Dunia Maya, Sang Dewa Pembentuk Identitas

blogger templates
Kali ini sebelum berangkat mengantar adek pergi kesekolah, ibu menyuruhku beli bubur ayam untuk sarapan pagi didepan gang dekat pasar, karena dari rasa lebih terasa dan lebih nikmat diantara penjual sekitar. Seperti biasa kalau memebeli disini harus sabar dengan antrian panjang. Bubur ayam selain dipesan untuk dibawah pulang juga bisa dinikmati ditempat atau orang sekitar menyebutnya ‘andok makan’. Pembelinya ada yang datang sendiri, ada yang bersama suami, ada juga yang bersama ibu-ibu lainnya. barangkali kerabat, teman atau tetangganya, saya juga tidak tahu. Ada juga para mahasiswa. Nah didepanku, dua orang ibu muda salah satunya dengan style harajuku rambut diwarna pirang dengan potongan style ala korea dengan menggendong bayi. Dan salah satunya mengenakan jilbab ala hijabers dengan memegang gadget. Mereka sedang asyik mengobrol seru sambil mengantri. Dengan gaya bahasa yang sedikit alay. Posisi saya dibelakangnya dan hanya diam sambil menyaksikan gerak-gerik mereka layaknya menonton wayang orang. Diam-diam sayapun ikut menyimak pembicaraan mereka.

Dan sedikit terkejut juga, rupanya ibu-ibu muda ini gaul juga. Pengguna aktif social media pula. Terlihat dari pembicaraannya seputar twitter, BBM, serta whats up, serta sedikit menyinggung soal facebook. Awal kedatanganku pembicaraan yang kutangkap tentang jual beli online seputar fashion. Kemudian semua pembicaraan berkaitan pembaharuan status temannya yang narsis dan sombong melalui jejaring social. Dari rumpian keduanya, saya menangkap bahwa sosok teman yang dibicarakannya sangat narsis bersama keluarganya saat liburan ke Italy. Semua foto-fotonya ditampakkan menjadi DP (Display Picture) di BBM dan di share di twitter. Ditambah lagi kenarsisannya berfoto mengenakan baju sexy layaknya kemben[1] dengan bawahan sangat minim di wisata club malam termewah. Seakan ia menemukan surga yang kebanyakan orang tak bernasib baik bisa menikmati sepertinya. Temannya setuju dan mengatakan bahwa iapun membaca kesombongan yang sama dari teman itu juga di twitternya. Tentu saja saya tak mengenal tokoh teman yang menjadi topic mereka hanya sja saya dibelakang mereka sehingga tak sengaja terlihat foto-foto yang sedang dibuka.

Berikutnya sang teman menceritakan bahwa sebenarnya yang sombong dan narsis seperti itu banyak, ada yang narsis dengan unjuk foto diri disana-sini. Ada yang narsis memamerkan harta dan jabatannya, ada juga yang lebih narsis lagi selalu mengupdate statusnya dan TL (time line) seakan-akan dialah yang lebih beragama dan paling suci daripada yang lainnya. Yang diupdate selalu nasihat-nasihat kebaikan, yang menurutnya ini adalah jenis upaya pencitran diri. Menciptakan kesan seolah-oalh dialah yang paling sholeha. Karena belum tentu perbuatan sehari hari seperti itu. Temannya mengangguk setuju sambil mengatakan semoga dirinya dijauhkan dari sifat-sifat yang seperti itu. Lalu berikutnya mengatakan bahwa ada lagi jenis update status yang sok tahu beserta contoh-contoh jenis tweet-nya. Seolah-olah ialah yang paling pinter dan berwawasan dan yang lain tidak berkompeten. Dan menurutnya, anehnya temannya itu tidak terlihat secara kasat mata bahwa ia sebenarnya sombong. Kelihatannya alim dan sopan, dan pintar. Ada pula yang ngeshare foto-foto yang mengikuti arus perkembangan zaman dan dianggap menarik bagi sebagian penikmat sehingga banyak pula yang berkiblat padanya atas dunia fashion.

Akhirnya kedua ibu muda tersebut telah menerima pesanannya dan begitu berlalu dari tempatnya mengantri, entah disepanjang perjalanan mereka masih melanjutkan topic bahasannya mengenai kesombongan atau tidak, saya tidak lagi tahu. Saya sudah tak menyimak pembicaraannya lagi. Kedua ibu muda tersebut mengidentifikasi berbagai pembentukan identitas seseorang yang menurutnya identik dengan status sosial yang ditemukan di jejaring social.

Tidak ada yang salah dengan orang yang mengupdate status di social media, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pemahaman mengenai literacy media. Tentu saja berbagai motivasi bisa saja mendorong. Mungkin saja ada yang ingin pamer kekayaannya dengan mengupload segala bentuk kemewahan yang berhasil dicicipinya didunia ini. Namun ada juga yang menguplod status maupun time line tidak dengan motivasi yang sama. Hanya ingin berbagi hal-hal baru yang telah dinikmatinya, dan bisa memotivasi banyak followers account twitternya, teman facebooknya, dan teman contact BBMnya agar suatu saat bisa menikmati aktivitas serupa. Didunia maya setiap individu yang memasukinya memiliki kebebasan berekspresi, bebas berkarya, bebas menentukan sendiri identitas yang dikehendakinya.

Dari gaya dan bahasa alay yang digunakan oleh kedua ibu tersebut, rupanya mereka telah menjadi penikmat budaya popular atau yang akrab disebut “budaya pop” yang memang cara pengaktualisasiannya mendapat dukungan dari perangkat berteknologi tinggi sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan mengena dan hasilnya, masyarakat begitu antusias meresponnya. Budaya ini tumbuh subur dan cepat mengalami perkembangan yang signifikan dalam masyarakat perkotaandan keberadaannya sangat kuat pada kehidupan kaum remaja kota umumnya namun pada fakta yang telah ditemukan tidak hanya para kaum remaja usia sekolah yang mengkonsumsinya melainkan seumuran ibu muda yang berkisar 27-30 tahun masih antusias mengikuti. Bahkan paradigma dan pola hidup masyarakat kini sudah masuk dalam praktik-praktik kehidupan serta menjadi bagian dari munculnya budaya baru.

Bahkan budaya popular telah benar-benar hampir mencabut habis ideologi-ideolgi yang lama mengakar di dalam diri masyarakat beragama. Bagaimana tidak, dengan seiring berkembangnya ilmu teknologi serta kecanggihan media dapat menjadi candu untuk membentuk identitas baru bagi seorang individu agar dapat diterima dilingkungan yang diinginkannya. Paradigm, ideology dan falsafah yang telah dikenalnya lebih dahulu dan merupakan warisan budaya ketimuran perlahan mengikis serta mulai dianggapnya sebagai suatu hal yang kuno dan tak akan dipertahankan.




[1] Sejenis pakaian tradisional kaum perempuan suku Jawa dikenakan oleh bangsawan dan rakyat biasa sebagai pakaian sehari-hari maupun upacara adat.
Post a Comment