CULTURAL INDUSTRIES, APPROACHES TO CULTURE

blogger templates


David Hesmondhalgh sehari-hari dikenal sebagai Kepala Institut Studi Komunikasi, Profesor Media dan Industri Musik dan Direktur Pusat Penelitian Industri Media di University of Leeds. Di antara sekian karya tulisnya yang terkenal antara lain Indie: The Aesthetics and Institutional Politics of a Popular Music Genre dan The Cultural Industries.
Dalam bukunya yang berjudul The cultural industries, khususnya chapter Approaches to culture. David Hesmondhalgh melakukan identifikasi berbagai pendekatan yang dapat dijadikan rujukan atau bingkai analisis dalam mempelajari industri budaya. Identifikasi tidak hanya sekedar menunjukkan apa dan seperti apa pendekatan itu, namun dikupas bagaimana kelebihan dan keterbatasan dari pendekatan tersebut.  
Ada dua pendekatan besar (two grand approaches) yang diidentifikasi oleh David Hesmondhalgh yaitu pendekatan ekonomi politik/ pendekatan industri budaya (political economy approach / cultural industries approach)  dan pendekatan studi budaya (cultural studies approach), namun sebelum mengupas lebih dalam kedua pendekatan itu, David mencoba memberikan uraian tentang persoalan ekonomi budaya dan media yang kemudian dikaitkan dengan pemikiran studi komunikasi liberal-pluralis terhadap budaya dengan memberikan 4 catatan penting, yaitu yaitu Pertama, penggunaan konsep-konsep ekonomi  dalam menganalisis media, yang memberikan konsekuensi keterpengaruhan produk-produk yang dihasilkan media. Kedua domininasi aliran ekonomi neoklasik[1], sebuah aliran pemikiran ekonomi yang lebih memperhatikan pada persoalan bagaimana kemampuan manusia memaksimalkan kepuasan ekonominya (utilitarianisme), daripada persoalan-persoalan yang menyangkut  kebutuhan manusia akan hak, maupun keadilan sosial. Ketiga, munculnya aliran neoliberalisme yang secara fundamental lebih “berkiblat” ke teori neoklasik menyatakan bahwa persaingan bebas yang tidak diatur akan menghasilkan pasar yang efisien, artinya neoliberal mengasumsikan bahwa produksi pasar yang efisien harus menji tujuan utama dari setiap kebijkan public yang dihasilkan. Konsekuensi dari asumsi ini adalah upaya menyamakan berbagai produk budaya layaknya seperti barang dagangan, yang kapan harus dibeli dan kapan harus dijual.  Keempat,  adanya studi komunikasi liberal pluralis yang memperdalam kajian efek media pada khalayak yang didasarkan pada prilaku tampilan (behaviourisme). Pendalaman ini diarahkan pada upaya memahami bagaimana upaya industri budaya mempengaruhi proses demokrasi dan kehidupan public. Untuk memperkuat argument pendalaman ini, David mencontohkan beberapa kasus antara lain kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses demokratisasi ketika masyarakat hanya “mengandalkan” instrument televise sebagai media pembelajaran politik. Meski kondisi ini baik, namun banyak sekali keterbatasannya. Keempat hal yang disampaikan oleh David meskipun sekilas, memberikan gambaran keterbatasannya jika diambil sebagai sebuah pendekatan dalam mengkaji industri budaya.
Sementara itu bagi David Hesmondhalgh, pendekatan ekonomi politik (political economy approach) merupakan pendekatan yang memberikan banyak tawaran alternative dalam menganalisis kekuatan (power) yang ada kaitannya dengan produksi budaya (culture production). Dengan menyitir pendapat Peter Golding dan Graham Murdock (2005) David hendak menyampaikan bahwa pendekatan ekonomi politik (kritis) berbeda dengan ekonomi politik klasik yang dikembangkan oleh Adam Smith dan David Ricardo. Artinya pendekatan ini mencoba lebih kritis ketika munculnya berbagai produk budaya yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan pemegang otoritas (power). Nah, karakter ekonomi politik (kritis)[2] ini dapat dilihat sebagai berikut :
  1. Pendekatan ekonomi politik (kritis) ini lebih holistic dan melihat persoalan ekonomi secara inter relasi dengan kehidupan politik, SOSIAL dan budaya daripada sebagai domain yang terpisah.
  2. Memperhatikan perubahan budaya secara jangka panjang, dengan memperhatikan peran Negara, perusahaan dan media.
  3. Memfokuskan upaya penyeimbangan antara perusahaan kapitalis dengan intervensi public
  4. Mempertanyakan persoalan-persoalan moral dasar, keadilan dan kebaikan masyarakat.
Lalu ekonomi politik yang mana ? Lebih lanjut David Hesmondhalgh menyatakan bahwa harus diperjelas focus dalam pendekatan ekonomi politik (kritis) pada isu-isu etika dan politik dalam hubungannnya dengan budaya. Ini artinya ekonomi politik (kritis) akan menyediakan diri dalam mendorong kesinambungan / perubahan  (continuity and change) dalam industri budaya daripada yang lain. Dalam konteks inilah David menawarkan focus kajian dari industri budaya pada persoalan-persoalan
  1. Kontradiksi ; yaitu persoalan-persoalan yang ditimbulkan dari komodifikasi budaya atau produksi budaya industri komersial.
  2. Kondisi spesifik industri budaya ; kemampuan menggabungkan suatu kepentingan ekonomi secara umum dengan industri budaya atau gambaran entang kondisi spesifika dari produk budaya yang dihasilkan
  3. Ketegangan antara Produksi dan konsumsi ;  produksi budaya sebagai sesuatu yang kompleks, ambivalen dan diperebutkan karena persoalan prilaku konsumen. Dengan kata kalian persoalan produksi dan konsumsi tidak dilihat sebagai entitas yang terpisah, tapi satu kesatuan.
  4. Pencipta symbol;  Industri budaya melihat para pencipta symbol seperti penulis, produser, artis dan direktur merupakan personal yang bertanggung jawab penuh atas input kreatif dalam teks
  5. Informasi dan hiburan ;
  6. Variasi sejarah dalam relasi SOSIAL produksi budaya ;
Melalui penjelasan singkat tersebut, David telah menemukan sebuah pendekatan ekonomi politik kritis, yang dalam hal ini dia menyatakan sebagai pendekatan industri budaya. Dengan pendekatan ini salah satu kontribusi yang dapat diberikan adalah penambahan wawasan dan gagasan tentang kreativitas simbolik, yang merupakan penjelasan dari pemaham budaya sebagai produk individu yang sangat berbakat., atau dalam istilah Richard Peterson lebih luas dinyatakan bahwa budaya kreatif dan seni kreatif adalah produk dari kolaborasi dan pembagian yang kompleks.
Terkait dengan pendekatan industri budaya yang selaras dengan isu-isu kekuasaan adalah kajian media / sosiologi media (radikal), di mana kajian ini melihat sebuah “potensi” bentuk merusak kekuasaan dan ketidaseimbangan yang berakar dalam struktur masyarakat kontemporer. Karena itu keberadaan kajian ini seakan melengkapi pendekatan ekonomi politik. Misalnya pertama, kajian tentang pekerjaan wartawan yang terstruktur dengan persyaratan birokratis dan rutin. Rutinitas inilah yang dinilai sebagai upaya memproduksi teks yang gagal untuk mengatasi hubungan kekuasaan yang ada secara memadai. Kedua, yang ditunjukkan oleh Pierce Bordieu yang menganalisis industri budaya, pandangannya tentang perkembangan ketegangan antara kreativitas dan perdagangan, Ketiga, dinamika hubungan antara kekuasaan dan industri budaya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang makna, jenis teks yang diproduksi.
Sementara itu untuk pendekatan kedua, yaitu pendekatan kajian budaya (cultural studies approach). David Hesmondhalgh menyatakan bahwa pendekatan ini berupaya menguji dan memikirkan kembali budaya dengan mempertimbangkan kaitannya dengan kekuatan SOSIAL. Pendekatan ini akan memberikan pemahaman tentang makna dan nilai budaya , sehingga mampu mengisi celah dan kekurangan dari pendekatan industri. Ada empat catatan yang ingin disampaikan David terkait dengan pendekatan kajian budaya ini, yaitu :
1.         Budaya sehari-hari perlu dikaji secara serius, karena didalamnya mengandung pertanyaan hirarkhi pemahaman budaya
2.         Kajian budaya mampu memberikan kritik kuat terhadap gagasan esensialis yang melihat budaya tempat tertenu dan atau orang sebagai salah satu budaya bersama, sebagai hal, berbatasan tetap, bukan sebagai ruang kompleks di mana pengaruh berbagai integrasi dan konflik.
3.         Kajian budaya telah memunculkan pertanyaan politik yang penting tentang siapa yang berbicara, tentang siapa yang memiliki wewenang untuk membuat standart budaya
4.         kajian budaya memiliki isu-isu terdepan tentang tekstualitas, subjektivitas, wacana identitas dan kesenangan dalam hubungannya dengan budaya. Hal ini telah memperkaya pemahaman tentang bagaimana penilaian akan nilai budaya yang mungkin berkaitan dengan politik identitas SOSIAL terutama klas , gender, etnisitas dan seksualitas. Kesemuanya ini bukan persoalan “rasa” yang menyatakan latar belakang SOSIAL produk, tapi kajian budaya telah mengeksplorasi cara-cara yang kompleks di mana system nilai estetika  menjadi kekuatan budaya. Suara siapa yang terdengar dalam budaya dan suara-suara mana yang terpinggirkan.
Dengan empat catatan ini, David hendak menyatakan bahwa pendekatan kajian budaya ini berpotensi sebagai instrument analisis industri budaya, termasuk menganalisis bagaimana pola perilaku budaya yang tercermin dalam industri budaya sendiri. Dengan demikian, pendekatan kajian budaya dapat melengkapi pendekatan industri budaya, meski dalam penerapannya perlu kehati-hatian.
Setelah menjelaskan dua pendekatan dalam mengkaji industri budaya, Davis Hesmondhalgh mencoba memaparkan tentang  bagaimana posisi kajian budaya dan ekonomi politik ketika berhadapan (versus). Meski David mengakui bahwa dua kajian ini dalam tataran akademis memiliki pandangan yang berbeda, bahkan cenderung tidak bisa didamaikan, namun langkah ini dinilai David sebagai langkah yang tidak ada gunanya, karena terlalu menyederhanakan perselisihan dari dua pendekatan yang berbeda. Maka langkah yang terbaik adalah tidak menghadap-hadapkan, namun melakukan sintesis dua pendekatan ini dari aspek yang terbaik, untuk menghasilkan perubahan dan kontinyuitas dalam industri budaya.
Meski tidak ingin memperpanjang persoalan tentang posisi berhadap-hadapan kedua pendekatan itu, namun David tidak bisa menghindari apa saja yang menjadi persoalan ketika dua pendekatan itu berposisi berhadapan. Untuk itulah ia menyampaikan beberapa persoalan yang menjadi pokok kedua pendekatan tersebut saling berhadapan

Produksi versus Konsumsi
Pada persoalan ini, ekonomi politik sering disebut secara singkat sebagai studi produksi yag mengabaikan perbedaan sikap terhadap produksi. Dan aspek konsumsi merupakan “kajian” yang penting dalam pendekatan ekonomi politik. Sementara pendekatan kajian budaya sering dideskripsikan seolah-olah keseluruhannya terdiri dari studi empiris audiens, ketika studi lain telah melakukannya.
Banyak fakta, yang mengharuskan david berkonsentrasi pada persoalan industri budaya, dan ini mendorongnya untuk lebih banyak menggambarkan berbagai pendekatan yang berorientasi pada pemahaman tentang dinamika produksi budaya dan kebijakan – dalam konteks inilah pendekatan ekonomi politik memberikan kontribusi dalam ekonomi udaya, sosiologi media radikal dan sosiologi budaya empiri. Karena itu, keputusan untuk focus pada produksi dan kebijakan sebagai salah satu prioritas dalam konteks sekarang ini. Namun demikian, masih dibutuhkan pemikiran tentangnya dalam kaitannnya dengan proses kunci yang lain, seperti identitas konsumsi budaya dan makna tekstual.


Teks, Informasi dan Entertaiment
Pendekatan kajian budaya seringkali dituduh oleh pendekatan lain karena terlalu terkait dengan isu-isu makna tekstual, meski pendekatan ini telah berkontribusi cukup penting dalam mengembangkan teori tentang bagaimana makna dan identitas berkaitan dengan isu-isu kekuasaan SOSIAL, dalam bentuk yang paling maju, relative sedikit prihatin dengan masalah penafsiran tekstual dan evaluasi.
Sementara ekonomi politik, sosiologi media radikal, studi komunikasi liberal pluralis sangat berkaitan dengan informasi teks, seperti  berita dan urusan saat ini dan sejauh mana industri budaya menyediakan sumber daya informasi warga perlu bertinda melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Pendekatan ini sangat menekankan isi informasi atas bentuk dan cenderung pada nilai-nilai kognitif dan model pemikiran rasional diatas emosional aestetik dan afeksi.

Pertanyaan Epistemologi
Mitos ekonomi politik versus kajian budaya lebih menekankan pada konflik antara dua set pendekatan dan merendahkan perbedaan bersama mereka dengan pendekatan-pendekatan lain. Kajian budaya dan ekonomi politik memiliki lebih banyak kesamaan satu sama lain dalam hal pemahaman mereka terhadap teori kekuatan budaya daripada beberapa penelitian yang lebih berorientasi empiris (empiris sosiologi budaya, studi komunikasi liberal-pluralis) - Meskipun demikian , ada ketegangan teoritis dan epistemologis serius antara ekonomi politik dan kajian budaya.
Penulis ekonomi politik cenderung dalam pertanyaan epistemologi terhadap realisme yang secara asumtif  menyatakan bahwa ada dunia materi luar proses kognitif kami yang dimiliki secara spesifik akhirnya dapat diakses oleh pemahaman kita '(Garnham, 1993) Pandangan ini krusial terkait dengan pandangan bahwa kita dapat mencapai pengetahuan obyektif dari realitas independen. penulis Kajian budaya mengambil lebih konstruktivisme dan logika epistemologis subyektivis.  dalam beberapa kasus bertujuan untuk mendapatkan pengakuan objektivitas dari efek pengamat pada diamati (lihat Couldry, 2000b: Lz-t4, pada epistemologi feminis), sedangkan pada kasus lain, ada skeptisisme radikal tentang klaim kebenaran . Hal ini terutama terjadi di pos-strukturalis dan pendekatan modernis. Sekali lagi, meskipun, ini bukan hanya kasus ekonomi politik versus kajian budaya. Para konstruktivis radikal, sayap modernis studi budaya adalah bertentangan dengan semua pendekatan industri budaya yang digariskan dalam beberapa bagian pertama dari bab ini, bukan hanya ekonomi politik. The positivisme studi komunikasi dan sosiologi budaya seperti jauh dari posisi kritis-realis ekonomi politik seperti kajian budaya postmodern

Politik dan Kebijkan
Sebagian besar perpecahan antara ekonomi politik dengan kajian budaya didasarkan pada dikotomi politik palsu. Kajian budaya terinspirasi dari kecenderungan dalam aktivisme politik dan berpikir sejak awal 1970-an untuk fokus pada isu-isu identitas sosial, seperti jender, etnisitas  dan seksualitas, dibandingkan dengan isu-isu ekonomi dan redistribusi sumber daya. Untuk beberapa keprihatinan ini dengan identitas sosial adalah bentuk maju proyek bangunan koalisi untuk resits kekuatan ekonomi dan politik yang membawa tentang penindasan di tempat pertama. Inilah sebabnya mengapa beberapa penulis ekonomi politik seperti yang disebutkan di atas, berpikir bahwa studi budaya implicity concervative pandangan mereka adalah bahwa hal itu salah memahami kekuatan (power). Bukan hanya penulis ekonomi politik yang mengambil posisi ini sekalipun penulis dalam sosiologi media radikal  sering berbagi perspektif dan banyak dalam studi komunikasi dan sosiologi empiris budaya mungkin setuju (sekali lagi seluruh gagasan ekonomi politik versus kajian budaya terlalu kasar cara pemetaan perdebatan di lapangan)
masalah penting yang tercermin-dalam beberapa respon terhadap kajian budaya. Bangunan politik hanya sekitar penindasan dan ketidakadilan yang dihadapi oleh kelompok yang anda merasa termasuk risiko meninggalkan setiap gagasan solidaritas dan empati dengan lainnya. Ada perbedaan nyata antara bagaimana pasca strukturalis sayap dasar kajian budaya kritik atas hubungan sosial yang ada dan bagaimana penulis lebih ekonomi politik Marxis melakukannya. Namun tujuan positif sedikit yang dilayani oleh polemik membabi buta dari komentator soma radikal. Daripada terlibat dalam dialog dengan cara-cara baru penting dari berpikir tentang politik dan budaya dan menemukan penyebab neoconcervatism Terhadap umum, komentator sering terlihat lebih tertarik pada serangan sektarian meningkat dari kedua pihak
Industri budaya memiliki peran ganda sebagai sistem ekonomi produksi dan industri budaya produsen teks. Produksi budaya dan teks sangat ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi (antara lain) jika kita ingin mengkritik membentuk mereka, maka kita perlu mempertimbangkan baik politik redistribusi, difokuskan pada isu-isu ekonomi politik, dan politik pengakuan terfokus pada pertanyaan identitas budaya

Pertanyaan Determinisme dan Reduksionisme
Sebuah kritik umum maju - dalam kajian budaya tetapi juga di dalam studi komunikasi dan sosiologi empiris budaya terhadap beberapa jenis analisis ekonomi politik adalah mereka disangka reduksionisme. Itu merupakan atribut mereka dari proses acara budaya yang kompleks, seperti bentuk industri film Holliwood atau sifat apera sabun televisi atau pengembangan televisi sebagai media komunikasi, untuk alasan tunggal ekonomi politik, seperti kepentingan kelas sosial yang menguasai alat-alat produksi atau persyaratan dalam kapitalisme bagi pemilik dan eksekutif untuk membuat keuntungan. Ada memang laporan reduksionis tersebut yang gagal melakukan keadilan untuk interaksi factor kompleks yang terlibat dalam budaya, tetapi kenyataannya bahwa beberapa laporan ekonomi politik yang reduksionis ada argumen yang melawan analisis ekonomi politik per se. Sebuah konsep yang diperlukan di sini adalah penentuan dalam arti reduksionis batas setting dan mengerahkan kekuatan eksternal, atau kekuatan penting untuk sesuatu terjadi. Sebuah analisis yang baik akan membuat proses ekonomi bersama proses lainnya dan tekanan dalam budaya dan memikirkan bagaimana mereka berinteraksi. Faktor lain yang penting menekan adalah menguji momen budaya, fenomena atau proses yaitu
  • Peran lembaga-lembaga dalam bidang hukum dan politik
  • Bentuk wacana, bahasa dan representasi yang tersedia pada waktu tertentu
  • Keyakinan, fantasi, nilai-nilai dan keinginan karakteristik kelompok orang yang berbeda.
Tentu saja, tidak semua catatan akan  dapat melakukan keadilan pada semua waktu untuk campuran kompleks kekuatan permainan . Elemen yang ditekankan akan tergantung pada tujuan kita subjektif sendiri, pada pengetahuan kita,  Kita pikir,  kita bisa berasumsi pada bagian dari penonton kita, atau pada identifikasi beberapa bagian baru dari teka-teki sejarah yang menarik perhatian pembaca. Eklektisisme tersebut tidak perlu ditinggalkannya prioritas politik dan etis dan kepedulian. Namun tujuan subjektif yang menarik perhatian misalnya identifikasi titik-titik tekanan tertentu untuk tujuan perubahan sosia,. Juga tidak perlu metode pluralisme yang berarti mengadopsi etika relativis sebagai sebuah model politik pluralis liberal dimana sistem demokrasi kini diasumsikan berfungsi lebih atau kurang efektif.
Terlalu banyak waktu telah dihabiskan untuk mencoba menyelesaikan perdebatan yang ditetapkan mustahil ditulis dalam abstrak. Kita harus meninggalkan argumen berliku-liku tentang apa yang dimaksudkan Marx yang mengatakan lebih baik atau tidak ia telah disalahartikan. Sebaliknya, kita perlu berpikir keras tentang determinasi interaksi kompleks dalam situasi apapun, dalam rangka memahami betapa sulitnya perubahan social,  untuk mencapai dan di mana dimungkinkan. Jika benar bahwa perdebatan tentang penentuan ekonomi dan reduksionisme telah menghasilkan ketegangan yang paling signifikan antara ekonomi politik dan pendekatan lain, metodologi eklektik bersekutu dengan pengakuan sosial-demokratis radikal dari adanya ketimpangan struktur kekuasaan dan ketidakadilan yang memberikan kemungkinan konvergensi yang lebih besar. Pilihan lebih pragmatis disini menganjurkan perlunya melibatkan identifikasi saat tertentu di mana faktor-faktor lain, seperti yang tercantum di atas, perlu lebih ditekankan. Hal seperti ini yang akan kita lihat menjadi aspek penting dari pasal 3 yang mengatur perubahan tentang menjelaskan dan kontinuitas dalam industri budaya
Lebih jauh dapat dikatakan bahwa apa yang dijabarkan oleh David Hesmondhalgh merupakan Ikhtiar yang baik dalam memperkenalkan beberapa pendekatan yang dijadikan analisis dalam mempelajari industri budaya, dengan cara mengidentifikasi pendekatan-pendekatan tersebut dalam bingkai kelebihan dan kelemahannya. Namun perlu diakui memang penjelasan yang disampaikan terbatas dan cenderung bergerak dalam tataran wacana, bahkan gambaran tentang perdebatan antara kedua pendekatan tersebut yang disajikan oleh beberapa pihak. Ini dimungkinkan karena dalam chapter ini David Hesmondhalgh tidak hendak menyampaikan secara metodologis bagaimana menerapkan kedua pendekatan tersebut dalam sebuah penelitan, tapi sebatas menyampaikan beberapa argumentasi mendasar tentang perlunya sebuah pendekatan dalam mengkaji industri budaya, bahkan bila perlu melakukan sintesis pendekatan untuk menghasilkan sebuah kajian yang lebih holistic, karena pada hakekatnya pendekaan-pendekatan tersebut sebagai penjelasan David dapat digunakan dalam posisi saling melengkapi kekurangan dari pendekatan-pendekatan itu.
Kata kunci yang dapat dijadikan pegangan dalam bahasan ini adalah identifikasi terhadap berbagai pendekatan yang dapat dijadikan kerangka analisis dalam mempelajari industri budaya. Ini artinya penjelasan yang disampaikan David lebih bersifat informative dan tawaran kepada pengkaji industri budaya. Karena itu penjelasan yang disampaikan tidak terlalu detail mengarah pada aspek aplikasi pendekatan, namun secara referensial cukup memadai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan kajian industri budaya melalui pendekatan ekonomi politik atau kajian budaya.  Di sinilah kemudian David menyarankan kepada pembaca untuk melakukan kajian lanjut dengan membaca serangkaian referensi pendukung.



[1] Aliran pemikiran ekonomi yang berkembang pada abad ke-19 ini sengaja menamakan dirinya sebagai aliran ekonomi neoklasik, sebagai upaya pembeda terhadap aliran-aliran sebelumnya yang dikenal dengan ekonomi klasik yang berkembang pada abad ke-18. Aliran neoklasik ini dikemudian hari menjadi “inspirasi” munculnya aliran pemikiran ekonomi yang dikenal dengan istilah neoliberalisme
[2] Konsepsi ekonomi politik dari Peter Golding dan Graham Murdock lebih melihat (1) fakta bahwa budaya dihasilkan dan dikonsumsi kapitalisme sebagai isu mendasar dalam menjelaskan ketidaksetaraan kekuasaan, prestise dan keuntungan, termasuk dalam hal ini adalah kapitalisme politik dan efek negatifnya. (2)  sejauh mana industri budaya  melayani kepentinan orang kaya dan berkuasa, juga persoalan kepemilikan dan penguasaan industri budaya sehingga mempengaruhi peredaran “teks” ke khalayak luas dengan “aroma” pemilik kepentingan
Post a Comment