Hakikat Manusia Sebagai Pelaku Komunikasi

blogger templates

            Seperti diulas pada bab-bab terdahulu komunikasi itu adalah proses, suatu kegiatan yang berlangsung secara sinambung terus-menerus oleh para pelaku komunikasi.
            Komunikasi yang kita bahas adalah komunikasi manusia (Human Communication), komunikasi antara manusia dengan manusia, bukan komunikasi antara binatang dengan binatang (Animal Communication); juga bukan komunikasi antara manusia dengan binatang, juga bukan pula komunikasi manusia dengan Tuhan (Trancendental Communication).
            Seperti juga yang telah dipaparkan pada bab-bab terdahulu, proses komunikasi berlangsung secara psikologis pada diri komunikator dan komunikan dan secara mekanistis yang berlangsung antara komunikator dan komunikan, yaitu ketika komunikator mengirimkan pesannya dengan mulut- kalau lisan-atau tangan-kalau tulisan, dan sewaktu komunikan menerima pesan komunikasi dengan telinga-kalau lisan-atau dengan mata-kalau jika tulisan atau gambar.
            Peliknya komunikasi antar manusia, oleh karena secara sosiologis berlangsung secara horizontal atau vertical dengan pernbedaan status social ekonomi, tingkat pendidikan, agama, suku, bangsa, atau ras, dan lain sebagainya.
            Rumitnya komunikasi antar manusia, oleh karena secara teleologis komunikasi mengandung tujuan; yakni mengubah sikap, opini, perilaku, kepercayaan, agama. Oleh karena itu untuk memahami proses komunikasi secara mendalam kita perlu memahami manusia.
A.    Pelik-Pelik Manusia
Apakah manusia itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, tidaklah semudah keterangan yang dituangkan dalam sebuah kamus. Secara sederhana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain)”. Aristoteles mengatakan bahwa di alam ini ada tiga jenis makhluk dengan roh yang tarafnya bertingkat-tingkat. Yang paling rendah tarafnya adalah anima avegetativa atau roh vegetative yang dimilki tumbuh-tumbuhan. Jadi, tumbuhan hanya mempunyai roh vegetative dengan fungsinya terbatas pada makan, tumbuh menjadi besar dan berkembang biak. Yang lebih tinggi dari itu adalah anima sensitiva atau roh sensitive yang dimiliki oleh binatang sehingga binatang yang memiliki dua jenis anima, yakni anima vegetativa dan anima sensitiva itu, selain menjadi besar dan berkembang biak, juga mempunyai perasaan, naluri dan nafsu, sehingga mampu mengamati, bergerak dan bertindak. Dan yang paling tinggi adalah anima intelektiva atau roh intelek yang hanya dimiliki manusia. Jadi, manusia mempunyai tiga jenis anima atau roh. Karena memiliki roh yang lengkap itu, manusia menjadi besar, berkembang biak, bernafsu, bernaluri, bergerak, bertindak, juga berpikir, berkehendak.
Berbeda dengan makhluk-makhluk lain, manusia mempunyai kesadaran, sadar apa yang ia lakukan di masa silam ataupun masa datang. Manusia merupakan totalitas, kesatuan terpadu secara menyeluruh antara roh dan jasad, rohani dan jasmani, jiwa dan raga yang tidak mungkin dipisahkan. Apabila keduanya berpisah, dengan kata lain roh tidak bisa menyatu dengan jasad, maka manusia tidak bisa disebut manusia lagi, melainkan mayat yang lama kelamaan membusuk.
Roh harus dibedakan dari rohani atau jiwa. Roh atau dalam bahasa latinnya anima adalah sesuatu yang menyebabkan jasad hidup, tepatnya roh adalah penyebab hidup bukan penyebab kesadaran yang tampak pada seseorang di saat sedang tidur.
Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa pada waktu ia sadar, ada sesuatu yang berperan padanya, yang berperan adalah akunya, akunya itulah yang merasa senang, sedih, dan lain-lain. Tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Terbukti pada waktu ia tidur ia tidak melakukan apa-apa. Akunya itulah yang disebut dengan rohani. Dengan demikian, proses rohaniah “aku” menyebabkan kesadaran, menjadi sadar untuk berkehendak atau berbuat adalah proses kegiatan roh bersama panca indera.
Setiap indera dari setiap pancaindera mempunyai pusat masing-masing yang kesemuanya terdapat di otak dan memiliki perangsang masing-masing, yang dinamakan dengan adequatus. Lebih jelasnya, mata tidak dapat menangkap suara, oleh karena perangsangnya adalah cahaya, telinga tidak mampu mendengar cahaya, sebab perangsang telinga adalah suara, dan lain-lain (djunaedi: 1980, 17).
Jadi, seseorang sebagai manusia yang mempunyai anima intelektiva, yang akan melaksanakan kehendaknya setelah ia melihat atau mendengar sesuatu, ia akan meminjam anggota tubuh lainnya.
Itulah sikap dan prilaku yang merupakan objek penting dalam komunikasi. Sikap yang terdapat dalam diri manusia terdiri dari unsure kognisi yang berkaitan dengan pikiran, afeksi yang berkaitan dengan perasaan, dan konasi yang berkaitan dengan tekad atau itikad.
    
B.     Paham-Paham Mengenai Manusia
Prof.Dr. N.Drijarkara S.J. seorang pakar filsafat Indonesia dalam bukunya “Pertjikan Filsafat” yang mengupas masalah paham-paham mengenai manusia yang membahas tentang manusia sebagai pelaku komunikasi.
      Menurut Prof.Dr. N.Drijarkara S.J. dalam filsafat ada beberapa aliran atau paham mengenai manusia, antara lain paham materialisme, paham idealism, dan paham eksistensialisme.

1.      Paham Materialisme
            Paham materialism berpandangan bahwa manusia pada prinsipnya adalah materi, atau benda. Memang manusia ada kelebihannya dibandingkan dengan benda-benda lainnya, seperti kerbau atau batu, namun pada hakikatnya sama saja. Manusia adalah materi semata-mata, akibat dari proses unsure kimia.
2.      Paham Idealisme
Paham idealism adalah aliran yang bertentangan secara ekstrim dengan paham materialism. Idealisme berasal dari perkataan eidos, yang berarti pikiran. Manusia adalah manusia, karena ia berpikir, karena ia mempunyai idea, karena ia sadar akan dirinya. Manusia belum pernah pergi ke bulan tapi manusia mengerti tentang bulan. Terkenallah dalam aliran ini seorang yang bernama Descartes, yang terkenal pula prinsipnya: cogito ergo sum, yang berarti: aku berpikir maka aku ada.
Descartes memandang manusia sama saja dengan kesadarannya, dan kesadarannya tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan persentuhan dengan alam jasmani. Dalam kesadaran itu terdapat idea, tetapi idea itu tidak berasal dari kontak dengan dunia luar. Memang Descartes tidak memungkiri adanya realitas di luar kesadaran, tetapi memisahkan kesadaran dari dunia luar.
Menurut Descartes, manusia itu terdiri dari dua macam zat, yang berbeda secara hakiki, yaitu: Res cogitans, zat yang dapat berpikir, zat yang bebas, tidak terikat oleh hukum alam, bersifat rohaniyah. Res extenza, zat yang mempunyai luas, zat materi, tidak bebas, terikat dan dikuasai  oleh hukum alam.
Kedua zat itu berbeda dan terpisah kehidupannya. Kehidupan manusia berpokok pada  kesadarannya, pikirannya yang bebas. Jadi di situ terdapat dualisme antara jiwa dan raga.
3.      Paham Eksistensialisme
            Aliran eksistensialisme menentang kedua aliran terdahulu. Menurut kata asalnya: eks berarti keluar, sistensia berarti berdiri. Eksistensi berarti berdiri sebagai diri sendiri keluar dari diri sendiri.
            Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia, dan cara ini untuk manusia, bukan untuk benda lain. Sebab beradanya manusia di dunia berbeda dengan beradanya benda-benda lain di dunia.
Bagaimana reaksi paham eksistensialisme terhadap paham materialism?
            Aliran eksistensialisme menentang aliran materialisme yang berpendapat bahwa manusia hanyalah benda saja, yang ditentang oleh kaum eksistensialisme adalah pendapat kaum materialism tentang caranya manusia berada di dunia.
            Menurut ajaran eksistensialisme, manusia bukan saja berada di dunia, tetapi juga menghadapi dunia, menghadapi benda lain di dunia, dan ia mengerti pula apa itu hidup. Kesemuanya berarti bahwa manusia itu subjek. Subjek artinya sadar, sadar akan dirinya sendiri dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya.
            Menurut kaum eksistensialisme, kesalahan aliran materialisme ialah bahwa materialisme mendetotalisasikan manusia, memungkiri totalitas manusia, mengatakan bahwa manusia hanya materi, berarti memungkiri manusia sebagai kesseluruhan.
Bagaimana pula reaksi paham eksistensialisme terhadap paham idealisme?
            Jika materialisme memandang manusia sebagai materi saja, sesuatu yang ada tanpa menjadi subjek, maka idealisme menganggap manusia adalah sesuatu yang berpikir, dan pikiran ini merupakan suatu aspek, yang mana dilupakan oleh materialisme dan dilebih-lebihkan oleh idealisme, suatu aspek yang dianggap sebagai keseluruhan manusia.
            Menurut aliran eksistensialisme, kesalahan idealisme adalah bahwa idealism memandang manusia sebagai subjek, dan akhirnya sebagai kesadaran semata-mata, sebaliknya materialisme menganggap manusia sebagai objek.
            Jadi, menurut paham eksistensialisme, manusia bukanlah hanya objek sebagaimana pandangan ajaran materialism, tetapi juga bukan hanya subjek atau kesadaran. Seperti menjadi anggapan kaum idealism, manusia adalah eksistensi.
            Eksistensi bukan berarti “ada” atau “berada”, namun eksistensi dalam pengertian khusus manusia. Manusia yang dalam keberadaanya itu sadar akan dirinya sedang berada, berada di dunia dan menghadapi dunia, sebagai subjek yang menghadapi objek, bersatu dengan realitas sekitarnya.
            Jelaslah bahwa manusia bukan hanya materi saja, bukan hanya apa saja, tetapi juga siapa. Dan kesiapan inilah terpenting pada manusia. Manusia bukan hanya benda jasmani, tetapi perpaduan antara jasmani dan rohani yang tidak mungkin dipisahkan. Hanyalah manusia yang dapat berkata AKU dengan sadar. Itulah personal atau pribadi yang terdapat pada manusia, dan keperibadian ini berdasarkan kerohaniannya. Adapun personal itu terbina dalam kehidupan bersama dan dengan kehidupan bersama dengan orang lain. Bagi persona sudah menjadi kebutuhan pokok untuk mengadakan komunikasi dengan sesama manusia.
            Persona berkembang menuju kesempurnaan berdasarkan pengalaman berkomunikasi antara manusia. Dan ia selalu dalam perjalanan untuk menjadi persona yang sempurna, untuk berkomunikasi yang lebih sempurna.
              Berdasarkan hal tersebut di atas, itulah pentingnya penelaahan manusia sebagai faktor hakiki bagi komunikasi. Komunikasi sosial lebih bersifat rohaniah daripada jasmaniah. Message yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah “isi kesadaran” atau “gambaran dalam benak”, komunikasi akan berlangsung, kalau komunikan mengerti pesan tersebut. Jelas di situ terdapat kegiatan rohaniah komunikator dengan kegiatan rohaniah komunikan.

C.    Ethos Komunikator
            Sejak zaman yunani purba ketika komunikasi masih berkisar pada komunikasi lisan yang waktu itu dinamakan retorika ditekankan kepada para komunikator yang dalam retorika disebut orator atau rhetor agar mereka melengkapi diri dengan ethos, pathos, dan logos (Casmir, 1974: 19-20).
·         Ethos
Berarti “sumber kepercayaan” (Source Credibility) yang ditunjukkan oleh seorang orator bahwa ia memang pakar dalam bidangnya, sehingga oleh karena seorang ahli, maka ia dapat dipercaya.  
·         Pathos
Berarti “imbauan emosional” (emotional appeals) yang ditunjukkan oleh seorang rethor dengan menampilkan gaya dan bahasanya yang membangkitkan kegairahan dengan semangat yang berkobar-kobar pada khalayak.
·         Logos
Mengandung arti “imbauan logis” (logical appeals) yang ditunjukkan oleh seorang orator bahwa uraiannya masuk akal sehingga patut diikuti dan dilaksanakan oleh khalayak.
Walaupun pegangan para orator zaman yunani purba itu sudah ratusan tahun sebelum masehi usianya, namun zaman sekarang, pada waktu komunikasi tidak lisan semata-mata, tetapi sudah berkembang dengan menggunakan media massa modern yang sanggup menjangkau khalayak yang sebanyak penduduk dunia dan jauhnya melewati batas Negara, para komunikator ini dianjurkan untuk memperhatikannya. Terutama ethos mutlak harus dimiliki oleh setiap komunikator, oleh karena apabila seorang komunikator tidak memiliki ethos, setiap komunikasi yang ia lakukan besar kemungkinan akan menimbulkan efek boomerang, yang menyebabkan ia kehilangan kepercayaan, kehormatan dan wibawa.
            Menurut paparan Austin J. Freeley dalam bukunya “Argumentations and debate” komponen ethos dan faktor pendukungnya, antara lain:
1.    Komponen-komponen Ethos, adalah:
¾    Competence (kemampuan atau kewenangan)
¾    Integrity (integritas atau kejujuran)
¾    Good will (tenggang rasa)
            Komunikan akan menentukan apakah mereka percaya bahwa komunikator memiliki kualitas tersebut. Tugas komunikator adalah membimbing komunikan untuk percaya,bahwa ia adalah orang mempunyai kemampuan dalam subjek yang ditanganinya, bahwa ia mempunyai integritas, dan bahwa ia mempunyai good will terhadap komunikan.
            Komunikator menampilkan ethosnya kepada komunikan dengan jalan melakukan pilihan. Sebagai tahap pertama dalam pembinaan ethosnya, komunikator harus berusaha untuk mengembangkan komponen tersebut di dalam dirinya sendiri. Tetapi ini hanya suatu tahap pertama, karena kualitas yang benar-benar dikehendaki tak dapat mempengaruhi situasi komunikasi, kecuali kalau komunikator mengadakan pilihan untuk ditimbulkan kepada komunikan.

2.    Factor-faktor pendukung ethos
            Penentuan komunikan terhadap ethos komunikator tidak didasarkan atas sebuah faktor, melainkan tumpuan pada berbagai faktor. Factor-faktor ini secara bersama-sama mempengaruhi keputusan komunikan mengenai competence, integrity dan good will komunikator.
            Dalam hal yang berhhubungan dengan setiap factor komunikator harus mengadakan pilihan. Sukses komunikator akan ditentukan oleh kemampuan dalam mengadakan pilihan yang akan meningkatkan ethosnya di mata komunikan.
·         Persiapan (preparations)
            Adalah mutlak. Meskipun demikian, hanya persiapan saja tidaklah sempurna; ia harus memperlihatkan kepada komunikan bahwa ia telah melakukan persiapan. Ia harus mengajukan argumennya sehingga jelas bagi komunikan bahwa ia telah memilih bahannya denga teliti. Komunikator harus menunjukkan kepercayaan mengenai persiapan ini bukan saja sewaktu ia berbicara, tetapi juga dalam tingkah lakunya, sebelum dan sesudah ia berbicara.
·         Kesungguhan (seriusness)
            Komunikator yang sungguh-sungguh akan menimbulkan kepercayaan oleh komunikan, seorang komunikator harus menangani audiensnya dengan kesungguhan yang memadai.
·         Ketulusan (sincerity)
            Seorang komunikator harus membawakan kesan kepada audiens bahwa ia orang yang tulus hatinya dalam pikiran dan perbuatan. Seorang komunikator yang mahir bisa menstimuluskan faktor ethos, jadi menciptakan kesan palsu dalam pikiran audiens.  
·         Kepercayaan (confidence)
            Seorang komunikator harus senantiasa memancarkan kepastian, harus muncul dengan penguasaan diri dan situasi secara sempurna. Tetapi meskipun ia harus mempunyai kepercayaan, ia tidak boleh menyombongkan diri.
·         Ketenangan (poise)
            Audiens akan lebih mempercayai pembicara yang tenang, yang santai dalam pidatonya, tenang dalam segala situasi.
·         Keramahan (friendship)
            Komunikator harus menunjukkan dirinya sebagai seorang sahabat, oleh karena lebih mudah mempercayai teman daripada orang yang tidak kita kenal.
·         Kesederhanaan (moderation)
            Pada umumnya komunikan mudah percaya pada orang yang sederhana dalam pernyataannya masuk akal. Gerak-geriknya harus sederhana, ia harus menghindarkan tingkah laku deklamatoris.
Pada kenyataannya, sesuai dengan pengertian retorika, yaitu bukan hanya berpidato di hadapan audiens yang besar jumlahnya, tetapi juga mengandung pengertian berkomunikasi dengan cara lain.

D.    Komunikator Humanistik
            Adalah diri seseorang yang unik dan otonom, dengan proses mental mencari informasi secara aktif, yang sadar akan dirinya dan keterlibatannya dengan masyarakat, memiliki kebebasan memilih, dan bertanggung jawab terhadap perilaku yang diakibatkan.
            Teori humanistic yang mendapat perhatian para pakar komunikasi, sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama, yakni sejak aristoteles, mengembangkan teori komunikasi dan persuasi yang waktu itu dikenal dengan retorika (littlejohn. 1978: 159).
            Bordon Stone dalam bukunya “Human Communications, the process of relating” menyajikan 3 pandangan tentang sifat manusia mengenai teori humanistic.
Ø  Perbandingan tiga pandangan sifat manusia
1.      Asumsi Behavioristik
            Model sifat dasar manusia dengan pendekatan behavioristik ini berasal dari beberapa pakar psikologi, terutama John Watson, Clark Hull dan B.F. Skinner, tujuan mereka adalah untuk mengembangkan teori prilaku mnausia yang sederhana dan berdiri sendiri. Dalil yang muncul adalah stimulus response, apabila kita dapat mengendalikan stimulus dan response, maka kita dapat mengetahui prilaku normative seseorang, oleh karena itu, perilaku akan dapat diprediksi pada saat stimulus terjadi.
            Ada tiga asumsi pokok mengenai sifat dasar manusia :
¾    Asumsi yang menyatakan bahwa prilaku dipelajari dengan membentuk asosiasi yang dapat disebut sebagai kebiasaan, refleksi atau hubungan antara response dengan peneguhan hal-hal yang memungkinkan dalam lingkungan. Asosiasi ini dianggap akumulatif, yakni suatu perubahan besar dalam perilaku dapat disempurnakan melalui realisasi dari berbagai perubahan kecil.
¾    Asumsi yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya bersifat hedonistic, berupaya mencari kesenangan dan menghindari kesulitan.
¾    Asumsi yang meyatakan bahwa perilaku pada dasarnya ditentukan oleh lingkungan. Oleh karena itu, perilaku merupakan fungsi asosiasi antara tindakan dengan peneguhan yang berasal dari lingkungan. “Perkembangan seseorang dipengaruhi oleh lingkungan”.

2.      Asumsi psikoanalitik
            Berbeda dengan pendekatan behavioristik, pendekatan ini hanya dilakukan oleh seorang psikolog, yakni sigmund freud. Model psikoanalisis merupakan model yang bersifat internal yang sangat berbeda dengan kaum behaviorist. Freud membatasi dua dorongan dasar, yakni seks dan agresi. Kekuatan dorongan seksual yang disebut libido sangat berperan dalam pemikiran freud mengenai sifat dasar manusia.
            Mengenai agresi, sumbernya adalah kekecewaan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan memecahkan masalah internal dan eksternal. Model sifat dasar manusia yang dikemukakan oleh freud merupakan model psikodinamik dengan 3 bagian (id, ego, superego) bekerja pada semua tingkat kesadaran (di bawah sadar, menjelang sadar dan sadar), berada di bawah 2 prinsip prilaku (kesenangan dan realita), dan didorong oleh 2 kebutuhan primer (seks dan agresi).
            Menurut kaum psikoanalisis prilaku seseorang diakibatkan oleh konflik antara pemuasan dorongan dasar (seks dan agresi) dengan norma-norma masyarakat. Dengan demikian, hidup dipandang sebagai perjuangan untuk menyelaraskan keinginan dengan perilaku yang diterima oleh masyarakat. Ini mengakibatkan penekanan kekuatan-kekuatan seksual dan agresi atau sublimasinya menjadi perilaku yang dapat lebih diterima oleh masyarakat.
           
3.      Asumsi Hhumanistik
            Bapak aliran ini adalah Abraham Maslow. Humanisme yang muncul di zaman Renaissance berperan untuk membebaskan pikiran manusia dari beban yang diletakkan pihak gereja pada waktu itu (antara abad 14 dan 17). Dengan kebebasan ini timbul upaya-upaya untuk memperoleh pengetahuan melalui perilaku aneh atau di luar kebiasaan. Konsep utama yang disumbangkan humanisme terhadap Renaissance adalah konsep mengenai martabat dan kebebasan serta kemampuan untuk mengetahui dan mengekspresikan perasaan, pikiran dan pengalaman.
            Kaum eksistensialis melengkapi psikologi humanistik dengan hal-hal pokok tentang manusia, termasuk fokusnya terhadap perkembangannya pribadi. Jadi, perhatiannya terhadap individualitas dan peranan etika dalam pengambilan keputusan. Penekanannya adalah pada ketidak adaan arti, yaitu suatu peristiwa hanya berarti apabila seseorang terlibat di dalamnya.

Ø  Ciri-ciri Komunikator Humanistik
            Berikut ini adalah cirri-ciri komunikator humanistik, sebagai berikut:
1.      Berpribadi
Aspek yang paling penting adalah pandangan sebagai diri seseorang (person), diri seseorang akan mempunyai nama, dan segera kita mulai dengan menemukan kedirian (personal). Kita masing-masing mempunyai kepribadian (personality) dan penampilan yang tidak mungkin sama dengan orang lain di dunia ini.
2.      unik  
            Diri seseorang sebagai manusia yang berpribadi adalah unik, lain dari pada yang lain, khas dan keunikan itu merupakan cirri yang paling bernilai. Kita dapat berkomunikasi dalam banyak cara yang sama dengan orang lain, tetapi ini bukan alasan untuk menggeneralisasikan objek yang normatif.
3.      Aktif
            Yang melekat pada proses mental adalah aktivitas. Secara esensial dapat dikatakan bahwa kita tidak semata-mata penanggap rangsangan internal dan eksternal, melainkan sebagai system yang aktif dan berkesinambungan menanggapi dan menciptakan perangsang yang cocok untuk kita. Sebagai system yang aktif kita mencari informasi atau menggalakkan komunikasi.
4.      Sadar diri dan keterlibatan sosial
            Kesadaran membantu kita menimbulkan kesadaran bahwa dalam setiap situasi komunikasi kita dihadapkan pada pilihan-pilihan terhadap apa yang harus kita lakukan. Kita dapat menetukan tujuan kita untuk melaksanakan kesadaran humanistic kita.
            Pada akhirnya ini menuntut rasa tanggung jawab. Dengan demikian, ini membantu pemahaman kita mengenai masing-masing sebagai “person” bukan sebagai objek yang ditarik oleh lingkungan atau didorong oleh desakan yang tidak tampak. Manusia dipandang otonom dalam kemampuannya melakukan pilihan dan mempertanggungjawabkan perilakunya.

Daftar Pustaka
  • Cangara, Hafied, 1998, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Effendy., Onong Uchjana, 2000, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,  Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
  • Effendy, Onong Uchyana. 1994. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Littlejohn, Stephen W., 1983, Theories of Human Communication, Columbus –Ohio, Charles E. Merrill  Publishing Company, p. 381-382.
  • Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi, 1984, Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES.
  • Vardiansyah, Dani, 2008, filsafat komunikasi suatu pengantar, Jakarta: PT. Indeks.
  • Zamroni, Mohammad, 2009, Filsafat Komunikasi, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Post a Comment