapi manusia harus “dileburkan”, sehingga erbuka jalan humanisme yang realistis.

Levi-Srauss memang peneliti budaya structural yang mampu mengungkapkan sentuhan kemanusiaan yang memikat. Camkan, karena ia menjelasakan ihwal incest, di satu pihak larangan itu terdapat di berbagai suku bangsa, sifatnya natural. Di pihak lain, larangan itu ternyata berbeda-beda sehingga memiliki sifat cultural. Jadi, ‘nilai’, ‘makna’ laranga incest adalah menciptakan kehidupan masyarakat itu sendiri, sekaligus melahirkan kemanusiaan, humanity yang berbeda dengan kebinatangan, animality. Pendek kata, Levi-Strauss telah emebawa angin baru dalam kajian penelitian budaya-budaya: yakni muncul epistimologi strukturalisme, yang membuat peneliti budaya lebih dekat dengan bidang humaniora, dan menyempal dari tradisi yang sela ini benyak mendominasi pemikiran para peneliti budaya, yaitu epistemilogi positivisme.

Akan lebih tajam lagi, untuk meneropong ihwal “science” dan “humanistic” dari penelitian budaya structural, Levi-Strauss membeberkan pada buku Structural Anthropology 2, khususnya Bab IV. Pada bagian ini ia memaparkan konsep humanisme dalam kajian etnologi. Dalam kaitan ini, ia menegaskan bahwa humanisme tidak saja terdapat dalam sifat-sifat masyrakat terbelakang, melainkan terdapat juga pada masyarakat majudan industrial. Untuk m\emahami hal ini, paradigma structural dari linguistik, dikatakan lebih objektif-ilmiyah.

Implementasi penelitian budaya structural yang “science” dan “humanistis” juga tanpak pada sistim linguistic “berpasang” dan atau beroposisi, yang pada gilirannya melahirkan sruktur “tiga”, kendati hal ini boleh ada. Adanya oposisi biner, seperti dalam konsep berpikir orang jawa, akan melahirkan pasangan: Lahir-batin, ala-becik, bener-luput, begja-cilaka, tuna satak-bathi sanak, bapa-biyung, kaken-kaken-ninen-ninen, mimi-mintuna, kawula-gusti, bapa akasa-ibu pertiwi, dhalang-wayang, obah-mamah, ana dina-ana upa, tamba teka-lara lunga, tega larane-ora tega patine, desa mawa cara –Negara mawa tata, diculke endhase-digondeli buntute, dan masih banyak lagi. Kata-kata berpasangan itu, merupakan transformasi ideology orang jawa yang dalam konsep linguistic dinamakan depth structure, dalam struktur kehidupan orang jawa mengenal pola pikir: donya iki mung ana werna loro. Konsep ini, dalam surface structure yaitu implementasinya melalaui wacana pragmatic bahasa jawa dapat berupa segudang istilah.



B. Medel Levi-Strauss

Laksono juga pernah mencoba terapkan konsep structural Levi-Strauss untuk memahami pandangan hidup orang jawa. Yang intinya bawa konsep hidup orang jawa ada pada titik 0 (suwung). Konsep ini ia temukan melalui pustaka ketika di Belanda. Sehingga model strukturalnya pun kuat di pengaruhi oleh Belanda. Begitu pula De Jong juga telah mencoba menerapkan konsep structural Levi-Strauss untuk melihat perhitungan perkawinan di jawa, yakni melalui perhitungan: 1. Guru, 2. Ratu. 3. Pandhita, 4. Wali, 5. Setan. Angka 5 berada di tengah (menurut perhitungan mancapat) dan dihitung dengan hidupnya hari

Dalam buku ini strukturalisme Levi-Strauss; mitos dan karya sastra (2001) Ahimsa-Putra telah mencoba menerapkan strukturalisme Levi-Strauss terhadap tiga karya Umar Kayam, yaitu Sri Sumarah, Bawuk, dan Para Priyayi. Kendati Ahimsa-Putra berterus tidak menjiplak mentah-mentah Levi-Strauss, namun setidaknya dari analisis mitos tersebut kita akan diyakinkan bahwa strukturalisme tetap “science” dan “humanistis”. Dia, berhasil melihat lebih jauh bangunan klasifiaksi “dua” (PKI dan bukan PKI) dan klasifikasi “tiga” yakni mendasarkan “sejarah kehidupan” tokoh. Dari sini, tanpak segi “science” dalam strukturalisme, karena struktur segi tiga (tidak saya kutip gambarannya), telah manjadi sarana “bingkai pemahaman” untuk menjelaskan “siapa yang harus” dan “tidak harus” menjadi korban G30 S PKI. Aspek humanistis, menurut hemat saya adalah pada kemampuan Ahimsa-Putra untuk menafsirkan tataran ‘nirsadar’ nalar jawa dari stuktur tadi. Menurutnya, struktur nalar orang jawa menunjukkan keteraturan, tatanan, dan pandangan yang harus tumata (tertata). Konsep ketertataan ini, dalam pandangan orang jawa terkadung tiga komponen, yaitu: kesatuan (unity), kesinambungan (continuity), dan keselarasan (harmoni). Hal serupa pun,sebenarnya telah diakui juga oleh Franz Magnis Suseno dan Sri Sultan Hamengkubuwana X.

Jika demikian, bukanlah hal itu sebuah bukti bahwa strukturalisme itu bernuansa “science” dan sekaligus “humanistis” yang patut dipertahankan? Ini bukti bahwa strukturalisme lebih democrat, kendati tidak harus nihil kritik. Dengan strukturalisme, Levi-Strauss telah dikagumi dan dihormati sebagai peneliti buudaya yang penting. Bahkan ia memilliki sembangan penting dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Hanya saja, Levi-Strauss sendiri lalu muak dengan istilah “structural” yang ia perjuangkan mati-matian itu, karena metode analisis ini diakui atau tidak memang mudah goyah,karena itu, sering bermunculan kritik-kritik sebagai berikut:

Pertama, kecaman tajam yang begitu menyakitkan memeng, adanya kritik metodologis bahwa stukturalisme Levi-Strauss dituduk kurang atau belum memperlihatkan empiri secukupnya, bahkan ia dicap anti empiri. Ia terlalu memutlakkan satu tipe matematika(Bourbaki) dan satu tipe linguistic (Saussuredan Jakobson) sebagai ilmu acuan untuk melakukan inovasi penelitian budaya-budaya. Persoalanya, apakah bahasa dan fakta sosial boleh dipertalikan demikian? Pandanganya bahwa struktural sosial tidak berhubungan dengan kenyataan empiris, tetapi menunjuk pada “model-model yang disusun menurut acuan strutur”, mengandung berbagai pengertian dan perlu dipertanyakan. Apakah analisis structural dapat berhenti hanya berhenti pada analisis terhadap suatu relasi formal dan logi dari sebuah system, padahal ia kurang memperdulikan segala isi nyata dari pengalaman yang hidup serta keseluruhan kenyataan yang sistematis. Ternyata Levi-Strauss begitu senang dengan perinsip resiprositas dan asyik mencari aturan-aturan formal transformasi, sehingga kurang sempat mendengarkan apa yang dikatakan oleh mitos itu sendiri. Akibatnya “hermenuitik” semantic diabaikan. Jika seluruh hidup kemsyarakatan akhirnya dikembalikan pada penentuan pola-pola hidup sosial, maka penelitian budaya sosial akan kehilangan cirri manusiawinya, padahal peneliti budaya justru ingin mempelajari gejala bentuk hidup kemasyarakatan asli.

Kedua, mempersoalkan keabsahan oposisi tajam dari alam/kebudayaan aprori sebagai prinsip metodologis dasariah yang meresapi seluruh karya Levi-Strauss. Oposisi alam/kebudayaanya merupakan karangan pokok untuk memahami larangan inses dan cara-cara mempersiapkan terjadinya peralihan dari satu ke yang lain. Apakah larangan inses dapat dimengeri secara tuntas dengan cara itu? Apakah larangan inses yang merupakan titik silang antara alam(biologi) dan kebudayaan (system peraturan) itu merupakan peraturan yang universal?

Ketiga, tentang titik tolak filosofis manusia ditemukan sejenis mekanisme penyusunan yang berfungsi secara tidak sadar? Hal ini mmembawa kita pada masalah filosofis mengenai fikiran dan akal budi manusia-yang dipandang sebagi mesin kibernetis yang mengadakan kombinasi oposisi dan pada masalah “ketidak sadaran sruktural”. Benarkah strukturalisme mereduksi manusia menjadi “cyberanthropos” (manusia mesin kibernetis) yang dikuasai dan ditentukan oleh sebuh struktur, aturan berfikir dan bahasa yang pada dasarnya tidak berubah, sehingga manusia sebagai subjek tidak berdaya sedangkan kebebasannya merupakan hayalan belaka.

Keempat, metode stukturalisme juga mengabaikan “sejarah”. Ia hanya asyik dengan sifat-sifat sinkronis struktur dan meremehkan cirri diakronik.

Kelima, terdapat paradog dlam rasionalisme Levi-Strauss. Apakah hasrat Levi-Strauss untuk memahammi objeknya secara tuntas merupakan cirri dari jenis “hiper-rasionalisme” yang entah merupakan sisa rasionalisme(yang justru ingin membantahnya)atau satu bentuk cara pengenalan cara baru yang agak “irasional” dan surealistis berupa mitologi reflrktif?

Menghadapi kritik-kritik tajam itu, Levi-Strauss berusaha membela diri. Ia berkilah ketika dipojokkan pertanyaan wartawan, bahwa dirinya berpaling dari humanisme dalam konsep strukturalisme.

Tentunya masi banyak kritik-kritik terhadap Levi-Strauss yang bermuarah kearah metodologis. Namun, peneliti budaya structural telah mamapu mernagkul dua kkutub yang sering bersebrangan , “science” dan “humanistis”. Ini jelas kelebihan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena itu, layak jika Barthes menyatakan bahwa stukrturalisme sebagai “science” bisa dikatakan telah menemukan dirinya pada setiap karya sastra. Pada tingkan bentuk-isi dan juga pada tingkat wacana telah mampu membuat klasifikasi budaya.

Post a Comment