Citra Diri Manusia

blogger templates
Citra manusia dalam kajiannya menduduki ranking tertinggi dari beberapa kajian yang ada karena obyeknya yang unik, kajian itu dapat menghasilkan berbagai persepsi dan konsepsi yang berbeda.

Kehidupan dinamis dan secara kualitatif berevolusi untuk mencapai kesempurnaan. Karena itulah maka kajian tentang manusia, tanpa mengenal perbedaan zaman, selalu relevan dan tidak akan pernah mengalami kadaluarsa.

Kondisi citra manusia secara potensial tidak dapat berubah, sebab jka berubah maka eksetensinya manusia menjadi hilang. Namun secara aktual, citra itu dapat berybah sesuai dengan kehendak dan pilihan manusia.

A. Citra Manusia menurut al-Qur’an

1. Manusia sebagai Khalifah

QS. al-Baqarah: 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

a. Penjelasan Kosa Kata

خليفة (khalifah). Kata khalifah (خليفة) pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendaknya dan menerapkan ketetapan-ketetapanya, tetapi bulan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan. Tidak! Melainkan Allah bermaksud untuk menguji manusia dan memberinya penghormatan.[1]

Selain itu kata kerja خليفة (khalifah) diambil dari kata خلف (khalaf) yang berarti “mengganti dan melanjutkan”. Maksudnya, khalifah adalah person yang menggantikan person lain. Ini menjelaskan bagaimana kepemimpinan dalam rumusan Islam diberi titel “khalifah”.[2]

Selain itu dalam ayat di atas terdapat kata ملائكة (malaikah). Dalam bahasa Arab kata ملائكة adalah jamak dari kata ملك (malak), yang terambil dari kata (ألك) alaka atau ma’kkah yang berarti “mengutus”. Malaikat adalah “utusan-utusan Tuhan untuk berbagai tugas”. Yang berarti menyampaikan sesuatu. Malaikat adalah makhluk yang menyampaikan sesuai dari Allah.

Banyak ulama berpendapat bahwa malaikat dari segi pengertian dalam bahasa agama adalah “makhluk halus yang diciptakan Allah dari cahaya yang dapat berbentuk dengan aneka bentuk, dan taat mematuhi perintah Allah dan sedikitpun tak pernah membangkang.[3]

Ayat di atas ini bercerita tentang penyampaian keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia di bumi. Penyampaian kepada penting, karena malaikat akan dibebani sekian tugas menyangkut manusia. penyampaian itu juga kelak diketahui manusia, akan mengantarnya bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya yang tersimpul dalam dialog Allah dengan malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di dunia”, demikian penyampaian Allah SWT.

Mendengar rencana tersebut para malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut. Mereka menduga bahwa khalifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin didasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau berdasar asumsi bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat. Dan setelah malaikat bertanya-tanya “mengapa demikian?”, maka Allah menjawab dengan singkat tanpa membenarkan dan menyalahkan. Allah menjawab “Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[4]

Kita sebagai manusia, yang mana makhluk yang dipandang dan dimuliakan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik di antara makhluk-makhluk yang lain. Sebagaimana firman-Nya QS. al-Isra’ ayat 70:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

Artinya: “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Yang dimaksud citra di sini adalah gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi yang merupakan Sunnatullah yang dibawa sejak ia dilahirkan.

Manusia sebagai khalifah di bumi telah dibekali berbagai potensi, diantaranya:

a. Manusia mempunyai kapasitas intelegensi yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.

b. Manusia dikaruniai pembawaan yang mulai dan martabat.

c. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan, dan lain-lain.

Dengan mengembangkan potensi tersebut diharapkan manusia mampu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.

2. Citra Berketuhanan/Bertauhid

QS. al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Ayat di atas menceritakan bahwa Allah SWT. telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian ata diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan pemilik mereka, dan tidak ada Tuhan selain Dia.[5]

Dari sini tampak jelas bahwa dalam diri manusia terdapat kesiapan alamiah untuk mengenal Allah dan mengesankan-Nya. Jadi pengakuan terhadap kedudukan Allah, sebagai Tuhan tertanam kuat dalam fitrahnya dan telah ada dalam relung jiwanya sejak taman azali. Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ على الفِطْرَةِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci)”.[6]

Namun sejalan dengan adanya pengaruh ruh dengan tubuh, kesibukan manusia dengan berbagai tuntutan tubuhnya dan kehidupannya di dunia ini untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya telah membuat pengetahuannya akan kedudukan Allah sebagai tuan dan keluapan serta tersembunyi dalam alam bawah sadarnya. Di samping itu, agar fitrah manusia itu teruji kehandalannya, maka dalam diri manusia juga dilengkapi dengan nafsu, godaan yang berlawanan arus dengan fitrah manusia, tetapi manusia juga dibekali oleh Allah dengan berbagai potensi positif untuk dapat mencapai kebahagiaan yang sejati.

3. Citra Kesucian/Baik/Lurus

QS. al-Ruum ayat: 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”

a. Penjelasan Kosa Kata

Kata (فا قم و جهك) Fa aqim wajahaka “hadapkanlah wajahmu” yang dimaksud disini adalah perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan ipaya menghadapkan diri kepada Allah, secara sempurna. Dari perintah di atas tersirat juga perintah untuk tidak menghiraukan gangguan kaum musyrikin , yang ketika turunnya ayat ini di Mekkah, masih cukup banyak makna yang tersirat dalam ayat itu adalah apabila seorang yang diperitahkan mengadap wajah ke arah tertentu, pada hakikatnya di minta untuk tidak menoleh kekiri atau kekanan.[7]

Kata (حنىفا) Hanifan yang artinya lurus atau cendrung kepada sesuatu. Pada mulanya kata ini di gunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya kearah telapak pasangannya, yang kanan cendrung ke arah kiri dan begitu sebaliknya. Dengan itu manusia dapat berjalan dengan lurus, sehingga kau jalan tidak condong ke kiri maupun ke kanan.

Kata fitnah (فطرة) yang terambil dari kota fathara yang berarti mencipta. Dan patron kata yang digunakan ayat ini menunjukan kepada keadaan atau kodisi penciptaan itu, sebagaimana di isyaratkan juga oleh lanjutan ayat ini yang menyatakan “yang telah menciptakan manusia atasnya”.[8]

Berbeda-beda pendapat ulama’ tentang maksud kata fitrah pada ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa fitrah yang di maksud adalah keyakinan tentang keesaan Allah SWT yang di tanamkan Allah dalam diri setiap insan.

Al-Biqa’I tidak membatasi arti fitrah pada keyakinan tentang keesaan Allah SWT. Menurutnya yang dimaksud dengan fitrah adalah pertama dan tabiat awal yang Allah ciptakan manusia atas dasarnya.[9]

b. Penjelasan tafsir

Ayat tersebut menujukan bahwa manusia di ciptakan oleh Allah SWT menurut fitrahnya, fitrah ini menujukan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan, sebab jika berubah maka eksistensinya mnausia menjadi hilang.[10] Namun secara actual, citra itu dapat berubah dengan kehendak dan pilihan manusi sendiri.

Fitrah dan citra manusia adalah sebuah implikasi psikologis, karena manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang cendrung menganut agam yang lurus dan dengan fitrahnya itu manusia dapat membedakan antara iman dan kafir karena wujud terdapat dalam ghaib yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apapun.

Menurut Al-ghazali, fitrah sebagai dasar manusia yang diperolehnya sejak lahir memiliki keistimiwaan, diantaranya;

1. Beriman kepada Allah

2. Kemampuan dan kesediaan untuk menerima pendidikan dan pengajaran

3. Dorongan untuk ingin tahu mencari hakikat kebenaran yang berupa daya untuk berfikir.

4. Dorongan biologis yang berupa sahwat, ghodab dan insting.

5. Kekuatan-kekuatan yang lain dan sifat-sifat yang dapat di kembangkan dan disempurnakan.[11]



4. Citra Beragama

QS. Ali-Imran, ayat: 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ .

Artinya:”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(QS.Ali-Imran: 79)

a. Penjelasan Kosa Kata
Kata tsuma, yang artinya “kemudiaan” yang diletakan antara uraian tentang anugrah-anugrah (Allah) dan bahwa mereka menyuruh menyembah manusia, bukan berarti adanya jarak waktu tetapi mengisaratkan betapa jauh ucapan demikian dari sifat-sifat mereka dan betapa ucapan tersebut tidak masuk akal.[12]

Kata Tadrusun digunakan untuk menggunakan arti sesuatu guna di ambil manfaatnya. Dalam konteks teks baik suci ataupun selain kata tersebut membahas, mendiskusikan teks untuk menarik informasi dan pesan-pesan yang dikandungnya.[13]

b. Penjelasan Tafsir

Ayat tersebut memberitahukan bahwa tidak patut bagi seseorang yang telah diberinya oleh allah Al-kitab, hikmah dan kenabian lalu meminta-minta oaring menyembahnya tanpa allah atau menyembahnya bersama-sama dengan allah. Hal yang demikian itu tidak patut bagi seorang nabi atau rasul. Sebab, orang yang dianugerahi oleh allah akan hal tersebutt, hanya mengajak ummat manusia agar mengetahuinya dan agar menganjurkan agar mengetahui syariat-syariat agama-Nya dan beribadah kepada-Nya.

Kita sebagai, manusia yang mana kebutuhan manusia tidak hanya bersifat material saja, tapi pada diri manusia juga terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal. Kebutuhan dan keinginan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, yang berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai tuhan dan mengabdikan dirinya pada tuhan yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan keinginan tersebut terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia dari yang paling primitive sampai yang paling modern[14].

Dalam penelitian Wilhem schemidt menyimpulkan bahwa asal-usul kepercayaan (agama) masyarakat primitive adalah monotheisme, ini bukan berasal dari evolusi tetap dari tuhan.

Hasil penelitian Wilhem schemidt ini membuktikan atau sebagai bukti ilmiah yang memperkuat kebenaran akidah islam.

5. Citra Amanah

Q S. Al-Ahzab, ayat: 72

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا.

Artinya:“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh: (QS. Al-Ahzab: 72)

a. Penjelasan kosa kota

Kata (عرضن) ’aradhna terambil dari kata (عرض) ’aradha yakni memaparkan sesuatu kepada pihak lain agar dia memilih untuk menerima atau menolaknya.[15]

Kata (أمانةأأاىىىىىىتالليسtttgggggggggggggdddaaa hhhh) amanah, banyak pendapat yang mengemkakan tentang arti dari kata amanah, menurut oakar bahasa, Ibrahim mustofa menjelaskan bahwa amanah mengandung arti ”pelunasan” dan ”titipan”[16].

Ibnu asyur, memahami kata amanah pada ayat ini dalam arti hakiki yakni oarang yang diserahkan kepada seseorang untuk dipelihara dan diturunkan sebaik mungkin, sehingga menghindari penyiaannyabaik secara sengaja maupun karena alpa maupun lupa yang sengaja menyiakan itulah yang ditunjuk oleh ayat di atas dengan kata dzaluman, sedang yang lengah dan alpa dengan kata jahulan.[17]



b. Penjelasan Tafsir

Ayat diatas mengemukakan satu iliustrusi tentang tawaran yang diberikan Allah kepada yang disebut ayat ini. Tentu saja siapa di tawari itu di nilai oleh orang yang menawarkannya memiliki potensi untuk melaksanakannya. Ulama menambahkan bahwa tawaran Allah terhadap langit, bumi, dan gunung-gunung. Sebelum ditawarkan kepada manusia (Adam as) dan informasinya bahwa mereka menolak dan penolakan ini menggambarkan bahwa betapa berat amanat itu, bukannya menggambarkan betapa kecil dan remeh ciptaan Allah. Akan tetapi manusia siap untuk menerima dan memelihara amanat itu dengan baik.[18]

Fakhru rozi di dalam tafsir al-kabir mengemukakan bahwa kata ”al-amanah” di sini bermakna ”al-taklif” → pembenaran, karena orang yang tidak sanggup memenuhinya berarti membuat utang atas dirinya dan melaksanakannya akan memperoleh kemuliaannya.

Ikfhwa shafa menjelaskan dari ayat tersebut ta’wil batiniy. Menurutnya, penerimaan ruh terhadap amanah di alam perjanjian itu terbagi ada dua kategori, yaitu: pertama ruh yang tahu dan arti hakekatnya, kedua ruh yang bodoh (jahl).

B. Citra manusia dalam psikologi

Konsep fitrah sebagai mana yang tergambar pada uraian di atas menujukan citra unik manusia, yang mana citra tersebut menjadi landasan bagi konstruksi psikologi islam. Adapun citra manusia dalam psikologi islam dapat disederhanakan sebagai berikut:[19]



1. Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid, ikhlas, mampu memikul amanah Allah swt. Untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Citra baik tersebut pada mulanya di sangsikan oleh malaikat dan iblis, namun setelah Allah SWT meyakinkannya maka malaikat percaya pada kemampuan manusia, sementara iblis dengan kesombongannya tetap mengikarinya.

2. Selain jasad, manusia memiliki ruh yang berasal dari tuhan yang mana menjadi esensi pada manusia. Yang mana kebutuhan ruh yang utama adalah agama, yang teraktualisasi dalam bentuk ibadah, karena itu motivasi hidup hanyalah ibadah (dalam arti luas) kepada Allah SWT.



3. Bahwa pusat tingkah laku manusia adalah kalbu, bukan otak atau jasad manusia; manusia memperoleh pengetahuan tanpa diusahakan, seperti pengetahuan intuitif dalam bentuk wahyu dan ilham; serta tingkat kepribadian manusia tidak hanya sampai pada humanitas atau sosialitas, tetapi sampai pada berketuhanan.


PENUTUP

Dari penjelasan yang dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam diri manusia terdapat beberapa citra, yang mana yang dimaksut citra disini adalah gambaran dari diri manusia yang berhubungan kualitas-kualitas asli manusia yang merupakan sunnaullah yanmg di bawa sejak dia di lahirkan.

1. Citra manusia yang dilahirakan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-islam, bertauhid, ikhas. Untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 30. Dalam ayat tersebut terdapat kata (خليفة) khalifah diambil dari kata (خلف) khalafa yang berarti ”mengganti dan melanjutakan”. Dimana kata khalifah disini dalam arti menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetaan-ketetapan-Nya ada pula yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.

2. Citra Bertauhid, yaitu manusia mencari potensi lain untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Potensi yang dimaksud yaitu kembali kepada Allah atau kebenaran hakiki.

3. Citra Kesucian/Lurus (Fitri), sebagaimana dalam surat Ar-Rum ayat 30. Bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT. men urut fitrahnya. Fitrah ini merupakan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan. Dalam surat Ar-Rum ayat 30 ini terdapat kata (فطرة) fitrah yang terambil dari kata (فطر) fathara yang berarti mencipta. Kata tersebut dapat dipahami dalam arti asal kejadian atau bawaan sejak lahir.

4. Citra rasa beragama/Ketuhanan, yaitu bahwa tidak wajar jika manusia menyuruh orang menyembah manusia, bukannya berarti adanya jarak waktu akan tetapi hal ini untuk mengisyaratkan betapa jauh ucapan atau perbuatannya yang emerintahkan agar disembah atau dikultuskan. Demikian dari sifat-sifat mereka, dan betapa ucapan tersebut tidak masuk akal.

5. Citra Amanah, yaitu bahwa manusia bersedia melaksanakan amanah yang ditawarkan oleh Allah SWT., yang sebelumnya tidak satu pun makhluk yang sanggup mmikulnya. Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Ahzab ayat 72 yang di dalamnya terdapat kata (al-amanah) yang berarti “dipercayakan (dititipkan) kepada orang”, “kemanan atau ketenteraman” dan “dapat (boleh) dipercaya/setia”.

Akhirnya demikianlah sekelumit yang bisa kami paparkan semoga bisa ikut memberi kontribusi positif bagi khazanah pemikiran kita supaya bisa lebih dewasa dalam bersikap dan lebih bijak menerima perbedaan dalam khazanah keilmuwan yang ada.

Dengan demikian kami mohon maaf apabila penyusunan makalah ini ada kesalahan dalam penulisan maupun penjelasan yang ada ,kesalahan dan kekurangan milik manusia dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

DAFTAR PUSTAKA



Abdul muji, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa psikologi islam, jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2002



Abdurahman Saleh, teori-teori pendidikan berdasarkan Al Qur,an, Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1994



Sururin, Ilmu jiwa agama, jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2004



M. Quraish shihab, tafsir Al-Misbah voleme 2.Jakarta: lentera hati, 2000








[1] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 1. (Jakarta: Lentera Hati, 2000), hlm. 140.


[2] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasar al-Qur’an, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), hal. 46.


[3] M. Quraish Shihab, Tafsir ..., hal. 140.


[4] Ibid., hal. 138.


[5] Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002), hal. 176.


[6] Ibid Hal. 176.


[7]M. Quraish Shihab,”Tafsir Al-Misbah”, volume 11, Jakarta: Lentera Hati, Hal. 52


[8] Ibid, Hal. 52


[9] Ibid


[10] Abdul majid, dan jusuf mudzakir (Jakarta :PT. Raja Grafindo, 2004) Hal. 36


[11] Shururin,Ilmu jiwa agama (Jakarta:PT. Raja grafindo. 2004), Hal. 36


[12] M. Quraish shihab, tafsir Al-Misbah voleme 2. (Jakarta: lentera hati, 2000). Hal. 125


[13] Ibid Hal. 126


[14] Sururin, ilmu jiwa agama … , hal. 31


[15] Kutipan tafsir tematik dari M. Quraish Shihab, Op.Cit, hlm. 332


[16] Ibid Hal. 332


[17] Ibid Hal. 332


[18] Kutipan tafsir tematik dari. Abdul Mujib, dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo,2002), hal. 85


[19] Ibid hal.85

Post a Comment