Penelitian Lapangan Tentang Perkembangan Bayi

blogger templates
DAFTAR ISI

halaman

Halaman Judul

Kata Pengantar………………………………………………………………………1

Daftar Isi……………………………………………………………………………...2

A. BAB I

1. Pengantar.......................................……………………………………………3

2. Pengertian Bayi................................…………………………………………..3

3. Karakteristik Pada Masa Neonatus....................................................................4

4. Karakteristik Pada Masa Bayi............................................................................4

5. Tugas Masa Bayi................................................................................................6

6. Metode...............................................................................................................7

7. Teori...................................................................................................................8

B. BAB II

1. Penelitian Lapangan…………………………………………………………..11

a. Perkembangan Motorik Bayi……………………………………………..11

b. Perkembangan Bahasa……………………………………………………12

c. Perkembangan Bermain…………………………………………………..13

d. Perkembangan Inteligensi………………………………………………...13

e. Perkembangan Berdasarkan Teori J. Piaget...............................................13

f. Karakteristik Bayi......................................................................................15

g. Tindakan Yang Dilakukan Orang Tua.......................................................16

C. BAB III

1. Masalah ..........................................................................................................17

2. Solusi .............................................................................................................17

D. BAB IV

Kesimpulan..........................................................................................................19

Daftar Pustaka..........................................................................................................22







BAB I

1. Pengantar

Menurut kartini-kartono perkembangan adalah perubahan-perubahan psikofisik sebagai hasil pematangan fungsi psikis dan fisik pada anak ditunjang faktor lingkungan dan proses belajar pada masa tertentu menuju kedewasaan atau dapat pula dikatakan sebagai proses transmisi dari konstitusi psikofisik yang heridited dirangsang oleh faktor lingkungan yang menguntungkan perwujudan proses aktif yang menjadi seecara terus-menerus.

Perkembangan merupakan suatu masa yang paling penting disetiap kehidupan manusia yang dimulai sejak terjadinya pembuahan yang terjadi antara ovum dan sperma. Perkembangan psikologis bayi dimulai saat bayi menjadi zigot hingga berkembang sampai ia memasuki masa produktif dan akan menurun pada saat manusia memasuki masa lanjut usia hingga meninggal dunia.

Pada masi bayi merupakan masa dimana awal pembentukan kepribadian anak tersebut. Bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masa pengasuhan, pemeliharaan dan bimbingan dari orangtuanya. Anak akan belajar untuk mengembangkan keterampilan motorik, dengan merangkak, berdiri, berjalan, melompat, dan berlari. Perkembangan-perkembangan pada masa bayi ini terkadang dapat berjalan dengan baik tapi terkadang juga tidak berjalan dengan baik. Disinalah yang membuat menarik meneliti pada masa bayi karena pada masa ini juga akan menentukan perkembangannya selanjutnya.



2. Pengertian Bayi

Periode setelah manusia lahir dimulai dengan periode, yan dinamakan: masa neonatus. Peride ini adalah periode terpendek dalam kehidupan manusia. Masa ini dibagi menjadi dua bagian, ialah :

Ø Masa partunatus

Ø Masa neonatus

Masa partanatus berlangsung sejak bayi dilahirkan sampai dipotong tali pusarnya. Dengan dipotong tali pusarnya mulailah masa neonatus sampai dengan berusia dua mingggu. Masa partunatus yang hanya pendek sekali, sehingga massa ini biasa disebut masa neonatus saja.

Setelah masa neonatus berakhir, mulailah masa bayi pada akhir minggu ke dua setelah lahir sampai umur 2 tahun. Pada masa ini bayi telah jauh lebih banyak dapat mengajarkan bermacam-macam hal tanpa mendapat bantuan (Soesilowindradini, hal. 71).

3. Karakteristik Pada Masa Neonatus

Karakteristik pada masa neonatus yakni (Soesilowindradini, hal. 71) :

Penyesuaian terhadap suhu. Di dalam rahim ibu terdapat suhu yan selalu tetap, akan tetapi diluar badan ibu suhu berubah-ubah. Maka bayi harus menyesuaikan diri dengan bermacam-macam suhu.

Penyesuaian terhadap hal pernapasan.

Selama masa prenatal bayi mendapatkan oxygen yang dibutuhkannya dari placenta ke dalam tubuhnya. Setelah tali pusat dipotong setelah kelahirannya, bayi harus mendapatkan oxygen dengan jalan bernapas, artinya dengan jlan mengisap dan mengeluarkan melalui paru-paru.

Penyesuaian dalam hal menghisap dan menelan.

Selama masa prenatal makanan didapat bayi dari placenta melalui tali pusat. Dia langsung mendapatkan bahan-bahan yanng dibutuhkannya dari ibu, dan bahan-bahan ini langsung masuk kedalam darahnya. Sesudah lahir, bayi harus dapat menghisap dan menelan untuk dapat mendapatkan bahan makanan yang dibutuhkan untuk perkembangannya.

Peneyesuaian terhadap hal pembuangan kotoran.

kotoran bayi dala masa prenatal dibuang dari tubuh fetus melalui tali pusat dan placenta kedalam darah ibu. Beberapa menit atau kadang-kadang dapat juga terjadi beberapa jam setelah bayi lahir; alat-alat ekskresi mulai bekerja dan selanjutnya melalui alat-alat inilah kotoran dikeluarkan dari tubuh.

4. Karakteristik Pada Masa Bayi

Menurut pendapat pra ahli psikologi perkembangan (papalia, old dan feldman,1998; Turner dan Helms, 1995; Santrock,1999), ada beberapa karaklteristik bayi yang normal. Tanda-tanda tersebut merupakan bentuk kesadaran yang dimiliki oleh bayi untuk merespons terhadap stimulasa yang berasal dari lingkungannya. Beberapa karakteristik tersebut yaitu banyak tidur, tidur aktif, malas-malasan, waspada, rewel, dan menagis.

· Banyak Tidur

Pada fase postnatal sebagian besar waktu bayi yaitu sebesar 80% digunakan untuk beristirahat atau tidur, selebihnya waktu dipergunakan untuk mandi, melakukan proses ekskresi, makan, minum dan sebagainya.

· Tidur Aktif

Tidur merupakan aktifitas utama bagi setiap bayi yang normal. Dalam pandangan psikofisiologis, aktifitas tidur berfungsi untuk memberi kesempatan organ perut untuk mencerna makanan agar dapat dipergunakan dalam proses tumbuh kembang fisiknya.

· Malas-malasan

Malas-malasan bukan berarti bahwa bayi tidak mau beraktifitas apa-apa akan tetapi bayi mencoba memanfatkan waktunya untuk melihat memandangi atau mengobservasi benda-benda di lingkungan sekitar. Proses observasi ini menjadi dasar pembelajaran bayi untuk menggali dan mengingat objek benda. Oleh karena itu stimulasi eksternal yang aktif dari orang tuanya, akan meningkatkan tingkat kognitif bayi dan akan menumbuhkan minat, bakat maupun kemampuan untuk memecahkan masalah.

· Waspada

Bayi selalu waspada dan sadar terhadap situasi lingkungan eksternalnya meskipun sang bayi dalan keadaan tidur. Namun demikian, bila terjadi proses pembiasaan, maka bayi belajar untuk mengenali situasi dan kondisi lingkungannya sehingga, ia tidak akan mudah menagis meskipun mendengar situasi yang asing.

· Rewel

Rewel merupakan suatu isyarat yang disampaikan bayi untuk orangtuanya ketika si bayi tersebut mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal tersebut terjadi ketika ia merasakan ketidak nyamanan terhadap kondisi fisiknya seperti ketika ia merasakan sakit, lapar, haus, dan kondisi cuaca yang terus berubah-ubah. Kecenderungan ketidak nyamanan yang dialami bayi ini ditandai dengan menangisnya bayi. Namun, jika masalah tersebut sudah teratasi, maka bayi akan kembali merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.

· Menangis

Menangis ini merupakan salah satu komunikasi yang diekspresikan oleh seorang bayi kepada lingkungan sosialnya. Menangis diartikan sebagai suatu tanda yang memiliki arti tertentu salah satunya yaitu bayi memerlukan perhatian secepat mungkin. Menangis ini bersifat temporer, artinya bila bayi segera diperhatikan maka bayi tersebut akan kembali tenang (Agoes Dariyo, 2007, 106-108).



5. Tugas Masa Bayi

Tugas-tugas perkembangan pada anak-anak pada kelompok umur 0 sampai 6 tahun yakni (Singgih D. Gunarsa, 2003, hal. 63) :

Ø Berjalan

Ø Belajar memakan makanan keras

Ø Belajar berbicara

Ø Belajar untuk mengatur gerak-gerik tubuh yang tidak perlu

Ø Belajar mengenal perbedaan-perbedaan jenis kelamin dengan ciri-cirinya

Ø Mencapai stabilitas fisiologis

Ø Membentuk konsep-konsep sederhana mengenai realitas-realitas sosial dan fisik

Ø Belajar untuk melibatkan diri secar emosional dengan orang tua, saudara-saudara dan orang lain

Ø Belajar untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan membentuk nurani

Penguasaan tugas-tugas perkembangan dalam masa bayi demikian penting karena:

· Makin cepat bayi dapat mengawasi dirinya sendiri makin cepat dia menjadi tidak tergantung dari bantuan orang dewas, jikalau akan mengerjakan sesuatu.

· Bilaman tugas-tugas perkembangan dalam masa ini telah dikuasai dengan baik, maka penguasaan daripada tugas-tugas perkembangan selanjutnya akan dapat berjalan dengan lancar.

Bayi-bayi yang mendapat perhatian dari orang tua atau orang dewasa lain dan diberi kesempatan untuk dapat menguasai tugas-tugas perkembangannya, ternyata lebih cepat daripada bayi yang dibiarkan saja, seoerti mungkin dalam panti-panti asuhan dan daripada bayi yang terlalu dimanja dan dilindungi oleh orang tuanya (Soesilowindradini, hal. 72).

6. Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Metode Kros- seksional

Kros- seksional adalah metode yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat.karena bidang psikologi perkembangan ingin mengetahui perbedaan maupun persamaan dalam tingkah pada bermacam-macam masa perkembangan, maka metode ini banyak digunakan. Keuntungan metode ini ialah mudah diperolehnya kelompok yang besar, waktu penelitian singkat dan biaya yang tidak terlalu rumit. Dipihak lain terdapat kelemahan yang acap kali sulit diadaptasi, yakni adanya perbedaan-perbedaan perorangan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan kebudayaan, sehingga sulit sekali dianggap sam di dalam suatu kelompok (singgih D. Gunarsa, 2003, hal. 68).

Metode Observasi

Observasi adalah mengadakan pengamatan secara cernat, dan sistematis serta membutuhkan adanya keluwesan tertentu (tidak kaku). Agar semua aktivitas anak yang diselidiki selalu wajar. Kegiatan ini harus diiringi dengan pencatatan hasil secara teliti dari gejala yanng ada (Abu Ahmadi, 2005, hal. 13).

Hal-hal yang perlu diperhatikadalam pelaksanaan observasi ini, diantaranya yakni :

§ Pada tepi halaman dicatat tanggal berapa kejadian itu, inti kata, keterangan umur dan sebagainya.

§ Anak tidak mengetahui bahwa ia sedang diamati-amati. Hal ini dimaksudkan agar penyelidikan bebas bertindak dan gerak-gerik atau tingkah laku anak tidak berubah.

§ Hasil pengamatan segera dicatat, bila singkat waktunya sehingga tidak memungkinkan untuk mencatat seluruhnya, kita harus mampu membedakan aspek man yang perlu dicatat dengan singkat saja, atau menggunakan stenografi. Pelaksanan observasi boleh dilakukan oleh dua orang. Tugas orang pertama ialah mengajak anak bercakap-cakap, bermain-main, dan bersendau-gurau. Tugas orang kedua ialah mencatat apa saja yang didengarnya, tetapi jangan sampai diketahui anak itu.

§ Mampu membedakan antara kenyataan objektif dengan nilai-nilai hasil pengamatan, mengenal suasana yang sedang meliputi jiwa anak pada waktu dilakukan pengamatan. Dengan demikian penyelidik mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan timbulnya gejal-gejala jiwa.

7. Teori

Marx (1963) membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data yang empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:

· Teori yang dekduktif, memberikan keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikirang spekulatif tertentu kearah data yang akan diterangkan. Dimulai dari teori ke arah data.

· Teori yang induktif, cara menerangkannya dari data kearah teori.

· Teori yang fungsional, disini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data (Siti Rahayu Hadianto, 2006, hal. 6).

Pendekatan untuk mengerti bagaimana pengalaman seorang bayi digabung dengan perubahan kematangan adalah teori perkembangan kognitif jean piaget.dalam pandangan piaget mengenai masa bayi, pusat pengetahuan adalah skema sensorimotor, yang didefinisikan sebagi gambaran sejumlah tindakan motorik yang digunakan untuk mendapatkan tujuan akhir. Beberapa sensormotor yang penting termasuk menggapai, melempar menghisap, memukul, dan menendang. Skema sensorimotor ini berubah menjadi fungsi dua proses penting yang disebut piaget sebagai asimilasi dan akomodasi. Dalam asimilasi seorang anak menginterpretasikan arti sebuah benda dalam hubungannya dengan skema motorik yanng ada. Sebagai contoh: seorang anak usia 8 atau9 bulan yang melihat sebuah bola kecil dari kayu akan mencoba memasukkannya ke dalam mulut. Dalam bahasa piaget, akan kita katakan anak itu mengasimilasi ke skema menghisapa yang dimilikinya. Dalam proses akomodasi anak itu merubah skema sensorimotor sedemikian rupa sehingga tanggapannya lebih sesuai dengan benda itu. Sekali anak itu mengetahui bahwa sebuah bola gunanya untuk dilempar, ia akan menyesuaikan dengan fungsi baru itu dan pada kali berikut ia melihat sebuah bola ia akan mencoba melempar dan tidak memasukkannya kemulutnya. Piaget yakin bahwa asimilasi dan akomodasi terlibat dalam seluruh fungsi kognitif.

Piaget berpendapat bahwa perkembangan kecerdasan terjadi melalui tahapan-tahapan yang saling berhubungan dimana pengetahuan anak tentang dunia mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda, selam 18 sampai 24 bulan pertama yaitu jika seoranng bayi berada dalam periode perkembangan sensorimotor, kecerdasan dinyatakan dengan tindakan. Piaget mengusulkan bahwa periode sensorimotor itu dibedakan atas enam tingkat perkembangan yakni :

1) Tahap pertama periode sensorimotor terlihat pada refleks otomatis bawaan bayi, termasuk kemampuan mereka untuk menghisap, menangis, menggerakkan lengan dan kakinya, mengikuti benda yanng bergerak, dan berorientasi pada suara.

2) Tahap kedua , yang disebut piaget reaksi sirkuler primer (primacy circular reaction) koordinasi refleks meningkat. Seoranng bayi yang lapar dan memukul-mukul sekitarnya secara tidak sengaja.

3) Tahap ketiga periode sensorimotor yang khusus terjadi pada usia 6 bulan, bayi mencoba memelihara dan mempertahankan pengalaman yang mnyenangkan dan tampaknya berorientasi kesuatu tujuan.

4) Tahap keempat anak tampaknya mengkoordinasi skema sensorimotor mereka untuk mencapai suatu tujuan.

5) Tahap kelima (setelah ulang tahun pertama) mereka menemukan skema sensorimotor yang baru. Seorang anak yang berusia 15 bulan yanng melihat mainan yang menarik, berguling dibawah meja dan mencoba mengambilnya. Menyadari lengannya terlalu pendek ia mencoba ia mencoba mendorong mainan tersebut dengan tongkat sebuah penemuan skema sensorimotor yang baru untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

6) Tahap keenam pada tahap terakhir ini anak-anak menemukan skema baru melalui semacam eksplorasi mental dimana mereka membayangkan kejadian-kejadian tertentu dan hasilnya. Untuk piaget, bentuk terpenting pada tahap keenam ialah perkembangan bentuk imaginer yang dapat digunakan untuk memecahkan kesulitan atau untuk mencapai hasil dimana anak itu tidak mempunyai tindakan biasa yang tersedia (Jerome Kagan, 1988, hal. 96).




BAB II

Peneliatian lapangan



Seorang bayi yanng saya teliti adalah seorang bayi yang berusia 2 tahun, metode yang digunakan dalam meneliti bayi aini adalah metode umumnya kros-seksional dan metode khususnya obsservasi, seperti bagaimana dijelaskan diatas metode kros-seksional saya melakukan penelitian dalam waktu yang relatif singkat, serta mengamati tingkah laku bayi tersebut dan menanyakan kepada ibunya bagaimana perkembangannya.

Setelah diatas dikatakan bahwa penelitian ini menggunakan metode ktos-seksinoal dan observasi. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori yang dekduktif yang mana dimulai dari teori baru kedata. Serta teri yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dari jean piaget.

Pada Masa Neonatal

Bayi yang bernama M. Tirta Dzikrillah ini lahir dengan berat badan 3,6 KG. Berat badan ketika ia lahir normal karena diatas standart rata-rata. Pada waktu ia lahir ia juga mengeluarkan suara atau yang disebut tangisan petama ketika lahir didunia. Tangisan pertama ini sangat penting dalam menentukan perkembangan selanjutnya, karena dimana dapat dimaknai tangisan pertama menunjukkan bahwa orok itu normal atau tidaka ada gangguan yang berarti bagi pertumbuhan orok. Serta “tangisan orok pertama orok merupakan pertanda mulainya berfungsinya jantung, paru-paru, dan organ-organ tubuh lain, hal ini menunjukkan adanya tanda kehidupan seseorang ( Abu Ahmadi, 2005, Hal. 85)”. Bayi ini putus tali pusarnya pada usia 1 minggu, hal tersebut dapat dikatakan normal karena sessuai dengan keadaan pada umumnya.

Pada Masa Pascanatal

Perkembangan Motorik Bayi

Ø Pada usia sekitar menginjak 3 bulan bayi ini sudah dapat mengangkat kepalanya dalam keadaan tertelungkup tetapi dalam waktu yang tidak cukup lama. Perkembangan motorikanya ini dikatakan normal karena sesuai dengan tahapan perkembangan motorik yakni pada usia 2,5 bulan bayi sudah dapat mengangkat kepalanya dalam keadaan tertelungkup.

Ø Pada usia sekitar 3 bulan pula bayi sudah dapat mampu duduk dengan bantuan orang lain, serta leher sudah dapat menyangga kepalanya. Perkembangan bayi dikataka normal karena sesuai dengan tahapan perkembangan motorik yang menyatakan bahwa pada usia 3,2 bulan , mampu duduk dengan bantuan orang lain.

Ø Pada usia 7 bulan bayi sudah mulai dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain. Keadaan ini dianggap normal atau wajar saja meskipun perkembangan motoriknya lebih cepat daripada tahapan-tahapan motorik yang ditetapkan yakni usia 8 bulan. Karena tahapan perkembangan bayi terkadang lebih cepat atau lambat daripada tahapan yng telah ditentukan.

Ø Pada usia sekitar 8 bulanan bayi sudah dapat merangkak. Meskipun dalam tahapan perkembangan motorik pada usia 10 bulan bayi merangkak. Keadaan masih dikatakan wajar atau masih dalam batas normal karena perkembangannya cepat atau lambatnya tergantung pada bayi dan lingkungannya.

Ø Pada usia 11 bulan bayi mulai dapat berjalan. Keadaan dianggap normal sesuai dengan tahapan perkembanngan motorik bayi yang berusia 12 bulan mulai dapat berjalan.

Perkembangan Bahasa Pada Bayi

v Pada usia 18 bulan bayi mulai dapat mengucapkan kata atau menirukan suara. Pada usia ini bayi dapat menirukan suara yang didengarnya atau yang dijarkan oleh orang-orang disekitarnya. Keadaan bayi yang sedikit terlambat perkembangan bahasanya dari tahapan perkembangan bahasa yang seharusnya pada usia 12-16 bulan dapat mengucapkankan kata atau menirukan suara.

v Pada usia hampir menginjak 24 bulan bayi sudah dapat melafalkan nama orang tuanya atau orang-orang disekitarnya, bahkan benda-benda yang ada disekitarnya pula. Meskipun dalam melafalkannya masih kurang begitu jelas. Keadaan ini dapat dikatakan normala karena sesuai dengan tahapan perkembangan bahasa pada usia 16-24 bulan dimana stadium nama (Syamsu Yusuf, 2011, hal. 158).





Perkembangan Bermain

Pada usia dua tahun ini perkembangan bermain bayi sudah mulai teratur bayi senang bermain sepak bola. Menata benda-benda mainannya secara berbaris, bahkan menumpuknya menjadi satu. Bayi ini ketika melepas sandal pasti menyepaknya keatas ia merasa senang ketika sandalnya itu terlempar jauh. Ia juga senang bermain tebak-tebakkan, memasukkan benda-benda sesuai dengan urutannya. Keadaan ini sesuai dengan perkembangan bermain pada anak usia dua tahun.

Pada usia tahun kedua, permainannya sudah mulai teratur dan boneka dipakai untuk berbagai macam kegiatan permainan. Ciri khas pada usia ini adalah permainannya banyak melibatkan kegiatan-kegiatan berjalan, melemparkan dan memungut kembali benda-benda (seperti bola), dan memasukkan atau mengeluarkan benda-benda dari tempatnya nama (Syamsu Yusuf, 2011, hal. 158).

Perkembangan Inteligensi

Perkembangan inteligensi pada bayi pada usia dua tahun ia sudah dapat menghitung angka 1-10 meskipun terkadang perlu diberikan stimulus terlebih dahulu. Ia juga sudah dapat mengetahui nama-nama benda yang ada disekitarnya. Ia juga mengerti nama warna-warna meskipun tidak semua hanya beberapa saja. Pada usia 2 tahun rasa ingin tahunya cukup besar ketiaka ada benda yang ia tidak mengerti ia akan menanyakannya apabila tidak dijawab ia akan terus menayakannya sampai terjawab. Pada usia 2 tahun ini bayi terkadang meminta untuk bersekolah, ia sudah mengerti atribut apa saja yang harus ddibawa ketika bersekolah’ ia juga mengerti cara belajar itu bagaimana misalnya harus ada buku, pensil atau gambar-gambar yang digunakan untuk belajar.

Perkembangan Berdasarkan Teori Jean Piaget

pada bayi ini yakni pada teori diatas dikemukakan oleh jean piaget bahwa perkembangan kognitif ini dibagi menjadi enam tahap :

1) Pada tahap pertama bayi ini dapat melaksanakan perkembangannya sesuai pada tahap pertama yang ada di teori Jean Piaget. Bayi ini dapat menghisap, menangis, bergerak. Karena pada tahap ini maih pada tahapan sensorimotornya.

2) Pada tahap kedua ini ketika saya menanyakan pada sang ibu bagaimana perkembangan refleks sang bayi pada waktu itu. Berdasarkan jawaban sang ibu ia mengatakan bahwa perkembangan refleksnya berjalan dengan baik. Misalnya ketika ia mengompol secara reflek ia akan mengangkat kakinya karena popoknya basah. ketika ia merasa geli ia akan menggerakkan badannya.

3) Pada tahap ketiga ini ketika usia 6 bulan bayi akan mengulangi hal-hal yang menyenangkan.

4) Pada tahap ke empat ini bayi dalam melakukan tindakan atau gerakan sudah mulai bertujuan. Ketika bayi sedang duduk tiba-tiba ia merangkak kedepan kemudian mengambil mainannya, berarti gerakkan merangkak tadi memiliki tujuan untuk mengambil mainannya.

5) Pada tahap kelima ini bayi mulai menemukan sensori motor yang baru. Ketika saya menanyakan kepada sang ibu apa tindakan sang bayi yang menurutnya berbeda atau baru ketika setelah usia satu tahun. Berdasarkan jawaban sang ibu, sang bayi pada waktu usia sekitar 18 bulan ketika menendang bola, bolanya masuk kedalam kolom kamar tidur ia melihat kebawah kolom tidur mengetahui ia tidak dapat mengambinya ia mengambil penebah yang ada didekatnya dan berusaha memasukkannya kedalam kolom kamar tidur.

6) Pada tahap ke enam ini lebih pada perkembangan imaginer untuk dapat memecahkan suatu masalah yang ada tahap ini hampir mirip pada tahap kelima. Perkembangan imaginer bayi ini juga terlaksankan dalam perkembangannya seperti ketika ia menemukan mainannya dibawah kolom kamar tidur ia berusaha mengambilnya dengan penebah atau sapu tetapi tidak bisa ia pun mencoba masuk kedalam kolom kamar tersebut untuk mengambil mainannya. Sang bayi melakukan tindakan yang tidak seperti biasanya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapinya. Tindakan masuk kedalam kolom kamar sebelumnya belum pernah dilakukan oleh sang bayi ini menunjukkan bahwa perkembangan imaginernya juga berjalan atau berkembang dengan baik.





Karakteristik-Karakteristik Pada Bayi

? Pada bayi memang sebagian waktunya digunkan untuk tidur. Bayi ini sebagian waktunya digunakan untuk tidur, terlihat dari aktifitasnya sehari-hari, biasanya bayi ini bangun pada kurang lebih jam 5 pagi setelah itu ia biasanya bermain, mandi, dan makan. Kurang lebih jam 10.30an ia mulai tidur kembali, lama waktu tidur ini tidak dapat ditentukan karena tergantung pada suasananya. Terkadang kurang-lebih jam 02.00 ia tidur kembali. Kurang lebih jam 20.00 ia mulai ttidur malam. Dilihat dari aktivitasnya bayi ini sesuai dengan karakteristik bayi banyak tidur karena sebagian besar waktunya digunakan untuk tidur.

? Malas-malasan, mlas-malasaan disini dapat diartikan kegiatan bayi selain dihabiskan untuk tidur juga digunakan untuk bermalas-malasan. Ketika bayi ini bangun tidur terkadang ia tidak mau langsung diajak main atau melakukan kegiatan tetapi ai mengamati sekitarnya sejenak baru kemudian mau diajak main tetapi itu masih tetap diatas kamar tidur.

? Karaktersitik bayi yang lain yakni waspada. Bayi ini ketika ada orang yang tidak diikenalnya ketika diajak bermain atau berkenalan terkadang tidak mau. Bahkan ketika ada orang yang datang dianggap aneh atau menakutkan ia akan berlari untuk menjauh. Krakteristik pada bayi ini sesuai dengan karakteristik yang diseebutkan diatas bahwa bayi memiliki karakteristik waspada.

? Karakteristik bayi selanjutnya yakni rewel. Pada bayi ini apabila keinginannya belem terpenuhi ia akan terus merengek bahkan menangis setelah keinginannya terpenuhi keinginannya ia akan diam, salah satu contohnya ketika ia meminta pergi ketoko untuk membeli snack atau mainan ia akan terus merengek bahkan sampai menangis untuk pergi kesana meskipun beberapa jam yang lalu ia sudah kesana. Tindakan yang lain ketika ia meminta minum setelah diambilkan minum ia tidak mau ia merengek karena permintaanya tidak sesuai ia meminta minum yang dingin sedangkan ibunya mengambilkannya yang tidak dingin.

? Menangis juga merupakan karakteristik pada bayi. Seperti dicontohkan pada karakteristik sebelumnya bayi untuk mengungkapkan sesuatu atau keinginannya tidak sesuai ia akan memberikan informasi atau tindakan dengan menangis.

Tindakan Yang Dilakukan Oleh Orang Tua Bayi

Tindakan yang dilakukan oleh orang tua sang bayi untuk meningkatkatkan perkembangan sang anak seperti ; sang ibu memberikan ASI eksklusif bagi sang bayi hingga saat ini, sang ibu menganggap ASI lebih baik untuk perkembangan bayi dari pada susu botol. Orang tua juga memberikan perhatian yang cukup dalam artian menuruti permintaan anak tetapi tidak memanjakannya. Membelikan anak mainan yang dapat mengembangkan motorik serta inteligensi anak seeperti maianan kuda-kuda an anak dapat mengembangkan motoriknya seperti melompat, kemudian gambar-gambar benda yang ditempelkan dengan gambar-gambar ini bayi dapat belajar nama-nama benda,angka, orang tuanya juga membeli kartu-kartu yang berisi gambar, angka, warna, bahasa inggris,dll. Bayi juga tidak dibatasi dalm bermain dalam artian bayi tidak terlalu dilarang-larang untuk melakukan sesuatu. Sang ibu berusaha sabar dalam mengahadapi sang bayi meskipun sang bayi terkadang rewel, sang ibu jarang sekali memarahi sang bayi ia lebih memberikan pengertian daripada memarahinya.



BAB III

Masalah

Sang bayi ketika usia satu tahun ia sangat sulit untuk makan nasi, ketika makan nasi itu hanya beberapa suap saja sekitar 3-5 suapan saja terkadang makannya juga doyan. Ia lebih suka nyemil daripada makan nasi, perilaku ini sampai sekarang masih berlanjut. Padahal orang tuanya telah memeriksakannya kedokter, dibelikan vitamin. Oleh karena itu sampai usia dua tahun ia masih diberikan ASI oleh ibunya agar ia masih dapat asupan gizi.

Solusi

Tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh sang bayi ada yang lebih cepat seperti perkembangan motoriknya. Tetapi ada juga perkembangan yang telambat seperti perkembangan bahasanya. Keadaan ini dapat dikatakan masih wajar saja karena massi sesai dengan tahapan-tahapan perkembangan bayi. Untuk memperlancar perkembangan bahasa pada anak orang tua atau orang-orang yang ada disekitarnya harus lebih sering mengajarinya kosakata atau lebih seering mengajaknya berbicara dengan berkomunukasi anak akan belajar memahami bahasa yang didengar dan dicerna kemudian menggunakannya.

Kondisi bayi yang makannya agak sulit dan lebih senang nyemil atau makanan ringan ini sebenarnya tidak baik, harusnya orang tua membatasi anak dalam makan makanan ringan agar anak mau makan nasi dan lauk pauk. Orang tua harus pintar-pintar mensiasati antara menuruti keinginan anak yang hanya ingin memakan makanan ringan saja dengan kebutuhan gizi sang anak, misalnya anak diberikan makan ringan kalau ia sudah makan nasi dan lauk pauk meskipun ia menangis sebisa mungkin orang tua melakukan itu agar anak mendapat asupan gizi yang cukup. Dengan begitu orang tua membiasakan anak untuk mengutamakan nasi dan lauk pauk dari pada makanan ringan. Orang tua juga harus membatasi berapa banyak makanan ringan yang dimakan oleh sang bayi.

Selain itu orang tua harus waspada terhadap makanan ringan yang dimakan oleh bayi karena belakangan ini banyak sekali makanan yang mengandung zat-zat berbahaya. Karena semakin banyak zat-zat kimia yang ada pada tubuh akan merusak badan. Hal ini jika dibiarkan dapat mengganggu merusak perkembangan bayi serta merusak organ-organ tubuh. Maka dari itu orang tua harus pandai-pandai memilih makanan yang diberikan pada bayi.



BAB IV

Kesimpulan

Perkembangan bayi ini sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan pada bayi, yang mana seperti perkembangan motoriknya:

© Pada usia sekitar menginjak 3 bulan bayi ini sudah dapat mengangkat kepalanya dalam keadaan tertelungkup tetapi dalam waktu yang tidak cukup lama.

© Pada usia sekitar 3 bulan pula bayi sudah dapat mampu duduk dengan bantuan orang lain, serta leher sudah dapat menyangga kepalanya.

© Pada usia 7 bulan bayi sudah mulai dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain.

© Pada usia sekitar 8 bulanan bayi sudah dapat merangkak.

© Pada usia 11 bulan bayi mulai dapat berjalan.

Perkembangan bahasa pada bayi ini meskipun sedikit terlambat dari usia yang ditetapkan pada tahapan-tahapan perkembangan. Tetapi perkembangan bahasa selanjutnya berjalan dengan baik anak pada usia dua tahu sudah dapt menyebutkan nama-nama orang disekitarnya bahkan nama-nama benda. Perkembangan bermainnya berkembang deengan baik sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan. Perkembangan inteligensinya juga berkembang dengan baik.

Semua karakteristik-karakteristik yang ada pada bayi juga dilaksanakan oleh bayi ini. Seperti sebagian waktunya digunakan untuk tidur, tidur aktif, rewel, waspada, menanggis, malas-malasan.

Kondisi bayi yang agak sulit untuk makan nasi dan lauk pauk, meskipun dikasih vitamin, dibawah kedokter, anak masih tetap saja sulit untuk makan tetapi ia lebih senang makan makanan ringan. Oleh karena itu meskipun usianya saat ini dua tahun ibunya masih tetap memberikan ASI eksklusif pada bayi agar ia dapat mendapatkan asupan gizi.

Teori Jean Piaget yang mengenai perkembangan kognitif bayi sesuai dengan perkembangan bayi yang dibagi menjadi beberapa tahap yakni :

1) Pada tahap pertama bayi ini dapat melaksanakan perkembangannya sesuai pada tahap pertama yang ada di teori jean piaget. Bayi ini dapat menghisap, menanggis, bergerak.

2) Perkembangan refleksnya berjalan dengan baik. Misalnya ketika ia mengompol secara reflek ia akan mengangkat kakinya karena popoknya basah. ketika ia merasa geli ia akan menggerakkan badannya.

3) Pada tahap ketiga ini ketika usia 6 bulan bayi akan mengulangi hal-hal yang menyenangkan.

4) Pada tahap ke empat ini bayi dalam melakukan tindakan atau gerakan sudah mulai bertujuan. Ketika bayi sedang duduk tiba-tiba ia merangkak kedepan kemudian mengambil mainannya, berarti gerakkan merangkak tadi memiliki tujuan untuk mengambil mainannya.

5) Pada tahap kelima ini bayi mulai menemukan sensori motor yang baru.pada waktu usia sekitar 18 bulan ketika menendang bola, bolanya masuk kedalam kolom kamar tidur ia melihat kebawah kolom tidur mengetahui ia tidak dapat mengambinya ia mengambil penebah yang ada didekatnya dan berusaha memasukkannya kedalam kolom kamar tidur.

6) Perkembangan imaginer bayi ini juga terlaksankan dalam perkembangannya seperti ketika ia menemukan mainannya dibawah kolom kamar tidur ia berusaha mengambilnya dengan penebah atau sapu tetapi tidak bisa ia pun mencoba masuk kedalam kolom kamar tersebut untuk mengambil mainannya. Sang bayi melakukan tindakan yang tidak seperti biasanya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapinya. Tindakan masuk kedalam kolom kamar sebelumnya belum pernah dilakukan oleh sang bayi ini menunjukkan bahwa perkembangan imaginernya juga berjalan atau berkembang dengan baik.



Dari beberapa keterangan diatas seperti tahapan-tahapan perkembangan bayi, karakteristik pada bayi serta teori yang dikemukakan oleh jean piaget yang disesuaikan dengan sang bayi, dapat dikatakan bayi melakukan tugas-tugas perkembangan seperti, berjalan, belajar memakan makanan keras, belajar berbicara, dll.


Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.

Dariyo, Agoes. 2007. Psikologi Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung : Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih D. 2003. Dasar Dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta : Gunung Mulia.

Hadianto, Siti Rahayu. Psikologi Perkembangan. 2006. Yogyakarta : Gajah Mada University Perss.

Kagan, Jerome. Perkembangan Dan Kepribadian Anak. 1988. Jakarta : Erlangga.

Soesilowindardini. Psikologi Perkembangan (masa remaja). Surabaya : Usaha Nasional.

Zulkifli L. 2003. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Post a Comment