Jurnal : Efektifitas Permainan Flashcard Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa R.A- B Hidayatullah Ii Mojokerto
Abstrak:
Media Kartu Kata Bergambar (Flashcard) Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan
pada TK B RA. Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojokerto.Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efektifitas media kartu kata bergambar (flashcard)
dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa TK B di RA.
Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojokerto. Subyek dalam penelitian ini adalah
siswa TK B RA. Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojokerto yang terdiri dari 2
kelas,masing-masing diambil 10 siswa, untuk kelompok control dan kelompok
eksperimen. Dengan menggunakan jenis penelitian eksperimen serta menggunakan
pendekatan kuantitatif yaitu suatu penelitian eksperimen yang mendekati bentuk
true eksperimen dimana tidak terdapat
control atau manipulasi yang relevan pada semua variabel, melainkan hanya pada
sebagian variabel, melainka hanya pada sebagian variabel. Serta menggunakan
desain pretest-posttes control group design yaitu kelompok eksperimen maupun
kelompok control tidak dipilih secara random .Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tes kemampuan membaca siswa dan observasi. Sehingga hasil
data analisis dengan menggunakan Uji 2 Related Sampels pada program SPSS 16.00
for windows. Dari analisis data dapat diperoleh probabilitas nilai dari Z hitung
adalah -2,687 pada taraf signifikansi (ά) 5% yang berarti Ho ditolak dan Ha
diterima.Dengan demikian, hipotesis statistic diatas yang menyatakan ada
perbedaan kemampuan membaca permulaan antara siswa control yang diberikan media
konvensional dan kelompok eksperimen yang diberikan media kata
bergambar,diterima. Hal ini terbukti dari 10 siswa kelompok control yang
dibandingkan, rata-rata terdapat 9 sampai dengan 10 (keseluruhan) siswa
kelompok control kemampuan membacanya lebih rendah dibanding kemampuan membaca
siswa kelompok eksperimen.Sehingga hipotesis penelitian yang menyatakan media
kartu kata bergambar efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa
terbukti kebenaranya. Hal ini dapat diketahui dari rata-rata siswa kelompok
eksperimen yang memiliki kemampuan membaca lebih tinggi dari dibandingkan
kemampuan membaca pada siswa kelompok control.
Kata kunci : Media Kartu Kata Bergambar (flashcard), Kemampuan Membaca
Permulaan, Siswa TK B
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam Sistem
Pendidikan Nasional adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun
yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan, untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan Anak Usia Dini dibagi ke
dalam tiga bentuk, yakni pendidikan formal, pendidikan non formal dan
pendidikan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang terstruktur
sebagai upaya pembinaan dan pengembangan
anak berusia empat tahun sampai enam tahun yang dilaksanakan melalui Taman
Kanak-kanak, Raudhatul Athfal, dan bentuk lain yang sederajat. PAUD jalur
pendidikan nonformal adalah pendidikan yang melaksanakan program pembelajaran
secara fleksibel sebagai upaya pembinaan dan pengembangan anak sejak lahir
sampai berusia enam tahun yang dilaksanakan melalui Taman Penitipan Anak,
Kelompok Bermain, dan bentuk lain yang sederajat. Sementara itu, PAUD jalur
pendidikan informal adalah upaya pembinaan dan pengembangan anak sejak lahir
sampai berusia enam tahun yang dilaksanakan dalam bentuk pendidikan keluarga
atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan (Suyanto, 2005). Taman
Kanak-kanak yang merupakan suatu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang berada
di jalur formal pada hakekatnya merupakan pendidikan yang dimulai sebelum
memasuki tingkat pendidikan berikutnya.
Taman Kanak-kanak biasa disebut pendidikan prasekolah
perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari keseluruhan sistem dan
pelaksana pendidikan. Jika pada tahap dasar ini anak telah dibekali dengan
bimbingan dan pengajaran yang tepat, maka tahap selanjutnya akan relatif mudah.
Akan tetapi apabila pada tahap ini anak tidak mendapatkan bekal yang memadai
maka kemungkinan akan timbul permasalahan pada tahap perkembangan selanjutnya.
Oleh karena itu, pendidikan di Taman Kanak-kanak harus dapat memberikan dasar
tentang berbagai aspek kehidupan yang akan dikembangkan si anak dimasa yang
akan datang (Suwarta, 1997). Siswa Taman Kanak-kanak rata-rata berusia 5-6
tahun. Pada usia ini,anak berada pada tahap praoperasional (Hurlock, 1999).
Anak mulai menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas. Ia mulai mengenali
beberapa simbol dan tanda termasuk bahasa dan gambar.
Penguasaan bahasa anak pada tahap ini sudah sistematis,
anak juga sudah mampu melakukan permainan simbolis, imitasi (baik langsung
maupun tertunda), serta mampu mengantisipasi keadaan yang akan terjadi pada
waktu yang akan mendatang. Namun, cara berpikir anak dalam tahap ini masih
bersifat egosentris atau terpusat dan anak belum mampu berpikir terbalik atau irreversibel
(Hurlock,1999).Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomer 27 tahun 1990
tentang Pendidikan Prasekolah Bab I pasal 1 ayat (1) dan (2), menyatakan
pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum
memasuki pendidikan dasar. Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk
pendidikan prasekolah yang disediakan bagi anak usia 4-6 tahun,dengan lama
pendidikan 1-2 tahun. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
nomor 0486/U/1992 tentang Taman Kanak-Kanak Bab II Pasal 3 ayat (1) dan (2)
menyebutkan bahwa pendidikan TK bertujuan membantu meletakkan dasar kearah
perkembangan sikap, perilaku,pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang
diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan
untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
Dalam membantu
meletakkan dasar ke arah perkembangan pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) disesuaikan dengan usia dan tingkat penalaran anak didik. Sementara
itu materi yang diajarkan di TK (Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak)
meliputi pendidikan moral, agama, disiplin, kemampuan berbahasa,daya pikir,
daya cipta, perasaan/emosi, ketrampilan, dan pendidikan jasmani (Patmonodewo,
2003).
Prinsip
Taman Kanak-Kanak adalah bermain, dimana bermain merupakan dunia anak dan bukan
hanya sekedar memberikan kesenangan, akan tetapi juga memiliki manfaat yang
sangat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa
menggunakan otot tubuhnya,menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia
sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya
sendiri.Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan
kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana,bermain
akan mengasah kecerdasannya. Metode sentra dan lingkaran merupakan salah satu
metode pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini yang mengedepankan konsep
bermain bagi anak, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya optimal (Martuti,
2008). Selama ini taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk
mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah
dasar. Kegiatan yang dilakukan di taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan
mempergunakan alat-alat bermain edukatif.
Pelajaran
membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman
kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun
dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B (Budiman, 2007) Dewasa ini tampak
kecenderungan pendidikan di TK menginginkan anak belajar hal-hal akademis
secepat mungkin dan sebanyak mungkin sebagai tuntutan orangtua modern yang
menginginkan anaknya lebih unggul dengan persiapan yang lebih dini. Biasanya
pelajaran akademis diajarkan dikelas satu SD, seperti menulis, membaca, dan
matematika, bahkan juga bahasa Inggris, sekarang sudah diberikan di TK walaupun
tidak dipersyaratkan dalam kurikulumnya (Rosalina, 2008).Berdasarkan pengamatan
Mulyadi (2005) di sejumlah TK, selain diajarkan bernyanyi dan keterampilan unuk
melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga mendapat pendidikan
mengenal huruf-huruf alphabet serta angka. Bahkan, anak-anak yang masih berusia
empat sampai lima tahun itu juga diharuskan berlatih menuliskannya dalam buku
tulis seperti halnya murid SD.
Hasil
penelitian Evi Hasyim menunjukkan bahwa penggunaan media kata bergambar dalam
upaya meningkatkan kualitas pembelajaran membaca permulaan pada kelas 1 sekolah
dasar tidak efektif. karena ditemukan bahwa siswa kelas 1 SD ternyata sudah
bisa membaca kata,bahkan sudah bisa membaca kalimat. Sehingga media kata
bergambar tidak layak diberikan pada siswa kelas 1, Hasyim (2008 vol,5:78-87).
Hasil penelitian Habibah (2003), dengan judul
“ Efektivitas metode hadap dengar dalam meningkatkan kemampuan membaca pada
anak SD kelas 1”. Pelatihan ini
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak- anak SD Kelas I.
Metode pelatihan hadap dengar ini berdasarkan teori Glen Doman. Peneliti
membuat alat pelatihan sendiri berupa potongan- potongan kertas karton yang
bertuliskan nama- nama benda yang sering dijumpai anak- anak baik dalam
lingkungan keluarga atau lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan
membandingkan kemampuan membaca antara subjek yang diberi perlakuan berupa
pelatihan metode hadap dengar dan subjek yang tidak mendapatkan perlakuan
tersebut. Hasil menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan metode hadap dengar
dalam meningkatkan kemampuan membaca.
Persoalan
membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena
tersendiri. Hal ini karena adanya pro dan kontra dalam mengajarkan membaca,
menulis, dan berhitung di TK. Tetapi, kini menjadi semakin hangat dibicarakan
para orang tua yang memiliki anak usia taman kanak-kanak (TK) karena mereka
khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di pendidikan selanjutnya
nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung (Maya,
2007).Kekhawatiran orang tua pun makin mencuat ketika anak-anaknya belum bisa
membaca menjelang masuk sekolah dasar.
Hal
itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar
calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”,
“tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya
sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas (Maya,
2007).Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan baca, tulis danhitung
(calistung). Selain melanggar ketentuan, hal itu juga dikhawatirkan akan
berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak bahkan termasuk dalam tindak
penganiayaan (abuse) (Mulyadi, 2005).Mulyadi (2005) mengungkapkan,
berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas) No 20 tahun 2003, TK masuk
dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan titik berat pembelajaran
moral, nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian. Semua nilai-nilai
tersebut ditanamkan melalui metode pembiasaan.UU tersebut tidak menyebutkan TK
sebagai sarana persiapan bagin anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan
pembelajaran huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam kurikulum TK.
Sehingga, pendidikan calistung dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap
aturan. Namun pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di sebagian besar TK.
Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan mayoritas SD yang mengharuskan
calon siswanya telah menguasai calistung (Mulyadi, 2005)Proses belajar menuju
kemampuan baca tulis pada anak TK sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan
formal, seperti layaknya anak-anak SD Karena hal ini dikhawatirkan akan membuat
anak merasa tertekan dan jenuh mengingat kemampuan anak untuk bisa
berkonsentrasi pada satu topik bahasan biasanya masih sangat terbatas dan secara
umum anak masih berada dalam dunia bermain. Apalagi bila dalam memberi
pelajaran tersebut dilakukan dengan kekerasan, misalnya disertai dengan
bentakan-bentakan,hinaan atau ejekan manakala anak belum mampu mengikuti
pelajaran baca tulis yang diberikan, maka bukan tidak mungkin anak akan tumbuh
menjadi anak rendah diri, yang justru hal ini akan menghambat perkembangan
kemampuannya secara optimal kelak kemudian hari (Adriana, 2003) Menurut Purbo
(2007), pendekatan bermain sambil belajar, merupakan cara terbaik menuju
kemampuan baca tulis pada anak TK. Guru dan orang tua hendaknya saling
bekerjasama untuk dapat memberikan cara belajar dan mengajar yang sesuai untuk
anak-anak TK mereka.
Orangtua atau guru perlu menyesuaikan cara mengajar
baca tulis sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap anak dan stimulasi yang
di berikan.Beragam stimulasi dapat diberikan kepada anak melalui
bermain.Bermain merupakan sarana belajar yang paling efektif untuk menumbuhkan
pola pikir kritis dan kreatif pada anak. Oleh karena, itu perlu dikembangkan
konsep “bermain sambil belajar”. Tugas orang tua atau pendidik adalah
menyediakan jenis permainan yang sesuai dengan usia anak. Agar perkembangan
anak optimal, diperlukan suatu alat permainan edukatif (APE) Saat ini sudah
tersedia berbagai APE yang dapat dengan mudah diperoleh dipasaran, dari yang
standar, seperti lilin, kertas warna, puzzle, dan balok kontruksi yang dapat
melatih keterampilan motorik halus, meningkatkan imajinasi, dan kreatifitas,
sampai dengan yang canggih, yakni game-game dalam komputer yang menuntut
keterampilan motorik, kecepatan,kecermatan, dan ketepatan tinggi (Oktariani,
2009).Salah satu sarana belajar yang disajikan dengan metode bermain adalah Education
flashcard. Education, flashcards
merupakan kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan
oleh Glenn Doman,seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia,
Pennsylvania.
Gambar-gambar pada flashcards
dikelompok-kelompokkan antara lain seri binatang,buah-buahan, pakaian, warna,
bentuk-bentuk angka, dan sebagainya Education flashcards tersebut
dimainkan dengan cara diperlihatkan kepada anak dan dibacakan secara cepat,
hanya dalam waktu 1 detik untuk masing-masing kartu. Tujuan dari metode itu
adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata,
sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan
ditingkatkan sejak usia dini.Education Flashcards ini merupakan
terobosan baru di bidang metode membaca dengan mendayagunakan kemampuan otak
kanan untuk mengingat (Doman, 1991).Menurut Doman (1991) flashcard dapat
diberikan kepada
anak sebagai sebuah
permainan mengenal huruf dan kata-kata. Gambar-gambar flashcard yang
menarik dengan warna-warni menyolok akan disukai anak-anak, sehingga para guru
dan orang tua bisa mengajak mereka bergembira,bermain dan belajar dalam cara
yang sederhana.
Penunjang keberhasilan dalam meningkatkan kemampuan
membaca permulaan dan upaya untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran yang
peneliti kembangkan untuk anak RA. Di Hidayatulloh II Mojokerto adalah dengan
cara mengenalkan huruf-huruf dan pengenalan pola ejaan dengan bunyi serta
membaca kata dengan lafal yang tepat dengan pengamatan terhadap media kartu
kata bergambar(flashcard) yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
Metode
Penelitian
Rancangan pada penelitian ini menggunakan
penelitian kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimen.
Disebut pra-eksperimen karena
penelitian ini mengandung beberapa ciri eksperimental, akan tetapi masih dalam
jumlah kecil sehingga belum memenuhi syarat dari penelitian eksperimen,
(Latipun, 2008:113).Dengan pertemuan 2x/seminggu atau 6x dalam sebulan. Hal ini
dikarenakan agar dalam proses pemberian treatment atau intervensi dan
pengambilan data posttest tidak muncul bias,yang berupa rasa bosan dan agresif
dari subyek penelitian.
Dalam hal ini yang dimanipulasi adalah variable bebas,yaitu
pemberian treatment berupa media kartu kata bergambar (Flashcard) dengan pola non
equivalent control group design. Menurut Sugiono (1999:78) desain
penelitian ini sama dengan pretest-posttes control group design, hanya
pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok control tidak dipilih
secara random. Dengan desain pretest-posttes control group design kedua
kelompok dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah (pretest-posttest).
Penelitian bertitik tolak pada group matching, dimana sebelum eksperimen
dilakukan terlebih dahulu diadakan matching antara nilai pretest kelompok
eksperimen dan kelompok control agar tercapai suatu keseimbangan.
Sehugungan dengan hasil suatu eksperimen,maka validitas penelitian
terdapat dua macam, yaitu (1) validitas yang berhubungan dengan efek yang
ditimbulkan atau validitas eksternal, dan (2) validitas yang berhubungan dengan
penerapan hasil eksperimen atau validitas eksternal, Latipun (2006:76).
Desain penelitian eksperimen ini menggunakan non equivalent
control group design. Dalam rancangan ini, pengelompokan anggota sampel
pada kelompok eksperimen dan kelompok control tidak dilakukan secara random
atau acak,sering disebut juga non randomized control group pretest
posttestdesign. Tetapi dilakukan terlebih dahulu diadakan matching antara
nialai pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok control agar
tercapai suatu keseimbangan.
|
Gambar : Rancangan Penelitian
Adapun
penjelasannya sebagai berikut :
1)
Memberikan O1
dan O3, yaitu pretest untuk mengukur skor awal kemampuan membaca
permulaan pada anak TK B di RA. Hidayatullah Gunung Gedangan Mojokerto sebelum pelaksanaan penggunaan
media kata bergambar.
2)
Melaksanakan
group matching untuk menyetarakan kondisi awal 2 kelompok dan menentukan
kelompok eksperimen dan kelompok control.
3)
Memberikan
treatmen (perlakuan atau intervensi) pada kelompok eksperimen yaitu dengan
melakukan penggunaan media kartu kata berganbar dalam jangka tertentu kepada
sekuruh anak yang dijadikan subyek penelitian.
4)
Memberikan O2
dan O4 yaitu post test antara kelompok eksperimen dan kelompok
control untuk mengukur skor kemampuan membaca permulaan pada anak TK B di RA.
Hidayatullah Mojokerto setelah menggunakan media kata bergambar.
5)
Membandingkan O2
dan O4 untuk menentukan seberapa besar perbedaan yang timbul antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Subyek
Penelitian
Subyek
penelitian merupakan faktor utama yang harus di tentukan sebelum kegiatan
penelitian dilakukan, adapun karakteristik populasi dalam penelitian ini adalah
siswa TK B RA. Hidayatullah II Gunung Gedangan
Mojokerto tahun ajaran 2011/2012. Alasan pemilihan sekolah karena
sekolah ini mudah dan bersedia untuk diajak kerja sama dalam pelaksanaan
penelitian eksperimen ini. Berdasarkan alasan tersebut sampel diambil melalui
pretest yakni TK B yang terdiri dari 2
kelas, masing-masing diambil 10 siswa, untuk kelompok kontrol yang
pembelajaranya menggunakan media konvensional dan kelompok eksperimen yang
pembelajaranya menggunakan media kata bergambar.
Pengujian
Hipotesis
Dalam penelitian ini, hipotesis berbunyi ada pengaruh kemampuan
membaca permulaan yang di peroleh dari hasil prestest tanggal 06 November 2012
dan posttest tanggal 26 November 2012 antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol akan dianalisis dengan menggunakan analisis Uji 2 Related Samples, melalui program SPSS 16.0. Menunjukkan nilai Zhitug
sebesar -2.680, karena (-2.680 > 1.96) maka hipotesis statistik yang
menyatakan terdapat perbedaan kemampuan membaca siswa antara siswa kelompok
kontrol yang di berikan pembelajaran media konvensional dengan siswa kelompok
eksperimen yang di berikan pembelajaran media kartu kata bergambar (flashcard) diterima.Data
yang diperoleh dalam penelitian, yaitu data kemampuan membaca permulaan siswa,
dapat pula dilakukan pengujian hipotesis dengan membandingkan taraf signifikasinya
(p-value) dengan galatnya. Berdasarkan data pada kolom Asymp. Sig (2-tailed)
sebesar 0,007, atau signifikasinya > 0.05 (0,007 > 0.05), maka hipotesis
statistik yang diajukan bahwa ada perbedaan kemampuan membaca siswa antara
siswa kelompok kontrol yang diberikan pembelajaran media konvensional dengan
siswa kelompok eksperimen yang di berikan pembelajaran media kartu kata
bergambar pada siswa TK B di RA Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojekerto, di
terima.
Kesimpulan
Berdasarkan data hipotesis statistik dengan hipotesis penelitian
yaitu media kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada
siswa RA B, atau media kata bergambar efektif dalam meningkatkan kemampuan
membaca permulaan siswa RA B Hidayatullah II Mojokerto, tebukti. Yaitu nilai
rata-rata hasil kemampuan membaca kelompok kontrol yang menggunakan media
konvensional mendapatkan nilai lebih rendah dari kelompok eksperimen yang
menggunakan media kata bergambar yaitu mendapat nilai lebih tinggi. Yaitu siswa
RA. B Hidayatullah II Mojokerto lebih semangat, tertarik dan dapat membaca
lancar dengan menggunakan media kartu kata bergambar (flash card).
Jadi dapat di simpulkan bahawa kemampuan membaca permulaan pada
siswa RA B Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojokerto antara kemampuan membaca
permulaan kelompok eksperimen yang pembelajarannya menggunakan media kata
bergambar lebih tinggi di bandingkan kemampuan membaca permulaan kelompok
kontrol yang pembelajarannya menggunakan media konvensional. Atau dengan kata
lain, media kata bergambar efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca
permulaan pada, siswa RA. B Hidayatullah II Gunung Gedangan Mojokerto.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dan pembahasan tentang
hasil penelitian ini maka dapat di kemukakan beberapa saran antara lain sebagai
berikut :
Bagi
Sekolah
Sekolah Taman Kanak-Kanak sebagai lembaga pendidikan, hendaknya
menyediakan banyak media pembelajaran pada setiap proses kegiatan belajar
mengajar, khususya media kata bergambar ini memberikan kesan nyata atau
sebenarnya, hal ini dapat memotivasi minat pada pelajaran serda dapat membantu
dalam mengembangkan kemampuan membaca permulaan pada anak TK/ RA.
Bagi Guru
Guru sebagai orang yang berperan dalam proses mengajar mampu
memandang dari hasil penelitian yang dapat di jadikan sebagai gambaran dalam
mengajar. Oleh karena itu seharusya seorang guru mampu untuk merubah sistem
lama atau penggunaan media pelajaran yang lama untuk mengembangkannya kearah
ide-ide yang kreatif dari seorang guru agar siswa termotivasi dalam, belajar
dan menimbulkan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Bagi Orang Tua
Orang tua sebagai motivator yang lebih dekat dengan anak. Oleh
sebab itu dengan adanya sikap aktif dari orang tua dalam memberikan halhal
yang mendukung proses belajar anak di rumah hendaknya menyediakan fasilitas
mengenai informasai baru dan memberikan bimbingan khususya dalam berbahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto, (2010). Media
Pembelajaran Peranannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuain Pembelajaran,
Yogyakarta: Gava Media.
Desmita, (2007). Psikologi
Perkembangan Peserta Didik (Panduan Bagi Orang Tua @ Guru Dalam Memahami
Psikologi Anak Usia SD, SMP dan SMA), Bandung: e R maja Rosdakarya.
Dewi Arum WMP, Luh Putu PM & Ni Luh Sukarningsih. Uji keunggulan atas peraga wayang abjad
kontekstual dalam pencapaian kemampuan baca tulis permulaan anak kelompok B TK
negeri singarja. Jornal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol. 1 No.
1. December 2007: 110-121.
Hasim, Evi. Penggunaan media
kata bergambar dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaranmembaca dan
menulis permulaan di kelas sekolah dasar. Jornal penelitian dan pendidikan,
Vol.5 2. Juli 2008, hal. 78-87.
Hadi, cholichul dkk, (2008). Psikologi
Eksperimen, Surabaya: Unit penelitian dan
publikasi Psikologi (Fakultas Psikologi Universitas Airlangga).
publikasi Psikologi (Fakultas Psikologi Universitas Airlangga).
Hamalik, Oemar, (1994). Media Pendidikan, Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Hermawan, ucep, (2011). Metode
pembelajaran bahasa arab. Bandung: PTremaja rosda karya.
Hurlock, Elizabeth B, (1980). Psikologi
Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta:
Erlangga.
Kartono, Kartini, (1994). Bimbingan
belajar di SMA dan Perguruan Tinggi, Jakarta: CV. Rajawali.
Limanto, Susanna. Peningkatan
minat dan kemampuan anak usia prasekolah untuk belajar membaca dan menulis
permulaan menggunakan computer aided lerning. 114 Gematika Jornal Manajemen
Informatika Vol. 9. Juni 2008.
Mar'at, Samsunuwiyati, (2~07). Psikologi perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mujito, (1994). Pembinaan Minat Membaca, Jakarta: Universitas Terbuka.
Muhid, Abdul, (2010). Analisis Statistik SPSS for Windows Cara Praktis
Melakukan Analisis Statistik, Surabaya: LEMLIT & Duta Aksara.
Melakukan Analisis Statistik, Surabaya: LEMLIT & Duta Aksara.
Noorlaila, Iva, (2010). Panduan
Lengkap Mengajar Paud, Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
Notoatmodjo, Soekidjo, (2010). Metodologi
penelitian kesehatan, Jakarta:PT Rineka Cipta.
Nurani & Bambang. (2010). Bermain
Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, Jakarta: Indeks.
Prasetyono, Sunar, dwi, (2008). Rahasia
mengajar Gemar membaca pada anak sejak dini, Jogjakarta: Think.
Patnomodewo, Soemiarti, (2008). Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta:
Rinika Cipta.
Rahim, Farida, (2088). Pengajaran
Membaca di Sekolah Dasar, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Riyanto Theo, dan Handoko Martin, Pendidikan Pada Usia Dini, Jakarta: PT Gransindo Anggota Ikapi.
Ruhaena, Lisnawati. Pengaruh
metode pembelajaran Jolly phonics terhadap kemampuan baca-tulis anak permulaan
bahasa Indonesia dan bahasa inggris pada anak prasekola jornal, penelitian
Humaniora, Vol. 9, N. 2, Agustus 2008:192-206.
Sadiman, Arif S, dkk, (1986). Media pendidikan pengertian pengembangan dan
pemanfaatan, Jakarta:CV Raja Wali.
Semiawan, Conny R, (2008). Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan
Sekolah Dasar, PT Indeks.
Sukartiningsih, Wahyu. Peningkatan
kualitas pembelajaran membaca dan menulis permulaan dikelas 1 sekolah dasar
melalui media kata bergambar. Jornal pendidikan dasar, vol.5, No, 1,
2004:51-60.
Sugiyono. (2003). Metode
Penelitian Bisnis, Bandung: ALFABETA
Tarigan, Guntur H, (2008). Membaca
Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pengembangan Bahasa,
(1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka
Comments