KRISIS IDENTITAS; pentingnya kesadaran realitas.

blogger templates
“Sebagian orang menolak untuk merubah identitasnya, sebagian orang sibuk membangun identitas baru, dan sebagian orang sedang sibuk merancang identitas lain yang tidak sama dengan identitas yang selama ini di milikinya.”

Tepat semenjak dua hari lalu, saya tidak dapat membuka akun FB (Face Book) saya. Ada beberapa kesalahan yang sama ketika saya mencoba membuka akun tersebut, yakni akun tersebut tidak mau terbuka, namun anehnya beberapa teman jauh saya, mengaku masih sering chating dengan saya. Bahkan saya juga mendapat beberapa sms dari nomor yang tidak dikenal dengan mengaku teman Fb, padahal saya tidak pernah memberikan nomor dan lain sebagainya. beberapa teman dekat saya juga mengirim sms pada saya, berkomentar tentang betapa cantiknya foto profile saya.(padahal identitas saya sebenarnya adalah seorang laki-laki tulen).

Facebook atau dunia maya kerap kali menjadi dunia kedua bagi beberapa orang tertentu. Sebagian dari mereka yang kurang mampu mengekspresikan dirinya pada kehidupan yang sebenarnya akan menggunakan dunia facebook sebagai tempat dimana ia sanggup menjadi apapun yang ia sukai, memunculkan dunia yang selama ini hanya ada di dalam idenya saja.

Sebagian dari orang menganggap betapa pentingnya status yang ditulis di facebook, sebagian lagi menggunakannya sebagai tempat sampah, artinya sebagai tempat pembuangan uneg-uneg yang tidak pernah tersalurkan. sebagian lagi menggunakannya sebagai sarana pencitraan diri, baik karena kepentingan status sosialnya, atau peran yang harus dijalaninya. pencitraan diri. Pencitraan diri merupakan bayang-bayang identitas yang dibuat seseorang untuk menggambarkan presepsi yang diinginkannya didalam benak orang lain baik secara disadari ataupun tidak disadari.

Dari cerita di alenia yang pertama, saya hanya mencoba menggambarkan betapa identitas atau karakter seseorang dapat hilang dengan mudah, baik di dunia online ataupun didunia nyata sekalipun. Sebagai contoh, misalnya banyak teman-teman kita yang memanggil kita dengan julukan A, julukan B, atau kita sendiri yang memperkenalkan diri sebagai C atau D. konstruk yang secara sadar atau tidak kita sadari tersebut pula yang mungkin menjadi akar dari persoalan betapa mudahnya kita kehilangan atau menghilangkan identitas kita.

Seorang novelis yang tiba-tiba menjadi terkenal dan mendapat penghargaan nobel, karena berhasil mencitrakan dirinya sebagai satu-satunya penulis tergokil, tergila, karena tulisannya di dunia online yang berjudul kambing jantan, tulisan mengenai cerita dan curhat-curhatan kehidupannya, menjadikan dirinya seorang novelis yang sangat berbeda dari yang lainnya. Kesadaran Raditya Dika terhadap realitas membuat Radit melihat segala sesuatu yang dialaminya baik kesedihan atau pengalaman-pengalaman kecilnya mengenai cinta, berubah dan nampak menjadi hal yang konyol dan perlu ditertawakan.

Dalam terminologi antropologi, identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri.dalam hal ini identitas tentunya merupakan hal yang sangat penting. Namun dengan mudah seseorang dapat mengganti identitasnya, menciptakan realitas baru dan atau masih sedang sibuk mencari identitas yang pas untuk dirinya. Misalnya sistem media di negara kita yang mencitrakan diri mereka sebagai penyalur dan sarana apresiasi rakyat, atau pemerintah yang secara fisikli memakai sistem pers di Indonesia pembangunan, namun pada kenyataannya sistem pers indonesia merupakan alat konstruk, atau pusat informasi yang tunduk pada elit politik, pemiliki modal dan lain sebagainya.

Hal tersebut dapat kita lihat melalui banyaknya program televisi yang tidak sesuai dengan jam tayangnya, progam anak-anak yang seharusnya di tayangkan pada jam bermain anak, atau terlalu berlebihan dalam menaruh progam hiburan yang hanya berorientasi pada keinginan masyarakat guna mempertahankan retting misalnya, sinetron yang maaf bisa dibilang kurang mendidik, dan tidak menginspirasi masyarakat kita dalam mensyukuri hidup. Namun malah lebih menonjolkan sisi melankolis kehidupan dan mendramatisir kesedihan, tangisan, dengan setting keluarga menengah keatas, yang sama sekali berbeda dengan realitas masyarakat penikmat sinetron itu senddiri yang kebanyakan justru dari masyarakat kelas menengah kebawah.

Dari sana seharusnya kita sadar, bahwa baik media online yang sekarang sedang di gemari dan digandrungi semua orang khususnya anak-anak, ataupun media massa juga mencoba mengkonstruk diri, masyarakat serta generasi bangsa kita. Pada era sebelum 50-60an, menurut sebuah penelitian, ketika media belum masuk secara luas, sosok wanita cantik indonesia yang ideal di gambarkan sebagai sosok wanita yang berpinggul lebar, berkulit kuning langsat, dan berambut hitam pekat, dengan tubuh gemuk, subur dan lain sebagainya.

Kemudian pada era 85-an, ketika media mulai berkembang pesat dan luas, media mulai mengkonstruk dan merubah sosok perempuan cantik yang ideal, dengan membangun kesadaran baru khalayak khususnya perempuan dengan berbagai produk yang ditawarkan, namun justru dengan strategi inilah pemasaran produk-produk perempuan berkembang begitu pesat dan cepat, salah satu strategi tersbut adalah dengan menggantikan pandangan mengenai wanita cantik ideal, yang selama ini di kenal khalayak sebagai wanita gemuk dan subur, berkulit kuning langsat, dan selalu siap menjadi ibu menjadi sosok wanita yang bertubuh langsing, berpinggul sempit, berkulit putih, halus, dan lembut, tinggi, dan dengan rambut hitam yang lurus yang terkesan lebih keremajaan, dan muda.

Tidak selesai sampai disana, konstruk identitas, atau kesadaran realitas juga dibentuk terhadap anak-anak, misalnya dengan hadirnya boneka barbie, menggambarkan sosok wanita cantik adalah mereka yang berwajah munggil, berambut panjang, memiliki senyum menawan, dan bahkan terkadang panjang kakinya yang tidak masuk akal. Anak-anak dan adik-adik kita telah membangun pondasi dasar identitass mereka dimassa depan dengan apa yang mereka sukai dan idolakan di masa kanaknya.

Kita lihat saja perbedaan, pada era 95-an anak-anak cenderung bermain dengan permainan tradisional, seperti gobakan, slodoran, loncatan, dan lain sebagainya. Namun pada saat ini, anak-anak kerap kali lebih memilih asyik bermain sendiri di depan computer, iped, handpone dan berbagai sarana online lainnya. Atau selain sebagai penikmat teknologi, anak-anak juga telah di terpa badai dari media massa, televisi yang sedang marak-maraknya menayangkan boy-girl dan band girl. remaja kita saat ini lebih menyukai Gangnam style, dari pada budaya kita sendiri seperti keroncong dan lain sebagainya, atau mencintai boy –girl band dan hal itu menjadi fanatifitas yang parah. Kemudian pemerintah kita tidak mau tahu, atau tidak menganggap hal tersebut sebagai ancaman krisisnya nasionalisme pada generasi penerus bangsa ini, mungkin tidak bisa dibayangkan seperti apa karakter serta identitas bangsa kita tercinta ini 10 atau 15 tahun mendatang??.

Meskipun tidak semua media televisi, karena juga ada progam yang sekiranya masih mendukung pembangunan karakter Indonesia dengan mencari bakat-bakat anak bangsa, menerima hal-hal yang berbeda, unik dan patut untuk di kembangkan, seperti pada acara IMB (Indonesia mencari bakat) atau acara rangking satu dan lain sebagainya.

Apakah benar media dan teknologi komunikasi justru dapat mengurangi nilai dari komunikasi itu sendiri? Dan juga malah menghambat proses dari komunikasi itu sendiri?, misalnya ketika pada zaman sebelum hangphone, 3G, Fb, twett, dan media –media lainnya muncul. Kita masih sering mengutamakan untuk langsung bertemu, anak-anak kepada orang tua waktu hari raya, masih senang berkumpul sambil meminta amplop, mungkin sekarang sudah sangat berbeda, artinya anak-anak lebih senang menggunakan media dari pada bertemu langsung secara kekeluargaan.

Dari sini kita semua seharusnya mengerti bahwa peranan serta dampak media pada sekarang ini memang tidak dapat dihindari lagi, setiap hari kita selalu di jejalkan berbagai banyak informasi, dengan nuansa serta kepentingan yang berbeda-beda. Hampir semua isi media menyuguhkan realitas-realitas baru untuk kita. Pertanyaannya, siapakah yang menentukan realitas itu sendiri, media yang berbondong-bondong terus mengasah dan mengkonstruk kesadaran kita. Atau kita sendiri yang menentukan dan memilih kesadaran realitas kita kemudian media mengikutinya agar diminati.

Dari pada setiap hari kita selalu berbicara jauh-jauh, mengenai sistem pers dan konstruk media di luar sana, sebenarnya kita juga perlu untuk melihat dan menganalisa media yang ada di sekitar kita sebagai miniatur pembelajaran mengenai seberapa tinggikah kesadaran realitass yang kita miliki??, misalnya Lembaga Pers Mahasiswa fakultas Dakwah. Beberapa bulan lalu yang sempat membuat gempar fakultas dakwah dengan tema dan judul-judul yang ada pada terbitan mereka. Sebenarnya bukan secara framing saja perlu dan pentingnya kita melihat peristiwa tersebut. Kemudian menjustis banyak hal setelah menduga-duga siapa yang melatar belakanginya.

Namun sekiranya kita juga perlu melihat kenyataan secara obyektif, seperti bagaimana reaksi dosen-dosen, para petinggi akademik, serta mahasiswanya sendiri dalam menanggapi peristiwa tersebut. Misalkan, kalau misalnya reaksi dosen maaf, salah satu ada yang sedikit berlebihan, dengan marah dan mencari kemudian membicarakan permasalahan tersebut dengan salah satu mahasiswinya yang kebetulan aktif menjadi salah satu anggota LPM pada waktu jam perkuliahan. Atau sebagian banyak dari mahasiswa yang masih apatis terhadap issue di dalam kampus, dan menganggap segala bentuk aksi yang selalu mendapatkan reaksi kurang baik sebagai bentuk tindakan abmoral, dan anarkis. Atau sebaliknya kesadaran seperti apa yang diterima golongan mahasiswa yang selalu menjadi terdepan dalam peristiwa maaf, misalnya kurang sopan, atau tindakan yang melawan arus, namun dalam berbagai hal lain memiliki kesadaran yang kurang, seperti apatis terhadap perkembangan belajar mereka sendiri sebagai mahasiswa, dengan sering atau bahkan sudah masuk dalam kategori sengaja meninggalkan tujuan awal mereka untuk belajar dan menuntut ilmu di kampus tercinta ini.

Kesadaran-kesadaran realitas tersebut tentunya tidak akan terlepas dari segala hal yang melatarbelakangi. Ajaran dan kepercayaan, pendidikan dalam keluarga, pengalama-pengalaman sebagai individu dan banya k hal lain lagi. Karena semua itu sebenarnya selain media online, media massa, televisi, cetak, audio dan banyak lagi yang menjadi ancaman bagi manusia untuk kehilangan identitas yang sebenarnya, kesadaran realitas kita juga sebenarnya menjadi penyebab penting yang mungkin dapat menjadikan samarnya identitas kita.

Misalnya, kesadaran saya mengenai tuntutan atas peran dan status sosial saya serta pengalaman dan pendidikan yang melatar belakangi saya, kemudian pendidikan karakter yang pernah saya terima mulai dari lingkungan keluarga dan berbagai macam instansi pendidikan yang saya terima , baik formal maupun non formal. Pengaruh lingkungan sekitar, ataupun zaman dimana saya hidup, pandangan saya terhadap sebuah ajaran, agama atau ideologi, kemudian mungkin juga mitos dan kebudayaan lama yang masih saya percaya tentunya akan sangat mempengaruhi bagaimana kesadaran realitas yang nampak bagi saya.

Kita tidak bisa menghindar dari berbagai macam terpaan media, dengan kemampuan dan kessadaran akan realitas yang mungkin masih sangat terbatas, kita juga terkadang mungkin masih merasa kehilangan kesadaran realitas. Dalam beberapa abad lalu seseorang pernah mengimpikan sebuah keseimbangan sosial, tepat pada perang dunia kedua. Impian serta mimpi-mimpinya untuk menyadarkan buruh untuk bangkit dan melawan sistem kapitalism oleh kaum borjuis mengalami perjalanan yang begitu panjang. Keseimbangan, emansipasi, pengaruh media massa serta konstruk dan racunnya telah di pelajari, dianalisa, dan di teliti guna menyelesaikan dan menciptakan kesadaran realitas yang lebih indah, serta banyak lagi tokoh-tokoh besar yang mencoba melihat realitas dari sudut pandang mereka.

Manusia memang maklhuk yang sangat unik, selain mereka memiliki keingintahuan yang besar terhadap kenyataan dunia mereka, sebenarnya keinginan tersebut tak lebih besar dari keingintahuan mereka terhadap diri mereka sendiri. Kita tidak dapat menghindar, berlari, ataupun percaya begitu saja bahwa mimpi tuan Karl Mark telah gagal dan kandas beberapa ratusan tahun lalu. Kita masih berjuang, kita masih berdiri dan mencoba, paling tidak mengurangi ketidak adilan, mencari celah dimana adanya perbedaan untuk disatukan. Mungkin kurang tepat kalau dikatakan sebagai bentuk perlawanan, atau kita sedang melawan banyak ketidak adilan. Karena mungkin sebenarnya kita tidak pernah memiliki kesempatan untuk melawan, selain mencari celah dimana kita dapat mempotensikan ketidak adilan tersebut sebagai bentuk keadilan baru untuk terus mengurangi ketidak adilan dimana-mana.

Seperti dalam kajian media dan budaya, masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami krisis identitas, dimana seseorang dapat dengan mudah ingin mengidentifikasikan dirinya menjadi orang lain yang menurutnya lebih keren, lebih beken, dan sekalian lagi ngetrend. Terlebih lagi dikalangan remaja kita saat ini, kebanyakan dari kita tidak sadar akan dampak tersebut, tanpa terkecuali penulis sendiri sekalipun. Identitas diri atau karakter digunakan orang lain di luar diri kita untuk mengenali siapa kita, sekarang menjadi hal yang kurang perlu. Mindset tersebutlah yang mungkin menjadi awal betapa mudahnya ramaja bangsa kita saat ini merelakan identitas dirinya dan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang lain.

kita bisa melihat dengan dua kacamata ketika kita mengidentifikasikan diri kita sebagai Mario teguh, barang kali. sehingga secara tidak sadar kita akan belajar memotivasi diri atau mulai membuat fans club seperti bapak Mario. Atau kita memperkenalkan diri kita dengan nama atlit basket, atau olahragawan lain yang memiliki segudang prestasi, hal tersebut juga mungkin dapat mempengaruhi mindset kita untuk menjadi lebih baik dan lebih berprestasi.

Namun dilain sisi masih banyak diantara kita, mungkin termasuk penulis sendiri yang belum menyadari betapa pentingnya filter arus informasi, atau pentingnya kita menolak segala hal yang bukan diri kita. Baik media atau bentuk respond terhadap penolakan informasi media.
Post a Comment